Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Ratih Kritis


__ADS_3

Ratih segera dilarikan kerumah sakit, sementara Bimo segera dibawa ke rumah kedua orang tuanya.


Sita dan Dino segera menyusul kerumah sakit setelah dihubungi Aditya.


Kini Ratih berada di ruang ICU dengan keadaan yang kritis, dia kehilangan banyak darah, dan keadaan janin di rahimnya pun tidak dapat diselamatkan. Kini Dokter harus mengangkat janinnya dengan paksa. Dokter meminta persetujuan keluarga namun baik Sita mau pun Dino tidak ada yang tau.


Dengan terpaksa Dokter melakukan tindakan itu, demi menyelamatkan nyawa ibunya.


Ratih telah dipindahkan ke ruang perawatan setelah pengangkatan janin selesai.


Sita dan Dino juga Aditya dan Bi Marni nampak gusar menunggu Ratih siuman. sudah hampir dua jam Ratih belum juga sadarkan diri.


"Ya, Alloh. Kenapa Ratih belum sadar juga? Semoga saja dia tidak shock kehilangan bayinya, kasihan dia kehilangan dua orang yang dia kasihi sekaligus," tutur Sita dengan deraian air mata di pipinya.


"Sabar, Sayang. Ratih pasti kuat?" Dino menenangkan sang istri yang ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu.


"Iya, Non, kasihan Non Ratih. Bibi gak bisa bayangin bagaimana reaksinya saat dia mengetahui kalau bayinya sudah tidak ada."


"Kalian pulang saja, biar saya yang menunggu disini," ucap Sita pada Bi Marni dan Aditya.


"Bibi, di sini saja. Bibi, juga khawatir sama, Non Ratih," ujar Bi Marni.


"Iya, biarkan kami juga menunggu disini," tutur Aditya.


Sita pun mengangguk mengerti.


Tak lama Ratih pun membuka matanya perlahan, "Bimoo!" panggilnya dengan lemah.


"Ratih!" semua terperanggah melihat Ratih.


"Bimoo!" panggilnya kembali, lalu mencoba bangkit dari pembaringan. Namun, ketika bangkit dia merasakan sesuatu yanga aneh. Ia meraba perutnya yang terasa longsong dan sedikit mengecil.


"Ba-bayiku. A-apa ini?" Ratih meraba perutnya seakan ada sesuatu, tanpa menyadari keberadaan Dino dan Aditya Ratih membuka bagian perutnya seketika. Aditya dan Dino pun langsung membuang muka menghindari terlihatnya perut Ratih. dilihatnya bekas goresan yang dibalut perban. Ratih pun kaget melihat keadaannya.


"Anakku! Apa aku sudah melahirkan?" tanyanya pada semua orang, dengan bergantian menatap mereka yang mendadak menunduk.


"Mana bayiku, Sita? Suruh suster membawanya kemari!" pintanya kemudian pada Sita. Sita berusaha menahan air matanya, namun melihat sahabatnya yang kelimpungan seperti itu, Sita pun langsung memeluk sahabatnya tak kuasa. Seketika Sita pun menangis.


"Heyy, Sita, kenapa kau menangis?" Ratih mengurai pelukannya penasaran, kini perasaannya mulai tak enak, matanya mulai berkaca, "Cepatlah katakan! aku harus kepemakaman Bimo, Bimo pasti sudah dimakamkan," ucapnya.


Dirasa Sita tak mau bicara, Ratih pun menatap semua yang ada disana.


"Kenapa kalian semua diam saja, ada yang bisa panggilkan suster untuk membawakan bayiku?" Ratih mulai sedikit kesal, dia membuka infus yang menempel di tangannya, dan mencoba turun dari pembaringan.


Seketika Sita memeluknya kembali, "Ratih!" panggil Sita.


"Ya, katakan Sita!" Ratih mengurai pelukan Sita kembali, tidak sabar mendengarkan Sita bicara.


"Ba-bayimu, bayimu sudah tiada," ucap Sita tak kuasa menahan tangisnya.


"A-apa! ka-kamu salah Sita, yang tiada itu Bimo, aku memeluknya didetik terakhirnya, bukan Bayiku, bayiku baik-baik sajakan?" Isak Ratih tak percaya dengan apa yang dikatakan Sita.


"Baayiiimu juga tiada, Ratih," Sita semakin terisak tak kuasa melihat keadaan sahabatnya.

__ADS_1


"Tidak, tidak mungkin, kau salah Sita, kau salah!" Ratih segera berlari keluar mencari perawat disana. "Suster! Suster!" panggilnya dengan teriak.


"Ratih! Tenang Ratih!" Sita mencoba menenangkan.


"Ada apa ini, jangan buat keributan disini?" tanya salah satu perawat yang menghampiri.


"Mana anakku, Sus? Mana anakku?" ucap Ratih histeris, "Aku ingin memeluknya, dimana dia? Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Ratih tersungkur kedasar lantai, tak sanggup menerima kenyataan.


"Bawa dia kedalam, beri dia penenang!" ucap salah satu perawat pada perawat lainnya.


Ratih pun dibawa kembali kedalam ruangannya, dan diberikan penenang.


Bisa dibayangkan bagaimana shock-nya Ratih, ditinggal dua orang yang sangat ia kasihi.


