Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Keromantisan Dimeja Makan


__ADS_3

***


Adzan subuh berkumandang. Sita dan Dino pun shalat subuh berjamaah, selepas salat Sita pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuknya, Dino dan ibu.


Ibu yang baru keluar dari kamarnya menghampiri Sita.


"Pagi, sayang!"


"Ibu. Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam. Kamu masak apa, Nak?"


"Ini Bu, Sita bikin nasi goreng, buat kita sarapan. Maaf ya, Bu. Sita bikin yang simpel aja. Sita harus mulai kerja hari ini."


"Tidak apa-apa, Nak. Ibu malah seneng banget, hari ini pertama kalinya ada yang buatin ibu sarapan. Biasanya 'kan ibu bikin sendiri."


"Mudah-mudahan Sita bisa bikinin Ibu sarapan setiap hari ya, Bu. Jangan sampe nanti Sita bangun kesiangan."


Ibu pun tertawa.


"Ada yang lagi asyik ngomongin sarapan nih," tiba tiba-Dino datang ikut menimpali.


"Iya Din, wanginya enak banget loh," ucap Ibu


"Ibu bisa aja. Dimana mana wangi nasi goreng ya kaya gini, Bu," balas Sita.


Tawa ketiganya mengema di dapur pagi ini.


"Ya udah aku laper banget nih, gak sabar nyicip nasi goreng istri," kata Dino.


"Kamu sama Ibu tunggu dulu di meja! Aku siapain dulu sarapannya," ucap Sita.


"Siap sayang," sahut Dino.


Ibu hanya tersenyam dan lalu menunggu di meja.


"Taraaaa ... makanan siap," ucap Sita.


"Kok tiga piring, sayang," ucap Dino.


Sita merasa bingung.


"Iya, kita 'kan bertiga," ucap Sita.


"Iya Din, kita bertiga, kamu mau berapa piring, emang?" tanya ibu.


Dino berdiri mengambil piringnya dan menumpahkan nasi goreng miliknya di piring Sita.


Ibu dan Sita ternganga. Ibu yang berpengalaman tersenyum mengerti maksud Dino.


"Kamu tidak mau makan? Cicipi dulu, nasi gorengnya enak ko," ucap Sita khawatir.


Dino pun menggeser kursinya rapat dengan Sita.


"Aaaa ...." Dino membuka mulut lebar minta disuapin Sita.


Sontak pipi Sita berubah memerah karna malu dilihatin ibu.


Ibu pun tertawa lucu melihat kelakuan anaknya itu.


"Ibu kok ketawa sih, kayak Ibu gak pengalaman saja." Dino seolah mengajak ibu bercanda.


"Ibu seneng melihat pemandangan ini, ini justru mengingatkan ibu pada almarhum ayahmu."


"Bedanya ayahmu tiba-tiba nyuapin ibu dari piringnya, bukan kayak kamu, malah numpahin piringmu kepiring Sita."


Ibu tertawa lembut.


Lalu Dino melirik Sita yang masih tersipu malu.


"Romantis juga kaya gini, satu piring, satu sendok di makan berdua. Ya 'kan sayang?" tanya Dino sambil menyodorkan sendok nasi pada Sita, berinisiatif dia yang menyuapi duluan, karena dari tadi Sita tak menyuapinya juga.


"Aaaaa!" pinta Dino agar istrinya membuka mulut.


Sita semakin malu, karna ibu terus melihat pemandangannya dan Dino.


"Aaaa ... ayolah! Buka mulutmu!" pinta Dino sekali lagi.


Akhirnya Sita membuka mulutnya walau ragu-ragu, dan masih terlihat menahan malu dihadapan ibu.


Kemudian Dino meletakan sendok ditangan Sita, dan membuka kembali mulutnya dengan lebar.


Ibu tertawa geli.


"Ibu makan di kamar saja, kasihan nak Sita."


Sita masih menunduk malu.


Ibu pun berlalu pergi ke kamarnya.


Akhirnya Sita pun menyuapi Dino,


mereka pun makan dengan saling menyuapi


bergantian sampai habis.


Dino merasa bahagia pagi ini, suasana yang menurutnya romantis ini, jadi kenangan indah pertamanya setelah pernikahan.


