
Dengan tergesa-gesa Amel melangakah, berjalan menuju puntu masuk cafe, ingin tahu siapa yang dipanggil Din oleh Aditya tadi, mungkinkah itu Dino? Amel pun mengedarkan pandangannya saat telah sampai di pintu masuk cafe, tak ada yang ia lihat selain kendaraan yang terparkir di area sana, ia pun mengedarkan pandangannya kejalan diujung sana, hanya ada lalu lalang kendaraan yang melaju dengan cepat, dan Pak Adiya yang tengah berjalan kembali menuju pintu cafe dengan menunduk menatap layar ponselanya, karena sedang mencoba panggilan pada Dino, setelah ia meminta nomor ponselnya tadi.
"Akh tak ada siapa pun, lalu Pak Aditya bicara dengan siapa tadi," ucapnya penasaran. Amel pun enggan menanyakan hal itu pada Aditya, Ia pun segera membalikan badannya kembali melangkah ketempat kerjanya.
Belum sempat melangkah jauh Aditya melihatnya, "Amel!" panggilnya.
"Iya, Pak?"
Aditya memperhatikan perut Amel yang mulai terlihat sedikit membesar.
Diperhatikan seperti itu tiba-tiba Amel pun menunduk memegang perutnya merasa tidak nyaman.
Menyadari itu Aditya pun mengalihkan pandangannya kembali pada ponselnya.
"Tolong rapi kan meja bekas saya ngopi," pintanya, pura-pura acuh lalu melangkah berjalan menuju ruangannya.
"Iya pak," jawab Amel.
'Ngapain pak Aditya memperhatikan perutku kaya gitu, apa ada yang aneh, apa karna perutku mulai membesar, mungkin dia khawatir kinerjaku jadi buruk karna kehamilanku mulai membesar, secara aku kan yang minta kerja disini, ah aku harus buktikan kalau aku bisa bekerja dengan gesit meski kehamilanku membesar, iya aku harus semangat' pikirnya.
Dengan semangat Amel pun membersihkan meja bekas ngopi bosnya.
Tanpa pilih pekerjaan Amel mengerjakan segala pekerjaan yang kiranya perlu dikerjaakan di cafe itu, ya pak Aditya tidak menempatkan Amel sebagai kasir, pelayan atau pun OB, Atau chef di cafe itu Atau pekerjaan lainnya yang terfokus sebagai tugasnya.
Aditya memberi kebebasan pada Amel untuk mengerjakan pekerjaan apa saja yang dia mau, Aditya tidak ingin membebankannya dengan tugas khusus dengan alasan Amel sedang hamil, ya pantas saja karyawan lain mengira Amel kekasih atau bahkan istrinya yang sedang menyamar jadi karyawan demi menghindari kasus seperti tempo hari.
Hari mulai siang, pengunjung pun mulai ramai berdatangan, dengan ramah Amel menyapa setiap pengunjung yang datang bahkan dalam satu bulan itu sudah banyak langganan cafe yang akrab dengan Amel, karena keramahan Amel terhadap para pengunjun yang membuat mereka nyaman, pendapatan cafe bulan ini pun meningkat pesat sejak kedatangan Amel, dan itu tidak bisa di pungkiri oleh Aditya.
Setiap hari Aditya memperhatikan keramahan Amel terhadap para pelanggan, bahkan ada pelanggan yang hanya mau dilayani oleh Amel, terkadang membuat pelayan lain kesal merasa di anggapnya mereka tidak becus bekerja, namun mereka tak bisa protes karna mereka masih berpikir Amel adalah kekasih atau istri sang pemilik cafe, mereka pun tetap berusaha bersikap baik di depan Amel meski di belakang dan hati mereka ada kekesalan.
"Amel, pengunjung di meja sebelas sepertinya lagi nyari kamu tuh, dari tadi duduk kok gak pesan-pesan, coba kamu hampiri," kata Rika yang baru saja mengantar pesanan di meja lain.
__ADS_1
"Oke, saya kesana," Amel pun berjalan menuju meja itu, benar saja belum sampai disana Amel sudah di pangil-panggil oleh mereka.
"Mbak Amel!" teriak tiga pengunjung di meja sebelas.
"Hai, apa kabar nih cewek-cewek kece yang cantik ini?" puji Amel pada mereka.
"Trio kece baik-baik aja nih Mbak," jawab mereka kompak.
"Pesanan seperti biasa?" tanya Amel dengan riang.
"Pastinya mbak,"
"Siap," Amel pun pergi mengambil pesanan mereka.
