
"Puas dong, Sayang. Makasih ya." Sita pun langsung memeluk sang suami dengan erat.
Dino pun merangkulnya.
"Ayo pulang!" ajak Dino, "Hati-hati naiknya!" titahnya.
"Oke! Tunggu sebentar!" Sita pun naik dengan sangat hati-hati. "Yuk, jalan aku sudah siap!"
Dino pun mulai melaju dangan hati-hati.
"Sayang, mending sekarang kamu tidur tutup matanya," saran Dino.
"Loh kenapa? Aku mau lihat-lihat pemandangan."
"Aduh jangan deh, Sayang. Aku khawatir mau mu aneh-aneh lagi,"
"Hahaha ... Kamu takut, Sayang,"
Dino mengiyakannya dengan tersenyum.
"Mending kamu minta di beliin makanan apa aja deh, aku beliin, dari pada harus kaya tadi, duh ... Untung aja tu nenek baik, kalau enggak ... Entahlah!"
"Heem ... Aku sendiri gak tau sayang, kenapa tiba-tiba maunya gitu. Ya udah, aku tidur deh, dari pada nanti suamiku berabe lagi, kasihan," ucap Sita di iringi senyuman. Dino pun mengusap lembut rambut sang istri yang dilindungi hijab.
Sita pun memejamkan matanya hingga tak terasa telah sampai di rumah Elvira. Entah kenapa Sita tidak mau turun, "Sayang, aku tunggu disini ya, kamu jemput ibu kedalam sendiri,"
"Loh kenapa, Sayang? Takutnya nanti lama deh,"
"Ya jangan lama-lama, aku malas turun, sayang. Aku pengen nunggu disini." Entahlah mood ibu hamil satu ini cepet sekali berubah-ubah.
"Baiklah." Dino pun segera melangkah masuknkedalam rumah.
"assalamu'alaikum,"
"Waalikumsalam," jawab ibu dan Elvira.
"Ibu, kita pulang sekarang! Sita sudah menunggu diluar,"
"Loh kok, gak masuk Din, ini masih sore, kita masih bisa nemenin Elvira beberapa jam lagi" tanya Ibu.
"Entahlah, Bu, moodnya lagi jelek, Sita kekeh mau nunggu di mobil,"
Elvira meras heran, "Kok bisa, Sih?"
"Hemm ... Itulah ibu hamil, kadang moodnya berubah-ubah, dan satu lagi, sensitif," ucap Ibu.
__ADS_1
"Ya udah, Ibu pulang aja! Elvira gak pa pa kok sendiri, lagian kan sekarang Elvira udah bisa jalan pake tongkat, semua kebutuhan Elvira juga sudah ibu siapin, jadi tinggal Elvira ambil.
Elvira membatin, 'Heuhhh ... Jabang bayi aneh-aneh aja, mungkin dia tau disini ada ular, hahah' batinya pun tersenyum sinis.
Ibu dan Dino pun pulang. Kini hanya tinggal Elvira sendiri di rumah itu. " Nanti malam aku harus buat Dino datang sendirian kesini. Sita kan sedang hamil, jadi gak mungkin ibu ijinin ikut kesini, dan ibu jugak gak mungkin ninggalin ibu hamil sendirian di rumah malam-malam, otomatis Dino akan datang sendiri kesini. Hahahaha ... Saatnya menjalankan rencana berikutnya." Gumam Elvira dengan segala rencana liciknya.
"Hallo jons, nanti malam kamu datang kesini! Kita jalankan rencanaku!"
"Baik bos, jangan lupa bayarannya ditransfer dulu,"
"Oke, masalah bayaran aja Lu cepet,"
"Itu no satu bos,"
Mereka pun memutus sambungan teleponnya. Elvira tersenyum menyeringai membayangkan penderitaaan yang akan terjadi pada Sita setelah ini. Dia pun pergi ke kamarnya, diambilnya foto sang kakak di dalam dompetnya, disimpannya tongkat di sebelah ranjang, dia pun duduk di atas tempat tidur dengan menjukurkan kakinya. Di pandanginya foto sang kakak, dengan tetesan air mata di pipinya.
"Kau terlalu cepat pergi meninggalkan ku kakak, aku masih sangat membutuhkan mu, maafkan aku jika kini aku membenci perempuan yang kau cintai, kau mengejarnya dan pergi meninggalkanku. Aku benci padanya kakak, aku benci padanya ... Kau terus mengejarnya tanpa memikirkan adikmu ini, aku sudah melarangmu pergi, tapi kau tetap saja pergi."
Plasback on
"Hentikan kakak, apa yang kau lakukan?" Elvira merebut botol minuman yang sedang di teguk Darwin dan membuangnya keluar.
"Hey ... Kenapa kau buang, Vira." ucap Darwin
dengan mabuk. Lalu Darwin keluar mencoba mengambil kembali botol minumannya.
