Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Pergi Ke Rumah Elvira


__ADS_3

"Iya Bu, Apa menurut Ibu ada kehamilan seperti itu?"


"Astagfirullah, apa Ibu sudah benar-benar salah paham Din?" Ibu bertanya balik.


"Ya, Ibu memang sudah salah paham."


Ibu langsung pergi kekamar Sita. Terlihat Sita sedang menangis di depan jendela kamar dengan tatapan kosongnya ke atas langit.


"Sita!" Panggil Ibu.


Sita pun melihat ke arah suara.


"Ibu!" Sita pun segera menyeka air mata.


Ibu langsung menghampirinya dan memeluk Sita dengan rasa bersalah yang begitu besar.


"Maafkan Ibu, nak. Ibu sadah salah menilaimu, Ibu tak pernah mau mendengarkan mu." Sesekali Ibu melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi Sita lalu Ibu memeluk Sita kembali. Ibu pun ikut menangis.


Sita semakin menangis haru, akhirnya Ibu memahami perasaannya.


"Tidak Bu, jangan minta maaf, Ibu tidak bersalah," ucap Sita lirih.


"Tidak nak, Ibu telah menyakiti perasaanmu, Ibu hanya memikirkan perasaan Ibu sendiri. Ibu tidak pernah memikirkan perasaanmu,"


"Apa yang Ibu katakan, Ibu tidak pernah menyakitiku, Ibu hanya melampiaskan ke khawatiran seorang Ibu. Tak ada yang perlu dimaafkan dari Ibu, Sita mengerti Ibu begitu menyayangi Dino."


"Kamu benar sayang, tidak ada yang di harapkan seorang Ibu selain kebahagiaan anaknya. Kamu pun anak Ibu, kamu berhak bahagia dengan Dino."


"Terima kasih Bu, akhirnya aku menemukan Ibuku kembali."


Dino yang berdiri di depan pintu, memperhatikan isak tangis haru keduanya, dan ikut meneteskan air mata. Ia pun menghampiri kedua wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu, lalu memeluk mereka dan berkata, "Alhamdulilah, aku bahagia melihat ini." Mereka semua pun tersenyum bahagia.


***


Esok hari ketika hendak menuju Rumah Elvira, Ibu mertua dan menatunya terlihat saling bergandengan. Setelah kejadian salah paham ini ikatan batin mereka pun menjadi lebih kuat.


"Bu Reni mau kemana? Apa kami gak salah lihat? Kalian akrab sekali? Sapa dua orang warga dengan beberapa pertanyaan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu seolah menyindir orang itu yang bukannya mengucapkan salam terlebih dahulu, malah langsung meluncurkan beberapa pertanyaan yang kurang enak di dengar.


Terang saja para tetangga merasa aneh dengan ke akraban mereka, karna sudah satu bulan lebih ini Bu Reni nyuekin Sita, bahkan sering sekali ketus dan membentak Sita di hadapan tetangga sekalipun.


"Maaf Bu Reni, Assalamualaikum," ucap kedua tetangganya.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu dan Sita. "Kami mau ada keperluan. Kalian tidak perlu heran melihat anak dan Ibunya bertengkar lalu mereka baikan, bukankah itu wajar. Yang tidak wajar itu jika ada orang menyebar fitnah dan orang itu merasa tidak bersalah" Ucap Ibu dengan kesal, setelah penjuru matanya menangkap dua pasang mata Elena sedang menguntit di pinggir rumah tetangga.


Lalu Ibu dan Sita pun berlalu pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Menyebar fitnah, Apamaksudnya?" kedua tetangganya merasa heran dengan perkataan Ibu dan mereka pun berlalu.


Elena kesal menyadari dirinya tertangkap basah mengintip Oleh Ibu. Ia pun menghentakan kaki ke tanah dan pergi. 'Kok bisa sih Ibu akrab lagi sama Sita' batinnya kesal.


Sementara Dino terlihat tengah menunggu Ibu dan Sita di dalam mobil, "Kenapa kalian lama sekali," tanyanya yang sudah menunggu lama.


"Biasa sayang ada sedikit gangguan," ucap Ibu.


"Gangguan apa Bu?" tanya Dino.


Ibu dan Sita pun saling lempar senyum.


"Bukannya jawab malah pada senyum," Dino penasaran. Ia pun mulai melaju.


