
Rumah masih terlihat sepi, nampaknya Ibu belum kembali. Baru saja mereka memasuki kamar, Dino berjalan dan hendak duduk di bibir ranjang. Sita malah berjalan membuka jendela kamarnya, "Sayang, ini sudah malam, kenapa kamu membuka jendelanya?" tanya Dino.
"Biarkanlah terbuka sebentar rasanya panas sekali," Sita menjawab dan memandang langit berbintang.
Dino pun menghampiri istrinya, meski seharian ia bersamanya rasa rindu yang dirasakan Dino seakan tidak pernah habis, "Apa kau tidak lelah?" Dino melingkarkan tangannya di pinggang Sita.
"Rasa lelahku selalu pergi, satiap kali kau ada disisiku."
"Benarkah?" Dino membalikkan badan Sita.
"Ya, itu benar! Karna cintamu adalah semangatku."
"Kau ingat apa yang kau lakukan dulu saat setiap kali aku memelukmu seperti ini?"
"Tidak akan kulakukan lagi. Sekarang aku lah yang akan memintamu untuk selalu memelukku, seperti ini." Sita pun memeluk Sang suami dengan mesra, hingga mereka larut dalam pelukannya, keduanya pun saling menyelami rasa. Kehangatan, keindahan dan kenyaman terbaik, itu yang mereka rasakan. Setelah puas menyelami rasa mereka pun mengurai pelukan. Tak sampai disitu, keduanya saling tatap dan saling lempar senyum, ada keinginan lebih yang dirasakan keduanya. Dino memangku sang istri melangkah tanpa mengalihkan pandangan. "Kau siap memberiku bonus?"
Sita mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
Dengan sangat hati-hati Dino menurunkan sang istri di tempat tidur. Namun, baru saja hidung mereka beradu, terdengar suara pintu di ketuk.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Dino ... Ibu pulang!"
Sontak mereka menghentikan apa yang sedang mereka lakukan, "Huuuhh ... Ibu." Dino menghela nafas panjang.
"Hehe... Sabar sayang, biar aku buka pintunya!" Sita bangkit berjalan membuka pintu, "Iya, Bu, sebentar."
Sita pun membuka pintu.
"Assalamu'alaikum. Sayang, kamu belum tidur?"
"Wa'alikumsalam, belum, Bu, kebetulan kami juga baru datang."
"Kami! maksudmu kamu dan Dino pergi? Apa Dino tidak bekerja?"
Belum Sita menjawab, Dino keluar dari pintu kamar, "Dino kerja kok, Bu. Hanya saja Dino tak tega membiarkan Sita sendiri di rumah, jadi Sita ikut keliling mengantar barang sama Dino,"
"Astagfirulloh, Sita Sayang, kehamilanmu masih di trisemester awal loh, jangan terlalu cape dan banyak berkendara, itu berbahaya, Sayang." tutur Ibu.
"Maaf, Bu. Sita jenuh, tidak terbiasa diam di rumah terlalu lama," ucapnya.
"Sekarang kamu sedang hamil dan harus banyak istirahat dulu, nanti ada waktunya saat kamu harus banyak bergerak, Sayang," lanjut ibu.
"Iya, Bu, ini terakhir kalinya Sita ikut Dino keliling, besok enggak lagi," ucap Sita pelan.
"Baiklah, Sayang, sekarang kamu istirahat ya,"
"Iya, Bu," jawab Sita.
Ibu pun pergi kekamarnya.
Dino menggenggam tangan Sita.
"Sabar dulu, Sayang," pinta Sita.
__ADS_1
"Aku tau! aku hanya mau mengajakmu mengambil air wudu." ucap Dino
"Oh, iya ya, kita belum shalat." kata Sita.
"Nah itu, untung saja ibu datang kalau enggak."
"Syukurlah, Allah masih menyayangi kita."
Diambilnya air wudu dan merekapun melaksanakan Shalat berjamaah.
Dimalam yang semakin larut, merekapun semakin terhanyut dalam balutan kasih yang sudah menghujam sedari tadi, lenguhan demi lenguhan terdengar di sebuah ruangan dengan lampu temaram.
***
"Sekarang kamu mau cari pekerjaan kemana, Mas?" tanya kak Fitri sambil menyodorkan makanan seadanya. Tempe goreng, tahu goreng dan sambal ijo.
"Entahlah, Mas masih bingung," jawabnya seadanya, dengan mencicipi sarapannya.
"Bagaimana kalau untuk sementara waktu kamu ikut Dino kerja? Siapa tau ada lowongan disana."
"Tidak usah, Mas tidak mau merepotkan Dia," ucapnya.
"Tidak apa Mas, tabungan kita makin menipis, kalau kamu gak cepet dapet kerja, tabungan kita bisa habis," bujuk kak fitri.
"Kamu benar, Sayang. Ya sudah terserah kamu!" ucapnya pasrah.
"Aku akan telepon Dino."
Kak Hermawan mengangguk pelan.
"Assalamualaikum, Din. Apa kabar?" tanya Kak Fitri di ujung telepon.
"Alhamdulilah kakak juga baik Din, hanya saja Kak Hermawan lagi butuh pekerjaan, apa kamu bisa bantu?" ucap Kak fitri.
"Pekerjaan! Kebetulan sekali Kak, kalau gak salah Ipan lagi nyari distributor baru. Sebentar Dino tanyakan dulu padanya! Nanti Dino telepon balik Kakak lagi ya."
"Baiklah, terimakasih ya Din."
"Sama-sama Kak."
