Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Dino Terlambat


__ADS_3

Dan semoga kata cerai itu tidak akan pernah terucap.


Diperjalanan Dino tiba-tiba menghentikan lajunya. Terdengar suara hand phone berdering. Dirogohnya saku celananya, dan dilihatnya nama yang tertera di panggilan, ternyata Ipan yang menelponnya. Dino pun menjawabnya, "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Ipan.


"Din, kamu tidak masuk kerja?" tanya Ipan.


"Soryy Pan, aku agak terlambat, aku masuk kerja kok," jawab Dino.


"Oke, aku pikir kamu gak masuk, kakak Iparmu sudah menunggu," ucap Ipan.


"Oke, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


Setelah mengakhiri perbincangan Dino pun kembali melaju.


"Ipan pikir kamu tidak masuk kerja?" tanya Sita.


"Iya, aku sudah terlambat, mungkin ada konsumen yang menghubunginya, biasanya minta buru-buru dikirim barang.


"Oh," jawab Sita singkat.


Sesampainya di rumah Dino memarkirkan kendaraannya di halaman, dan lagsung pamit pada sang istri, "Aku langsung berangkat ya, assalamualaikum," ucap Dino.


"Waalaikumsalam," jawab Sita, Sita tak menyuruh suaminya masuk dulu karna dia mengerti suaminya sudah terlambat.


"Sita, kamu sudah kembali?" tanya ibu yang hendak pergi dari rumah.


"Iya, Bu. Ibu mau kemana?" tanya Sita dengan lembut.


"Ibu, mau ke warung nak,"


"Oh, iya, bu,"


"Mau nitip sesuatu?" tawar ibu.

__ADS_1


"Tidak bu, terimakasih,"


"Ya sudah, Ibu kewarung dulu ya," ibu pun berjalan melangkah menuju warung.


Sita masuk kedalam rumah, ia melihat sekeliling terlihat sepi, nampaknya Elvira ada di kamar ibu. Sita pun melangkah mencari abah, di lihatnya pintu kamar abah yang sedikit terbuka, Sita pun membukanya dengan perlahan, "Abah," panggilnya. Di rasa abah tak menjawab, Sita pun mendorong pintu lebih lebar dilihatny abah tengah bersujud diatas sajadah, ternyata abah tengah melakukan shalat duha.


Sita pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dan menutup pintu secara perlahan.


Di dalam kamar Sita mengingat kembali apa yang terjadi tadi di restauran, saat ia mengingat kenangan ngidamnya saat itu. Untunglah saat ini dia 'gak ngidam aneh-aneh lagi, entah mungkin si janin mengerti perasaan ibunya yang sedang kalut. "Syukurlah hari ini aku bisa tertawa," ucap Sita dengan mengelus lembut perutnya, "Semoga kamu tetap sehat ya Sayang," lanjutnya mengajak bicara janin di perutnya.


Ceklek .... Pintu terbuka.


"Abah, abah sudah selesai shalatnya."


"Sudah sayang, ada apa mencari abah?"


"Tidak ada, Sita hanya ingin mengecek keadaan abah," tuturnya lembut.


Wajah Sita terlihat lebih tenang dari sebelum ia berangkat sarapan bersama Dino, melihat itu, abah pun merasa gembira, "Abah senang melihatmu lebih tenang, nak,"


"Benarkah? Apa abah bisa melihat seluruh isi hati Sita? Kenapa tebakan Abah tentang Sita selalu benar? Sepertinya Abah cocok jadi peramal deh," celoteh Sita.


Sita pun tersenyum melihat sang abah bisa tertawa.


"Sita juga senang melihat abah bisa tertawa,"


Keduanya saling lempar senyum dan mereka pun berpelukan.


***


"Din, apa kabar?" tanya kak Hermawan.


"Alahamdulilah, baik kak, kakak gman?" Dino balik bertanya.


"Alahamdulilah, kakak juga baik." jawab kak Hermawan.


"Ayo kita berangkat, maaf kakak menyiapkan pengiriman sendiri," ucap Dino. Lalu masuk ke mobil.

__ADS_1


"Tidak, apa-apa Din, oh ya Sita apa kabar?" tanya kak Hermawan sambil masuk ke mobil. Dia menanyakan kabar Sita pasca kecelakaan itu.


"Alhamduliah Sita sudah membaik," Dino tidak menceritakan apapun lagi karna kakak-kakak Sita belum tau masalah lain yang dialami Sita, yang menjadi penyebab Sita kecelakaan.


Dia lebih fokus menceritakan pekerjaannya, mengajari kak Hermawan cara mencari dan melobi konsumen agar banyak pelanggan yang semakin tertarik membeli sepatu di pabriknya.


Alhamdulilah ternyata kak Hermawan mulai menyukai pekerjaan ini, lumayan lah dia sudah punya beberapa pelanggan toko, mudah mudahan menjadi pelanggan tetap, sehingga bisa banyak konsumen toko-toko besar seperti Dino.


Ya meski kerja di pabrik rumahan hasilnya tak seperti perusahaan besar tapi buat Dino yang sudah merintis dari awal hasilnya cukup pantastis, hanya butuh ketelatenan dan kesabaran. selain dapet keuntungan dari pelanggan. Dino yang sudah cukup kompeten di bidangnya juga sering mendapatkan bonus dari Ipan sang Bos sekaligus sahabatnya itu.


Setelah mereka menyelesaikan pengiriman mereka kembali ke pabrik.


"Din, sudah lama kita tidak berbincang, rupanya, sekarang kamu sibuk sekali?"


"Ya, mau gimana lagi, kalau punya istri jadi lebih betah dirumah Pan, mau sampai kapan kita nangkring terus, iya gak kak," ucap Dino dengan melihat ke arah kak Hermawan.


Hahaha ....


"Dino benar, kalo punya istri kita jadi betah di rumah, jadi malas nangkring, apalagi pengantin baru, iya kak Din,"


"Iya Pan, makanya kamu cepet nikah."


"Hhaaahhh ... kalian membuat ku iri ya, niat mau ngajak nangkring malah di ledekin."


Hahaha ....


"Ya Sudah, Aku pualng ya," ucap Dino pamit pada Ipan, "Kak, mau mampir dulu kerumah gak?" tanyanya pada kak Hermawan.


"Lain kali aja, Din?" ucap kak Hermawan.


"Baiklah."


Mereka pun pulang meninggalkan Ipan.


Sebernya Ipan ingin sekali menceritakan sesuatu pada Dino perihal rencana pernikahannya dan Syakila yang masih belum ada titik terang, mungkin waktunya belum tepat.


Ipan pun pulang kerumah. Melangkah dengan langkah yang lemah, di lihatnya sang paman tengah duduk di kursi teras, datang mengunjunginya.

__ADS_1


"Mang Adnan!" Ipan kaget melihat kedatangan sang paman tanpa mengabarinya, sudah lama ia tak berkunjung kerumah pamannya, untuk itu pamannya datang mengunjungi.


__ADS_2