Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Tersindir


__ADS_3

"Sita 'gak berangkat kerja, Bu?"


"Sita sudah tidak bekerja, dia keluarkan dari perusahaan lantaran terlalu banyak ijin,"


"Di kelurkan! Sayang sekali ya, Bu!"


"Iya, sih, tapi itu lebih baik, jadi Sita bisa banyak istirahat di rumah dan itu baik buat kehamilannya."


"Jadi Sita sedang hamil, Bu!"


"Iya, usia kandungannya baru empat minggu,"


Seketika hati Elena pun terbakar api cemburu. Namun ia pandai sekali menutupinya. 'Ah sial! Sita sudah hamil lagi! Aku harus menggugurkan kandungannya, Dino gak boleh punya anak sama Sita' bisik hatinya geram.


***


"KAU," Elvira kaget saat melihat kedatangan Elena bersama Ibu.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ibu.


"E-enggak, Bu, maksudku ... Kau ... siapa?" ada kegugupan di raut wajah Elvira.


Elena hanya tersenyum


"Perkenalkan namaku Elena!" Elena mengulurkan tangannya. "Kami sudah seperti sodara, ya kan, Bu."


Elvira menyambutnya dengan senyuman hangat, meski hanya berpura-pura.


"Iya, Nak, ayo ngobrol di dalam biar enak!" ajak Ibu.


Elvira dan Elena mengaggukan kepalanya.


Mereka pun melangkah perlahan mengikiti Elvira yang berjalan perlahan dengan tongkatnya.


'Kenapa perempuan ini bisa akrab kembali sama ibu Sih' batin Elvira. 'Aku harus hati-hati sm ular satu ini'


"Astagfirullohhaladzim, ini rumah berantakan sekali, kita harus membersihkan pecahan kacanya! Elena kamu bantu Ibu ya!"


"Baik, Bu."


"Maaf, Bu merepotkan Elvira gak biasa bersin,"


"Iya nak, kamu duduk saja, biar Ibu dan Elena yang bersihin,"


"Kalau begitu, aku buatin kalian teh ya," ucap Elvira


"Boleh, Nak."


Elvira pun berjalan ke dapur dengan segudang pertanyaan tentang Elena,


"Bisa-bisanya permpuan licik itu kembali akrab dengan keluarga Ibu," gerutunya sambil mengambil gelas di dalam rak, di masukannya teh, gula dan di tuangkannya air panas ke dalam gelas.


"Elena, bisa tolong ambilkan pengki dan sapu," titah ibu.

__ADS_1


"Baik, Bu."


Elena pun berjalan menuju dapur, Ia sudah tak sabar melihat reaksi Elvira. "Hai Nona Elvira, apa kabar?"


Elvira menatap kesal pada Elena,


"Tatapannya gitu amat, gak suka aku ada disini. kenapa? takut rencananya gagal?" ejek Elena.


Elvira mengerutkan keningnya.


"Ngapain kamu sesini?" Elena menekan suaranya.


"Ups ... biasa aja bos ngomongnya!" Elena terus mengejek Elvira.


"Oh, ya ketegangan semalam lo salurin sama siapa? Jangan bilang sama Dino, ya , imposible," ucapnya semakin mengejek.


"Maksud lo?" Elvira tersentak kaget.


"Hahaha .... Babay...." Elena melangkah kembali ke ruang tamu.


"Kurang ajar, apa kejadian semalam ada campur tangannya? Awas saja kalau bener.


Setelah selesai membuatkan teh Elvira segera melangkah ke ruang tamu, ia menatap Elena dengan sinis, tanda tanya dibenaknya membuat dia ingin segera mencari kesempatan untuk bisa bicara dengan Elena.


Disimpannya satu persatu teh di menja, dia pun duduk berbincaang dengan mereka.


Tak lama Sita dan Dino datang membawa Kaca Jendela.


"Kalian sudah datang" tanya Ibu.


"ElVira Bagaimana keadaanmu sekarang, kau baik-baik saja," tanya Sita


"Alhamdulilah, aku baik-baik saja, untung Dino segera datang, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku? Makasih kamu sudah selalu mengijinkan Dino buat bantu aku, semoga kalian selalu bahagia dan rumah tangga kalian langgeng."


'Cih ... Yakin tu do'a ikhlas' Betin Elena.


