Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Elvira Berkunjung Ke Rumah Ibu


__ADS_3

"Nak Elvira, malam ini nginep di rumah Ibu saja, kita lanjutin curhatnya disana," anjur Ibu.


"Bener apa kata Ibu, kalau kamu disana, setiap malam kamu gak akan kesepian juga," ucap Sita.


"Iya, Ide bagus tuh" Dino pun menyetujui Sita dan Ibu.


"Enggak-enggak, terimakasih buat kebaikan kalian semua, tapi aku cukup nyaman kok disini, meski harus sendirian setiap malam," tutur Elvira. "Lagian aku sudah jelaskan semua sama Dino sebelumnya," lanjut Elvira.


"Emh... rupanya kamu keras kepala juga ya, Elvira," tutur Ibu.


"Haha..iya Bu, hidup ku terlalu keras hingga membuatku menjadi keras kepala,"


"haha... Ya ampun, kamu ini bisa saja,"


Sita dan Dino hanya tersenyum melihat mereka.


"Kalau begitu besok kamu main saja kerumah kami, biar Dino jemput kamu sambil nganterin Sita kerja, jangan nolak lho, kamu harus mau!" bujuk Ibu.


"Iya, deh Bu... besok aku main kerumah, Ibu," balas Elvira.


"Yeeee... " Ibu pun bersorak, sambil bertepuk tangan, "nanti Ibu buatin makanan Enak deh buat kamu," imbuhnya.


"Beneran nih, Bu. Asyik... " Elvira pun menujukan wajah gembiranya dan memeluk Ibu yang ada disampingnya.


Esok hari pun tiba, Sita telah diantar ketempat kerjanya, Dino pun sudah menjemput Elvira kerumahnya.


Saat Dino sedang berjalan dengan mendorong kursi roda yang di duduki Elvira dengan memegang tongkatnya, dia pun menjadi pusat perhatian tetangga.


"Lihat, siapa yang dibawa Dino?" bisik seorang tetangga pada tetangga lainnya.


"Iya... siapa ya, Bu?" ucap tetangga satunya.


"Eh jangan-jangan selingkuhannya,"


"Huss... hati-hati kalau ngongong, bisa jadi fitnah itu,"


"habis dia bawa perempuan itu saat Sita kerja. apa lagi coba? Mungkin saja dia mau kenalin itu perempuan sama Ibu Reni. Ibu dan anak sama saja, kasihan Sita.


"Huss... jangan gosip kamu, Dino itu orang yang baik!"


"Sebaik-baiknya kucing kalau di kasih ikan segar di santap juga,"


"Sutttt.... jangan kenceng-kenceng!"


Elvira yang sebelum kejadian ini memantau keadaan lingkungan sekitar, tau betul watak para tetangga disini, meskipun tidak terlalu terdengar apa yang mereka ucapkan, tapi ia tau para tetangga sedang membicarakan dirinya dan Dino, ia pun mencoba memperkeruh suasana, "Berhenti Dino," ucapnya dengan menoleh kebelakang.


"Ada apa Elvira?" tanya Dino heran.

__ADS_1


"Aku ingin membeli sesuatu di warung itu," ucapnya.


"Apa yang ingin kamu beli, biar aku belikan?"


"Tidak perlu, biar aku saja, aku ingin belajar berjalan menggunakan tongkatku, kakiku sudah cukup kuat untuk menopang," dalihnya.


"Tapi, Elvira..."


"Ayolah Dino, jangan patahkan semangtku," ucapnya memotong pembicaraan Dino.


Dino pun tidak bisa membantahnya.


"Baiklah kalau memang kau sedang semangat berlatih,"


"Gitu donk, ayo bantu aku!" pinta Elvira.


Dino pun pindah posisi ke depan Elvira. Dia pun membantu Elvira berdiri. Namun ketika Elvira hendak melangakah, dia pun berpura-pura tersandung ke pijakan kursi roda, dan alhasil dia terjatuh menindih Dino di depan para tetangga.


Alih-alih menolong para tetangga itu malah mencibir mereka.


"Astagfirulloh, apa yang mereka lakukan disini? memalukan!" ucap salah seorang tetangga."


"Iya bener Bu, kalu mau mesra-mesraan di kamar dong jangan di depan umun,"


"Gak nyangka ya, anak Bu Reni sekarang sudah berubah,"


"Sudah ku bilang aku saja," ucap Dino.


"Maaf," ucap Elvira dengan memegang kedua telinganya. "Habis aku gak sabar pengen cepet-cepet bisa jalan lagi,"


"Ya sudah, kita kerumah dulu saja, nanti saya belikan apa yang kamu mau!"


