
Bi Marni pun merasa bersalah melihat Sita yang menangis histeris.
"Maafkan bibi, bibi tidak tau apa maslah kalian, bibi rasa suami Non ingin non pulang."
"Tidak, Aku tidak mungkin pulang kerumah suami ku?"
"Tapi kenapa Non, kalau boleh bibi tau? Mungkin bibi bisa sedikit meringankan beban Non,"
Deg ... Sebenarnya ingin sekali Sita berbagi cerita hanya sekedar untuk meringankan beban, namun ia berpikir kembali bagaimana mungkin ia menceritakan aib suaminya pada orang lain, terlebih Sita baru mengenal orang itu.
Sita hanya diam tak menjawab.
Suatu jawaban buat bi Marni, ia mengerti bahwa Sita tak ingin menceritakan apapun padanya. Bi Marni pun membalikan badan hendak pergi meninggalkan Sita.
"Tunggu bi!" Sita menghentikan bi Marni.
"Apa pak Aditya tau tentang iklan itu?"
"Sepertinya dia tidak tau, Pak Aditya jarang membuka sosmed, kalau tidak ada hal yang penting."
Sita pun mengangguk mengerti, dan bi Marni pergi meninggalkannya.
Pagi ini Amel telah bersiap pergi ke cafe bersama Aditya, dia senang sekali bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Ia berharap dengan bekerja dirinya tidak berlalut dalam kesedihan.
Aditya dan bi Marni di kejutkan dengan kemunculan Amel yang keluar dari kamarnya dengan memakai pakaian sar'i lengkap dengan cadarnya.
"Masya Alloh," ucap Aditya kagum.
"Masya Alloh Non, cantik sekali," ucap bi Marni.
Terlihat dari sorot matanya saat ini Amel tengah tersenyum.
"Non Amel, kenapa tiba-tiba Non Amel memakai niqob?" tanya bi Marni yang suka ceplas ceplos.
"Bi," panggil Aditya. Memberi kode agar 'gak kepo.
"Akh ni mulut, maaf Non, bibi suka kepo," lanjutnya.
Aditya masih terkesima melihat penampilan Amel saat ini, baginya wanita dengan penampilan sar'i lengkap adalah wanita yang cantik. terlebih dia sudah mengetahui kecantikan wajah Amel seperti apa.
"Tidak apa-apa bi, Amelkan mau kerja, karna Amel sedang jauh dari suami Amel jadi Amel harus menjaga pandangan buruk laki-laki lain pada wajah Amel, meski terlambat bi, harusnya Amel lakukan ini sejak kemarin Amel pergi dari rumah," ucapnya dengan sedih.
'Astagfirulloh' bisik hati Aditya, ucapan Amel menyadarkan dirinya bahwa Amel telah memiliki suami. rasa kagumnya tidak boleh sampai berlebihan. Ia sadar wanita dihadapannya ini mungkin tengah menghadapi masalah yang berat dengan suaminya hingga membuatnya meninggalkan rumah, namun dari caranya berkata tadi ia tahu sepertinya wanita ini sangat menyayangi suaminya hingga ia menjaga diri dari pandangan laki-laki.
"Ayo kita pergi," ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
Amel mengangguk.
"Kalian tidak sarapan dulu?" tanya bi Marni.
"Kita sarapan di cafe saja," ucap Aditya.
Amel terlihat lebih anggun berjalan dengan sar'i lengkapnya, sa'i yang di berikan sang suami dengan penuh kasih sayang. Betapa bahagianya Dino jika dia melihat kini sang istri telah berpakaian Sar'i lengkap seperti harapannya.
Aditya membukakan pintu mobil depan untuk Amel, "Ayo masuklah!" pintanya.
"Saya di belakang saja Pak," tolaknya.
"Saya bukan supirmu, masuklah kita sudah terlamba," pintanya lagi.
"Tetapi--"
"Akh baiklah, baiklah, aku mengerti," ucap Aditya, kemudian membukakan pintu mobil belakan untuk Amel.
"Terimakasih Pak," ucap Amel.
"Berapa kali saya bilang jangan panggil saya Pak," ucapnya sambil menyetir.
"Maaf saya lebih nyaman memanggil Anda bapak, meski usia kita tidak jauh berbeda, apa lagi sekarang Anda adalah bos saya."
"Maaf, Pak," ucap Amel merasa tidak enak.
Selama perjalanan mereka 'tak banyak bicara, Amel duduk dengan menunduk, sementara Aditya fokus denngan setirnya.