Sejak kejadian kecelakaan beberapa waktu lalu, Kak Hermawan memutuskan untuk tidak kembali ke Bali, ia memilih untuk mencari pekerjaan di Bandung. Namun karna sedikitnya relasi membuat kak Hermawan sulit mendapatkan pryokek kembali. Iya sudah mencari kesana kemari namun hasilnya masih nihil. Tabungan yang mereka miliki hampir menipis, ia tidak bisa terus berdiam diri saja. Apa pun pekerjaannya untuk sementara waktu ia akan lakukan dari pada hanya diam.
"Pan, kamu lagi butuh distributor baru kan?" tanya Dino.
"Yah ada yang mau,"
"Ok. Kak Hermawan yang Ambilya."
"Kak, Hermawan, siapa dia?"
"Kakak Ipar ku."
"Oke, boleh. Kamu suruh dia datang sekarang."
"Siap, thank ya."
__ADS_1
"Sama-sama."
Setelah Dino memberitahu, Kak Hermawan langsung menuju kantor Dino yang letaknya masih dekat dengan rumah Dino tepatnya di sebelah rumah Ipan.
Dari hari ke hari usaha Ipan semakin membesar, kualitas sepatu yang di keluarkan oleh nya merupakan sepatu kualitas terbaik di kalangannya. Saat ini Ipan sudah memiliki seratus pengrajin sepatu yang ia pekerjakan sebagai karyawannya.
Pesanan sepatu semakin membludak Ipan harus mencari beberapa karyawan lagi, untuk membuat sepatu, ia pun membutuhkan distributor baru untuk menyalurkan baranganya.
"Senang bekerja sama dengan Anda pak Hermawan," Ucap Ipan setelah mewawancarai Kak hermawan.
"Panggil saja saya, Hermawan, atau Kak Hermawan,"
"Baiklah kak Hermawan, selamat bergabung dengan kami, dan semoga anda betah bekerja dengan kami."
"Untuk hari ini, Kakak bisa bantu Dino antar barang dulu pesanannya cukup membludak, Kak, Dia sudah banyak pelanggannya. Kakak juga bisa belajar padanya soal melobi pemilik toko agar mau memasok barang dari kita."
"Baiklah, terimakasih," mereka pun berjabat tangan.
Dino dan kak Hermawan pun berangkat mengantar barang, Dino menjelaskan detail tentang pekerjaannya. Kak Hermawan terlihat manggut-manggut saat Dino menjelaskan.Sepertinya ia mengerti dengan setiap penjelasan Dino.
***
Di dalam kamar Elvira nampak sedang kesal, sudah beberapa hari ini Dino tak ada datang kerumahnya. Hanya ibu sendiri yang selalu menemaninya. Terkadang Elena terlihat terus menguntitnya. Ternyata Elvira sangat cerdas, sejak kejadian Elena menggagalkan rencananya ia memasang cctv di setiap sudut rumahnya.
Sebenarnya keluarga Elvira termasuk keluarga yang sangat kaya, tabungannya tidak akan habis tujuh turunan. Sebelumnya tidak pernah terpikir memasang cctv di setiap sudut rumah, karna menurutnya satu saja sudah cukup. Namun ternyata kehadiran Elena menjadi ancaman buatnya, membuat dia berpikir untuk memasang lebih dari satu cctv.
"Bagaimana caranya mengundang Dino kesini, nampaknya sekarang mereka sudah tidak menghawatirkan ku lagi, semakin aku sembuh mereka semakin melupakanku. Hanya ibu yang selalu menemaniku, dia baik dan menyayangiku, tapi bukan dia sasaran utama ku. Aku harus mencapai tujuanku." Elvira berbicara sendiri.
"Apa jons bisa memberiku ide? Akh tidak, dia sudah mulai memanfaatkan ku, dia pasti meminta hal yang tidak-tidak. Tapi aku membutuhkan bantuannya, aku harus menghubunginya."
Setelah di hubungi Elvira Jons pun datang ke rumah Elvira.
"Hai, Sayang, kau merindukanku?" tanya Jons basa basi.
"Berani-beraninya, kau memanggilku, Sayang!" Elvira nampak kesal dengan panggilan yang Jons katakan.
"Kenapa? Kamu tidak suka." Jons mendekati Elvira dan memegang dagunya.
Elvira pun menghempaskan tangan Jons, "Kurang ajar kau Jons,"
"Sorry, Sayang, aku merindukanmu," ucap Jons dengan meniup telinga Elvira.
Elvira bergidik kesal.
'Kalau saja aku tidak membutuhkan bantuannya' bisik hati Elvira.
"Pada intinya Jons, Besok aku ingin rencana kita tidak gagal, buat Dino datang kesini dan meniduriku,"
Deg ...
Jons nampak kesal mendengar itu, "Keperawananmu sudah ku ambil, masih saja kau berpikir akan ditiduri Dino. Hemm Elvira ... Luar biasa kamu ini" Jons tersenyum miris.
"Apa maksudmu, aku menagih janji mu Jons, kau bilang akan memikirkan bagaimana caranya agar Dino meniduriku,"
"Pec ... Baiklah, besok dia akan ada di samping ranjang itu, tapi sekarang aku mau bayarannya dulu," ucap Jons dengan licik.
__ADS_1
Elvira mengambil amplop coklat di lacinya, "Ini bayaranmu."
"Hemmm ...." Jons melempar amplop itu ke sofa. Ia berjalan mendekati Elvira dengan membuka kancing kemejanya.