Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Hinaan Ibu


__ADS_3

Pagi ini Sita sengaja bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk Ibu dan Dino.


Setelah selesai memasak Sita menatanya di meja makan, Dino yang sudah bersiap-siap pergi ke kantor menyantap masakan Sita dengan lahap. Sementara Ibu masih saja belum keluar dari kamarnya.


"lezat sekali sayang ini adalah makanan terlezat yang paling aku sukai," ucap Dino memuji masakan istrinya.


"Terima kasih sayang. apa kamu mau membekalnya untuk makan siang di kantor?" tanya Sita.


"Oh tentu saja sayang, kamu masak banyak kan hari ini, aku minta double porsi ya sekalian buat Ipan Kasihan dia tidak ada yang masakin masih jomblo ...hahaha."


"Loh kok jomblo sih, bukannya sebentar lagi dia mau nikah sama Syakila?" tanya Sita pada Dino yang masih lahap menyantap sarapan.


"Entahlah sayang, Ipan bilang Syakila terus menunda pernikahannya entah apa yang membuatnya seperti itu, padahal Ipan sudah ngebet pengen nikah dari dulu."


Tiba-tiba Ibu keluar dari kamarnya.


"Ibu, ayo sekalian sarapan bareng, Sita sudah masak banyak," ajak Sita pada Ibu.


Ibu tidak menjawab, dia hanya melihat meja yang dipenuhi banyak makanan.


"Istrimu ini mulai boros ya Din, dia berlebihan masak makanan sebanyak ini, Sisakan dong buat tabungan, dan lagian maaf Ibu 'gak suka makanan makanan seperti ini, Ibu masak sendiri saja," ucap Ibu dengan Ketus melihat ke arah Sita duduk.


Sita hanya menundukan kepalanya sedih.


Sejak kejadian itu Ibu tak pernah bersikap baik lagi pada Sita, Ibu selalu mempertanyakan kehamilan yang tidak pernah Sita alami, padahal sampai saat ini tidak ada tanda-tanda kehamilan pada Sita. Sita sempat Mengajak Ibu ke Bidan untuk membuktikannya, namun Ibu tidak mau, entah apa yang membuat Ibu seperti ini, hari-hari kini penuh dengan duka.


"Dino, kapan kamu mengusir Sita, jujur Ibu tidak suka ya melihat dia masih ada di sini jangan sampai saat dia melahirkan dia tetap tinggal di sini, Ibu nggak sudi melihat anak hasil perbuatan nggak benarnya itu."


"Ibu! Kenapa Ibu masih saja terus berkata seperti itu, Sita tidak hamil, apa selama ini Ibu melihat tanda-tanda kehamilan pada Sita Ibu jangan konyol, Ibu juga sudah pengalaman harusnya Ibu bisa membedakan mana perempuan hamil dan tidak!" Dino terpaksa membentak Ibu karna Ibu tak kunjung berhenti memintanya mengusir Sita.


"Dino kamu sudah berani membentak Ibu mu sendiri demi perempuan ini!"


"Bukan begitu Bu, tapi Ibu terus mempermasalahkan hal yang tidak pernah ada, coba Ibu berpikir, apakah selama ini Ibu melihat tanda-tanda kehamilan pada Sita. Maafkan Dino Bu, Dino tidak bermaksud membentak Ibu," ucap Dino merendahkan suaranya.


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau dia tidak hamil, dan tidak pernah berhubungan dengan laki laki lain Din, kamu sendiri baru mengenalnya. Kamu terburu buru menikahinya. Jangan lupa dia memiliki mantan kekasih seorang pemabuk, bisa saja mereka melakukannya dalam keadaan tidak sadar," seuntayan argumen Ibu tentang Sita.


"Ibu!" Dino pun meninggikan suaranya pada Ibu.


Sita yang sedang duduk hanya terdiam meneteskan air mata. Dia pun berdiri dan mengambil tasnya di kamar, lalu ia pun pergi meninggalkan Ibu dan Dino yang sedang bertengkar, Sita tidak tahan gara-gara masalah ini Ibu dan Dino jadi sering bertengkar.


Dino pun lari mengejar Sita, "Sayang kamu mau ke mana tunggu!" Sita tidak menghiraukan perkataan suaminya, dia lantas terus berlari. Dino segera menyalakan motornya dan mengejar.

__ADS_1


"Sayang aku mohon Berhentilah!" pinta Dino


Cekitttttt....


Dino pun turun dari motor, dia pun menarik tangan Sita dan segera memeluknya," Tidak sayang, jangan pernah tersinggung dengan semua ucapan Ibu, dia tidak memahami Apapun yang terjadi. Dia hanya melampiaskan kekhawatirannya, Percayalah lambat laun dia akan menemukan jawabannya."