"Aamiin. Makasih Elvira semoga kamu juga segera menemukan jodoh mu, supaya kamu tidak sendirian lagi di rumah,"


"Aamiin,"


'Setelah ini kau yang akan sendiri Sita, bukan aku lagi. Heuh ... aku malas berpura-pura seperti ini, cihh ... ingin sekali segera melihatnya menderita, rencanaku berikutnya tidak boleh gagal, aku harus lebih berhati-hati, nampaknya sekarang Elena ikut campur dalam urusanku' kekesalan batin Elvira.


"Ayo lebih baik sekarang kita sarapan dulu sebelum Dino memperbaiki kacanya," ajak Ibu yang sudah mulai merasakan lapar di perutnya.


"Baiklah, ayo!" ucap Elvira.


Mereka pun menuju ke meja makan, seperti biasa ibu membawa makanan dari rumah kali ini menu makanannya adalah sayur lodeh, cumi, sambal, tempe, tahu, dan kangkung.


"Wah ada sayur lodeh juga, Bu," Ucap Elena


"Iya El, itu kesukaan Sita, Karena sekarang Sita lagi hamil jadi dia banyakin makan sayuran, karena kalau makan ikan juga dia masih mual dan muntah," jelas Ibu.


"Oh gitu ya Bu," lanjut Elena.

__ADS_1


Ibu mengganggu kan kepalanya


"Oh ya, Sit, selamat ya, atas kehamilanmu, aku baru tahu tadi dari ibu, semoga segalanya dilancarin yah," Ucap Elena


"Aamiin, makasih El,"


Elvira membatin 'Heh sok-sok ngucapin selamat segala padahal hatinya ngenes juga, lihat aja kalau di perut gue udah ada jabang bayi, kamu pasti tamabah kesel, heuh ....'


Setelah mereka selesai makan Elena merapikan piring kotor ke dapur, Elvira segera mengikutinya, Ia pun membawa beberapa piring kotor ke dapur, Elvira meminta penjelasan kepada Elena. "Hey ... wanita ular, apa yang kamu lakukan pada minumanku semalam," tanya Elvira


"Heran deh ... apa maksudmu?" jawabnya pura-pura.


"Lo gak usah pura-pura! Gue tau ini perbuatan lo," sahutnya kesal.


"Is, is, is, nampaknya ada yang kesal karna rencananya gagal," balas Elena.


"Kurang ajar kau," Elvira mengangkat tangan hendak menampar Elena.


Namun Elena sigap menggenggam tangan Elvira. "Denger ya! jika kamu masih berani berbuat sesuatu sama Dino, maka itu akan jadi urusanku, jadi jangan coba-coba macam macam dengan ku, heuh ...." bentak Elena lalu dihempaskannya tangan Elvira kesamping. Dan melangkah kembali ke meja makan.


"Sial, perempuan ular itu bener-bener berbahaya," gerutu Elvira.


Elvira pun kembali ke meja dimana semua orang masih berkumpul disana.


"Semua sudah selesai," ucap Dino. Saat sudah memasang semua kaca yang pecah.


"Alhamdulilah, rumahmu sudah aman kembali Elvira," ucap Ibu.


"Makasih, Din," ucap Elvira.


"Sama-sama."


"Sita, ayo kita pulang?" ajak Dino.


"Loh kok pulang, Sayang? Aku gak mau, akan jenuh di rumah sendiri" tolak Sita.


"Sayang, kamu harus banyak istirahat jangan terlalu lelah," tutur Dino.


"Enggak sayang, ibu hamil itu harus banyak gerak, ya kan, Bu?" Sita kekeh.


"Dengar sayang, Ibu hamil itu memang harus banyak gerak, tapi juga harus banyak istirahat, intinya kamu harus bisa mengatur waktu. Berlebihan gerak itu juga gak baik, terlalu banyak diam juga enggak baik. Jadi lebih baik sekarang kamu nurut aja sama suamimu, nampaknya noda merah itu masih membuat suamimu khawatir, lagian disini ada Ibu sama Elena," tutur Ibu panjang lebar.


Deg ....


Elvira merasa tersindir saat mendengar noda merah, 'ya ampun, nyesek rasanya denger kata itu, kecerobohan ku membuat ku salah langkah, bo*oh' batinnya mengumpat diri sendiri.


"Ya sudah, kalau begitu Sita pulang duluan ya, Bu, El, Elvira,"


"Oke ... Sayang, hati-hati di jalan," Ibu memeluk dan mencium kening Sita.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Alhamdulilah hari ini bisa up 2 bab, terimakasih buat reader ku tercinta selalu memberiku semangat, tetap dukung karya ku, jangan kupa like favorit nya❤❤❤


Lanjut yuk bab berikutnya💃💃💃


__ADS_2