Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Bimo


__ADS_3

"Katakan padaku, apa yang terjadi? Dimana Istriku?" Bimo terus memukuli kedua bodyguardnya begantian. "Istriku tidak ada kalian malah santai, heuh! Kurang ajar, cepat cari dia sampai ketemu, cari di seluruh ruangan?" titahnya dengan marah.


"Ba-ba-baik tuan!" kedua body guard itu pun langsung lari.


"RATIHHH!" teriaknya dengan histeris. "Aahh ... Sial! Tangannya yang sudah mengepal ia pukulkan ke didinding di sebelahnya.


Dengan wajah yang merah padam, Bimo segera pergi memeriksa seluruh kamar di rumah itu, terlihat dia begitu sangat prustasi.


"Tidak ada dimana mana tuan," ucap para bodyguarg itu.


"Kurang ajar! Kenapa kalian ceroboh!"


"Maaf, Tuan!"


"Katakan, siapa yanga terakhir masuk kamar?" tanyanya.


"Wati, tuan," ucapa salah satu bodygurd itu.


"WATIII! Teriak Bimo.


"Iya tuan."


"Apa kamu tidak mengunci pintunya!?" ucapnya dengan menghunus mata Wati.


"Sa-saya menguncinya, Tuan. Mereka tau itu?"


Bimo menatap satu persatu bodyguardnya dengan tajam, membuat mereka semua menunduk ketakutan.


"Bagaimana ini terjadi, Wati?!"


"Maaf tuan, tadi lampu sempat mati ada kabel listrik yang dimakan tikus tuan," ucap bodyguard satunya.


"Apa! Dirumah ini masih ada tikus? Apa kerjaanmu, Wati?" bentaknya.


"Iya, tuan maaf, saya sudah membersihkannya, tapi tetep saja ada tikus masuk," kilah wati.


"Awas saja Wati, jika kamu berbohong kamu akan tau akibatnya! Saya tidak akan lagi membiyayai rumahsakit ibumu." tutur Bimo dengan menekan ucapannya.


"Jangan Tuan! Saya bener-bener tidak tau Tuan. Jangan lakukan itu!" keluh Wati yang tak didengar Bimo.


Bimo langsung pergi kemamarnya meninggalkan mereka. "Cari istriku kemanapun, samapai ketemu?" titah Bimo pada kedua bodyguard itu mengiringi langkahnya.


'Kau pergi lagi dariku Ratih, kau tidak tau betapa sakitnya aku. Aku benci keadaam ini, sepertinya aku harus segera menghentikan semuanya, aku muak dengan semua ini.' Batin Bimo.


Selang satu jam Mely dan Siska berdatangan, setelah tadi dihubungi Bimo, dengan cepat mereka melangkahkan kakinya masuki ruang keluarga dimana Bimo sudah menunggu disana.


"Bimo, bagaimana Ratih bisa kabur?" tanya Mely dengan khawatir.


Sementara Siska hanya diam ikut menunggu jawaban.


"Dia kabur mah, dia pergi lagi, enatah kemana?" ucap Bimo lebih terlihat sedih dibanding marah.


Siska hanya menyeringai kesal melihat perangai sumainya itu.


"Kedua bodygurdmu itu tidak becus bekerja," kata Siska sambil mendudukan diri di sofa dengan tumpang kaki, sengaja dia memilih posisi duduk di hadapan Bimo agar bisa mengexpost keseksiannya, yang sudah ia rencanakan memperlihatkannya di kantor. Namun, karena kepergian Ratih semua jadi gagal.


Bimo melirik sejenak, alih-alih kagum Bimo malah kesal dengan kelakuan istri pertamanya ini.


"Pergi dari hadapanku, Siska!" titah Bimo yang muak pada Siska.


"Kenapa sayang? Ada yang salah denganku?" Siska bangkit lalu menyimpan kedua tangannya di bahu sang suami, tak lupa dagu pun ia pajang indah di bahu Bimo.

__ADS_1


"Berhenti menghodaku, kau sadar semua ini gara-gara kamu?"


"Whattt ... Gara-gara aku!" Siska langsung merubah posisi.


