Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Gombalan Dino


__ADS_3

"Oh ya sita, aku lelah, punggungku ini pegal sekali terus berada di kursi Roda," keluh Elvira.


"Apa kamu ingin berbaring?" tanya Sita,


"Ya, sepertinya itu akan lebih baik," jawab Elvira.


"Ya sudah, mari kubantu," kata Sita.


"Kau yakin bisa Sita," ucap Elvira


"Aku rasa, aku bisa," jawabnya.


"Mari," Sita pun membungkukan dirinya dan mencoba menggendong Elvira.


"Oh ya ampun tubuh mu berat sekali Elvira, Apa kaki sebelah kirimu bisa sedikit menopang?"


"Tidak Sita, rasanya masih sakit sekali,"


"Huh..." Sita membuang nafas kasar.


"Maaf Elvira, ternyata aku tidak bisa mengangkatmu, tubuh mu terlihat kecil tapi berat sekali. Sepertinya aku harus menelpon Dino,"


"Tidak, tidak perlu, Suamimu sedang bekerja jangan mengganggunya, biarlah aku menahan rasa pegal ini sampai suamimu datang," tutur Elvira.


"Biar ku coba dulu siapa tau pekerjaannya sudah selesai,"


Derrettt...derrett...


Dilihatnya nama panggilan yang ada dilayar ponsel "Istri ku sayang"


"Assalamua'laikum sayang," suara Dino di telepon.


"Wa'alaikumsalam" Sita pun menjawab.


"Sayangnya mana? Kok, wa'alaikumsalam saja," goda Dino.


"Apaan sih, ada Elvira loh disini,"


"Gak papa lah, Elvira kan tau kalau kita suami istri, Apa masalahnya?"


"Dino, Aku malu." Sita memang tidak pernah memanggil Dino dengan kata sayang dihadapan orang lain, kecuali dihadapan Ibu.


"Pokonya, harus pake sayang!" pinta Dino.


"Ya sudah, waalaikumsalam sayang,"


"Nah gitu dong, kan jadi adem hati suamimu ini." jelasnya, "Oh ya ada apa? Kamu Rindu padaku?"


Sita tak menjawab, hanya tersenyum


"Aku tau sekarang kamu sedang tersenyum, itu tandanya iya"


"Apa!" Sita pun celingukan melihat ke arah pintu dan jendela.


"Gak usah celingukan, aku gak ada disana,"


"Terus... kok kamu bisa tau?"


"Karna aku ada dihatimu,"


"Iiihhh...kamu gombal terus ya,"

__ADS_1


Hahaha...


"Ya sudah ada apa?" tanyanya.


Tentu saja Elvira mendengar gombalan Dino pada Sita, karna Sita menelpon Dino persis didepan matanya, "Cihhhh..." batinnya kesal.


"Ini loh, Elvira ingin berbaring katanya, dia sudah pegel terus-terusan berada di kursi roda, barangkali kamu sudah selesai kamu bisa segera kesini,"


"Tentu saja sayang, kebetulan aku memang sedang menuju kesana,"


"Baiklah kalau begitu, terimakasih, assalamu'alaikum,"


"Sayangnya mana? Jangan lupa lagi loh,"


"Iya, oke, Assalamualaikum, sayang,"


"Waalaikumsalam sayang, bay, emmuach,"


Sita pun tersenyum-senyum setelah menutup telepon dari Dino.


Elvira yang melihatnya pun bicara "Sepertinya Suamimu sangat menyayangimu."


"Apa menurutmu begitu." tutur Sita.


"Ya, menurutku begitu." ujarnya. "Ohya, kamu bertemu Dino dimana?"


"Emh... ceritanya panjang sekali, kamu pasti gak akan nyangka aku bisa tiba-tiba nikah sama Dino,"


"Memangnya kenapa?" tanya Elvira heran.


"Itulah jodoh tak ada yang tau, jika Allah SWT sudah menentukan kita tidak bisa menolak, meski kita ingin."


"Menolak, apa kamu menolak Dino,"


"Apa kamu tidak mencintainya?"


"dulu tidak, tapi dalam sekejap Dino meluluhkan hatiku,"


"Jadi sekarang kamu mencintainya,"


"Tentu saja, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab."


Tok...tok...tok...


Dino mengetuk pintu kamar


"Assalamu'alaikum, boleh aku masuk?"


"Waalaikumsalam," jawab Sita dan Elvira.


"Ah Dino cepatlah kamu masuk, aku sudah tidak tahan," ucap Elvira dengan mengangkat kedua tangannya agar segera di gendong. Layaknya anak kecil yang merengek pada orang tuanya.