Elvira pun mengangguk, 'Lumayan dapat satu cibiran dari terangga nanti pasti seru' bisik hatinya


"Nak Dino, Siap perempuan ini?" tanya tetangga itu, menghentikan langkah Dino.


"Perkenalkan dia Elvira teman ku," ucap Dino.


"Teman, sudah nikah masih saja berteman dengan perempuan, hati-hati nanti kayak Elena tuh kesengsrem berabe."


"Maksud Ibu apa ya?"


"Eh nak Dino, kamu kan sudah nikah? Kenapa jalan berdua dengan perempuan bukan mukhrim, itu kan di larang? Ya gak bu?"


"Terimakasih Bu, nasihatny. Saya paham apa yang Ibu- Ibu maksudkan, Insya Allah tidak ada apa-apa diantara kami, Permisi." Dino pun langsung pergi tak mau meladeni mereka.


"Eh, kok malah permisi sih, kita kan belum selesai bicara,"

__ADS_1


"Kamu sih, kepo urusan orang. Ayo kita pergi!" ajak tetangga satunya.


Hari demi hari pun telah berganti, kedekatan merekapun sudah seperti kelurga sendiri, Elvira sering main kerumah karna keinginan Ibu, kehadiran Elvira kini mengisi hari-hari Ibu menjadi lebih berwarna, hari-hari yang tidak pernah di isi oleh Sita karna kesibukannya bekerja, Elvira adalah gadis yang baik dan lugu di mata Ibu, tak sedikit pun cacat sikap dan kata yang Elvira tunjukan padanya.


Elena, mulai mendengar isu tentang kehadiran Elvira di tengah-tengah keluarga Dino. Tentu saja isu itu membuatnya kelabakan. Dia pun mulai penasaran dan mencari tau.


"Siapa Elvira? Sita saja belum aku singkirkan, kenapa ada permpuan lain sih, siapa dia sebenarnya?" gerutu Elena. "Gimana caranya ku cari tau? Gumamnya.


"Ahh, besok saja kucari tahunya. Awas saja ya Din, kalu sampai perempuan itu sesuatunya kamu!" gumam Elena..


***


Kaki Elvira pun sudah mulai membaik, Ia sudah bisa berjalan dengan menggunakan tongkatnya selangkah demi selangkah.


"Elvira, Dino bilang kamu sudah mulai belajar berjalan dengan tongkatmu?" tanya Sita,


"Iya Sit, aku rasa Kaki kiriku sudah membaik, dan sudah bisa digunakan untuk menopang,"


"Wahh... Senang sekali dengernya, ayo cobalah tongkatnya aku mau melihat!" tutur Sita


"Baiklah." Elvira pun berdiri mencoba tongkatnya didampingi Sita dan Dino disebelahnya. Ia pun mencoba berjalan perlahan selangkah demi selangkah. "Akhirnya aku bisa Sit," ucapnya.


"Terus Elvira, jangan berhenti!" ucap Sita.


"Ya... lanjutkan Elvira kamu pasti bisa," ucap Dino pun menyemangati.


Namun ketika Elvira hendak melangkah kembali, dengan sengaja ia menjatuhkan diri kearah Dino, sehingga Dino langsung menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa," ucap Dino. Matanya spontan menatap Elvira, Elvira langsung menatap Dino. hingga mereka saling tatap.


'Astagfirulloh' batin Dino. Ia pun langsung menurunkan pandangannya.


"Maaf, sepertinya kakiku sudah lelah," Dalih Elvira.


"Tidak apa, istirahatlah," ucap Sita.


Pemandangan yang tidak menyenangkan hati ini, terpaksa harus Sita saksikan kembali, lagi-lagi Ia harus menahan sesak di hatinya, setelah sebelumnya harus menyaksikan sang suami menggendong Elvira setiap saat.


Dino dan Sita pun memapah Elvira kembali ke tempat tidur untuk beristirahat.


"Istirahatlah," ucap Sita, lalu menyodorkan air minum pada Elvira.


"Terimakasih," ucap Elvira.


Sita pun mengangguk.


Entah apa yang dirasakan Sita, sejak Elvira masuk kedalam kehidupannya, rasanya ada hal yang membuat Sita tidak nyaman. Namun hikmah dari semua ini adalah Perasaannya pada Dino yang semakin bertambah, semula mulai terlihat kecemburuan Sita pada Elvira setiap kali Dino menggendongnya dan saat Elvira terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2