Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Hari Yang Pilu


__ADS_3

Abah pun bangkit, malangkah menghampiri putrinya yang kini telah hancur, " Abah mengerti perasaanmu, Nak, Abah sama hancurnya denganmu, hati Abah perih membayangkan putri Abah yang mungkin akan dimadu, tapi untuk apa kita menangisi itu, itu hanya ketakutan yang belum tentu terjadi, kita tidak pernah tau arah takdir kita kemana, jangan mendahului-NYA?" ucap Abah dengan mengusap lembut rambut putrinya yang tertutup hijab.


"Entah kenapa kali ini Sita begitu rapuh, Sita 'tak sanggup membayangkan suami Sita memiliki madu, Sita takut akan kehilangan suami Sita," ucap Sita dengan terisak.


"Ingatlah Nak, suamimu itu titipan, cintanya kasih sayangnya, perhatiannya, bahkan kesetiaannya itu di berikan oleh Allah, Allah yang maha membolak-balikan hati. Jika esok Allah menentukan lain, kita harus bisa menerimanya. Buang rasa takutmu, tetaplah husnudzon pada-NYA, 'tak ada gunanya membuang air mata untuk semua yang belum pasti, janganlah berlarut dalam kesedihan, itu tidak baik."


Sita bangun dan mengubah posisi duduk. "Astagfirulloh haladzin, maafkan Sita sudah terlarut dalam duka, Abah benar, tidak ada gunanya menangisi hal yang belum terjadi, bayangan ketakutan ini bisa jadi godaan se*an yang ingin melihat Sita hancur." Sita mengusap airmatanya dan memeluk Abah. "Jika Abah yakin maka Sita juga harus yakin pada suami Sita, semoga saja Alloh segera beri Sita keadilan."


Abah mengangguk, dan tersenyum lega, malihat putrinya yang mulai lapang, "Abah bangga pada mu, Nak. Tidak usah khawatir Abah ada bersamamu, jangan berlarut-larut dalam kesedihan, ambilah air wudu, shalat, dan berdo'a," Abah pun mencium kening putrinya. 'Syukurlah Aku berhasil menenangkannya' batin Abah.


"Dengar, Nak, jagalah baik-baik janin di rahimmu ini? Dia lebih membutuhkan perhatianmu?"


Sita pun mengangguk dan mencoba mengukir senyum.


Tiba di waktu malam, dunia seakan kelam, bahkan bintang dan rembulan seolah ikut merasakan kesedihan.


Malampun berlalu meninggalkan isak tangis Sita yang sendu. Berharap esok menemukan kebahagiaan yang baru.


Suara adzan menggema di seluruh dunia, mendayu memecah sunyi, diiringi selingan ayam berkokok.


Sita dan Dino pun telah selesai melaksanakan Shalat subuh berjamaah. Selesai berdo'a Dino mengecup kening sang istri, Sita pun tetap mencium punggung tangan sang suami, sebagai rasa hormat dan baktinya.

__ADS_1


"Kemari, Sayang," suara Dino lembut dan tenang. Dino memberi kode agar Sita duduk disampingnya.


Sita pun menghampiri sang suami.


"Apa kamu masih ingin aku mempertanggung jawabkan perbuatanku," tanya Dino menatap mata sang istri.


Deg ...


"Tidak ada perempuan yang ingin dimadu, kecuali terpaksa," jawab Sita pelan.


"Abah saja percaya padaku, kenapa kamu tidak?"


"Aku tidak mengatakan itu, aku percaya pada kesetiaanmu."


"Aku hanya khawatir kalau kamu benar-benar melakukannya tanpa sadar, itu saja. Baik aku ataupun dia saat ini sama-sama sedang terluka."


"Jika dia menjebakku, apa kamu pikir dia akan terluka."


"Tapi kita tidak tau, siapa yang menjebakmu?"


"Lantas jika itu belum pasti kenapa kamu menyuruhku bertanggung jawab padanya, kamu tau itu membuatku sangat terluka, seolah kamu tidak percaya padaku, dan merelakan ku begitu saja pada perempuan lain," ucapnya lirih.

__ADS_1


Deg ... Mata Sita pun mulai berkaca, "Tolong maafkan aku, mengertilah kekhawatiran istrimu ini, di antara rasa takut yang terus menggelayut, ada kewajiban yang harus kita lakukan, aku tau aku salah menyuruh mu bertanggung jawab tanpa mencari tau dulu kepastiannya, perlu kamu tau saat mengatakannya hatiku pun sangat tersiksa," tangis Sita pun memecah suasana hening pagi itu.


Keduanya terenyuh dan merekapun saling berpeluk melepas kerinduan. "Aku merindukanmu, beberapa hari ini aku merasa kehilanganmu." isak tangis Dino saat memmeluk sang istri, Sita pun melepas kerinduannya, bagaimana tidak hari-hari yang biasa mereka lalui dengan kemesraan kini mereka lalui dengan luka, dan segala pertanyaan yang belum terjawab.


Sesungguhnya Dino mengerti kekhawatiran istrinya, karna ia sendiripun merasa khawatir dirinya benar-benar melakukannya tanpa sadar, dan harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan pada Elvira, namun sunghuh ia tak ingin mendengar ucapan itu dari mulut istrinya.


"Apa pun yang terjadi, jangan keluarkan kata-kata itu lagi," pinta Dino.


Sita pun mengurai pelukan dan mengangguk. Akhirnya suasana kembali tenang meski belum ada jawab ataupun kepastian.


Pagi itu Dino pun menjemput Elvira sesuai kemauan Abah. Sesampai di rumah Elvira, Dino pun mengetuk pintu. Tok ... Tok ... Tok....


Tidak biasanya Elvira mengunci pintu, mungkin karna takut Elena kembali menguntitnya.


Elvira yang tengah asyik bersama Jons pun terperanjat kaget, "Siapa yang datang?" tanya Jons kesal.


"Mungkin Ibu," tebak Elvira.


Mereka pun segera mengenakan pakaiannya. Nampaknya Elvira telah menjadi candu untuk Jons, ia tak pernah melewatkan pagi tanpa mencumbuinya, terkadang ia menginap, atau datang sekitar dini hari. Elvira pun kini menikmatinya, sudah 'tak ada rasa jijik sama sekali, bahkan terkadang jika ia mau melakukannya ia menelpon Jons untuk datang.


Bersambung ....

__ADS_1


Terimakasih sudah setia membaca karya ku😘😘😘Happy New Years readerku tercinta, ❤❤❤ semoga di tahun baru ini kita bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Tetap semangat, sehat selalu, murah rejeki, Aamiin...🤲🤲🤲


__ADS_2