Ratih terus saja histeris, setiap kali ia sadar. Tidak satu orang pun yang mampu menenangkannya. Dia masih tidak percaya jika bayinya pun ikut tiada, meski Sita terus berusaha menenangkannya, hingga akhirnya Ratih pun di bawa ke pemakaman Bimo dan bayinya yang bersebelahan. Ratih terus menangis tersedu-sedu, disana barulah Ratih sadar mereka benar-benar telah pergi.


Sungguh, Kini hati Ratih teriris pedih, sakit bagai tertusuk duri.


Tidak ada satupun dari keluarga Bimo, yang menengok Ratih saat di rumah sakit, mereka seakan tidak peduli dengan kondisi Ratih. Siska sudah di tahan oleh pihak kepolisian, banyak saksi yang memberatkannya, hingga rekaman cctv di depan rumah Aditya pun sudah dijadikan bukti.


Ratih kini sendiri lagi. Setelah dia memberi tahu orang tuanya, Ratih pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Dengan berat hati Ratih mengambil keputusan ini demi mengubur masalalu yang menyakitkan hatinya.


"Maafkan aku ya, Sit. Bila aku punya salah!" ucap Ratih saat melapas pelukan hangat persahabatan mereka, tetesan air mata mengalir di pipi keduanya.


"Sama-sama, Rat. Jaga dirimu baik-baik!"


"Tentu, Sit."


Kini Ratih beralih pada Bi Marni. "Meski hanya beberapa hari bersama Bibi, tapi Ratih merasa sudah kenal begitu lama sama Bibi, maafin Ratih ya bi, Ratih sudah merepotkan Bibi."


"Makasih, Bi."


Kini Ratih beralih pada Dino.


"Thank ya, Din. Maaf sudah merepotkanmu selama ini, tolong jaga sahabatku dengan baik, jangan kamu sia-siakan dia, jika kamu sia-siakan dia aku orang pertama yang akan meninjumu," ucapnya menghadirkan senyuman pada semua yang hadir disana.


"Tentu saja," kata Dino, "Aku akan menjanya dengan seluruh jiwa dan raga," lanjutnya.


Hahaha ... Semua tertawa hangat.


Kini Ratih pun beralih pada Aditya, "Aku cukup bahagia mengenalmu, meski aku dalam duka, aku masih bisa tertawa dengan mengejekmu. Maafkan aku! aku tidak pernah serius mengejekmu," ucap Ratih mulai menitikan air mata lagi.


Heummm ... Aditya pun tersenyum.


"Aku senang jika hadirku, bisa membuat tawa dalam hidupmu, semoga kamu selalu di beri kebahagiaan," tutur Aditya.


"Aamiin. Terimakasih, Dit. Semoga kamu juga segera menemukan pelabuhan tepat untuk menjadi mahrammu," ucap Ratih diakhiri senyum.


"Kau mengingatnya?" Aditya pun tersenyum.


"Tentu saja."


Hahaha ...

__ADS_1


"Tank do'anya."


"Sama-sama."


Akhirnya Ratih pun pergi meninggalkan kota kembang dan kembali ke kampung halaman.


***


"Sayang, Aku berangkat kerja dulu, ya." Dino pamit pada sang istri yang tengah sibuk mengurus kedua buah hatinya.


"Iya, Sayang. Hati-hati ya." Sita mengecup punggung tangan sang suami, setelah sang suami mengngecup keningnya.


"Jangan lupa makan ya, Sayang. Kalo lagi ribet minta bantuan sama ibu,"


Tidak lupa Dino pun mengecup kedua buah hatinya.


"Dada ... Arvi, dada ... Rafka, papa sayang kakian, do'ain papa biar rejekinya lancar, ya."


"Aamiin."


Dino pun pergi, tak lupa ia pun mengucapkan salam pada sang istri, Sita pun menjawab di akhiri senyuman.


Sampai di tempat kerja, Dino tidak mendapati Ipan, biasanya Ipan selalu sudah hadir sebelum dia datang. Para karyawan nampak telah menunggu di luar karna tempat kerja mereka masih terkunci.


"Kak Hermawan, dimana Ipan?" tanya Dino.


"Entahlah, dari tadi aku menunggunya dia tak kunjung datang," jawab kak Hermawan.


Dino merasa heran, "Baiklah, akan ku ambilkan kuncinya mungkin dia sakit."


"Aku ikut Din," kata kak Hermawan.


Kah Hermawan dan Dino pun kerumah Ipan.


Disana nampak terlihat sepi, seperti tidak ada orang.


"Assalamualaikum, Pan, kamu baik-baik saja, para karyawan sudah menunggumu."


Tak ada jawaban.


"Kemana dia?" Dino merasa heran, ini pertama kalinya Ipan seperti ini.


"Coba kamu hubungi no hand phone-nya," saran Kak Hermawan.


Dino pun menghubungi Ipan, terdengar suara dering ponselnya di dalam kamar Ipan.


"Itu suara hand phone-nya ada di kamar?" kata Dino.


"Pan!" Dino mengintip jendela kamar Ipan. namun, tidak terlihat karena gorden kamarnya belum di buka.


Dino pun melangkah menuju pintu, kebetulan sekali pintu tidak terkunci, sepertinya Ipan lupa mengunci pintu. Dino masuk karena khawatir terjadi sesuatu pada Ipan. Kak Hermawan mengikutinya dari belakang.


Dino dan kak Hermawan melangkah cepat menuju kamar. namun, pintu kamar masih terkunci rapat.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2