"Ya, kau selalu bergelayut manja, menggodaku dimana pun kau mau, tanpa malu dihadapan siapa pun, akibatnya karna ulahmu ini Ratih melihat semuanya."


"Huuuhhh ... Oke aku salah, maafkan aku!" ucap Sisika dengan malas. Lalu melenggok pergi meninggalkan Bimo dan Mely karna sebenarnya dia tidak terima dirinya disalahkan.


'Apa salahnya bergelayut manja sama suami, heuhh' batinnya dengan kesal.


"Sayang sabarlah! Semoga saja dia di temukan! Mama ganti baju dulu sebentar, ya."


Huuhh ... Bimo menghembuskan nafasnya dalam.


Setelah kepergian Mely dan Siska, Bimo menghubungi bodygurdnya, menanyakan perkembangan pencarian Ratih. Bimo pun menyewa sepuluh bodyguard tambahan untuk mencari Ratih agar segera bisa di temukan, namun sudah hampir setengah hari mereka belum juga berhasil menemukan Ratih


Mendengar itu, kekesalan Bimo semakin memuncak, kini amarahnya tak bisa dia tahan lagi. Kepergian Ratih kali ini, membuat dia berubah pikiran, perasaan yang selama ini ia sembunyikan dihadapan sang keluarga tak bisa ia pendam lagi, dengan cepat ia menghampiri mely yang tengah berada di kamarnya.


"Mama, cukup ma! Bimo sudah tidak tahan jika keadaannya seperti ini!" keluh Bimo setelah sampai dikamar Mely, dia duduk memohon disebelah sang mama dengang menggenggam kedua tangannya.


"Kamu kenapa, Sayang? kamu harus bisa bertahan?" Mely melepaskan satu tangannya, lalu mengusap lembut rambut putranya dengan penuh kasih sayang.


"Gak, Ma, hentikan semuanya. Bimo mohon!"


"Apa yang harus di hentikan, Bimo?"


"Hentikan perjanjian ini, Ma. Apa bedanya?Anak di kandungan Ratih tetap cucu Mama dan bisa jadi pewaris keluarga ini."


"Tapi Ratih tidak bisa menyelamatkan perusahaan Papa, Bim. Hanya Siska yang bisa menyelatkan perusahaan, Papa." tutur Mely. Lalu bangakit dari duduknya.


Mendengar itu Bimo pun terlihat bingung.


"Bimo! Apa yang kamu katakan?"


"Keadaannya menjadi rumit, Ma. Ratih sudah pergi."


"Tenang sayang, kita pasti menemukannya, Mau pergi kemana dia?"


"Masalahnya--" Bimo tidak melanjutkan ucapannya, karna berat mengatakannya.


"Apa masalahnya, Sayang?"


"Ratih jadi membenci Bimo, Ma. Bimo tidak mau Ratih membenci Bimo!"


Kini sesak terasa di dada Bimo, ia mencoba mengatur nafasnya, menahan sesak yang semakin melanda.


"Bimoo! Tidak masalah jika Ratih membencimu. Apa maslahnya? Yang terpenting adalah bayi dalam kandungannya," tutur mely.


"Ratih penting, Ma. Dia sangat penting!"


"Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya?"


"Ya! Ma! Bimo cinta sama Ratih, Ma. Bimo tidak mau kehilangan Ratih, Bimo sayang sama Ratih," jelas Bimo yang mulai mengeluarkan airmata.


"Gak, gak mungkin Bimo, kau bohongkan, Ratih hanya pelampiasan nafsumu sesaat, tidak mungkin kamu jatuh cinta padanya!"


"Pada kenyataannya Bimo cinta sama, Ratih!" tegasnya lagi.


Sungguh Mely tidak mengira jika Bimo bener-benar jatuh cinta pada Ratih, gadis kampung yang hanya lulusan SMA yang cocok jadi karyawannya, bukan pendamping hidupnya.


"Ingat perjanjian itu Bimo, kamu tidak bisa mengabaikannya, kita punya dua perjanjian, dengan Siska dan orang tuanya," Mely mencoba mengingatkan Bimo.