"Hentikan kak, hentikan!" Elvira memboyong kakaknya yang sudah sempoyongan ke kamar. "Perempuan itu sudah tidak mau menerima mu, jangan kau sia-sia kan hidupmu hanya untuk perempuan itu, masih banyak perempuan baik di luar sana, Kak," Elvira menjatuhkan Kakaknya ke atas tempat tidur, "akh, berat sekali," keluhnya.
"Tidak, Vira. Sita tidak boleh menikah dengan laki-laki itu, dia harus menikah dengan ku, Vira. Aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangannya. Sita ... Sita ... Jangan tinggalkan aku Sita ... Maafkan aku ... Sita ...." Darwin merancau dengan keadaan tubuh terlentang.
"Jam berapa Ini Vira?"
"Ini sudah hampir pagi kakak, Kau habiskan malammu dengan minuman laknat itu," ucap Elvira lalu menyelimuti kakaknya.
"Pagi! ini sudah pagi? Oh tidak aku harus segera pergi, jangan sampai aku terlambat menghentikan pernikahan Sita," Darwin mencoba bangun dari tempat tidurnya. Sialnya kepalanya masih sangat pusing. Karna terlalu banyak minum.
Namun Darwin tetap bergegas mengambil jaket dan kunci motornya.
"Kakak mau kemana?" tanya Elvira.
"Kau diam saja Vira, aku harus pergi,"
"Tapi kakak masih mabuk? Kakak tidak boleh pergi." Elvira berusaha menghalangi kakaknya.
Namun keinginan yang besar untuk menghentikan pernikahan Sita, tidak membuat Darwin menuruti kemauan adik kesayangannya itu.
__ADS_1
Darwin menghempaskan adiknya ke sofa.
"Akhh ...." pekik Elvira.
Darwin pun melaju dengan kecepatan tinggi dalam keadaan mabuk.
Karna khawatir pada Kakaknya Elvira pun mengikutinya, sampai kejadian naas itu Elvira saksikan di depan matanya.
Plasback of
"Kakak ...." Elvira menangis dengan memanggil kakaknya, "Kenapa kau tak menghiraukan perkataanku kakak? Kenapa kau tidak pikirkan adikmu ini kak? Aku masih membutuhkan mu! aku masih membutuhkan mu! Kau kejar dia, dan kau tinggalkan aku sendirian, aku benci padamu, aku benci padamu, kau lebih menyayangi Sita di bandingkan aku, aku benci Sita mu itu, aku benci dia, dia mengambil mu dari ku," ucapnya dengan geram dan tangan yang mengepal.
"Sekarang aku akan mengambil suaminya darinya, biarkan dia merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dihidupnya, Dia harus merasakan bagaimana rasanya hidup sendiri," ucapnya penuh penekanan.
Sementara Sita, Ibu, dan Dino yang baru saja sampai di rumah, di kagetkan oleh Elena yang sedang duduk di kursi teras rumah.
"El, kau Disini?" tanya Ibu.
"Iya, Bu, El pikir Ibu ada di rumah, ternyata tidak ada!"
"Iya El, sekarang, setiap hari Ibu pergi kerumah Elvira."
"Elvira? Siapa Elvira?"
"Dia perempuan yang tak sengaja Dino tabrak, kami harus bertanggung jawab padanya karna kakinya patah, dia juga tidak punya keluarga."
Elena tertegun sejenak 'tertabrak! tapi kok dia merencanakan sesuatu. Hem ... pasti dia sengaja menabrakan dirinya. Oke, ada sedikit pencerahan untuk mengetahui siapa dia sebenarnya' bisik hatinya.
"Oh ... Sekali-kali aku boleh ikut gak, Bu? Aku jenuh di rumah, lagian aku kangen sama Ibu, sudah lama kita gak masak bareng," tutur Elena.
"Boleh, El, besok Ibu ajak kamu ya!"
"Makasih, Bu."
"Eh, ayo kita masuk. Malah keasikan ngobrol di luar," ajak Ibu.
Dino dan Sita tak ikut bicara mereka hanya memperhatikan Ibu dan Elena.
Setelah mereka masuk, seperti kebiasan dulu Elena membantu Ibu memasak untuk makan malam, hari ini pun dia mulai melakukannya, Sita yang merasa pusing pun beristirahat di kamar di temani Sang suami.
Tak lama makanan siap dihidangkan. Tiba-tiba, "Tolong, Dino... tolong aku, akh ... Tolong ... Tolong ...." teriak Elvira di ujung telepon.
Bersambung ...
Saksikan apa yang akan di lakukan Elvira di bab berikutnya, berhasilkah dia membuat Sita dan Dino berpisah?
__ADS_1
Tetap ikuti ceritanya ya bestie-bestie ku, terimakasih sudah setia membaca karya ku❤❤❤😘😘😘