Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Duka Ratih


__ADS_3

Sudah satu minggu Bimo tidak pulang kerumahnya, menginap di rumah sanga ibu dengan alasan ibunya sakit.


Ratih berniat memberi kejutan pada sang suami, pagi-pagi sekali dia datang kerumah sang ibu mertua dengan penuh semangat, namun ia dikejutkan dengan pemandangan yang menyakitkan, saat melihat perempuan lain dengan wajah yang cantik dan anggun bergelayut manja di bahu sang suami dengan mesra, dan itu dilakukan dihadapan ayah dan ibu mertuanya.


Seketika Ratih pun tersentak, dia yang masih berada di bibir pintu berusaha mengatur nafas, mencoba berpikir positif, mungkin itu adik Bimo yang belum dia kenal, Ratih mencoba melangkah perlahan meski ragu, namun baru satu langkah, Ratih mendengar perempuan itu memanggil suaminya dengan sebutan "Suamiku sayang," dan merubah posisi tangan yang menggelayut di bahu itu ke pinggang Bimo, lalu menyandarkan kepalanya di dada Bimo layaknya sepasang suami istri. seketika Ratih pun hancur.


Flasback on.


"Suamiku sayang, jangan lupa setelah bayi itu lahir, langsung buatkan akta kelahiran atas nama kita sebagai orang tuanya, bukan kau dan Ratih," ucap perempuan itu dengan manja, bahkan mengenal nama Ratih.


Hal itu semakin membuat Ratih hancur seketika linangan air mata membasahi pipinya.


"Tenang sayang, aku akan urus itu semua, kau jangan khawatir, aku mencintaimu," ucap Bimo kemudian.


Membuat hati Ratih semakin teriris pedih.


"Akhirnya setelah bertahun-tahun kalian akan memiliki keturunan juga, jangan lupa ceraikan dia setelah itu," lanjut ibu mertua. mengingatkan Bimo. Membuat Ratih semakin shock tak kuasa menahan tangis, ia mencoba membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tak terdengar oleh mereka.


"Iya sayang, setelah itu semua warisan papa serahkan padamu," tambah ayah mertua yang juga semakin menusuk hati Ratih.


'Ternyata semua ini hanya karna harya warisan, Bimo tega melakukan ini' pikir Ratih.


"Kasihan sekali nasib Ratih, harus di tinggal suami dan anaknya setelah melahirkan," ucap ibu mertua lebih terdengar meledek dari pada merasa iba.


Tangis yang Ratih tahan semakin terisak, bahkan bekapan tangannya pun sudah tak mampu menyembunyikan suara itu, hingga rintihannya semakin terdengar keras, dan membuat mereka menoleh ke arah Ratih.


Seketika Ratih pun lari meninggalkan Kediaman mertuanya, yang lebih layak di sebut musuh baginya. dan sampailah ia bertemu dengan Dino pagi ini.


Plas back of.


Sita memeluk erat sahabatnya, dengan linangan air mata di pipinya.


"Tak ku sangka nasibmu begini, Rat. Rasanya aku menyesal pernah mendukung hubungan kalian," ucap Sita sendu.


"Untunglah aku bertemu denganmu, jika tidak entah aku harus kemana?"


"Kamu masih punya keluarga Rat."


"Mungkin mereka akan mencariku kesana, aku tidak mau menyerahkan bayiku kelak pada mereka," tutur Ratih.


"Sementara kau boleh tinggal di rumahku, Dino pasti mengijinkannya."


"Makasih ya Sita."


Sita mengangguk dan tersenyum.


Setelah berbicara pada Sahabatnya Ratih pun merasa lebih lega.


Setelah berbincang mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.


"Sayang, mari kita pulang," ajak Sita, saat menghampiri meja suaminya.

__ADS_1


Dino melirik kearah Sita. "Ayo," jawabnya.


"Hai baby mama, kalian anteng ya sama papa, dan om," celoteh Sita pada kedua buah hatinya.


"Bagaimana keadaan Ratih, dia sudah membaik?" tanya Dino.


"Ya dia lebih baik."


Dino mengangguk mengerti, kemudian melirik Aditya.


Dino meraih tangan sang istri dengan sengaja dan mengecupnya di hadapan Aditya.


Huuuuhhhh seketika Aditya menggelengkan kepalanya, dan tersenyum miring, mengerti maksud Dino. 'Aku tau dia punyamu' batin Aditya masih merasa cemburu.


"Oh ya, apa Ratih boleh tinggal sementara di rumah, sayang," tanya Sita.