***


Setelah selesai sarapan Dino dan Sita pun berpamitan pada ibu untuk berangkat bekerja. Dino mengantar Sita telebih dahulu sebelum dia mengantar pesanan sepatunya ke toko.


Suasana di tempat kerja Sita masih seperti biasanya, semua teman-teman Sita menghampiri untuk memberi selamat padanya.


Tak terlewat big bos perusahan pun menghampiri Sita dan ikut mengucapkan selamat.


"Selamat atas pernikahanmu Sita, setelah nikah jangan sampai ada alasan terlambat karna nyiapin sarapan dulu buat suami, ya!" ucap pak Bimo dihadapan semua karyawan.


Sontak perkataan itu membuat semua karyawan tertawa.


"Terimakasih Pak. Insya Alloh saya gak akan kesiangan, Pak." ucap Sita dengang senyum lebar di bibirnya.


"Ya sudah sekarang kalian kerja lagi!" titah pak Bimo.


"Iya, Pak," jawab semua karyawan dan langsung bubar ketempat kerja masing-masing.


"Sita, tunggu dulu!"


Pak Bimo menghentikan langkah Sita saat ia menyadari satu karyawannya tidak ada di sana.


"Dimana Ratih?" tanya pak Bimo.


Sita tertegun sejenak.

__ADS_1


"Iya, ya pak, Ratih kok gak ada. Maaf saya juga belum melihatnya dari tadi," ucap Sita.


"Ya sudah, nanti kabari saya kalau kamu melihatnya."


"Baik pak."


Pak Bimo pun berlalu pergi keruangannya.


"Kemana perempuan itu?" gumamnya pelan. Namun, terdengan oleh Sita.


Sita mengerutkan dahinya heran, dan beranjak dari sana.


Waktu pulang kerjapun tiba. Semua karyawan berhamburan keluar dari pabrik, membuat jalanam menjadi macet.


Sita menelpon suaminya meminta izin untuk mampir ke kontrakan Ratih sebelum pulang, karna merasa khawatir pada Ratih yang tidak biasanya tidak masuk kerja tanpa mengabari.


Tentu saja Dino mengijinkan. Kebetulan Dino pun sedang mengirim barang jadi belum bisa ****** Sita.


"Nanti aku jemput di kontrakan Ratih, ya." suara Dino di ujung telepon.


"Iya. Assalamu'alaikum." Sita pun menutup teleponnya.


Setibanya di kontrakan. Sita tak menemukan Ratih, kontrakannya di kunci. Sayangnya, Sita sudah tak mempunyai kuncinya karna kemarin dia memberikan kuncinya pada Ratih.


Handphone-nya pun tidak aktif.


Sita memutuskan untuk langsung pulang sendiri saja, karna tak mungkin dia menunggu Dino sendiri disini.


Belum jauh dari kontrakan Sita merasakan ada seseorang yang memperhatikannya di ujung jalan, entah siapa. Seorang perempuan menggunakan sweater hoodie yang menutupi kepalanya.


Sita berlalu tak menghiraukan, walau kini perasaannya merasa tidak nyaman.


Sita pun berjalan dengan cepat hingga sampai ke jalan raya dan menaiki angkutan umum.


Entah kenapa di ujung jalan sana perempuan itu terasa masih saja menatapnya.


"Ahhh." Sita memilih mengabaikannya.


Sesampainya di rumah, tak lupa Sita mengucapkan salam dan ibu pun menjawab, terdengar satu suara lembut yang kedengarannya tak asing oleh Sita.


Entah dimana Sita mendengarnya. Sita pun mencoba mengabaikan.


Tiba-tiba seseorang bicara, "Ini istri Dino, Bu." perempuan itu memulai pembicaraan.


"Iya, sini sayang!" Ibu melambaikan tangannya pada Sita.


"Kenalin, Ini Elena yang sempet ibu ceritakan wakti itu. Elena hadir di pernikahan kalian tapi gak sempet ketemu."


Deg ....


'Elena!' Bisik hati Sita.


Sita sedikit tertegun.


"Oh iya senang berkenalan dengan mu," ucap Elena.


Sita pun mengagukan kepalanya dan tersenyum. Mereka pun saling berjabat tangan.


"Sayang sekali kita tidak bertemu di pernikahan, karna kamu sempat di bawa ke Rumah Sakit."


