
"Pan, kamu di dalam 'kan?" Dino terus mengetuk pintunya dengan keras. Namun Ipan masih saja belum keluar.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Dino.
"Aku takut terjadi sesuatu padanya? Lebih baik kita dobrak saja pintunya?" saran kak Hermawan.
"Benar juga kak, ayo kita dobrak!" kata Dino.
Namun berbarengan dengan Dino dan kak Hermawan mendobrak pintu, Ipan pun membuka pintunya, alhasil mereka berdua tersungkur jatuh kelantai.
Aaawww ... Brukkkk ....
"Akhhh sial ...." keluh Dino dan Kak Hermawan.
"Pan, kamu lagi gapain sih? dari tadi di gedor-gedor gak di buka. Duh, sakit nih bokong ku," keluh Dino.
"Lagian, siapa yang nyuruh kalian dobrak pintu? Gangguin orang tidur saja," gumamnya.
"APA!? Kamu lagi tidur, Pan?" ucap Dino sedikit di tekan.
"Iya, ngantuk banget," ucap Ipan lalu menjatuhkan diri kembali ke kasur.
"Astagfirullah, Aku pikir kamu kenapa?" Dino menggelengkan kepalanya.
Kak Hermawan pun melakukan hal yang sama dilakukan Dino dan tersenyum.
"Heyyyy, Pan kamu gak sadar punya karyawan, mereka nungguin kamu, kehidupan mereka bergantung padamu?"
"Kamu ambil kuncinya di situ menggantung di sebelah lemari," tuturnya seolah tidak peduli.
'Apa yang terjadi pada Ipan?' bati Dino.
"Kakak, ambil kuncinya disitu dan bukakan pintu pabrik, aku ingin bicara sama Ipan dulu!"
"Baik, Din!"
Kak Hermawan pun mengambil kunci dan berlalu kembali ke pabrik.
"Pan, Bangun!" kata Dino.
"Apa sih, Din. Gangguin orang tidur aja."
"Heyyy, bangun! Sejak kapan kamu kaya gini?"
"Ya, sekaranglah, Din. Aku gak mau di ganggu, kamu pergi saja!"
"Ipan!" Dino kesal melihat sahabatnya seperti ini. Dino pun mengambil air yang ada di meja Dan di cipratkannya di muka Ipan.
"Apaan sih, Din!" keluh Ipan dengan marah. "Basah nih."
"Kamu kenapa? Ini bukan kamu, Pan. Ada masalah cerita sama aku?"
__ADS_1
Ipan pun bangun dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku baru tidur tadi setelah subuh, Din, aku masih ngantuk," jelas Ipan.
"Apa yang terjadi? Tidak biasanya kamu seperti ini?" tanya Dino penasaran
Huuhhhhh ... Ipan menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Syakila menghianatiku, Din," ucap Ipan.
"Apa! Yang bener, Pan. Kamu tidak bercanda 'kan?" Dino kaget mendengar penuturan Ipan.
"Aku juga gak nyangka, dia tega melakukan ini padaku?" Ipan mencoba menutupi kekecewaannya dengan menahan tangis di hadapan Dino.
"Aku sangat kecewa padanya, tidak kusangka dia mengejar harta," lanjut Ipan kesal mengingat Syakila.
"Bagaimana ini terjadi?"
"Seperti saran Mang Adnan, aku pergi melamar Syakila, tapi apa yang kudapat. Dia tengah bersama laki-laki lain," jelas Ipan.
"Asatagfirullahhaladzim?!" Dino semakin tidak percaya ini.
Tanpa memberi tahu Syakila Ipan datang kerumahnya bersama Mang Adnan, dengan segala konsekuensi yang mungkin akan di dapatkannya, karna dirinya tau bahwa Syakila belum mau melanjutkan kejenjang pernikahan, dan selalu menolak jika diajak serius. Namun Ipan tidak menyangka jika alasan setiap penolakannya itu adalah kehadiran sosok laki-laki lain dalam hubungannya, yang jauh lebih mapan, bahkan laki-laki itu sudah melamarnya sejak lama.
Hati laki-laki mana yang tidak hancur dikala perempuan yang sangat ia cintai dengan segenap hatinya menghianati dirinya. Bahkan dirinya rela bertahun-tahun menunggu dengan setia hanya demi mewujudkan pernikahan dengan wanita yang dicintainya, namun apa yang dia dapatkan hanyalah sebuah kekecewaan.
Plash back on.
Dengan penuh semangat Ipan dan mang Adnan pergi menemui Syakila.
Syakila yang sedang asyik bersama laki-laki itu, nampaknya tidak menyadari kedatangan Ipan.
Saat Ipan mengucapkan salam, terlihat kedua tangan mereka yang tengah saling genggam dengan Erat, sontak membuat Syakila segera melepaskan tangan laki-laki itu, saat dirinya melihat Ipan.
Ipan terpaku diam seribu bahasa, shock luar biasa mendera jiwa.
"I-I-Ipan!" