Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kepergian Abah


__ADS_3

"Memalukan Dino, Ibu tidak percaya anak Ibu akan lari dari tanggung jawab, dan kamu Sita kamu mendukung perbuatan suamimu ini," ucap Ibu dengan tangis.


"Bu Erni pastikan anak Anda tidak lari dari tanggung jawab, silahkan selesaikan masalah kalian. Kami pamit," ucap pak Rt.


Sita hanya menunduk sedih. "Apalah daya bu, hati kecil Sita ingin hidup bahagia bersama suami Sita. Andai Sita boleh egois."


"Dengan membiarkan gadis lain terluka, kamu tau benar apa arti tanggung jawab Sita!" bentak Ibu dengan prustasi. Sejujurnya dia pun ingin putra dan menantunya Itu bahagia, namun apalah daya.


"Lalu apa yang harus Sita lakukan bu! Sita tidak bisa membayangkan kehidupan Sita setelah besok bu." Ucap Sita dengan tangis.


Abah hanya menunduk dengan tak berdaya, dia tak mampu berbuat apa-apa lagi banyak bicara pun tak akan mengubah semuanya.


Andai Sita dan Dino mau melarikan diripun abah tidak akan menghentikannya.


Dirumah Elena.


Dia tengah mencari bukti perbuatan Elvira dan Jons yang ia sembunyikan, dan ia lupa menyimpannya dinana? "Akh Sial kenapa aku sampai lupa menyimpannya dimana, semua karna menunggu Sita pergi, aku menunda-nunda memberitahu mereka, tapi pada nyatanya Sita masih saja setia mendampingi Dino. Akhhh ... Dimana kartu memory itu?" ucapnya. Keadaan rumah sudah sangat acak-acakan karna mencari kartu memory itu namun Elena belum juga menemukannya.


"Aku di pintu belakang rumah Dino, cepat kamu kesini?" Elvira membaca pesan Singkat dari Jons.


"Ngapain dia kesini?" Elvira nampak kesal dengan kedatangan Jons yang mendadak datang kesini.


Ia pun mengendap-endap keluar menuju pintu belakang.


Abah tak sengaja memergokinya.


"Ngapain kamu kesini!?" bentak Elvira setengah berbisik.


"Kamu serius mau menikah dengan Dino besok?" tanya Jons penasaran.


"Ya, rencana ku akhirnya berhasil, Jons," ucapnya dengan gembira.


"Tidak Elvira hentikan ini!" pinta Jons, Jons yang sudah mulai menyimpan rasa pada Elvira tak rela jika Elvira harus menikah dengan Dino.


"Apa maksudmu Jons, perjuanganku hampir selesai kau minta aku menyudahinya, yang benar saja."


"Kau sudah cukup membuatnya menderita, Elvira, ini sudah cukup?"


"Tidak Jons, aku belum memisahkan mereka, aku harus menghancurkan Sita sampai mereka berdua benar-benar terpisah!" ambisinya untuk membuat Sita hidup sendiri seperti dirinya sangat besar, ia tak puas hanya membuat Sita menangis. Dia ingin Sita benar-bennar hancur.

__ADS_1


"Jangan lupa Elvira kamu sudah tidur dengan ku berkali-kali kamu akan hamil anakku, aku tidak mau kamu menikah dengan Dino,"


"Apa maksudmu Jons, rencana itu memang di buat agar aku hamil dan Dino menikahiku, kenapa kamu malah tak rela sekarang, lagian kamu itu mandul masa iya sampe sekarang aku gak hamil juga, harusnya aku sudah hamil. Untung saja aku bisa memanfaatkan keadaan malam itu, kalau tidak pernikahan ini pasti belum di rencanakan sampai sekarang."


Karna kesal, Jons pun menarik tubuh Elvira ke dekatnya, di tatapnya mata Elvira dengan tajam.


Melihat tatapan tajam Jons Elvira sedikit ketakuatan, "Lepaskan Jons!" keluhnya.


"Apa kamu tidak bisa melihat sesuatu dimataku Elvira! Apa kamu tidak menyadari kalau aku jatuh cinta padamu Elvira."


Mendengar itu Elvira berusaha mendorong tubuh Jons dengan kuat, namun tak berhasil ia lepaskan, jons malah semakin merapatkan tubuh mereka, "Lepas Jons nanti ada yang melihat!" keluhnya lagi.


Tiba-tiba braaakkkk ...


Abah terjungkal, shock mendengar semua perkataan mereka berdua, antara kaget dan bahagia menemukan kenyataan menantunya yang tidak menodai Elvira, namun ia pun kaget ternyaka Elvira tak selugu yang dia kira. Dadanya sesak, dan sakit. Namun ia tak bisa bangkit.


Menyadari itu Elvira menghampiri Abah. "Abah, Abah mendengar semua?" ucapnya dengan khawatir.


"Ka-ka--"


Sesak di dada abah semakin terasasakit dia tak mampu mengucapkan apapun.


Merasa khawatir Elvira pun gelap mata, ia membekap mulut abah hingga abah kehabisan nafas.


Elvira sendiri pun shock melihat abah yang terbujur kaku, "Jons," panggilnya dengan khawatir. "Jons, apa dia mati!" ucanya khawatir.


"Kamu gila Elvira apa yang kamu lakukan," Jons pun megang kepalanya dengan kebingung.


Ayo kita pergi, "Tidak, kau saja yang pergi!"


Tiba-tiba terlintas di kepalanya untuk minta tolong, "Tolong ... Tolong ... Tolong ..." Elvira berpura pura minta tolong, agar dia tidak di curigai.


"Pergilah Jons," pintanya sebelum semua orang datang.


Sita, Ibu, dan Dino pun menghampiri.


"Astagfirulloh Abah! Abah kenapa!?" teriak Sita.


"Abah!" ucap Dino dan ibu bergantian.

__ADS_1


Sita langsung meraih tubuhnya, dan merangkul sang Abah, namun seketika Sita terdiam, dirasa ia tak meraskan nafas sang ayah sedikit pun, ia pun menyelidik tubuh sang aya di lihatnya dada abah yang diam tak ada tanda ia bernafas, di ambilnya lengan abah dengan cepat, dan di periksanya denut nadi, seketika Sita pun langsung lemah tak berdaya, "Abaaahh!!!" ucapnya dengan shock , "Abaaaahh!" panggilnya lagi diiringi dengan air mata yang berlinang.


"Ada apa Sayang," Dino ikut Shock melihat Expresi wajah sang istri yang seketika diam membengong dan terkulai lemas.


"Abah!" Dino pun kaget.


"Innalilahiwainailaihi roojiun,"


"Abaaaahhh ...." seketika Sita histeris ketika Dino mengucap innalilahi, "Abaaaahh ...." teriaknya terus histeris.


"Innalilahi ...." Ibu pun seketika menangis terlebih melihat menantunya yang histeris.


"Abah benar-benar tiada, benarkah!" Elvira pun seketika shock, bukan karna sedih atas kepergian abah, namun karna tangannya itu yang telah melenyapkan abah, ia tak percaya ia sampai gelap mata, kebenciannya pada Sita membuat dia melupakn segalanya. Hanya ingin Sita menderita itu yang ada di otaknya, hanya itu saja.


Elvira benar-benar shock, namun orang yang melihat pasti berpikir ia shock karna kepergian abah juga.


"Tidak, tidak mungkin," ucapnya menyadari kesalahan.


"Apa yang terjadi pada Abah Elvira? Kenapa bisa begini?"


"El-Elvira gak tau bu, El lagi santai disini, tiba-tiba A-abah, abah terjungkal begitu saja, a-aku pikir tadi itu apa, ternyata i-itu abah," ucapnya dengan gugup, namun tak menimbulkan kecurigaan dari semuanya.


Tiba-tiba warga pun berkerumun datang, mengetahui ada yang meninggal mereka dengan sigap membantu menyiapkan semuanya.


Dino segera memeluk sanga istri, yang tengah menangis hebat, "Sabar sayang,"


Dino pun menghubungi semua keluarga Sita,


Mereka segera datang, tangis mereka sama histerisnya dengan Sita, tak menyangka kedatangan abah ke kota kembang adalah untuk menghembuskan nafas terakhirnya.


Semua warga segera memandikan jenajah Abah sebelum abah di kebumikan di kampung. Meski abah baru beberapa hari disini tapi para warga mengurus jenazah abah dengan baik. Setelah selesai di mandikan dan di kapani, jenazahpun di bawa ke kampung halaman dam jenajahpun di kebumikan.


Bi Ifah dan yang lainnya menangis tak menyangka apa yang terjadi pada kakak ifarnya, sungguh ia menyesal tak bisa mengantar abah ke kota lembang saat itu, jika tau itu permintaan terakhirnya pada bi ifah, bi ifah pasti menuruti kemauannya, sayangnya waktu itu sang suami pun sedang sakit.


Sita tak menyangka abah pergi secepat ini, Sita pun berpikir mungkin abah terlalu banyak pikiran memikirkn apa yang terjadi padanya, andai waktu bisa di putar Sita tidak akan mengijinkan abah menginap di rumah Dino, sehingga abah tak perlu tahu apa yang terjadi padanya.


Tak ada pesan terakhir yang abah ucap saat kepergiannya, karna Sita sendiri tidak menyaksikan saat terakhir ia menghembuskan nafasnya. Mungkin pesan yang abah ucapkan di kamar waktu itulah yang jadi pesan terakhirnya, Sita ingat betul saat abah mengatakan, "Jangan pernah meninggalkan rumah ini tanpa ijin suamimu," ya nasihat itu masih Sita ingat.


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2