"Iya, tentu saja," kata Dino.


"Ya sudah, aku panggil Ratih dulu." Sita pun melangkah menuju meja Ratih.


Sepeninggal Sita.


"Apa kau sengaja membuatku cemburu?" kata Aditya.


"Tidak. Itu hanya sedikit tamparan buatmu, agar kamu ingat dia ada pemiliknya," ucap Dino dengan santainya.


"Terimakasih buat tamparannya," ucap Aditya sedikit kesal, dan langsung bangkit pergi ke ruangannya.


'Aku yakin kamu bukan laki-laki pengecut yang akan memaksakan kehendakmu, Dit.' batin Dino yang mulai merasa lega.


***


Dirumah Sita.


Namapaknya Ratih terlihat sangat lelah, setelah berbincang dengan, ibu, Dino dan Sita. Seperti biasa ibu selalu menyamput tamunya dengan Ramah, membuat Ratih merasa nyaman seperti di rumah sendiri.


"Kamu nampak lelah? kamu langsung istirahat saja!" ucap ibu pada Ratih.


"Ayo ku antar ke kamarmu," kata Sita.


"Baik Bu, makasih banyak. Maaf saya jadi merepotkan, Ibu," ucap Ratih dengan penuh rasa hormat.


"Tidak apa-apa Nak, anggap saja rumah sendiri," tutur ibu di iringi senyuman, dan mendapat balasan senyum yg indah dari Ratih.


"Kamu istirahat disini ya, Rat. Semoga kamu nyaman, meski tidak seluas kamarmu," ucap Sita setelah sampai dikamar berukuran sekitar 3x3 meter.


"Apa? Yang bener saja Sit, kamu seolah bicara dengan orang lain, ayolah aku ini Ratih tempat ini adalah tempat ternyaman buatku," tuturnya saat dia duduk di atas bibir ranjang dengan menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit kamar.


"Yaaa ... kamu 'kan sudah lama tinggal di rumah mewah dengan kamar yang luasnya segede rumah ini, siapa tau kamu--"


"Sitaaa ... aku tidak suka dengan apa yang akan kamu katakan ya." Ratih memangkas ucapan Sita.

__ADS_1


Sita mengerutkan kepala.


"Emang kamu tau apa yang ingin aku katakan?" tanya Sita.


"Pasti kamu mau bilang--"


"Aku mau bilang aku Rindu tidur bareng kamu," pangkas Sita.


"Eeummm ngeles."


Hahaha ...


***


Di Rumah Bimo


"Kemana Ratih pergi? Aku khawatri dia pergi kerumah orang tuanya," tutur Bimo yang sedang mondar mandir di ruangan keluarga.


"Kamu sih, masa gak bisa ngejar wanita hamil," ucap Siska istri pertama Bimo.


"Akh ... kamu juga sih, terus saja ngomongin anak, akta kelahiran, cerai, gini 'kan jadinya," Ucap Bimo penuh penekanan.


"Kok jadi nyalahin aku sih, aku hanya mengingatkan kamu, jangan sampai kamu lupa sama janjimu."


"Aku gak mungkin lupa sayang, aku mencintaimu," tutur Bimo.


"Dan Ratih?" Pertanyaan Siska ini membuat Bimo terdiam.


"Akhh ... Sudah lah lupakan itu." Bimo mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa setiap kali aku membahas perasaanmu pada Ratih kamu selalu mengalihkan pembicaraan?" sarkas Siska.


"Aku tidak mengalihkan pembicaraan, aku hanya tidak ingin membahas itu."


'Sudah jelas kau juga mencintainya Bimo' Batin Siska menerka.


"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar?" kata Mely mama Bimo Melerai perdebatan mereka.


"Bagaimana Ratih bisa datang kesini tanpa memberitahuku," gumam Bimo.


"Sudah pasti dia merindukanmu, apa lagi?" ucap Siska ketus.


Bimo melirik Siska, terlihat wajah Siska yang cemberut. Bimo menghampirinya dan berkata, "Kamu tidak pantas cemburu padanya, buatku kamu segalanya," Rayu Bimo, lalu mengecup tangan Siska.


"Heheuuu ... Tidak usah merayuku, cepet kamu cari dia, aku tidak mau kehilangan bayi itu," ucap Siska yang sudah sangat mendambakan kehadiran seorang bayi dalam rumah tangganya.


Bersambung ...


Jangan lupa penyemangat untuk Author ya readers.


Like, koment, favorit, dan hadiahnya juga ya😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2