"Terimakasih sudah berkenan hadir di pernikahan kami."


"Tentu saja," jawab Elena singkat.


"Iya, sayang. Gantilah bajumu dulu! Habis itu, kita masak bareng untuk suamimu."


"Baik Bu."


Sita pun ke kamar.


Di dalam kamar Sita berpikir "Apa suara itu yang kudengar di telepon waktu malam h-1, Kenapa suaranya tidak asing?


Apa mungkin kecurigaan Dino benar? Tapi, kenapa perempuan itu tak menelponku lagi." pikiran Sita kali ini dipenuhi rasa penasaran.


Sita mencoba menyingkirkan kecurigaannya lagi.


Sita mengabari Dino terlebih dahulu karena tadi belum sempet mengabarinya, ia memberi tahu suaminya kalau dia sudah di rumah.


Setelah itu, Sita pun pergi ke dapur. Di dapur ibu begitu terlihat akrab dengan Elena.


Sita mengahampiri. "Hay!" sapanya.


"Sita, sini sayang! Kita bikinin ayam bakar kesukaan suamimu," ucap Ibu.


Elena mencoba menutupi rasa tak sukanya.


"Iya bu. Sini biar Sita yang bikinin bumbunya," ucap Sita.


"Eumm, tidak perlu, aku sudah membuatnya," ucap Elena.


Sita melirik Elena heran.


"Eu, maaf aku sudah biasa membuatkannya untuk Dino. Jadi, aku lupa kalo sekarang sudah ada istri Dino," ucap Elena seolah memamerkan kedekatannya dengan Dino.


"Eum, ya, tak apa," ucap Sita.


"Ya sudah, sekarang kita langsung bumbui ayamnya," ucap ibu


Sita yang hendak mengambil wadah di dahului oleh Elena. Elena seolah tak membiarkan Sita menyentuh apa pun.


Dia segera melumuri ayam dengan bumbu yang sudah dibuatnya.


Sita hanya menyunggingkan senyumnya.


Ibu tengah menyiapkan pembakaran.


Ibu tidak begitu meperhatikan keduanya yang lebih terlihat sedang bersaing.


Merasa tak nyaman Sita pun duduk dikursi meja makan.


Elena yang membelakangi Sita memanyunkan bibirnya meledek Sita.


"Ibu, aku buatin jus alpukat ya buat Dino," ucap Elena pada ibu. Namun, penjuru matanya melirik ke arah Sita


Ibu berbalik melihat Sita yang duduk, terlihat seperti sedang kesal. Di pikirnya ia cemburu pada Elena.


Ibu pun tersenyum melihatnya.


"Elena!" Panggil ibu


"Iya Bu."


"Biar Sita yang membuatkan jus untuk suaminya. Sini kamu bantu Ibu saja!"

__ADS_1


'Ah sial kenapa jadi Sita sih' bisik hati Elena.


"Iya Bu."


Mendengar itu Sita pun berdiri menghampiri Elena.


"Ini." Elena menyerahkanya pada Sita." Oh, ya , Dino itu suka banyakin es, tapi gulanya jangan terlalu manis," ucap Elena


Sita mengangguk.


"Oh ya rupanya kamu sangat mengenal suamiku," ucap Sita.


"Tentu saja, dari kecil saya bersamanya, jadi saya tahu segalanya tentanag Dino. Ya 'kan Bu?" ucap Elena.


"Iya nak, Elena benar," jawab ibu.


"Jadi, kalo kamu mau tanya tentang suamimu tanya saja sama aku," ucap Elena.


"Terimakasih, tidak perlu," ucap Sita.


Elena mengerutkan keningnya.


"Ada Ibu disini. Aku bisa bertanya pada Ibu. Jika kamu mengenalnya sejak kecil, Ibu lebih mengenalnya sejak dalam rahim. Ya 'kan, Bu." ucap Sita.


"Ya sayang, kamu benar." Ibu tersenyum menghampiri Sita dan mencium keningnya.


Mulai ada keanehan yang ibu rasakan dari perbincangan mereka berdua.


Elena mencoba menutupi kekesalannya melihat ibu memperlakukan Sita dengan penuh kasih sayang.


'Ih pake dicium kening segala lagi' bisik hati Elena. Rasa hatinya ingin mencabik cabik Sita.


