Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Penjelasan Dino


__ADS_3

"Aku rasa tidak, nanti aku akan bicara padanya."


"Tidak aku tidak mau merepotkan istri Anda, biarlah aku sendiri di rumah ku, itu akan lebih baik dari pada aku merepotkan istri Anda. Tapi apa Anda bersedia aku panggil bila aku membutuhkan bantuan Anda?


"Tentu saja Nona, itu sudah tanggung jawab ku, tapi akan sulit mengatur waktunya, Nona. Jika Anda tinggal di rumahku, ada Istriku dan Ibu Ibuku yang akan bergantian merawat Anda."


"Tidak, aku ingin tinggal di rumahku."


"Baiklah Nona, terserah Anda," ucap Dino pasrah.


"Baiklah," ucap perempuan itu lega. "Ohya, perkenalkan namaku, Elvira." Perempuan itu pun mengulurkan tangannya.


"Namaku, Dino." Dino pun mengulurkan tangannya.


"Terimakasih sudah mau bertanggung jawab."


"Sama-sama Nona."


Dino pun langsung mengantar Elvira kerumahnya. Benar saja di sana tidak ada siapa-siapa. Bahkan 'tak satu foto pun Dino lihat terpasang disetiap dinding. Suasana rumah itu begitu sunyi dan sepi tak ada suara keramaian. Ini adalah rumah kedua yang di tempati Elvira dan keluarga saat dulu mereka masih hidup.


Dino yang menggendong Elvira pun hendak meletakan Elvira di sofa dengan hati-hati. "Tunggu!" Elvira menghentikan Dino.


"Tidak disini, tapi di kamar," pintanya pada Dino.


Dino yang kebingungan pun dengan terpaksa memasuki kamar Elvira dan membaringkannya di tempat tidur.


"Terima kasih," ucap Elvira.


"Sama- sama," jawab Dino.


"Maaf Nona, saya rasa ini keputusan yang salah. Sebaiknya anda tinggal di rumahku sementara waktu. Ada istri dan Ibu ku disana yang setiap saat bisa membantumu"


"Tidak apa, aku sudah terbiasa sendiri," ucap Elvira.


"Tapi Nona..."


"Panggil saja Elvira,"


Dino menganguk


"Sudah lah...aku tidak apa. Boleh Saya minta tolong sediakan makanan dan minuman, simpan dimeja ini. Setelah itu kamu boleh pergi, nanti kalu aku butuh bantuan lagi aku akan menelponmu.


"Baiklah kalau itu mau mu," Ucap Dino.


Dino pun pergi ke sebuah supermarket, membeli persediaan makanan untuk Elvira. Setelahnya ia pun meletakan semua di atas meja sesuai permintaan Elvira.


Dino pun pamit pulang.

__ADS_1


Setelah kepergian Dino, Elvira pun berdecak gembira, dengan menyimpan kedua tangan di perutnya. "Pech...pech...pech... Rencana pertamaku berjalan dengan lancar, tunggu kejutan dariku Sita." Wajahnya pun berubah menjadi kesal seketika menyebutkan nama Sita. "Ini permulaan, aku rela mematahkan kaki ku demi kehancuranmu Sita, jangan harap kamu bisa hidup bahagia dengan suamimu."


***


Dino langsung pulang kerumah. Suasna rumah sepi sekali, Ibu dan Sita sibuk dikamarnya masing-masing. Mereka tak sering banyak berbincang seperti biasanya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Sita, "Kamu sudah pulang sayang."


"Iya, ada sedikit masalah," ujarnya.


"Masalah apa, sayang?" tanya Sita penasaran.


"Aku menabrak seseorang."


"Astagfirulloh haladzim," ucap Sita kaget berbarengan dengan Ibu yang keluar dari kamar karna mendengar suara anaknya datang.


"Apa yang terjadi pada mu Dino?


Kau baik-baik saja kan?" tanya Ibu dengan khawatir. Ibu pun memegang dagu Dino di gerakannya ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaannya, "apa ada yang terluka?"


"Tidak Bu, Dino baik-baik saja, Ibu tak perlu khawatir," jawab Dino.


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja." Ibu pun merasa lega.


"APA! Apa yang terjadi padanya?" tanya Ibu lagi.


"Tulang kakinya patah," jawabnya.


"Aatagfirullohhaladzim," Ucap Ibu dan Sita berbarengan.


