
"Maaf, aku tidak sengaja mendengarnya," ucap Aditya.
Amel pun menunduk dengan malu.
"Tidak usah malu, kau pantas meninggalkannya, tidak kusangka suamimu meniduri perempuan lain dan menikahinya. Semula aku ingin kamu kembali padanya, tapi sekarang, lebih baik kamu tinggal disini saja, laki-laki itu tidak pantas mendapatkanmu," tutur Aditya.
Seketika Amel pun mengangkat kepalanya.
"Apa maksud Pak Aditya?"
"Laki-laki seperti itu pantas kau tinggalkan, punya istri yang baik, malah mencari perempuan lain," tutur Aditya.
"Maaf, sepertinya bapak sedang salah pahan, suami saya tidak seperti itu." Amel sedikit meninggikan suaranya.
"Aku mendengar semua yang kamu katakan Amel, kenapa kamu masih saja membelanya?" Aditya pun bicara dengan sedikit meninggi.
"Dia dijebak Pak, bukan atas kemauannya," jelas Amel. "Dia harus mempertanggung jawabkan atas apa yang dialami perempuan itu."
"Itu hanya alasan, suamimu memang ingin memiliki dua istri. Hanya dengan cara itu dia bisa menikahi perempuan itu, seolah terpaksa. Kau jangan mau dibodohi," lanjut Aditya
"Berhenti menghina suami saya! Dia tidak seperti yang Anda pikirkan!" Amel mulai kesal mendengar penuturan Aditya. "Bapak tidak tau apa-apa tentang suamiku, jadi tolong! Jangan pernah menghinanyan lagi," ucap Amel dengan derayan air mata dipipinya.
Amel pun pergi meninggalkan kamarnya dengan kesal, melangkahkan kakinya dengan cepat menuju dapur, ia menyibukan dirinya dengan semua pekerjaan dapur. Diambilnya sayuran lalu ia memotongnya, meski Amel percaya suaminya tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja, tapi seditkitnya ia terpengaruh dengan ucapan Pak Aditya, terlebih sebelumnya mendengarkan penuturan Elena yang mengatakan bahwa Dino tengah bahagia bersama Elvira, hal itu membuat Amel tidak konsentrasi memotong sayuran, pikiranya terus membayangkan Dino, matanya menatap dengan kekosongan, dan mengakibatkan tangannya tergores oleh pisau.
Aditya menghampirinya bermaksud meminta maaf, namun ia kaget melihat tangan Amel berlumur darah, namun Amel tidak menyadarinya, karna pikirannya masih terus memikirkan Dino.
"Amel! Kamu terluka," ucap Aditya dengan khawatir. Aditya langsung meraih tangannya dan segera membawa Amel duduk di kursi, namun Amel masih dengan pandangan kosongnya.
"Hatiku sudah terluka, ucapan bapak tadi semakin membuatku terluka, aku sangat mempercayai suamiku, tapi bapak merusak kepercayaanku, Apa mungkin suami ku tega melakukan itu padaku, apa dia benar-benar sengaja melakukan itu?" ucap Amel dengan deraian air mata.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu semakin terluka, aku tidak tau dengan apa yang aku katakan, aku hanya asal bicara, percayalah, maafkan aku, jangan terlalu kamu pikirkan ucapanku itu." Aditya pun hendak membalut luka Amel dengan plester.
"Tidak usah, terimakasih." Amel menarik tangannya yang hendak di raih Aditya.
Amel terus menangis, hatinya semakin teriris, kesadarannya mulai kembali, ia menunduk melihat luka ditangannya.
"Luka ini tidak lebih sakit dari luka hatiku, beberapa hari akan sembuh meski berbekas, tapi luka hatiku entah kapan akan sembuh, bahkan bekas lukanya tetap mampu meneteskan air mata," isak Amel.
"Tapi luka mu harus di obati."
Amel hanya melirik Aditya sekilas, ia berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Aditya.
Melihat Amel yang begitu terluka, Aditya pun merasa bersalah dengan semua ucapannya, ia benar-benar tidak menyadari kenapa mulutnya sampai bisa mengucapkan kata-kata itu.
