Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Iklan Pencarian Sita


__ADS_3

"Pak Aditya sudah kembali? Syukurlah, saya mau pamit pak, terimakasih atas semua bantuan bapak yang bapak berikan pada saya," ucap Amel.


Pak Aditya pun turun dari mobilnya, dan menyuruh satpam memarkirkan mobilnya, ya karna Pak Aditya tidak mempunyai sopir, dia memilih mengendarai mobilnya sendiri, itu lebih nyaman menurutnya, padahal uangnya cukup untuk membayar sepuluh sopir sekalipun.


"Kamu mau kemana Amel? Sudah dapat kontrakannya?" tanyanya.


"Belum Pak, nanti saya akan cari," ucap Sita.


Merasa tak tega Aditya pun melarang Sita untuk pergi.


"Lebih baik kamu tunggu saja disini Mel, biar nanti saya yang carikan kamu kontrakan, saya tidak mau tiba-tiba kamu pingsan dijalan lagi karna kelelahn, karna kita sudah bertemu, jadi tanggung jawab saya untuk menolong mu," tuturnya.


"Tapi Pak, saya bisa sendiri kok!" ucap Sita.


Ucapan Sita itu 'tak dihiraukan sama sekali, Aditya langsung menyuruh satpan yang sudah selesai memarkir mobilnya untuk membawa koper Sita kembali kedalam.


"Pak tapi--?"


"Saya khawatir sama bayi yang ada di dalam kandunganmu Amel, kalau saja kamu tidak sesang hamil saya tidak akan mencegahmu,"


Aditya memang laki-laki yang baik ia tak pandang bulu dan tak tanggung kalau menolong seseorang, Akhlak seperti ini ia dapatkan saat ia menimba ilmu agama semasa kecilnya.


Amel pun menunduk dan terpaksa menurut, karna kopernya pun telah di bawa kedalam, Amel pun langsung mengikuti langkah Aditya masuk kembali kedalam rumah mewah itu.


"Non, Amel, gak jadi pergi, Non?" tanya Bi Marni.


Sebelum Amel menjawab, Aditya menyela mereka, "Kenapa bibi ijinin dia pergi tanpa seijin saya?" kata Aditya tiba-tiba kesal.


Sita heran melihat pak Aditya yang kesal.


"Maaf Pak, Bibi udah suruh nunggu, tapi Non Amel kekeh mau pergi,"


"Iya pak, bibi gak--" ucap Amel terpotong.


"Jangan panggil saya pak, sepertinya usia kita gak jauh beda, panggil saja Aditya," dengan agak sedikit kesal Aditya pun memotong ucapan Sita.


Sita hanya mengangguk dan menunduk 'gak tau mau bicara apa lagi, ia juga bingung kenapa Aditya tiba-tiba kesal padahal tadi di luar masih ramah.


Bi Marni juga menunduk dan heran 'gak biasanya Tuannya kesal padanya.


Melihat mereka berdua terlihat tidak nyaman, akhirnya Aditya sadar pada Sikapnya yang kesal, "Astagfirullahhaladzim, tolong maafkan saya, saya tidak bermaksud menyinggung kalian,"


"Tidak apa-apa Pak, sepertinya bapak ada masalah berat di cafe," tebak bi Marni.

__ADS_1


"Iya bi, ini pertamakalinya saya punya masalah seperti ini, oh ya tolong buatin minuman dua buat saya dan Amel," tururnya lalu duduk di sofa sambil membuka dasinya yang terasa sesak di dada.


Amel hanya berdiri dengan tidak nyaman, ia merasa gak enak jika harus duduk berdua bersama Aditya.


"Kenapa? Duduklah?" titah Aditya.


Meski ragu akhirnya Sita pun duduk.


Tak lama bi Marni datang membawa dua gelas air jeruk untuk mereka.


"Pak Aditya punya masalah apa sih pak, bibi sampe kaget mendengar bapak kesel sama bibi," tanyanya pada sang tuan, karna sudah terbiasa mereka saling berbagi, meski bibi seorang pembantu Aditya sudah menganggapnya seperti keluarga sehingga masalah cafe pun sering ia bagi bersama bibi.


Bahkan Aditya sudah melarang bi Marni memanggilnya Pak, tapi itu keinginan bi Marni agar dia tidak ngelunjak alasannya.


"Karyawan baru cafe membawa kabur uang cafe, baru kali ini saja mendapatkan karyawan tidak jujur seperti ini, ya biasnya juga ada tapi paling mereka ambil sesuai kebutuhan mereka, ya sudah lah. Kali ini dia membawa uang cafe sampe ludes,"


"Astagfirullohhaladzim," ucap bibi dan Amel berbarengan.


