Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Ngidam Part 1


__ADS_3

"Aku tidak mengenalmu." Elvira berpura-pura tidak tahu.


"Jangan bohong ya, aku bisa lihat wajah palsu mu," gertak Elena


Deg ...


"Apa maksud mu?"


"Aku tau apa yang kamu pesan sama laki-laki tadi,"


Elvira mengerutkan keningnya. "Oohh ... rupanya kamu memata-mataiku Elena,"


"Elena! Luar biasa kamu tak mengenalku tapi tau siapa namaku, wow ...." Elena pun bertepuk tangan. "Sudah kuduga kau adalah ular!"


Hem ... Elvira pun tersenyum sinis.


"Jika aku ular, lalu kamu apa? Hem ...."


"Katakan padaku apa tujuan mu masuk ke keluarga Dino," tanya Elena dengan tatapan tajam.


"Sita! Aku ingin kehancuran Sita," Elvira pun melemparkan tatapan tajamnya pada Elena


"Woo ... Kalau begitu tujuan kita sama, kehancuran Sita," Elena pun mengulurkan tangan pada Elvira. Dan mengukir senyum di bibirnya.


Elvira tidak menyambut uluran tangannya, dan mengerutkan keningnya kembali.


"Apa ini?" tanya Elvira.


"Keja sama ... untuk menghancurkan Sita,"


Hahahaha ... Elvira pun tertawa mengejek.


"Kamu pikir aku mau kerja sama sama ular bo*oh kaya kamu?"


Seketika wajah Elena berubah menjadi kesal.


"Kau bilang apa? Aku bo*doh." Elena geram dan menghampiri Elvira dengan tangan yang mengepal.


"Is, is, is, menankutkan sekali," ucap Elvira yang melihat tingkah Elena. "Aku tak yakin kamu mau kerja sama dengan ku, setelah kamu tau apa rencanaku,"


"Apa rencana mu?" tanya Elena penasaran.


"Tentu saja menghancurkan Sita, dan Dino adalah alatnya,"


"Kurang ajar," Elena memegang dagu Elvira dengan kasar, "Apa yang akan kamu lakukan pada Dino? awas aja kalau kau berani macam-macam padanya!"


Tak sedikit pun rasa takut dimata Elvira dengan ancaman Elena, ia segera melapaskan diri dari Elena.


"Sudah ku duga. Kau tak akan suka, jadi lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum aku berteriak,"


Tap tap tap terdengar suara langkah kaki ibu yang hendak menuju kamar.


"Awas ya, berani macam-macam sama Dino, kau berurusan denganku," ancamnya. Lalu Elena pun pergi keluar lewat pintu jendela kamar.


"Nak, Elvira! nih wedang jahenya sudah selesai,"


"Makasih,Bu. Padahal aku sudah bilang gak usah, Bu."


"Gak papa, Nak, Ibu khawatir terjadi sesuatu sama kamu,"


"Makasih ya, Bu, Ibu udah perhatian banget sama aku, boleh kupeluk Ibu?" ucapnya dengan membuka tangan.


"Tentu saja nak, peluklah Ibumu ini!" Ibu pun membuka tangan selebar-lebarnya memeluk Elvira.


Di luar sana Elena tengah memikirkan sesuatu, bagaimana caranya agar bisa mengawasi Elvira dengan leluasa.


Mendengar Dino yang akan di jadikan alat, tentu saja dia merasa khawatir. Dino adalah satu-satunya tujuan hidupnya.


***


"Assalamualakum," terdengar ucapan salam yang ramah.


Sita yang sedang duduk santai di ruang tamu menoleh ke arah suara "Waalaikumsalam." sungguh kaget luar biasa setelah melihat siap yang datang.


Mendengar seseorang mengucap salam Ibu dan Dino yang sedang berada di kamar pun keluar melihatnya, keduanya pun sungguh dikagetkan dengan kedatangan Elena. Aksi saling lempar tatapan yang tidak nyaman pun terjadi silih bergantian antara mereka.


"Beraninya kamu datang kesini Elena!" ucap Dino penuh penekanan.


Elena tetap diam menahan diri.