Setelah Amel melayani trio kece dimeja sebelas. Datang dua orang pelanggan pria yang mana satu pelanggan adalah langganan setia yang sama juga sangat menyukai pelayanan Amel, satu pria lagi adalah pelanggan baru yang penasaran mendengar cerita dari temannya itu bahwa di cafe ini ada pelayan yang baik dan ramah.
"Mbak Amel!" laki-laki itu melambaikan tangannya.
Aditya tengah berdiri dikantornya memperhatikan cafe yang sudah ramai melalui kaca jendela.
"Seperti biasa, saya tidak selera ganti menu," canda laki-laki tua bernama Prio itu.
"Wah bapak setia pada menu pilihan bapak nih, itu tandanya bapak tipe laki-laki yang setia," Amel memuji kembali pelanggannya.
sehingha membuat laki-laki itu tertawa bahagia.
Kini Amel beralih pada satu pria lagi yang duduk disebelah Pak Prio, "Kalau bapak mau pesan apa ya Pak, sepertinya bapak baru datang kesini, silahkan di pilih daftar menu disini, di jamin bapak pasti ketagihan sama rasanya yang lezat-lezat," tawar Amel ramah dengan menyodorkan daftar menu.
Alih-alih memperhatikan menu laki-laki tua seumuran pelanggan setianya itu malah memperhatikan mata Amel, "Matanya cantik, suaranya indah, sepertinya wajahnya juga cantik, sayang kalau di tutupi dengan cadar," ucap laki-laki itu dengan mencoba meraih cadar yang di gunakan Amel.
Sadar laki-laki itu akan membuka cadarnya Amel menepis tangan laki-laki itu seraya beristigfar, "Astagfirullahhaladzim," ucap Amel dengan kaget.
__ADS_1
Namun dengan Sigap laki-laki itu pun menggenggam tangan Amel.
"Lepaskan!" pinta Amel dengan keras.
"Apa yang kamu lakukan, Her, lepaskan dia," ucap pak Prio, yang tak menyangka temannya akan melakukan itu.
"Lepaskan!" keluh Amel lagi.
"Aku penasaran sama perempuan ini, jaman sekarang banyak perempuan yang berpura-pura menutup aurat tapi bersedia menemani para lelaki kesepian seperti saya, saya yakin wanita bercadar ini juga sama seperti mereka." Goda pria tua itu.
Tiba- tiba sebuah tinju dilayangkan Aditya di pipi laki-laki tua itu, tidak terima Amel di perlakukan seperti itu, sehingga membuatnya terjungkal kebelakang, dan krekkkk, kursi pun patah seketika.
Karna genggaman tangan laki-laki tua itu Amel hampir ikut tertarik jatuh, "Aaaa ...." namun Aditya langsung sigap menangkapnya, hingga kedua pasang bola mata mereka bertemu.
Deg ... Deg ... Deg ... Deg ... Jantung Aditya berdebar kencang, matanya tak ingin beralih menatap Amel, 'Apa yang terjadi pada ku' batinnya.
Namun berbeda dengan Amel yang langsung menunduk malu menurunkan pandangannya. Amel pun langsung membenahi dirinya.
"Apa-apaan ini!" teriak laki-laki tua itu tak terima. Ia berdiri dengan emosi.
Aditya menghadap kepadanya, menyimpan jari telunjuknya tepat di depan muka laki-laki tua itu, "Ini pelajaran buat Anda, agar lebih menghargai wanita."
"Turunkan telunjuk Anda, saya lebih tua dari Anda, belajarlah menghormati orang tua!" ucap laki-laki itu dengan marah pada Aditya.
Aditya pun menurunkan telunjuknya, bukan karna perintah laki-laki tua itu, tapi memang melakukan itu kurang baik pada orang tua, meski orang tua seperti dia tidak pantas untuk di hormati.
"Usia Anda memang lebih tua dari saya, tapi sayang, perbuatan Anda tidak layak sebagai orang tua yang patut di hormati! sebelum saya panggil keamanan, saya minta Anda pergi dari sini sekarang juga!" bentak Aditya yang kesal pada laki-laki tua itu.
Pak Prio langsung beranjak membawa temannya pergi, dengan perasaan tidak enak pak Prio meminta maaf pada Aditya, "Maafkan saya Pak, saya tidak akan membawa dia kesini lagi," ucanya lalu mereka pun pergi.
Kini Aditya pun menatap Amel dengan kesal, "lain kali, kalau ada laki-laki tua seperti mereka lagi, kamu tidak usah layani mereka, kamu duduk dan diam saja, mengerti!" bentak Aditya lalu kembali keruangannya.
__ADS_1
Deg ... Sungguh Amel kaget dengan kemarahan Aditya yang pertama kali di tunjukan kepanya.
Bersambung ....