Dino sedikit bengong melihat Elvira yang begitu antusias.


"Ayo cepat, kenapa bengong,"


Elvira pun melirik Sita, "Ups, maaf Sita, aku bener-bener tidak tahan, bolehkan?" bujuknya dengan memelas


Hemm... Sita pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Ayolah istrimu sudah mengijinkan," bujuknya.

__ADS_1


"Baiklah..." kata Dino.


Meski Sita yang meminta Dino untuk datang, lagi-lagi ada perasaan tidak nyaman melihat pemandangan ini, Sita hanya bisa pasrah.


Dino pun segera menggendong Elvira dan membaringkannya di tempat tidur.


"Akhhh...akhirnya....aku bisa berbaring juga, terimakasih Ya Allah." Elvira pun merasa lega.


Melihat wajah Sita yang tiba-tiba sedikit lesu Elena pun heran dan bertanya, "Apa kamu baik-baik saja Sita?"


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir," jawab Sita.


"Ohya, kamu Istirahat dulu ya, supaya cepet sembuh, kami tunggu di luar."


Elena pun menganggukan kepalanya.


Sita dan Dino pun pergi keluar.


"Kita duduk disini sayang, sini duduklah disebelahku," pinta Dino. Sita pun menuruti kemauan suaminya.


Dino pun menyimpan tangannya di pundak Sita, dan di senderkannya tubuh Sita ke dadanya.


"Sayang, aku jadi risih dengan keadaan ini, aku tidak tega melihat istriku saat aku menggendong perempuan lain,"


"Kamu benar sayang, aku jadi kurang nyaman dengan keadaan ini,"


"Apa sebaiknya saran Ibu kita pertimbangkan," ucap Sita,


"Sebaiknya begitu, tapi aku tidak enak bicaranya, apa kamu bisa bicara padanya,"


"Ya nanti aku coba, semoga saja dia tidak tersinggung,"


"Kau memang istriku yang baik dan shaleha, terimakasih sudah mendukungku dalam keadaan seperti ini,"


Sita pun tersenyum dan melepaskan tubuhnya dari dada sang suami. "Kecelakaan ini bukan keinginanmu, semua di luar kuasa kita," dengan suara lembutnya Sita mengatakan itu, lalu tersenyum kembali dengan menatap sang suami.


Tentu saja tatapan itu disambut hangat oleh sang suami, dengan senyuman yang menggoda, kedua tatapan itu kini telah menghanyutkan, merekapun saling menurunkan pandangan ke b*b*r dan mereka pun saling beradu.


Setelah lama mereka meni*mati merekapun menyudahinya, dan diakhiri dengan senyum bahagia di bibir keduanya.


Tak terasa hari sudah malam, Elvira pun telah tertidur lelap karna pengaruh obat Dokter. Sita dan Dino pun pulang kerumahnya setelah tadi berpamitan pada Elvira sebelum dia tertidur.


Mereka tidak tidur di rumah Elvira karna tidak mungkin meninggalkan Ibu di rumah sendirian. Besok pagi mereka akan kembali kerumah Elvira.


Perbincangan di ruang tamu.


"Sayang sepertinya besok aku harus izin lagi sama Pak Bimo, keadaan Elvira sangat parah kasihan jika tidak ada yang memperhatikannya," ucap Sita menatap Dino.


"Tidak sayang, besok biar Ibu yang menjaga Elvira, kamu kerja saja," ucap Ibu.


"Jangan Bu, nanti Ibu lelah," cegah Sita.


"Ibu tidak akan lelah sayang, dari pada Ibu bengong sendiri dirumah lebih baik Ibu nemenin Elvira, kan jadi ada temen buat ngobrol. Gimana Din?"


"Dino gimana Ibu saja, tapi ibu juga harus jaga kesehatan ya Bu,"


"Tentu dong sayang." Ibu pun melirik Dino dan Sita bergantian. "Lebih baik sekarang kalian juga istirahat ."


Dino dan Sita pun mengangguk pelan, menuruti Ibu.


Karna belum Shalat Isya merekapun shalat berjamaah terlebih dahulu. Setelah selesai shalat tiba-tiba ada telepon dari toko langganan Dino, Dino pun keluar sebentar berbincang di telepon.

__ADS_1


Tak disangka ketika dia masuk kekamar, Sita telah mengganti pakaiannya dengan baju tidur seksi dan menerawang. Tentu saja jantung Dino berdebar kencang.


__ADS_2