Samapai di cafe, Aditya memarkirkan mobilnya, ia turun dan membukakan pintu untuk Amel, semua karyawan yang melihatnya membulatkan matanya, ini pertama kalinya melihat pak Aditya bersama perempuan, mereka semua mengira Amel adalah kekasih pak Aditya.
"Mari, kita sudah sampai di cafe saya," ucapnya saat membuka pintu mobil.
"Amel pun turun, sesaat ia mengedarkan pandangannya takjub melihat cafe Aditya yang mewah, tetiba matanya teralih pada karyawan sang sedang memperhatikan mereka, menyadari itu, Amel pun langsung tertunduk malu, 'Kenapa mereka menatapku seperti itu, apa ada yang aneh denganku' batin Amel.
Sementara Aditya nampak santai dengan keadaan itu.
"Ayo!" ajak Aditya.
Sita hanya mengangguk.
"Pagi Pak," Sapa para karyawan dengan ramah.
"Pagi," balasnya dengan ramah juga. "Kita kumpul sebentar di ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan," titahnya pada seluruh karyawan.
Mereka pun menganguk dan berjalan mengikuti Aditya dan Amel yang sudah berjalan di depan mereka. Dibelakang mereka semua terdengar sedikit berbisik, entahlah mungkin sedang membicarakan Amel dan pak Aditya.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih sudah berkumpul, saya ingin memperkenalkan karyawan baru pada kalian, dia Amel, dia akan menggantikan posisi Wina, dan Wina sekarang sudah berada di kantor polisi. Jika ada yang berani melakukan hal yang sama seperti Wina, kalian akan tau akibatnya."
Semua karyawan terlihat menunduk dan patuh.
"Dan kamu Susi, tolong kamu bantu Amel melakukan pekerjaannya!"
"Baik, Pak," ucap Susi.
"Silahkan kalian bekerja lagi, dan Amel kamu ikut Susi," titahnya.
"Baik, Pak, terimakasih," ucap Amel.
Amel pun melangkah mengikuti karyawan lainnya dan Susi.
"Tunggu, Amel," Aditya menghentikan langkah Amel.
"Jangan mengangkat barang berat, jika butuh bantuan panggil karyawan pria, saya tidak mau terjadi ap-apa sama kandunganmu,"
Amel mengngguk mengerti.
Sementara karyawan yang masih berada disana merasa terkejut mengetahui Amel sedang hamil, dan pak Aditya begitu memperhatikannya, membuat mereka semakin bertanya-tanya siapa Amel.
"Selamat bergabung dengan kami bu Amel," ucap Susi.
"Tidak usah panggil Ibu, panggil saya Amel," ucapnya.
"Tetapi kami tidak enak sama pak Aditya,"
"Loh kenapa, saya juga karyawan disini," ucapnya, "Oh ya apa yang harus saya kerjakan sekarang?" tanya Amel pada Susi.
Susi pun memberitahu semua tugasnya pada Amel.
Hari pertama Amel disana membuat suatu perubahan besar, tak ada lagi karyawan yang berleha-leha, semua sigap cepat dan cekatan dalam bekerja.
Dengan gaya berpakaian Amel yang memakai sar'i membuat para karyawan segan padanya, tak ada yang berani menanyakan perihal siapa dirinya, mereka tetap dengan pikiran mereka sendiri.
Semua orang terlihat begitu hormat memperlakukan Amel, mereka berpikir Amel mungkin kekasih sang bos, mereka pikir mereka tidak boleh sampe melakukan kesalahan di depan Amel kalau tidak mau kena pecat.
Sore hari sebelum mereka pulang Aditya melihat semua sangat rapi dan bersih, karyawan yang biasanya bersantai di jam segini nampak sibuk bekerja, "Wahhh mereka mendadak rajin," ucapnya heran.
Tiba-tiba terdengan dua karyawan wanita membicarakannya dan Amel mereka tidak sadar kalau bosnya ada disekitar mereka, "Aku kaku kalau deket Amel, sepertinya dia pacar bos kita, gak mungkin kalo bukan pacar, dateng bareng, perhatian lagi, tapi kok dia sudah hamilnya, apa mereka--?"
"Hus ... jangn berpikiran negatif, mungkin saja mereka sudah menikah, secara bos kita itu kan tertutup, mungkin dia sengaja istrinya di tempatkan di posisi karyawan buat nyelidikin kita, gara-gara kasus kemaren."
bersambung ....
__ADS_1