Kini dia melangkah dan bersimpuh di kaki Sita, "Aku mohon, maafkanlah aku, aku sadar aku salah, aku sudah berbuat banyak kesalahan padamu Sita," ucapnya lirih bersamaan dengan air mata palsu yang membasahi pipinya. "Kamu benar Sita, Allah tidak akan memisahkan sesuatu yang baik melainkan akan di gantikan dengan yang lebih baik lagi, seharusnya aku yakin akan ada yang Alloh berikan pada ku yang lebih baik dari pada Dino. dan seharusnya aku bisa bersahabat dengan takdirku," serentetan kata terucap dari mulut Elena.

__ADS_1


Sita tak berbicara apapun, dia melirik Dino dan Ibu. Seketika Ibu mengedipkan kedua matanya, seolah menyuruh Sita memaafkannya.


"Bangunlah, tidak perlu seperti itu!" ucap Sita.


"Tidak Sita, sebelum kamu memaafkan aku, aku tidak akan bangun,"


"Baiklah, ayo bangun!"


"Kau memaafkan ku?"


"Ya, aku memaafkanmu."


"Terimakasih Sita," Elenapun berdiri dan memeluk Sita.


Entah lah Elena tulus atau pun tidak, meminta maaf padanya, yang pasti jika orang telah meminta maaf Kita harus berusaha memaafkannya.


***


"Sayang, kamu yakin Elena sungguh sungguh," tanya Dino. yang sedang berbaring di tempat tidur.


Sita yang berada disebalahnya pun menjawab, "Aku tidak tau, Sayang?"


"Aku rasa dia tidak bersungguh-sungguh,"


"Tugas kita hanya memaafkan orang yang meminta maaf pada kita, sungguh-sungguh atau pun tidak, itu bukan urusan kita, kita serahkan saja semua pada Alloh,"


"Tapi kita harus tetap waspada, jangan sampai terjadi lagihal-hal yang tidak di inginkan, terlebih sekarang kamu sedang mengandung, aku tak mau kamu banyak pikiran."


"Tentu saja, Sayang, kita harus tetap berhati-hati."


"Ya sudah lebih baik sekarang kita istirahat,"


"Tidak sayang, aku tidak mau tidur,"


"Kenapa tidak mau?"


"Aku lapar,"


"Kamu mau makan? Sejak kapan kamu makan semalam ini?"


"Sejak saat ini, sejak dede bayi ini ada di perutku," ucap Sita sambil mengusap lembut perutnya yang belum membesar.


Dilihat jam di hand phone Dino, 'Dino sedikit tertegun, 'Aih, jam sebelas malam, semoga aja istriku ini cuman mau makan nasi yang ada di rumah, jangan sampe mau yang aneh aneh seperti cerita orang-orang' bisik hati Dino.


"Hem .. aku lagi takut kamu minta aneh-aneh seperti apa kata orang."


Hahaha ... Sita tertawa.


"Masalahnya ini jam sebelas malam, Sayang. Kalau mau minta aneh-aneh nyarinya kemana? Hehe ...." ucap Dino sambil mengusap-usap kepalanya sendiri.


"Istrimu ini gak akan minta aneh-aneh kok. Ayo ikut aku kedapur," ajaknya sambil menarik tangan suaminya.


"Syukurlah, kamu ajak aku kedapur, bukan ke Mall,"


"Hahaha ... Ayo, Ini sayurannya sekarang kamu masak!"


"Apa, aku masak!" Dino menepuk jidatnya sendiri.


"Iya, aku mau sayur asem buatan suamiku,"


"Aduh, Sayang aku gak pernah masak, gimana jadinya sayur asem buatan suamimu ini,"


"Pokoknya aku tunggu disini, kamu masakin aku titik,"


"Oke, oke! gimana caranya? Bumbunya apa aja, Sayang?"


"Terserah kamu, bumbunya apa aja, yang penting cepet mateng, aku udah laper banget nih,"


"Sino dong bantuin aku!"


"Kalau aku bantuin sama aja bohong dong sayang, aku mau maskan buatan mu,"


"Oke, oke, duduk saja disitu, Sayang, Suamimu akan masak yang lezat,"


"Oke,"


Dino merogoh saku celananya, di ambilnya hand phone dan di bukanya youtube.


Search, cara masak sayur asem.


"Ah, nemu!" ucapnya.

__ADS_1


Akhirnya selesai, sebelum ia sajikan kepada sang istri tercinta, ia pun mencoba sayur yang ia masak, di ambilnya mangkok dan sendok, di tiupnya sayur panas itu dan di masukakn kemulutnya, "Cuih ... Cuih ... Sayur apaan nih rasanya aneh banget, akh di video bilang penyedapnya secukupnya sih coba ada takarannya," Dino pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan mentertawakan masakannya sendiri. "Apa yang harus ku lakukan? tapu ya sudah lah."


