
"Arvi Aldino." Ulang Bi Marni yang mendengar ucapan Amel saat membuka pintu, "Nama yang bagus," lanjut Bi Marni sambail melangkah menghampiri Amel.
Amel pun tersenyum. "Amel ambil dari nama ayahnya, Bi."
"Non Amel sangat mencintainya?" tanya bi Marni, lalu duduk di bibir ranjang.
"Sangat Bi, Amel sangat mencintainya," ucap Amel dengan tersenyum.
"Boleh, Bi Marni tanya sesuatu pada Non Amel?" tanya Bi Marni.
"Silahkan, Bi, Bibi mau tanya apa?"
"Samapai kapan Non Amel mau menjalani hidup seperti ini?"
Deg ...
"Maksud bibi?"
"Apa Non Amel tidak mau kembali pada suami Non Amel? Samapai kapan Non Amel menghindar dari kenyataan?"
Tiba-tiba Amel menunduk lesu, memikirkan semua perkataan Bi Marni.
"Amel tidak tau, Bi," jawab Amel pelan.
"Jika Non Amel tidak bisa menerima perempuan lain di hidup suami Non Amel, lebih baik Non Amel berpisah dari suami Non Amel, jangan menggantung hubungan, itu tidak baik."
Deg ...
"Kenapa Bi Marni mengatakan itu?" tanya Amel dengan mata yang berkaca.
"Hubungan itu butuh kejelasan. Non Amel bertahan dengannya, tapi Non Amel jauh darinya, apa status hubungan Non Amel sebenarnya?"
"Bibi!" Amel tersentak, dan terisak.
"Maafkan Bibi Non, bibi sayang sama Non Amel, Non Amel berhak bahagia, apa gunanya mempertahankan hubungan yang tidak ada kejelasan seperti ini."
"Lalu apa yang harus Amel lakukan bi?" Amel pun menangis kembali.
"Hanya ada dua pilihan untuk kejelasan statusmu ini Non, bertahan dan kembali, terimalah kenyataan walau menyakitkan, atau berpisah."
buliran bening semakin deras mengalir di pipi Amel.
"Amel ingin kembali padanya, Bi, tapi Amel ingin jadi satu-satunya, saat ini biar lah Amel hidup menahan duka yang penting Amel tidak melihat mereka bersama."
"Di dunia ini masih banyak cinta Non, coba Non Amel buka mata," ucap Bi Marni.
Amel tertegun.
__ADS_1
Tiba-tiba Arvi menangis. Amel pun memberikan Arvi asi.
Bi Marni pun pergi kelur meninggalkan Amel.
'Maafkan bibi Non, semua harus jelas, bibi harap Non Amel berpisah saja dari suami Non, karna disini ada Pak Aditya yang akan membahagiakan Non Amel' bisik hati Bi Marni.
Diluar sana Dino tengah tergesa-gesa pulang ke rumahnya, setelah tadi ibunya menelponnya untuk segera pulang karna sang ibu jatuh saat menyiram tanaman, dengan menggendong seorang bayi dan membawakan suster untuk memeriksa kaki ibunya, Dino pun berjalan dengan cepat.
"Asslamualaikum, Ibu, lihatlah siapa yang Dino bawa!" teriak Dino saat masuk kerumahnya.
Terang saja ibu merasa gembira saat melihat kedatangan Dino bersama bayi di pangkuannya, ibu langsung berpikir itu Anaknya dan Sita.
"Waalaikum salam, kamu menemukannya nak?" Ibu pun lekas berdiri, namun kakainya terasa sakit, aaawwww, dan ibu pun duduk kembali.
"Kemari, Nak biar ibu pangku cucu ibu?" ucapnya dengan bahagia hingga melupakam kakinya yang terasa sakit.
Belum Dino memberikan bayinya ibu mencari Sita,
"Dimana Sita, mana dia?" Ibu melihat kearah pintu masuk namun tak juga melihat Sita muncul, hanya seseorang dengan pakaian suster yang ibu lihat.
Dino mendadak lemas saat ibu menanyakan Sita.
"Dino tidak menemukannya bu," ucap Dino dengan lemah.
"Lalu bayi siapa ini, apa bayi suster itu?" Ibu pun mendadak lesu.
"Ini bayi Dino. Dino mengadopsinya bu," jelas Dino.
"Nanti Dino jelasin sekarang kaki ibu harus di periksa," ucap Dino.
"Silahkan periksa kaki ibu saya!" Kata Dino pada perawat yang dibawanya dari rumah sakit.
Jelas terlihat kekecewaan di wajah sang ibu, berharap menimang cucu sendiri, Dino malah membawa bayi lain ke rumah ini.