Tiba-tiba terdengar sura Dino mengucap salam.


"Assalaamu'alaikum."


"Wa'alaikum salaam," jawab semua orang berbarengan.


Dino yang melihat Elena sedikit kaget.


"Kamu disini?"


"Iya Din. Biasa aku bantu Ibu masak."


"Oh ya. Besok-besok kamu gak perlu repot bantuin ibu masak, ada Sita yang akan membantu ibu. Ya 'kan, sayang?"


Sita mengangguk dan tersenyum.


Dino menghampiri istrinya, dan mencium keningnya. Sita pun mencium punggung tangan suaminya.


Meski berusaha menutupinya terlihat jelas kekecewaan di wajah Elena. Ibu yang melihatnya merasakan kecemburuan Elena.


Ibu tertegun. Mengingat kejadian waktu itu Elena menagis minta dirinya dinikahkan dengan Dino.


Ibu yakin tak semudah itu melepas rasa cinta. Saat ini Elena mencoba memamerkan kedekatannya dengan Dino. Berusaha membuat Sita cemburu.


"Ayo kita makan, semua pasti sudah lapar," ucap Ibu


Mereka pun menuju meja makan.


Elena dengan sigapnya menata semua makanan yang sudah di siapkan.


Ia bahkan mencoba mengambilkan nasi untuk Dino. Namun, Dino menghentikan.


"Tunggu! Aku lebih suka istriku yang melayanku."


Elena pun menyimpannya kembali dengan wajah yang di tekuk. Rasa malu dan kecewanya bertambah lagi.


Ia pun duduk kembali.


Ibu dan Sita saling tatap. Merasa aneh melihat kelakuan Elena.


Suasana menjadi canggung.


Namun, di pecah oleh Dino yang kembali Romantis memperlakukan istrinya.


"Ini piring kenapa ada empat? Sini, aku simpan satu," ucap Dino.


Elena mengerutkan kening meras heran.


Namun, ibu malah tersenyum mengingat kejadian tadi pagi, hal yang sama akan dilakukan putranya.


Deg ....


Dugaan Sita sama seperti duagaan ibu. Sita langsung menunduk malu.


Namun, mengingat disini ada Elena yang sedari tadi berusaha memamerkan kedekatannya bersama Dino dan Ibu. Sita, kini akan menerima dengan senang hati perlakuan romantis suaminya.


Diambilnya piring dan centong nasi oleh Dino.


"Biar aku," ucap Sita lalu berdiri.


"Tidak. Kamu 'kan sudah cape bekerja dan masak. Jadi, sekarang tugasku melayanimu."


"Tidak, sudah tugasku melayanimu." Sita dan Dino seolah berebut centong nasi di meja makan dan Saling tarik menarik


"Ehemm...." ibu berdehem.


Sementara Elena hatinya merasa sedang di kucek-kucek.


'Pemandangan yang menjengkelkan' bisik hati Elena.


"Eum ... maaf, Bu," ucap Sita yang kemudian hendak duduk kembali. Namun, karena hilang fokus ia hampir terjatuh, Dino sigap menangkap punggung Sita. Sita pun sigap berpegangan ke bahu Dino. Alhasil mereka bertatapan dengan jarak begitu dekatnya. Andai tidak ada ibu dan Elena, Dino sudah akan mengecup bibir indah Sita.


"Kamu tidak apa-apa Sita?" tanya ibu.


Sontak membuat keduanya melepaskan pegangan.


Keduanya terlihat gugup.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku-baik baik saja."


Di bawah meja Elena sedikit menghentak hentakan kakinya karena kesal.


"Makanya jangan ngeyel, harus nurut sama suami," ucap Dino.


Diambilnya nasi dan lauk pauk.


Semua pun makan.


Seperti biasa Dino menggeser kursinya dekat dengan Sita. Dino menyuapi Sita, dan Sita pun menyuapi Dino di satu piring yang sama.


Keromantisan sore ini berhasil membuat hati Elena porak poranda. Dengan sejuta kekesalan Elena pun pamit pulang.

__ADS_1


"Andai kutau apa yang 'kan kudapatkan, aku tidak mau datang kesini, lihat saja nanti kubalas kamu, Sita!" gerutu Elena dalam hatinya sambil melangkah pergi dari rumah.


__ADS_2