
"Mamang sudah lama?" tanya Ipan.
"Baru saja, tadinya Mamang nyamperin kamu ke pabrik, tapi kamu sedang asyik ngobrol sama Dino, paman tak mau mengganggu,"
"Heuh ... Coba kamu nurut sama mamang dulu, mungkin sekarang kamu gak akan di ledekin sama temen mu."
Ternyata mang Adnan mendengaar percakapan mereka tadi.
"Sudahlah mang, jodoh itu di tangan Allah."
"Mamang sudah tua Pan, bagai mana kalau mamang besok meninggal,"
"Astagfirulloh mang, mamang kok ngomong gitu sih."
"Orang tuamu menitipkanmu pada mamang, mamang 'gak akan tenang sebelum kamu menikah."
"Mamang mau sekarang kamu lamar Syakila!"
"Syakila belum siap dilamar, Mang."
"Mau tidak mau, kamu lamar dia. Jika dia menolak kamu cari perempuan lain," ucap mang Adnan lalu pergi.
"Mamang mau kemana lagi, kita belum masuk kedalam."
"Gak usah, mood Mamang sudah hilang," ucapnya dengan kesal.
"Kok jadi Mang Adnan yang kesal sih, nyuruh aku cari yang lain lagi, hati itu kan 'gak bisa di paksakan." Ipan bicara dengan dirinya sendiri. Ipan pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang gundah.
***
Elvira tengah berbaring dikamar ibu, ia berpikir bagaimana caranya ia bisa keluar dari rumah ini, Jons terus mengancamnya setiap waktu. Malam ini, jika ia tak kunjung datang Jons bisa nekat datang kesini pikir Elvira.
Bener saja apa yang di pikirkan Elvira, tiba-tiba saat semua keluarga tengah makan malam bersama, seseorang mengetuk pintu. mengirimkan sebuah paket.
"Permisi, paket atas nama Elvira," Dino yang membuka pintu merasa heran, 'Paket! ia memesan paket, tau dari mana dia alamat lengkap rumah ini' batin Dino. 'Akh mungkin dari ibu'
"Sini biar ku berikan padanya!" ucap Dino.
"Maaf pak saya harus memberikannya langsung."
Dino tertegun, "Baiklah, akan saya panggilkan," ucapnya.
Dino melangkah berjalan memanggil Elvira, "Elvira ada paket untukmu," ucap Dino.
"Untukku!" Seketika Elvira kaget, 'aku tidak memesan apapun, kenapa ada paket' batinnya.
"Iya, kenapa kaget, apa kamu tidak memesannya?" tanya Dino.
"Eu-Enggak, aku pesen kok, cuman aku kaget kenapa datang sekarang karna di estimasi datangnya besok, ya sudah saya ambil dulu," ucapnya dengan gugup.
Elvira segera memakai tongkatnya yang ia simpan di sebelah kursi, ia melangkah berjalan menuju teras, dilihatnya laki-laki yang berdiri disana benar-benar Jons, "Sial, dia beneran nekat" gumamnya.
"Ngapain kamu kesini?" Elvira setengah berbisik.
__ADS_1
"Aku harus mastiin kalau malam ini kamu datang."
"Gak bisa Jons."
"Harus bisa!"
"Pergilah dari Sini! Nanti aku telepon kamu."
"Denger Elvira, jika kamu berbohong, aku tidak akan segan-segan--,"
"Suutttt, aku bosan mendengar ancamanmu, aku sedang berusaha mencari waktu dan alasan," Elvira memotong ucapan Jons.
Dirasa cukup lama, ibu pun memanggil Elvira,
"Elvira," Panggil ibu di dalam agak khawatir, "Kenapa lama sekali," ucap ibu dimeja makan.
Semua mengangkat bahu tidak mengerti.
"Biar ibu lihat," ibu bangkit, dan melangkah,
namun sebelum ibu sampai Elvira telah berhasil menyuruh Jons pergi, "Cepatlah, ibu memanggil, dia pasti akan kemari!"
"Baik, jangan lupa di buka kotak paketnya," ucap Jons.
"Iya, ayo cepetlah!"
"Elvira, kamu baik-baik saja nak!" tanya ibu khawatir.
"Ibu pikir kamu kenapa-napa. Kenapa begitu lama?"
"Maaf bu, kebetulan kita ngoblrol dulu sebentar, tadi dia nanyain sesuatu sama Elvira, Bu,"
"Ya sudah, yuk lanjutkan makannya!" ucap Ibu sambil berjalan beriringan dengan Elvira.
"Maaf, kalian semua menunggu, aku simpan paketnya dulu kekamar, kalian makan saja duluan tidak usah menungguku."
"Elvira segera masuk kedalam kamar, penasaran dengan isi paket yang dikirimkan Jons, di bukanya dengan perlahan, dan ternyata sungguh mengagetkan matanya tak berkedip, dengan mulut ternganga. "Gila ... Bagaimana bisa ia sempat memotret ini, sial ...." Seketika dirinya hancur melihat setiap adegan ranjangnya di jadikan potret oleh Jons. ia merasa jijik melihat potretnya sendiri. Apalagi setelah dia membaca tulisan yang Jons selipkan di dalamnya, 'Jangan berani menentangku, kalau kau mau aman' isi tulisan itu.
