Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Terbongkar


__ADS_3

Pagi pun tiba dimana semua telah bersiap melaksanakan akad nikah yang seserhana, akad akan dilakukan di mesjid terdekat atas pemintaan warga, tak ada persiapan apa pun seperti layaknya pernikahan pada umumnya.


Namun itu tak masalah buat Elvira.


Pak penghulu sudah datang, Dino dan Elvira pun di panggil warga datang kemesjid.


Deg ....


Didalam kamar Sita terpuruk hancur kehilangan harapan, sebelum Dino pergi kemesjid ia memeluk sang istri dengan erat, keduanya saling berpeluk erat tak ingin melepaskan, di kecupnya kening sang istri bertubi-tubi.


"Ayo Dino, penghulu sudah menunggu!" ucap warga yang menjemputnya. "Cepatlah! Penggulu masih banyak urusan," lanjutnya.


Seorang warga pun menarik tangan Dino melepas pelukan mereka.


Sita menangis sejadi-jadinya semua harapan terkubur dalam sekejap, ia ambruk seketika menangis memeluk kedua lututnya.


Didalam mesjid Elvira dan Dino duduk bersanding di depan sang penghulu, pak Rt di tunjuk menjadi wali hakim Elvira yang sudah tidak memiliki kerabat sama sekali. Penghulu pun mengulurkan tangannya pada Dino, namun Dino tak juga mau mengulurkan tangannya, "Ayo nak, cepatlah!" pinta penghulu itu.


Di dalam kamar tangis kehancuran menyiksa sang istri, ia tak kuat saat mendengar di speaker mesjid ijab yang di ucapkan penghulu, "Saya nikahkan ...." Seketika Sita histeris, tiba-tiba matanya tertuju pada koper yang sudah berisi baju-bajunya tanpa pikir panjang Sita lari pergi membawa koper ini, ia berlari lewat pintu belakang, menghindari kerumunan warga yang ada di depan rumahnya.


Di jalan lain Elena lari membelah kerumunan warga yang berada di dalam mesjid, sebelum Dino mengucapkan kobul, Elena menghentikannya, "Berhenti pak penghulu, hentikan pernikahan ini!" ucapnya dengan keras.


"Elena!" semua orang mengenal dirinya.


Seketika amarah Dino memuncak saat melihatnya. "Perempuan laknat," Dino berdiri dari duduknya. "Semua ini gara-gara kamu!" Dino melangkah menghampirinya dengan marah.


Khawatir terjadi sesuatu wargapun menghentikan langkah Dino.


Elvira terlihat khawatir dengan kedatangan Elena.


"Tidak Dino, aku ingin menghentikan pernikahan ini," ucapnya menatap Dino dengan berkaca-kaca.


"Pak Rt, ini bukti bahwa bukan Dino yang mengambil keperawanan perempuan itu, Dino dijebak oleh perempuan itu, saya yakin Dino tidak melakukannya!" ucapnya dengan menyerahkan ponselnya pada pak Rt.


"Astagfirullohhaladzim," seketika Pak Rt beristigfar melihat video itu.

__ADS_1


"Ada satu lagi pak Rt, lihat lah video berikutnya!" lanjut Elena.


"Astagfirullohhaladzim," Pak Rt lebih tercengang lagi ketika melihat video Elvira saat membekap Abah di belakang rumah waktu itu. Nampaknya selama ini Elena tak berhenti memperhatikan gerak-gerik Elvira di rumah Dino.


Dino segera merebut hand phone itu di tangan pak Rt, ia tak kalah kagetnya dengan pak Rt, seketika Dino melihat Elvira dengan tatapan penuh kebencian, tak ada yang ia ingat lagi selain berlari menemui sang istri.


Doanya tadi malam telah di kabulkan oleh Alloh, dengan sangat bahagia Dino lari membelah kerumunan warga, sesekali ia menabrak warga yang menghalangi langkahnya.


Ibu pun sangat bahagia pernikahan ini tidak terjadi, namun ibu pun kecewa pada Elvira yang selama ini ia anggap baik dan lugu ternya adalah musuh dalam selimut.


Sampai Dino menapakan dirinya di dalam rumah dengan nafas yang ngos-ngosan, ia langsung berlari kembali menuju kamarnya, "Sayang, akhirnya--" ucapnya terhenti saat melihat Sita tak berada disana, ia pun mengedarka pandangan pada seluruh ruangan itu, seketika ia mendapati kopernya telah tidak ada disana, "Sita ....! Sayang, kamu dimana?" teriaknya dengan khawatir, ia mencari sang istri di setiap sudut rumah, dan kamar, namun ia tidak menemukannya, seketika pandangannya terhenti melihat pintu belakang rumah yang terbuka, "Apa dia pergi! Tidak, Sita ....!" panggilnya dengan khawatir, Dino segera bergesas mengambil jaket dan kunci motornya berharap Sita belum jauh pergi.