Setelah perawat itu selesai memeriksa kaki ibu perawat itu pun kembali kerumah sakit setelah menerima pembayaran dari Dino.
"Katakan pada ibu! Kenapa kamu mengadopsi seorang bayi?"
"Dino kesepian,Bu, tanpa hadirnya Sita dan anak Dino. Dino harap anak ini bisa mengisi kekosongan Dino, menjadi pelipur lara bagi Dino."
"Tapi, Nak, kamu kan punya anak dari Sita," ucap ibu dengan lembut.
"Tetapi diman Sita bu? Apa dia akan kembali? Apa dia mengingat ku, kenapa tidak pernah datang? Dia tau aku disini, dia bisa menemuiku kapan saja, tapi dia tak ada datang bu, dia tidak mengindahkan perkataan ibu, bukankah ibu sudah memintanya untuk tidak meninggalkanku?"
Ibu pun tertunduk lesu
"Ibu memahami perasaan Sita, Wanita mana yang sanggup melihat pernikahan suaminya dengan perempuan lain, saat ini dia pasti sedang hancur, ibu mengatakan itu karna takut itu terjadi,"
__ADS_1
"Dan hal itu terjadi bukan. Kenapa? Kenapa Sita tidak menungguku, meminta ijin kepadaku--?"
"Karna dia tau kamu tidak mungkin mengijinkannya."
"Tapi setidaknya pernikahan kita selamat, Bu."
"Ya, itu memang benar," ucap ibu dengan deraian air mata dipipinya, "kemari nak, biar ibu gendong bayi itu, anak manis, kamu jadi cucu ibu sekarang, tebarlah kebahagiaan di dalam rumah ini," ucapnya masih menangis mengingat Sita, saat sedang memangku bayi itu.
Hari ini juga Amel sudah diperbolehkan pulang, kini mereka telah samapai di rumah Aditya, tidak ada pembicaraan selama diperjalanan, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Amel, mulai sekarang kamu tidur di kamar atas sebelah kamar saya, biar bayimu lebih nyaman," tutur Aditya.
"Diatas Pak?! Amel kaget, " tidak perlu, di kamar biasa saja sama Bi Marni," lanjutnya.
Sudah Aditya duga Amel akan menolak.
"Ini hanya sementara, sampai bayimu berusia empat puluh hari, di atas lebih hangat," lanjut Aditya.
"Pak Aditya bener Non, di atas lebih hangat itu baik buat bayi, Non Amel nurut saja deh, yuk bibi bawain baju-baju Arvi ke atas."
"Arvi! Nama bayimu Arvi?" tanya Aditya.
Amel mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, Ayo Arvi ikut papa ke atas!" ucap Aditya keceplosan.
Saat menyadarinya, seketika Aditya menjadi gugup, "Ma-maksud saya Om, iya, Om, ayo ikut Om ketas," ucapnya lalu melangkah pergi keatas dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bi Marni yang memahami perasaan Aditya pun melengos pergi kekamarnya dengan tersenyum, mengambil pakayan Arvi yang hendak di pindah keatas.
Amel mengerutkan keningnya heran, lalu ia melangkah berjalan keatas mengikuti Pak Aditya.
Saat Pak Aditya membuka pintu, Amel dikejutkan dengan suasana pemandangan kamar bayi yang indah, nampaknya Aditya telah menyiapkan semuanya.
Amel masuk dengan kagum, "Masya Allah, Pak Aditya yang menyiapkan ini?" tanya Amel dengan tersenyum.
"Iya, ini untuk Arvi," ucapnya.
"Tapi ini berlebihan, Pak," ucap Amel.
"Ini tidak berlebihan, ini hanya penyambutan buat Arvi," ucap Pak Aditya, "Ya sudah silahkan istirahat saya kekamar dulu," lanjutnya.
Amel mengangguk, lalu mengamati seluruh ruangan dengan tersenyum.
Ketika membalikan badannya Aditya mendapati senyum indah Amel yang membutnya semakin bersebar.
Amel terlihat rikeks dan nyaman, sejenak bebannya seolah hilang, dan itu membuat Aditya tenang. Dia pun tersenyum bahagia menikmatinsenyum indah Amel.
__ADS_1
Di dalam kamar Aditya terus membayangkan Amel, "Tidak kusangka, inikah cinta, mengapa tidak pernah aku menyadarinya, rasanya bahagia melihat dia bahagia seperti itu, dan sakit ketika dia merasakan sakit. Aku akan membahagiakanmu Amel, lupakan suamimu, belum tentu dia memikirkanmu saat ini." Aditya pun merebahkan diri beristirahat sejenak sebelum dia kembali ke cafe.
bersambung ....