
***
"Sayang, hari ini kamu tidak ada pengiriman?" tanya Sita saat membuka pintu rumah.
"Tidak, Sayang. Pengiriman sengaja aku cancel hari ini, semua aku geser besok," jawab Dino lalu melangkah masuk kedalam rumah.
"Loh, kenapa?" Sita menutup pintu perlahan.
"Karna hari ini aku mau nemenin istri tercinta ku di rumah, biar dia gak jenuh?" ucap Dino dengan melanyangkan tatapan mesranya.
"Kamu, tidak bercandakan, Sayang?"
"Enggak dong." Seketika Dino langsung menggendong sang istri.
"Sayang apa-apaan sih, aku masih bisa jalan loh," ucap Sita malu-malu.
"Wajah mu merona, aku suka melihatnya, " goda Dino yang terus berjalan menuju kamar.
"Apaan sih?"
"Lagian, Masih saja malu-malu sama suami,"
Dibaringkannya Sita di tempat tidur dengan perlahan lahan, Kemudian Dino mengelus lembut perut sang istri. Sita tersenyum hangat pada sang suami, terasa begitu yaman, terlihat begitu Dino sangat menyayanginya dan calon anaknya. Mereka berdua saling lempar senyum, "Terima kasih sayang, kau menjaga ku dengan baik, dan penuh perhatian. aku bahagia," ucap Sita.
"Tentu saja , aku harus menjaga mu dengan baik, kau adalah jantung ku, bayangkan jika aku hidup tanpamu, aku bisa ...." ucap Dino langsung terhenti ketika tangan Sita telah mendarat lembut di bibirnya, Sita pun menggelengkan kepalanya, "Jangan katakan hal buruk, aku tidak mau mendengar itu," ucap Sita selembut sutra matanya berkaca karna haru, hingga buliran bening membasahi pipinya. memiliki suami yang begitu menyayanginya adalah anugrah yang harus dia syukuri sepanjang hidupnya.
Dino mengusap lembut buliran bening di pipi istrinya, di ke*uplah kening sang istri, turun ke mata, pipi, dan terakhir mendarat lembut di bi*ir sang istri.
"Aku mencintaimu." ucapnya sedikit berat
Sita bangkit memeluk sang suami, "Aku juga mencintaimu. Terimakasih telah tulus mencintaiku, terimakasih, terimakasih," Sita semakin mempererat pelukannya, begitupun dengan Dino, mereka pun terbuay semakin dalam , mencurahkan cinta kasih mereka.
__ADS_1
****
Malam pun tiba.
"Sita sayang, jangan lupa baca surat Yusuf dan maryam ya!" pesan Ibu saat melihat Sita hendak membaca Al-Quran.
"Iya, Bu," jawab Sita.
"Aku boleh baca gak, Bu?"
"Hem ... Tentu saja boleh, kamu kan ayah dari anak yang dikandung Sita." ucap Ibu dan tersenyum.
"Ayo, sayang kita baca bareng," Dino pun duduk disamping Sita dan mulai membuka Al-Quran.
Ibu tersenyum bahagia melihat mereka, 'Semoga mereka selalu bahagia' batin Ibu. Lalu kembali ke kamarnya.
Tiba waktu di sepertiga malam Dino membangunkan sang istri mengajaknya Salat tahajud, "Sayang, bangunlah!" pintanya.
Dino tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri, "Masih di sepertiga malam, sayang. Aku ingat Abah bukankah dia selalu memberi contoh baik buat anak-anaknya! Aku malu jika tidak mengikuti jejaknya,"
"Masya Alloh, perjuangan Abah mendidikku kini kau melanjutkannya. Aku juga merasa malu, karna belum bisa menjalankan didikan Abah dengan baik, masih saja aku malas."
"Kalau begitu, mari kita berjuang bersama,"
Sita mengangguk dan tersenyum, kini mata kantuknya telah terbasuh air mata yang menggumpal di pelupuk matanya. batinnya penuh haru 'terimakasih Ya Alloh, KAU kirim kan imam yang baik untukku'
****
Esok hari pun tiba, Ibu telah berangkat ke rumah Elvira. Hari ini Ibu memilih naik kendaraan umum, untuk sekalian belanja di pasar.
Sita mencium punggung tangan sauaminya, ada rasa sedih saat Dino mulai melangkahkan kakinya, "Tunggu ..." Sita menghentikannya. Dengan cepat Sita melangkah dan memeluk Erat sang suami. "Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan."
__ADS_1
Merasa istrinya tak ingin ditinggalkan, ada rasa tak tega di lubuk hatinya, Dino menjauhkan tubuh istrinya dan memegang kedua pipinya dengan lembut, "Sayang, jangan kau buat suami mu ini berat melangkah, aku harus mencari nafkah, kau ingin ikut!" tawarnya.
"Aku boleh ikut! Tentu saja aku mau!" ucapnya dengan senang.
Hemmm... Dino langsung tersenyum, menggelengkan kepala melihat wajah istrinya yang berubah sumeringah.
Huuh ... Dino membuang nafas lega, "Untung kerja ku di luar ya, kalu sampe aku kerja kantor aku bisa repot."
Hahaha .... Keduanya tertawa.
"Habis aku jenuh, aku ingin bekerja lagi, aku gak mau diam diri di rumah."
"Tidak sayang, mulai sekarang kamu tidak akan aku ijinkan bekerja."
"Yah ... Kok gitu sih, boleh dong sayang!" rayu Sita.
"No,"
"Yaaahhh," ucap Sita lemas dan kecewa.
"Tidak boleh protes, Kamu sedang hamil, aku harus menjagamu, Ini juga terakhir kamu ikut aku kerja, kehamilanmu masih muda tidak boleh terlalu sering berkendara. Oke sayang!" Di kecuplah kening sang istri.
Akhirnya Sita pasrah dengan kemauan suaminya, dia mengerti bahwa suaminya hanya ingin yang terbaik untuknya dan bayi dalam kandungannya.
Mereka pun melaju, dengan mobil box yang di penuhi pesanan, hari ini pengiriman begitu banyak, tapi rasanya itu tidak akan sulit karna penyemangat hidupnya menemani sepanjang perjalanan. Tiba-tiba Dino teringat bagai mana istrinya mengidam yang tidak-tidak. 'Ya Allah, jangan sampai istriku ngidam aneh lagi di jalanan' batinnya berdo'a. Menatap sang istri.
"Kenapa, menatap ku seperti itu?" tanya Sita heran.
bersambung ...
Saksikan hal aneh apa lagi yang akan Sita idamkan, di bab ngidam part 3.
__ADS_1
Terimakasih reader setia ku love untuk kalian. Jangan lupa selalu tinggalin jejak agar Author makin semangat💪💪💪❤❤❤