"Ini, Sayang, sayur sudah jadi," perasaannya cemas karna masakannya gak enak, tak tega bila harus kasih ke istri, tapi tak apalah setorin dulu aja hasil masakanny.


"Emh ... Wanginya sedap," ucap sang istri


Hehe ... Dino tertawa kecil


"Cicip aja," Dino pun mengambilkan mangkuk sayur dan sepiring nasi,


"Ayo kita makan," ajak Sita.


"Tidak-tidak, ini kuhus buatmu, aku tidak lapar?" tolak Dino yang membayangkan rasa maskan aneh buatannya.


"Sejak kapan kamu menolak makan sepiring berdua denganku?"


"Sejak hari ini, sejak kamu nyuruh aku masak."


"Hahaha ... Aaaa ...." Sita meminta Dino membuka mulutnya.


"Aku dulu! lebih baik kamu dulu deh, Sayang!"


"Kenapa cemas gitu sih mukanya?" tanya Sita.


Lalu Sita pun mulai memakan sayurnya, ketika sayur mulai masuk kedalam mulutnya ia pun terdiam, mulai merasa-rasa masakan suaminya. " Waw ... Enak banget, Sayang."


Di luar dugaan sang suami, Dino seketika langsung bengong "Hah ... Enak!"


Dino pun menelan air liurnya sendiri karna merasa aneh. Karna penasaran Dino pun mencoba kembali masakannya, Cuih ... Cuih ... Ia memuntahkan kembali masakannya.


"Enak apanya sayang rasanya gak karuan begini, sudah jangan kamu makan!" pinta Dino, lalu mengambil mangkok sayur yang sedang dimakan Sita.


"Eh, kok di ambil sih!" Sita pun menarik kembali mangkok yang di ambil Dino. Mereka saling tari menarik mangkok.


"Ini gak enak sayang," ucap Dino


"Ini enak kok, Sayang," ucap Sita,


"Enggak,"


"Enak,"


"Enggak,"


"Enak,"


"Ada apa sih bersik banget," tanya ibu yang keluar dari kamarnya karna kebisingan kedua suami istri ini.


"Ibu! Maaf Bu, jadi ganggu istirahatnya Ibu!" ucap Sita pelan.


"Ini loh, Bu. Sayur gak enak ini mau dimakan sama Sita. lagian Dino kan 'gak bisa masak ini jabang bayi minta Papanya yang masak."


"Jadi ini kamu yang masak Din?"


"Iya, Bu. Ibu Cicip deh!"


Ibu pun mencuci mukanya terlebih dahulu, di lapnya muka dengan handuk, dan tangan menggunakan lap tangan yang ada di dapur.


"Coba sini, Ibu Cicip." Di ambilnya sayur menggunakan sendok dan ... Cuih ... Cuih ...


"Masakan apa ini Din?" tanya Ibu.


"Hahaha ... Dino bilang apa, Bu. Rasanya gak enak kan!"


Namun, Ibu mengukir senyum di bibirnya.


"Biarkan saja kalau Sita menyukainya, yang makan disini bukan Sita, tapi jabang bayi di perut Sita, makanya dia bilang enak," ucap ibu lalu kebali kekamarnya.


"Hahaha ... Ini beneran,Bu?" Dino merasa tak percaya.


"Iya, Orang hamil emang kadang aneh," ucap Ibu sambil menutup pintu kamarnya.


"Sini," Sita mengambil mangkok di tangan Dino. "Dengerin apa kata Ibu, dede bayi mau makan, Hem ....!"


Dino menggelengkan kepalanya lalu duduk di samping sang istri. Di usapnya kepala sang istri yang sedang makan dengan lahap.


Dino pun tersenyum melihatnya.


"Luar biasa keanehan orang hamil itu ya, asalkan yang dia mau di turutin dia langsung makan, hem ..." ucapnya dengan menatap sang istri dengan penuh kasih sayang.


Bersambung ....

__ADS_1


Nantikan ngidam part dua ya ... Apa yang di mau sang Ibu hamil. Jangan lupa like komennya, dukung terus karya autor biar semangat❤❤❤


__ADS_2