"Gini lo sayang, tetangga kita tuh pada heran melihat Ibu dan Sita bergandengan, Ya kan Sit,"


"Iya Sayang," jawab Sita.


"Oh, ya," ucap Dino dengan menyunggingkan senyum.


"Tapi Ibu berhasil membuat mereka tak berkutik," lanjut Sita.


"Benarkah?" tanya Dino.


"He'emh" Sita mengangguk dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Oh ya, Bu. Kenapa tadi Ibu bicara seperti itu ya? yang menyebar fitna kan bukan mereka?" tanya Sita heran.


Ibu pun menjelaskan, "Gini loh sayang, sengaja Ibu mengatakan itu, karna Elena menguntit disana."


"Benarkah Bu,"


"Benar, biar dia paham."


"Wah mata Ibu tajam juga ya, Bu" ucap Dino.


Hahaha...ketiganya pun tertawa bahagia.


Tak lama Sampai di Rumah Elvira. Dino pun mengetuk pintu, dan langsung masuk seraya mengucapkan salam, Dino tau Elvira ada di kamarnya dengan kondisinya seperti itu tidak mungkin bisa membukakan pintu. Bahkan pintu rumahnya sengaja tidak di kunci agar Dino mudah masuk.


"Waalaikumsalam," jawab Elvira di dalam kamarnya.


Dino, Sita, dan Ibu pun langsung masuk ke kamar Elvira.


"Syukurlah kamu datang Dino, aku ingin sekali ketoilet," Ucap Elvira yang tak menyadari kedatangan Ibu dan Sita yang masih berada dibelakang Dino.


"Oh, ya," ucap Dino.

__ADS_1


Mata Elvira pun melirik kepada kedua wanita yang muncul mengikuti Dino.


"Maaf! Aku pikir tidak ada orang lain yang datang," ucapnya sedikit kaget namun ramah.


"Tidak apa Nona, mari saya bantu, saya Sita Istrinya Dino, dan itu Ibu kami." Sita memperkenalkan diri, lalu mengambil tongkat yang ada di sebelah tempat tidur.


"Kaki ku belum cukup kuat untuk menggunakan tongkat, untuk itu aku menahannya sejak semalam," tutur Elvira.


Semua orang saling tatap bergantian, dengan tatapan yang bingung.


"Maaf, aku merepotkan kalian," ucap Elvira lirih.


"Iya sayang, sudah kujelaskan kondisinya pada kalian, maaf aku harus menggendongnya ke toilet," ucap Dino perlahan mencoba menjaga perasaan Istrinya.


Sita pun menganggukan kepalnya pasrah.


Saat Dino melirik Ibu, Ibu pun mengedipkan kedua matanya tanda Ibu mengijinkan.


Dino pun menggendong Elvira ketoilet, setelah mendudukannya di kloset duduk Dino pun keluar dan menup pintu.


Merasa 'tak Enak hati Dino pun menghampiri Sita dan memeluknya, " Sayang, maafkan aku, ini di luar kuasa ku."


"Aku paham," ucapnya pelan.


"Dino, sebaiknya kita meminta Dokter memasang selang di V*g*n*nya semua akan menjadi mudah." Saran Ibu.


"Kita harus tanya dulu sama Elvira Bu, belum tentu dia mau," ucap Dino.


Sita masih dalam pelukan Dino, Ibu pun mengelus lembut rambut Sita yang di tutup hijab, dan berkata, "Sabar ya sayang, tugas suami mu ini sangat berat."


"Iya, Bu." Sita pun mencoba bijak menyikapi masalah ini, meski hatinya merasa tak Enak memangdang suaminya menggendong perempuan lain. Meski itu sebuah keterpaksaan.


"Dino, aku sudah selesai!" teriak Elena di dalam toilet.


"Iya, tunggu sebentar." Dino pun melepaskan pelukannya.


"Apa aku boleh membuka pintu?" tanya Dino.


"Ya, bukalah, aku sudah selesai," ucap Elvira.


Dino pun membuka pintu, dan menggendong Elvira kembali.


Pemandangan ini sungguh menyesakkan hati Sita, namun apalah daya, takdir mengharuskan ini terjadi.


Dino pun hendak membaringkan Elvira di pembaringan dengan perlahan, Namun Elvira menghentikan, "Tunggu! aku ingin duduk di kursi roda!" pintanya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, favoritnya ya❤❤❤


__ADS_2