"Berengsek kamu Jons, aaaa ... Kenapa malah aku yang jadi budaknya, laki-laki sialan." Ia pun menangis. "Kakak ... Kenapa nasib ku jadi begini, kenapa jadi aku yang terperangkap, aaaa ...." teriaknya. Tanpa disadari teriakannya terdengar oleh semua orang di luar.
"Elvira!"
Mereka semua langsung menghampiri Elvira. Elvira segera menyembunyikan semua potonya.
"Apa yang terjadi, Elvira?" tanya ibu khawatir.
Elvira segera mengusap air matanya, "Ti-tidak apa-apa, a-aku hanya ingat kakak ku, tiba-tiba aku merindukannya. Maafkan aku. mengagetkan kalian," ucapnya dengan menahan tangis.
Kali ini semua orang benar-benar melihat tangis Elvira yang mendalam, bahkan abah merasa heran.
"Ibu, Abah, boleh malam ini Aku pulang kerumah ku, aku merindukan suasna rumah, besok aku kembali lagi kesini, hanya untuk malam ini saja,"
Melihat tangisnya begitu meyakinkan, akhirnya mereka mengijinkan Elvira pulang.
__ADS_1
"Baiklah nak, tapi tidak sekarang, ini sudah malam, besok pagi ibu antar kamu ya."
"Besok pagi, tapi--,"
"Benar nak, ini sudah malam. Besok saja kamu pulang," ucap abah pelan.
'Baiklah, setidaknya besok aku ada dirumah' Batinnya.
Ia pun segera menghubungi Jons. Setelah semuanya meninggalkannya.
"Oke, besok pagi aku tunggu di rumahmu," ucap Jons.
"Syukurlah dia menyetujuinya," Elvira bicara pada dirinya sendiri.
"Abah tidak mengerti dengan anak itu, tadi dia senyum-senyum sendir tanpa beban, sekarang tangisnya seolah menyimpan duka yang dalam? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" ucap Abah pada Dino yang sedang berada dikamarnya.
"Tersenyum sendiri!" Dino heran.
"Iya, Din, pagi itu pun, seorang laki-laki mengancamnya, Abah mendengarnya."
"Mengancam!?"
"Iya, mengancamnya. Kita harus cari tau tentang masa lalunya Din."
Dino tertegun.
"Kalau begitu, kita memang harus cari tau, Bah, terimakasih Abah sudah mendukung Dino, Dino janji tidak akan mengecewakan anak Abah."
Abah menganggukan kepalanya.
Dino pun berlalu meninggalkan abah dikamarnya sendiri, membiarkannya bistirahat melepas lelah setelah seharian beraktivitas.
Dini hari, tepat sebelum Adzan subuh berkumandang, Elvira segera bergegas pergi meninggalkan rumah, tanpa berpamitan pada ibu dan yang lainnya. Karna jika ia menunggu semua bangun dan meminta ijin akan ada drama dulu sebelum itu, ia malas memikirkannya, terlebih ibu mau ikut mengantarnya.
Elvira sudah memesan ojek online, untungnya ada yang stanbay dini hari. Ia pun pergi dengan tergesa gesa, dan meninggalkan pesan whatsapp pada Ibu.
"Maaf bu, Elvira sangat merindukan suasana rumah, Elvira tidak bisa tidur semalaman, Elvira berangkat sebelum adzan, Elvira juga sekalian jiarah kemakam kakak dan kedua orang tua Elvira. Tidak usah khawatir kaki Elvira sudah hampir sembuh, Elvira bisa sendiri, nanti sore Elvira kembali kerumah ibu," Ibu membaca pesan Whatsapp yang dikirim Elvira padanya.
"Kenapa dia tidak menunggu pagi?" ucap ibu khawatir setelah memperlihatkan isi pesan itu pada Sita.
Ibu memang menyayangi Elvira seperti putrinya, meski di tengah permasalahan yang ada, ia tetap menghawatirkan perempuan sebatang kara itu. Ya ibu tetap yakin jebakan ini disebabkan oleh Elena, dan Elvira tidak tau apa-apa. Meski saat ini ibu dan abah tengah mencari tau kebenaran yang sesunghuhnya. Baik ibu, Dino, Sita dan abah tetap berusaha bersikap baik pada Elvira sebelum kebenaran terungkap.
"Sudahlah bu, tidak usah khawatir, mungkin memang dia sangat merindukan rumahnya, meski keluarganya sudah tiada mungkin banyangan mereka hidup di rumah itu, semua kenangan, suka maupun duka," ucap Sita menenangkan.
Ibu pun tersenyum.
Pagi itu ibu dan Sita pun membereskan rumah, tat kala ibu merapihkan tempat tidurnya, ibu menemukan kotak paket Elvira semalam, rupanya Elvira melupaknya karna terlalu pokus khawatir pada Jons yang jika tidak di penuhi keinginannya ia akan membongkar rencananya.
"Apa ini?" ibu penasaran. "Bukankah Kotak paket ini milik Elvira? Setelah menerima kotak ini tiba-tiba Elvira menangis? Apa yang sebenarnya ia pesan?"
Bersambung .....
terimakasih sudah setia membaca karya Author, jangan lupa like komennya ya, apalagi di tambah sekuntum mawar merah bikin Author tambah semangat.❤❤❤ 😘😘😘
__ADS_1