Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Ngidam Part 2


__ADS_3

"Aku kenyang sekali, sayang. Makasih sudah buatin aku makanan yang lezat sekali,"


Dino malah tertawa geli mendengar Sita mengatakan masakannya sangat lezat, padahal rasanya sangat tidak enak.


"Ayo, sekarang kita tidur, malam sudah larut," ajak Dino.


Sita pun terlelap tidur di pelukan sang suami, dipandanginya wajah sang istri yang cantik memberi ketenangan, teringat kejadian tadi Dino pun tersenyum sendiri. Ini pengalaman pertamanya menghadapi perempuan hamil yang maunya kadang aneh, tapi Dino merasa bahagia bisa memberikan apa yang di inginkan istrinya sekarang, ia pun meski bersiap dengan kemauan Sita berikutnya. Di kecupnya kening sang istri lalu ia pun terlelap tidur.


Esok hari pun tiba, seperti biasa Sita harus bersiap untuk kerja.


"Sayang, apa v*g*n* mu masih mengeluarkan bercak merah?" tanya Ibu pada Sita yang sedang menyiapkan sarapan.


"Alhamdulilah, Bu. Bercak merahnya sudah berhenti."


"Syukurlah, ingat jangan kerja berat-berat di pabrik, jika ada yang harus di angkat lebih baik kamu minta tolong sama yang lain ya, jaga calon cucu ibu baik-baik ya,"


"Iya, Bu. Insya Alloh Sita akan berusaha menjaga calon cucu ibu ini," tutur Sita diiringi senyuman.


"Ini sarapan Ibu, dan Dino, buat Elvira sudah Sita Siapin di rantang, hari ini Sita cuman bisa masak nasi goreng, kalau masak yang lainnya Sita mual, Bu,"


"Tidak apa-apa sayang,"


Dino pun keluar dari kamarnya. "Sudah bisa masak, Sayang?"


"Iya kalau cuman masak nasi goreng sih aku bisa, asal jangan masak ikan aja,"


Hahaha ....


"Sayang, sekarang kamu kan sedang hamil, mending kamu berhenti kerja dulu deh, biar kamu gak cape," tutur Dino sambil menyuapi istrinya makan.


"Sayang, aku gak mau disuapin deh, sini sendoknya!"


"kenapa? Biasa juga aku suapin gak pa pa kan?"


"Entahlah rasanya 'gak enak, dan satu lagi aku gak mau berhenti kerja, aku sudah bias kerja sayang, lagian aku nanti kesal kalau cuman diam dirumah. Nanti deh kalau anak kita sudah lahir aku mau berhenti kerja,"


Dino tidak mau memaksakan kehendak pada istrinya, meski sebenarnya ia sangat khawatir, yang penting sekarang dia harus jaga moodnya Sita agar tetap stabil.


Setelah sampai di tempat kerja, tiba-tiba pak Bimo memanggil Sita. Sita pun melangkah menuju ruangan pak Bimo, ternyata disana ada Ratih yang sedang mengantarkan makanan pada suaminya.


"Hai ... Pengantin baru apa kabarnya nih," sapa Sita pada sahabatnya itu. Tentu saja Ratih menyambutnya dengan gembira.


"Alhamdulilah aku baik bestie," Ratih pun memeluk Sita dengan gaya mereka cium pipi kiri dan kanan.


Hanya ada sedikit yang mengganjal, sikap pak Bimo agak sedikit acuh.


"Maaf Pak, Ada apa ya , saya dipanggil ke ruangan Bapak?"


"Silahkan duduk Sita," titah Pak Bimo.


"Begini Sita, saya tidak akan berbasa-basi, saya cukup puas dengan kinerja kamu selama ini, hanya saja perporma absensi kamu bulan ini sangat buruk, saya tidak bisa mentorerirnya. Saya tau kamu ada kepentingan, tapi perusahaan tidak bisa memberikamu kesempatan lagi."


"Maksud bapak apa?"


"Mohon maaf Sita, saya terpaksa memberhentikan kamu bekerja di perusahaan ini,"


"APA, PAK! Saya di berhentikan?"


"Mas, apa-apaan ini, kenapa Sita di berhentikan?" tanya Ratih.


"Mohon maaf, Sayang. Saya tau kalian bersahabat, tapi urusan pekerjaan tidak bisa di sangkut pautkan dengan persahabatan kalian. Sita terlalu banyak absen sayang, sejak dia menikah dia banyak sekali meminta izin."

__ADS_1


Sita pun menghela nafas panjang, dari percakapan Pak Bimo dan Ratih, Sita memahami alasan pak Bimo memberhentikannya. Sita sendiri sadar akhir-akhir ini dia memang terlalu banyak meminta izin pada pak Bimo.


"Sita maafkan saya, perusahaan ini memiliki aturan meski saya salah satu investor terbesar di perusahaan ini, saya harus tetap mematuhi aturan,"


"Baik Pak, saya paham." Sita pun keluar ruangan dengan wajah yang lemas.


Ratih keluar mengejar Sita.


"Sita ...." panggil Ratih.


Sita pun menghentikan langkahnya. Ratih pun langsung memeluknya, dan menitikan air mata, "Kamu tunggu disini! Aku akan bicara padanya,"


"Tidak Rat, apa yang dikatakan pak Bimo bener, kita tidak boleh mencampurkan persahabatan kita dalam hal pekerjaan, aku tidak mau kamu berdebat dengan suamimu karna aku."


"Sita ...."


"Tenanglah, aku baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, lagian sekarang aku sedang hamil, nanti juga pasti akan berhenti,"


"APA! Kamu hamil Sit,"


"Ya, aku hamil Rat," Sita mengukir senyum di bibirnya.