__ADS_1


Sesak semakin terasa di dada Bimo tatkala dia mengingat perjanjian itu, dimana kesepakan yang di buat sungguh sangat merugikannya.


"Bimo gak peduli, Ma?


"BIMOOO!" tiba-tiba Rudi datang.


Mely dan Bimo pun tersentak kaget.


"Berani kamu melanggar perjanjian! Papa gak akan segan-segan bikin kamu jadi gelandangan," ancam Rudi.


"PAAAH!" Mely mencoba untuk melerai.


"Kau harus ingat! Papa hampir bangkrut. Tujuh puluh persen perusahaan kita adalah milik Papanya Siska, jika sampai kamu menyakiti Siska, maka tamatlah riwayat kita,"


"Baiklah, Pah. Bimo tidak akan menyakiti Siska, tapi Bimo juga mau Ratih tetap bersama Bimo seperti biasanya."


"Itulah yang akan menyakiti hati Siska Bimo, ingat dia mengijinkanmu menikahi Ratih karna menginginkan keturunanmu, selebihnya dia sangat mencintaimu dan tidak mau membagi cinta, perjanjian itu dia buat agar kamu tetap bersamanya, tanpa ada orang ketiga hadir dihidupnya. Ini sudah takdir Bimo, Ratih harus pergi darimu. Setelah dia melahirkan kau tetap harus menceraikannya."


"Tidak, pah. Bimo tidak akan menceraikannya!"


"Kau harus menceraikannya, Bimo!"


"Bimo bukan boneka papa lagi, Bimo berhak menentukan pilihan Bimo. Bimo hanya ingin hidup dengan Ratih. Bimo sudah muak berpura pura manis pada Siska, Bimo tidak pernah mencintai Siska, Pah."


PLAKKKKKK


"Sekarang kamu berani melawan, Papa!"


"Tapi Bimo, punya Hati pa! Bimo tidak mau kehilangan Ratih."


"Bukankah kau bilang, kau hanya bernafsu padanya, sekarang kau bilang cinta, Ciihhh! Perampuan seperti Ratih banyak, kamu bisa membayar mereka berapapun."


PLAAKKKK


"Apa yang kamu ajarkan pada anakku!? Apa kamu juga sering melakukan hal itu!?"


"Tidak, Ma, Ini hanya perumpamaan."


"Dasar, buaya!" seketika Mely langsung pergi meninggalkan mereka, tak mau lagi mendengar perdebatan ayah dan anaknya.


"Heeuuhhhh ... Sudah Papa habiskan berapa duit untuk mebayar perempuan simpanan Papa?" Sindir Bimo.


"Oh ya, Pah, dulu Bimo mengikuti nafsu Bimo sama Ratih, tapi Bimo menikahi Ratih. Sekarang Bimo mengikuti kata hati Bimo sama Ratih. Bimo tidak akan melakukan hal menjijikan seperti yang papa sarankan tadi." Bimo pun pergi dan bergesas mengambil kunci mobilnya. Ia tidak mau hanya diam diri menunggu laporan dari para bodyguardnya tentang Ratih.


"Huhhh ... Dia sudah muali buta karna cinta, aku harus mencegahnya."


Mely duduk di ruang keluarga dengan kesal, pemikiran suaminya Rudi sungguh menjijikan, apa mungkin selama ini dia melakukan itu? pikirnya. "Heuh, dasar laki-laki buaya, punya uang dikit pengennya jajan," gerutu Mely sambil menyalkan televisi.


Ternyata Rudi sudah ada di belakang Mely, "Mamaaa. Papa gak seperti itu, Sayang," ucap Rudi dengan mengalungkan tangannya di leher sang istri.


"Heuhh, Mama gak percaya! Papa bisa ngomong gitu pasti karna pengalaman," cetusnya.


"Sudahlah, kita sudah tua, gak perlu mikirin itu?" Rudi mengecup rambut sang istri, lalu duduk di samping sang istri.


Mely masih saja cemberut.


Bimo hampir putus asa, dari sepuluh bodyguard-nya yang ia tugaskan mencari Ratih tak satupun membuahkan hasil.


Hari semaki larut, mataharipun semakin surut, namun Bimo tak pantang menyerah mencari Ratih.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2