Sampai detik ini Aditya belum menyadari perasaannya pada Amel. Kini Aditya semakin memperhatikan Amel, tak peduli ia masih berstatus istri orang.
"Bi Marni, tolong obati lukanya," ucap Aditya pada Bi Marni dengan menyodorkan kotak P3K yang dibawanya.
__ADS_1
"Baik Pak."
Bi Marni pun menghampiri Amel yang tengah berdiri di depan jendela kamar tanpa memperdulikan luka di tangannya.
"Non Amel, sini biar bibi yang obati lukanya," ucap Bi Marni dengan lembut.
"Tidak usah, Bi, luka ini tidak seberapa," tolak Amel pada Bi Marni.
"Tapi Non, nanti bisa infeksi kalau tidak segera diobati, lukanya cukup dalam, lihat itu, darahnya terus menetes, Non," tutur Bi Marni yang melihat tangan Amel terus mengeluarkan darah.
"Aku sangat mencintai suami ku, Bi. Aku sangat merindukannya, tapi aku tak sanggup kembali padanya, aku tak bisa menerima kenyataan dia telah memiliki istri lain selain diriku, hatiku sangat sakit hingga tak bisa merasakan sakit luka di tangnku ini, Bi" isak tangis Amel semakin mendalam.
Bi Marni ikut bersedih seolah merasakan apa yang di rasakan Amel, Ia mengusap air mata di pipinya, "Bibi, ngerti Non, meski begitu luka ini harus tetap diobati," ucap Bi Marni dengan meraih tangan Amel, dibersihkannya luka itu, diberi bettadin dan dipasangkannya plester.
Amel melihat tangannya yang sudah di balut Bi Marni, "Andai luka hatiku bisa di balut seperti tangnku ini, mungkin sakitnya tidak seperti ini." Amel terus menagis tak berhenti. Seketika Amel memeluk Bi Marni, dengan senang hati Bi Marni menerima pelukan Amel yang sedang melampiaskan kesedihannya, di usapnya punggung dan rambut Amel yang tertutup hijab, tak terasa Bi Marni pun ikut meneteskan air matanya kembali.
Setelah Amel tenang, Bi Marni pun membimbing Amel ketempat tidur, "Duduk dan isrirahatlah! biar bibi yang lanjutin masak," kata Bi Marni dengan lembut.
Amel pun mengangguk, "Terimakasih, Bi, sebentar lagi Amel menyusul," tuturnya.
Bi Marni pun mengangguk.
Ketika membalikan badan, Bi Marni melihat Aditya, ternyata Aditya memperhatikan mereka sejak tadi, Aditya pun menggerakan kepalanya pada Bi Marni memberi kode agar Bi Marni segera keluar dan membiarkan Amel sendirian.
Bi Marni pun mengerti, dan segera menutup pintu kamar dengan perlahan.
***
Sementara Dino dia tak berhenti menyebar iklan, poster, dan poto Sita dimana-mana. Bahkan Elena berusaha menunjukan perubahannya pada Dino, dia pun tak berhenti ikut Dino mencari Sita kemana-mana, meski ia tahu mustahil Sita di temukan, karna sebanyak apapun poto yang di sebar tidak akan mampu menemukan orang yang sudah menutupi wajahnya dengan cadar.
Selama masa pencarian itu ia gunakan untuk meraih kembali kepercayaan Dino. Bahkan Elena pernah berpura-pura menemukan Sita, dan membawa Dino ke suatu tempat yang di katakan Elena itu tempat tinggal Sita. Namun setelah kesana pemilik rumah mengatakan Sita telah pindah ketempat lain, tentu saja orang itu adalah bayaran Elena, hanya demi meraih kepercayaan Dino.
****
Hari demi hari terus berlalu, perut Amel semakin membuncit, kini usia kehamilan Amel sudah menginjak sembilan bulan, hari perkiraan lahir pun sudah dekat. Bahkan bulan lalu Kak Riri Sudah melahirkan bayi perempuan yang cantik.