Dino pun terus menceritakan semua kejadian pada Ibu dan Sita tanpa ada yang disembunyikan.


"Lebih baik dia di bawa kesini, akan sulit hidup sendiri dalam keadaan seperti itu," ucap Sita.


"Kali ini istrimu benar Din, dia harus dibawa kesini." Meski Ibu setuju pendapat Sita, Ibu tetap memperlihatkan wajah dan tatapan sinis pada Sita.


Sita hanya bisa tertunduk melihat Ibu seperti itu.


Dino pun melirik Sita, dia hanya bisa merasakan apa yang dirasakan istrinya.


"Aku sudah membujuknya, tapi dia bersikukuh untuk tetap tinggal di rumahnya," tutur Dino.


"Lalu bagaimana dengan segala kebutuhannya,?" tanya Sita.


"Untuk malam ini, semua sudah kusediakan tadi," jawab Dino.

__ADS_1


"Syukurlah. Kalau begitu aku akan menjaganya seharian besok, aku akan minta izin pada pak Bimo," ucap Sita.


"Iya sayang, besok akan ku antar kamu kerumahnya," turur Dino.


"Baguslah, itu lebih baik dari pada Ibu harus melihat mu ada dirumah. Sekalian saja tinggal disana sampai dia sembuh, atau bahkan selamanya." Dengan sinis, Ibu kembali mengatakan hal menyakitkan pada Sita dan lalu Ia beranjak pergi ke kamar.


Dino pun menghela nafas panjang dan membuangnya, lalu dia memeluk istrinya memberikan ketenangan.


"Sabar, sayang. Aku akan bicara pada Ibu, tak seharusnya Ibu bersikap seperti itu padamu."


Sita pun menganggukan kepalanya, dan berusaha tersenyum pada sang suami, meski hatinya saat ini tengan perih.


"Aku mohon untuk kali ini jangan bertengkar dengan Ibu, bicaralah baik-baik baik padanya, jangan membentaknya lagi!" Pinta Sita pada Dino.


"Baiklah, sayang."


Dino pun menyusul Ibu ke kamar, melihat pintu kamar yang tidak terkunci Dino pun langsung mendorong pintu perlahan-lahan.


"Ibu." Dino memasukan sedikit kepalanya.


"Ada apa Din?" tanya Ibu yang sedang duduk di bibir ranjang.


"Boleh Dino masuk?" tanyanya.


"Tentu saja boleh."


Dino pun masuk dan menutup pintun pelan.


Dia langsung duduk bersimpuh dan memegang kedua tangan Ibunya, lalu diciuminya.


"Dino mohon maaf, jika selama ini Dino mengecewakan Ibu, Dino mohon maaf jika tidak bisa menjadi anak yang berbakti pada Ibu, Dino tau ini tidak mudah, tapi Dino mohon Bu, Ibu jangan bersikap seperti itu pada Sita, kasiha dia Bu!" pintanya pada Ibu dengan lirih.


Ibu pun langsung melepaskan tangan Dino, dan berdiri, "Untuknya kamu melakukan ini Din," Ibu membuang muka kecewa.


Lalu Dino pun mengikuti Ibu berdiri, dan memegang kembali kedua tangannya. "Ibu sudah salah paham padanya Bu,"


"Salah paham Din." Ibu menghempaskan tangan Dino dan berjalan ke arah jendela.


Ibu menatap langit dengan tatapan yang kosong. "Kamu tidak akan pernah memahami perasaan seorang Ibu, Din. Ibu benar-benar takut anak Ibu dihianati oleh istrinya. Terlebih pernikahan Ini begitu cepat, Ibu takut dia menyembunyikan sesuatu." Ibu pun meneteskan air mata kekhawatirannya.


Dino pun memeluk sang Ibu dari belakang dengan penuh kasih sayang.


"Dino tau, Ibu sangat menyayangi Dino. Sekarang coba Ibu lihat Dino! Apa ada kekecewaan di mata Dino? Apa ada penderitaan dimata Dino, Dino sangat bahagia Bu," ujarnya.


"Kekhawatiran Ibu terlalu berlebihan Din, Ibu tidak bisa mengendalikannya, kamu anak Ibu satu-satunya."


"Coba Ibu pikir, perempuan yang beberapa hari ini baru di ambil keperawanannya tiba-tiba sudah hamil lama? Apa ada perempuan hamil sebelum di perawani Bu?"

__ADS_1


"APA!" Ibu terkesiap kaget.


__ADS_2