"Yang jadi pikiran saya saat ini, gimana caranya saya cari karyawan yang jujur, karna cape saya yang di xxxx adalah cafe pusat dengan omset terbesar tiap bulannya."


Entahlah tiba-tiba Amel berpikir untuk bekerja, meski uang tabungan saat dia kerja masih cukup banyak dia pikir suatu saat akan habis jika tidak di tambah, terlebih kini dia seorang diri, Amel pun tak ingin nantinya dia diam diri di kontrakan yang hanya akan membuatnya meratapi dukanya saja.


"Kalau Pak Aditya percaya saya mau kerja di cafe bapak!" Amel menawarkan diri.


"Kerja! Tapi kamu sedang hamil?"


"Sudah saya bilang jangan panggil saya bapak!"


"Maaf Aditya,"


"Dengan berat hati saya tidak bisa mempekerjakan ibu hamil sepertimu Amel,"


"Saya janji akan bekerja sebaik mungkin,"


"Bukan itu masalahnya, ibu hamil harus banyak isirahat tidak boleh banyak bergerak bukan, saya hanya takut terjadi apa-apa pada mu. Nanti saya yang disalahkan sama suami mu."


"Aku pastika kalau aku akan baik baik saja, jadi tolong ijinkan saya bekerja di cafe bapak."


"Pak lagi."


"Maaf."


"Baik lah, mulai besok kamu boleh bekerja di cafe saya."

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Amel dengan bahagia.


Ditempat lain Dino tengah prustasi, mencari sang istri, entah kemana lagi dia harus mencari, kabar berita dan sosial media pun belum ada yang mengabarinya.


Dino terus menghubungi Sita namun hand phonenya terus berada diluarjangkauan.


Kak Riri kak Syamsul dan kak Firti pun salin mengabari, tak ada satu pun yang menemukan Sita, jejaknya bagai hilang di telan bumi.


"Dimana kamu sayang? Dimana?" ucap Dino dengan lirih.


Hingga malam tiba, tak ada satu pesan pun yang mengabari keberadaan Sita. Dino menjatuhkan diri diatas tempat tidur dengan kekecewaan yang begitu dalam.


Tepat disepertiga malam Dino memeohon kepada yang kuasa agar mengembalikan Sita kepelukannya.


Di bilik lain dalam sebuah mushola kecil, Sita tengah menangis memohon ampun pada Yang Kuasa, karna dirinya telah pergi dari rumah sang suami tanpa meminta izin padanya.


Sontak ia pun teringat jelas pada amanah sang abah dan ibu mertua yang mengamanahkan hal yang sama.


"Sita tak kuasa Bah, jika saja Sita meminta ijin pada Dino, Dino tidak akan mengijinkan Sita pergi, mungkin saat ini Sita sedang menyaksikan duka Sita sendiri, Sita tidak sanggup bah, maafkan Sita telah durhaka," isaknya di dalam do'a.


Bi Marni yang juga terbangun baru saja selesai melakukan tahajud, ia iseng membuka-buka sosmed, tiba-tba bibi masuk ke mushola dengan tergesa-gesa setelah ia mencari Amel tidak ada di kamarnya.


"Sita, namamu Sita?" tanya bi Marni.


Deg ...


Seketika Amel menghentikan do'anya, dan melihat kearah suara bi Marni.


"Ya ini wajahmu? Namamu Sita, suamimu sedang mencarimu? Dia sangat mencintaimu, kanapa kamu tidak pulang kerumahnya?" tanya bi Marni dengan heran sambil memperlihatkan iklan di fbnya.


Amel pun kaget, dan menelan salivanya, lalu mengambil hand phone bi Marni melihat iklan itu dengan penasaran.


...Terlihat potonya dengan sebuah tulisan...


..."Sita sayang, pulanglah! Aku sangat mencintaimu."...


...Bagi siapa yang menemukannnya tolong hubungi no di bawah ini. Tertera nomor Dino disana....


Seketika air mata membasahi pipinya, tangisnya pecah kembali mengingat sang suami, rasa sakit yang berusaha ia tahan, kini terasa sesak di dada. Sita terlihat begitu histeris.


Andai Dino menuliskan satu kalimat lagi yang menjelaskan bahwa dia tidak jadi menikah dengan Elvira, mungkin itu akan membuat Sita lari sekencang-kencangnya menemui sang suami, tapi itu adalah aib yang tak mungkin di sebar di sosmed.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like komennya readerku❤❤❤


terimaksih atas dukungannya, dan tetap setia membaca karya Autor.😘😘😘


__ADS_2