"Dimana kamu Sita? Kakak sangat merindukanmu. Lihatlah keponakanmu ini, dia sangat cantik dan lucu," ucap kak Riri sambil menggendong bayinya.
"Seiring kepergian Abah, kamu pun pergi meninggalkan kami, bagaikan di telan bumi," isak kak Fitri yang berada disamping kak Riri.
"Sudahlah tak ada gunanya menagisi ini semua, Percayalah Sita wanita yang kuat, kakak yakin dia baik-baik saja, suatu saat dia akan kembali berkumpul bersama kita," ucap kak Syamsul yang juga ada disana.
"Ya, selama ini Dino tak berhenti menyebar berita pencarian Sita, pasti berita itu akan sampai pada Sita." Kak Hermawan pun ikut berbicara.
Mereka pun mencoba mengukir senyum untuk saling menguatkan satu sama lainnya.
***
__ADS_1
"Saat ini usia kandungan Sita sudah sembilan bulan, Bu. Sita pasti akan segera melahirkan," ucap Dino yang sedang berbincang di ruang tamu bersama sanga ibu.
"Ya, Nak, semoga dia selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa," tutur ibu.
"Dino heran, ribuan iklan sudah Dino sebar, kenapa tidak satu pun orang berhasil menemukan Sita, apa orang-orang tidak memperhatikan iklan Dino, Bu?" Dino pun terlihat sedih.
"Ibu, sendiri heran, Din."
"Apa jangan-jangan, Sita--" Dino menghentikan ucapannya seiring air mata yang mulai menetes di pipinya, membayangkan hal buruk terjadi pada Sita.
"Jangan berpikir buruk, Sayang. Tetaplah husnudzon pada-NYA. Insya Allah semua baik-baik saja," ucap ibu, lalu mengusap punggung sang putra mencoba menenangkannya.
Dino pun mengusap air matanya.
Malam pun berlalu Dino tertidur dengan lelap setelah seharian ini emosinya terkuras oleh bayang-bayang sang istri, dan aktifitas yang padat.
Ea ... Ea ... Ea ....
Terdengar suara tangis bayi laki-laki yang menggema di dalam sebuah ruangan.
Ea ... Ea ... Ea ....
Dino mendekati arah suara, di lihatnya bayi laki-laki yang tampan dan lucu tengah menangis, digendongnya bayi itu dan Dino berhasil mendiamkannya, hingha bayi itu terlelap tidur di pangkuannya, dikecupnya kening sang bayi dengan penuh kasih sayang.
Namun ketika mencium bayi itu Dino terbangun dari mimpinya.
"Bayi. Kenapa aku memimpikan seorang bayi laki-laki, apakah Sita sudah melahirkan bayi laki-laki?" tanyanya pada diri sendiri seraya mengusap keringat yang membasahi wajah.
Dino pun bangkit dari tempat tidurnya, melangkah berjalan menuju kamar ibu, "Ibu, bangunlah!" Dino berusaha membangunkan ibu. "Sita sudah melahirkan, Bu," ucapnya.
Ibu terperanjat bangun dari Tidurnya.
"Apa yang kamu katakan, tau darimana Sita melahirkan?"
"Mimpi, aku mimpi seorang bayi laki-laki, aku yakin mimpi itu petunjuk," ucap Dino penuh antusias.
"Dino, itu hanya mimpi," ucap ibu.
"Tidak, Bu. Dino yakin ini petunjuk, Dino mau pergi kerumah sakit, Dino akan kembali membawa Sita dan bayi laki-laki Dino," ucapnya lalu bergegas pergi kerumah sakit.
"Dino, ini jam dua malam," cegah ibu.
"Tidak apa-apa, Bu. Dino pamit." Dino pun langsung memakai jaket dan meraih kunci motornya yang tergantung di paku, dengan segera ia menyalakan mesin motornya dan melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
Benar saja disana sang istri tengah berjuang melawan hidup dan mati, melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan lucu.
bersambung ....
__ADS_1