Sita pun membalas pelukan Suaminya dengan Erat, dan menumpahkan seluruh tangisnya.


"Aku tida nyaman dengan keadaan ini sayang, jika hari ini aku kuat itu semua karna masih ada kamu yang mendukungku. Aku takut sekali jika esok kamu pun berubah seperri Ibu,"


"Tidak sayang, jangan katakan hal itu, aku tidak akan pernah berubah padamu,"


Empat pasang bola mata di arah lain di tempat yang berbeda tengah tersenyum melihat pemandangan ini.


***


Satu aksi diluncurkan oleh perempuan pemakai baju hoody. Saat Dino mengendarai mobil box pengantar barang, tiba-tiba dia menabrakakn dirinya ke mobil.


Brakkk...brak... brak...


"Awwww....awwww...aduh tolong.." pekik nya kesakitan.


Cekittttt....Dino segera menginjak rem. "Astagfirulloh," ucap nya lalu turun dari mobil. "Anda tidak apa-apa Nona? Maaf saya kurang berkonsentrasi," lanjutnya.


"Maaf sepertinya Anda harus di bawa kerumah sakit, mari kubantu berdiri,"


Perempuan itu pun mencoba untuk berdiri, namun kemudian ia terjatuh kembali, "Awww..." pekiknya kesakitan. "Maaf tuan aku tidak bisa berdiri, rasanya sakit sekali," keluhnya.


"Oh ya ampun, maaf aku harus menggendongmu," ucap Dino.


Perempuan itu pun mengangaguk dengan senyuman kecil di bibirnya.


Dino pun menggondongnya meski dengan ragu ragu, dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.


Dino pun mendudukkan perempuan itu di depan. Wanita itu terus merintih kesakitan.


"Sabar Nona, sebentar lagi akan sampai di Rumah Sakit."


Sesampainya di Rumah Sakit perempuan itu langsung diperiksa oleh Dokter.


"Sepertinya tulangnya patah Tuan," kata Dokter.

__ADS_1


"APA! Patah! Astagfirullahhaladzim," Dino kaget mendengarnya. Dia pun mengusap mukanya dengan kasar.


"APA! Patah," ucap perempuann itu pun kaget. "Tidak, tidak mungkin Dok." Dia pun memegangi kakinya. Dia mencoba meraba-raba kakinya. "Tidak, tidak, tidak mungkin ini terjadi." Permpuan ini pun Shok, dia menangis sejadi jadinya.


"Apa yang harus aku lakukan Dokter? Apa aku masih bisa berjalan?" tanya perempuan itu lirih.


"Butuh waktu lama untuk anda bisa berjalan kembali Nona,"


"Apa! Tidak."


"Maafkan saya Nona," ucap Dino merasa bersalah.


"Semua ini gara-gara kamu! kamu sudah membuatku tidak bisa berjalan," ucap perempuan itu terus menangis dengan rasa khawatirnya. "Bagaimana aku melanjutkan hidupku," keluhnya.


"Tenang Nona aku akan bertanggung jawab," ucap Dino.


"Tanggung jawab. Bagaimana caramu bertanggung jawab? Apa kamu bersedia tinggal denganku.


"Maksud Anda."


"Aku tidak punya siapa-siapa. Siapa yang akan merawatku di rumah?"


"Apa anda tidak punya keluarga?"


"Tidak, aku tidak pnya siap-siapa, aku hidup sendiri."


"Ayah, Ibu, Kakak, Adik?" tanya Dino mengenai seluruh anggota keluarganya.


Perempuan itu pun semakin menangis ketika ditanya tentang keluarganya. "Mereka semua telah pergi meninggalkanku, Ayah, Ibuku meninggal sejak aku kecil sedangkan Kakakku...." Perempuan itu semakin menangis mengingat Kakaknya.


"Dia yang jadi Ayah dan Ibu bagiku setelah kepergian mereka, dia yang merawatku hingga aku beranjak dewasa. Tapi, kejadian naas itu pun merenggut nyawanya."


"Astagfirullohhaladzim." Dino merasa priharin dengan keadaan perempuan itu.


"Seharusnya Alloh juga mengmbil nyawaku tadi, mungkin itu lebih baik dari pada aku harus lumpuh seorang diri."


"Anda jangan berkata seperti itu, saya janji akan merawat Anda sampai Anda sembuh."


"Bagaimana caranya?"


"Anda bisa tinggal di rumahku sementara waktu, aku dan istri ku akan merawat Anda sebaik mungkin."

__ADS_1


"Benarkah? Apa istri Anda tidak akan keberatan.


__ADS_2