"Masya Alloh, Selamat bestie ... Aku seneng dengernya," Mereka pun berpelukan kembali.


"Ya, sudah aku gak mau ya, kamu bertengkar sama suami mu gara-gara aku, jadi jangan bahas masalah ini sama suami mu," ucap Sita di akhiri senyum.


Ratih pun mengangguk mengerti.


"Aku pergi ya Rat, bye,"


"bye."


Setelah di luar gerbang perusahaan, Sita pun menelphon suaminya, "Sayang, apa kamu ada waktu buat jemput aku,"


"Jemput kamu? Maksudmu apa, Sayang?"


"Nanti aku jelaskan!"


"Baiklah, kebetulan jadwal pengiriman ku arah ke sana. Kamu tunggu ya,"


"Ok." Sita pun menutup telponnya.


Tak lama Dino pun datang dengan mobil box pengantar barangnya.


"Sayang, apa yang terjadi?"


"Aku di berhentikan,"


"KAMU DIBERHENTIKAN" Dino kaget.


"Yaa." Sita menganggu lemas, "keinginanmu tadi pagi langsung di kabul oleh Alloh,"


"Tapi sayang, aku tidak bermaksud ...."


"Allah tau, kamu menghawatirkan istrimu, untuk itu DIA berpihak padamu," ucap Sita tetap dengan senyum di bibirnya.


"Sayang." Dino memeluk istrinya, berharap memberi ketenangan. Dino tau sekali kalau istrinya masih sangat ingin bekerja, tapi mengingat kondisi Sita yang tengah hamil muda, dia pun bersyukur karna istrinya jadi bisa istirahat dirumah.


"Aku ikut kamu kirim barang ya!" pinta Sita


"Jangan sayang, nanti kamu cape, lebih baik kamu istirahat di rumah, saya antar kamu pulang saja,"

__ADS_1


"Aku mau ikut, lagian ibu di rumah Elvira, gak ada siapa-siapa di rumah, aku akan jenuh, sayang," kekeh Sita.


"Baiklah." Dino tidak bisa menolak permintaan istrinya.


Mobil pun melaju, di antarnya semua pesanan ke toko-toko, terlihat sekali raut wajah gembira Sita. Tinggal satu toko lagi, Dino pun turun di toko itu, dia sibuk menurunkan dan menghitung barang. Sita tidak turun, dia menunggu di mobil melihat pemandangan sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita paruh baya yang sedang makan lahap sambil menyuapi anak kecil, di sebuah saung pinggir jalan, terlihat seperti pos ronda.


Matanya tak teralihkan, Sita pun mengelus perut, sepertinya ia lapar.


Dino pun naik kembali ke mobilnya, "Ahh ... akhirnya selesai, Sayang,"


Sita melirik Dino, "Sayang, lihat lah Nenek itu," tunjuk Sita kearah wanita paruh baya yang sedang menyuapi anak kecil.


"Ya, ada apa dengan nenek itu?"


"Aku mau makan di suapi oleh nenek itu?"


"APA!" Seketika Dino kaget, "Kita tidak mengenalnya, Sayang!"


Sita pun menujukan wajah memelasnya sambil menunduk sedih.


Melihat istrinya seperti itu, lagi-lagi Dino luluh, "Baik lah, Sayang. Ayo kita kesana!"


Wajah Sita pun berubah kembali berseri. Mereka pun turun dari mobil dan menghampiri mereka.


"Assalamu'alikum," Dino dan Sita mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Nenek itu.


"Eum ... Eum ...." Dino terlihat bingung harus mulai darimana, masa iya sama orang yang tak di kenal tiba-tiba minta makan, mau disuapin lagi. "Duh ...." keluhnya. Dino pun menyisir rambutnya kebelakang dengan tangannya. Sita hanya menunggu Dino bicara, tak lama Sita menunjukan wajah memelasnya kembali.


Terpaksa Dino pun memberanikan diri.


Nenek itu terlihat bingung.


"Begini Nek, istri saya sedang hamil, dia memperhatikan nenek sedang menyuapi cucu nenek tadi, boleh saya minta tolong!"


"Ya, apa yang bisa saya bantu?"


"Eu ... Is-tri saya maauu ... disuapi sama nenek," ucap Dino dengan agak ragu-ragu. Akhirnya rasa malu itu berhasil dilawan Dino, demi memenuhi permintaan sang istri.


"Ooh, tentu saja, mari Nak! duduklah disini!"


Sita pun langsung duduk dan tersenyum sangat bahagia. Nenek itu pun menyuapi Sita makan, Sita makan dengan lahap penuh kenikmatan, layaknya anak kecil yang sedang kelaparan.


Melihat Nasi Nenek itu hampir habis di makan sang istri Dino pun membeli nasi bungkus yang ada disekitar situ, untuk mengganti makanan yang di santap habis oleh istrinya.


"Terimakasih banyak, Nek. Maaf sudah merepotkan Nenek," ucap Dino dengan rasa tidak enaknya.


"Tidak apa-apa, Nak, orang hamil memang seperti itu, yang penting maunya di turutin dulu."


Hem ....


"Makasih, Nek, makanannya enak sekali. Kami pamit ya, Assalamualaikum," tutur Sita dengan ramah.


"Waalaikusalam." jawab Nenek itu pun ramah.


"Sayang, kamu puas?"


Bersambung ....


Masih ada part ngidam berikutnya , para pembaca setiaku jangan lupa di like ya biar tambah semangat upnya❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2