"Ada apa, Nak?" tanya ibu yang baru saja masuk kedalam rumahnya.


"Sita pergi bu, aku harus mencarinya!" ucap Dino dengan tergesa-gesa pergi. Ia menyalakan motornya dan memakai helm lalu melaju.


"Hati-hati, Nak!" teriak ibu yang melihat Dino telah berlalu.


"Ya Alloh Sita, kenapa kamu pergi?" ucap Ibu dengan khawatir.


Sita tengah berada di tepi jalan, ia berjalan dengan sangat lemah, langkahnya di iringi tatapan yang kosong, tiba-tiba semua berputar dan terlihat gelap. Seketika ia pingsan didepan sebuah mobil yang tengah melaju perlahan, untung saja tidak sampai tertabrak, "Astagfirulloh," ucap laki-laki sang pemilik kendaraan, Ia pun bergesas turun dari mobilnya.


"Nona, bangun Nona, apa yang terjadi padamu?" merasa khawatir laki-laki itu pun membawa Sita kesebuah rumah sakit, 'tak lupa koper yang Sita bawa ia masukkan kedalam mobilnya, Ia pun melaju dengan kencang.


Di ujung jalan sana Dino baru saja sampai di tepi jalan, ia sempat menatap kepergian mobil tersebut, namun ia tidak tau Sita ada di dalamnya.


Dino pun meneruskan perjalanan menyisir setiap jalan ibu kota berharap dia masih bisa menemuakn Sita. "Kenapa sayang? Kenap pergi?" keluhnya dengan deraian air mata, kita bisa hidup bahagia lagi, kembalilah!"


"Apa mungkin dia kerumah kak Riri, tapi kak Riri belum tau semua ini, mungkinkah Sita kesana?" Dino pun melaju menuju rumah kak Riri.


Plaakkkk ....


Bukannya mendapati Sita disana, Dino malah mendapatkan tamparan keras dari sang kakak ipar, "Kenapa kamu ceroboh Dino!" bentak kak Riri setelah mengetahui semuanya.


"Sita pasti sangat hancur," lirih kak Fitri yang juga ada disana.

__ADS_1


Dino pun hanya diam tak melawan. "Maafkan kecerobohan Dino kak, sekarang Dino harus mencari Sita kemana?" ucapnya hampir tenggelam dalam kepetus asaan.


Dino pun pergi kembali mencari Sita, tujuan berikutnya adalah rumah Ratih sang teman dekat Sita.


Setelah sampai Disana ternyata Dino pun kecewa kembali, "Sudah lama Sita 'tak pernah berkomunikasi dengan Ratih, ia pun bahkan tak datang kesana."


Kini Dino hancur kehilangan jejak sang istri, entah kenapa kabar gembira selalu berselang duka. Dino terlihat sangat prustasi.


Hari sudah hampir sore, Dino belum juga menemukan jejak sang istri, "Entah kemana kamu pergi, sayang? Kenapa kamu meninggalkanku?" ucapnya dengan penuh kekhawatiran.


Di rumah sakit Sita nampak baru membuka matanya, setelah lama ia pingsan, "Dimana aku? Kenapa aku ada disini?" ucapnya gelisah.


"Jangan banyak bergerak Nona, tubuhmu masih sangat lemah!" ucap laki-laki itu.


"Anda Siapa?" tanya Sita.


"Perkenalkan, nama Saya Riski Aditya, panggil saja saya Aditya, teman masa kecil saya memanggil saya didit karna dulu saya pedit (dalam bahasa sunda) yang artinya pelit (dalam bahasa indonesia)," Aditya memperkenalkan dirinya dengan sedikit bercanda. Hingga menghadirkan sedikit senyum di bibir Sita.


"Heumm ... Apa sekarang anda masih pelit?" tanya Sita.


"Tidak, sekarang saya tidak berani pelit, takut kena azab," candanya.


Hemm ... Sita tersenyum kembali.


"Oh ya Siapa nama Nona?" tanya Aditya.


"Nama saya Arsita Amelia, panggil saja Saya Sit--" ucapnya terhenti, berpikir ingin melupakan nama itu, yang ia rasa telah banyak mengalami luka.


"Sit--?" Aditya menunggu kelanjutan namanya.


"Eu ... Amel saja, panggil saya Amel," ucap Sita.


Bersambung ...


Bagaimana kisah Sita dan Dino selanjutnya? Apakah mereka akan segera bertemu?

__ADS_1


tetap disini jangan kemana-mana I love you reader ku sayang ❤❤❤tetep beri dukungan like komennya tambah mawar merah juga donk biar otor terep semangat😘😘😘💪💪💪


__ADS_2