
"Abah," panggilnya dengan suara yang masih sangat lemah.
"Sita ...! Sayang, akhirnya kau bangun. Syukurlah." Seketika dada Abah pun kembali lega, dengan segera Abah memeluk putri kesayangannya itu.
"Alhamdulilah," ucap syukur semua dengan bahagia.
Sita pun berusaha membalas pelukan abah, meski untuk mengakat tangannya saja rasanya dia masih sangat lemas.
Dino menatap Sita dengan tatapan kebahagiaan, deraiyan air mata duka pun berganti haru kebahagiaan.
Abah bergeser memberi ruang untuk Dino
"Sayang." Dino memeluk Sita erat, mencium kening yang terbalut perban, mata dan pipinya. "Aku khawatir, kamu tak kunjung bangun, Sayang," Dino menatap lembut mata sang istri.
Sita berusaha membalas dengan tersenyum, meski tiba-tiba bayangan itu muncul kembali. Ia berusaha menutupi dukanya di hadapan keluarga, tak ingin membuat mereka semakin cemas.
"Matamu sembab, kamu pasti cengeng!" Sita memanjakan ucapannya dengan mengusap lembut pipi sang suami. Itu dilakukan suapaya terlihat baik-baik saja dimata Abah dan yang lainnya.
"Aku tidak cengeng, Sayang, mata ku hanya kelilipan cinta mu," balas Dino, yang mengerti maksud Sita. Dengan memegang tangan Sita yang masih mengelus lembut pipinya.
Hee, heemmm ... Abah dan semua kakaknya yang ada disana pun tesenyum senang melihat tingkah keduanya.
Dino pun tersenyum lega, ia merasa tenang, dan berpikir perasaan Sita sudah kembali stabil. Meski ia tau luka hatinya tak mudah untuk di lalui. Dan Dino pun tau apa yang Sita lakukan ini hanya untuk menutupi kesedihannya dihadapan keluarga. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam Sita sangatlah terluka.
Tiba-tiba Ibu pun datang bersama Elvira.
Ketenangan yang baru saja di rasakan Dino berubah kembali menjadi kekhawatiran.
Sita terdiam melihat Elvira, hampir saja buliran bening itu menetes kembali. 'Tahan Sita' batinnya. Ia mengedipkan matanya yang sudah berkaca, mengalihkan pandangan agar buliran itu tak sampai menetes. Ia menghela nafasnya untuk menenangkan diri.
Kak Riri memperhatikan Sita. Ia merasa ada kejanggalan dari sikap adiknya itu, saat melihat perempuan yang berdiri di sebelah ibu mertuanya itu.
Ibu pun melangkah menghampiri Sita dan memeluknya. "Syukurlah, Sayang, akhirnya kamu bangun, Ibu khawatir sekali padamu.'
Sita pun membalas pelukan Ibu.
"Alhamdulilah, Bu, aku baik-baik saja kok," ucap Sita disertai senyum.
"Untung saja ada Elvira yang mendonorkan darahnya untukmu, Sita," celetuk Kak fitri dengan memegang kedua bahu Elvira.
Deg ...
Terlihat kepanikan di wajah Ibu dan Dino. Khawatir Sita shok dan 'tak bisa menerima.
__ADS_1
"Donor darah! Elvira mendonorkan darah untukku?" Sita tersentak mendengarnya.
"Iya Sita, kita berhutang nyawa padanya," ucap kak Fitri.
Deg ...
'Hutang nyawa!' tiba-tiba dada Sita naik turun menahan sesak yang teramat berat. ia pun mengusap air mata di pelupuk matanya yang hampir menetes.
Semua orang kaget di buatnya.
"Sayang, Kau baik-baik saja?" ucap Dino khawatir.
"Kamu kenapa, Sita?" tanya Kak Fitri.
"Tidak, aku tidak apa-apa," elaknya menutupi duka. "Aku baik-baik saja, aku hanya kaget. Itu berarti keadaanku kemarin begitu parah, hingga aku membutuhkan donor darah. Maafkan aku, telah membuat kalian cemas."
"Yang penting sekarang kamu sudah membaik, Sayang." Ibu mengusap lembut kepala Sita, berharap Sita bisa lebih tenang. Sesungguhnya ibu mengerti dengan gejolak yang sedang dirasakan Sita.
Sita pun tertegun, ia Sibuk dengan pikirannya sendiri 'Elvira adalah perempuan yang telah dinodai oleh suamiku, selain berhutang kehormatan aku juga berhutang nyawa padanya sekarang. apa yang harus aku lakukan?' batin Sita berkecambuk pedih. Ia mencoba menahan sesak di dada yang terasa begitu berat. Walau begitu Ia tetap berusaha bersikap tenang. "Terimakasih Elvira," ucapnya pelan.
"Sama-sama," ucap Elvira dengan pelan.
"Terimakasih, Nak, Kamu telah menyelamatkan nyawa anak Abah, semoga kamu selalu diberi kebahagiaan, dan segera mendapat jodoh yang saleh,"
Deg ...
Bagaimana tidak, perempuan yang telah di nodai suaminya mendapatkan doa tulus dari sang ayah, jodoh yang saleh. Sementara Dino harus mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Elvira. 'Haruskah, mereka menikah?' bisik hati Sita, Perih luka hati, seakan teriris-iris.
Dokter pun Datang memeriksa Sita.
"Silahkan tunggu di luar kami harus memeriksa pasien," ucap Dokter tersebut.
"Boleh saya menemani anak saya di dalam, Dok?" pinta Abah.
"Baiklah, hanya satu orang, yang lain silahkan keluar!"
Sebenarnya ingin sekaki Dino menemani sang istri saat periksa di dalam, namun tak apalah, ia mengalah pada Abah, toh Abah adalah orang tua Sita.
Semua orang pun menunggu di luar, kecuali Abah. Dia menemani putrinya di dalam saat pemeriksaan.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Abah saat Dokter telah selesai memeriksa.
"Syukurlah, pasien segera siuman, semua terlihat baik-baik saja, besok pasien sudah boleh pulang," jelas Dokter.
__ADS_1
"Terimakasih, Dok,"
"Sama-sama, Tuan,"
Dokter keluar melangkah menuju ruangan, di depan pintu semua keluaraga menanyakan keadaan Sita, terutama Dino. Mereka semua pun bahagia mendengar Sita sudah boleh pulang besok. Sebagian keluarga pulang kerumah karna tidak boleh terlalu banyak orang yang menunggu disana.
Tinggal Dino dan Abah yang menunggu di rumah sakit.
Ketika Dino hendak membuka pintu secara perlahan, terdengan percakapan antara ayah dan putrinya. Dino menghentikan langkahnya mendengar percakapan mereka.
"Boleh, Abah tanya sesuatu?"
"Tanya apa, Bah?"
"Abah mengenalmu sejak kecil, Abah tau kamu menyembunyikan sesuatu?"
Deg ...
"Sita tidak menyembunyikan apa pun, Bah," elaknya.
"Kamu bisa menyembunyikan masalahmu dari orang-orang Sita, tapi tidak dari Abah," tuturnya.
"Tidak mungkin kecelakaan ini sebuah keteledoran, karna setau Abah kamu adalah orang yang sangat hati-hati,"
"Abah, kecelakaan itu bisa terjadi pada siapa saja, baik orang itu hati-hati ataupun tidak, semua adalah ketentuan-NYA." tutur Sita.
"Abah tau itu, Nak, tapi wajahmu tidak bisa menyembunyikan kebohongan dengan baik. Naluri Abah yakin kalau anak Abah sedang memiliki masalah."
Meski Abah telah mengatakan itu, Sita tetap berusaha tenang.
"Abah tidak usah khawatir! meski Sita punya masalah, masalah Sita pasti langung beres, karna Sita yakin do'a Abah selalu menyertai Sita," Ucapnya dengan tersenyum.
"Baiklah, Nak, jika kamu tetap tidak mau cerita." Abah pun pasrah, "Tentu saja do'a Abah selalu menyertaimu, semoga Allah selalu melimpahkan kebahagian untukmu, Nak." Abah pun tersenyum pada anak bungsunya itu.
"Dengar pesan Abah, mengadulah hanya pada Alloh, itu adalah solusi terbaik masalah kita, tetap iklas menghadapi ujian dan satu lain khusnudzon lah pada-NYA, jangan ragukan kebesarannya."
Sita pun menganguk pelan di sertai senyuman.
'Kau memang wanita kuat. Ya Alloh tunjukan kebenaran pada kami, kembalikan kabahagian untuk istriku," batin Dino.
Niat hati ingin menemui Sita pun ia urungkan, ia membalikkan badan dan melangkahkan kakinya menuju satu bangunan megah berkubah emas. waktu menujukan pukul 12. 00 WIB.
"Biar aku yang adzan," pinta Dino pada muadzin yang hendak mengumandangkan adzan.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa dukungannya ya bestie.😘😘😘❤❤❤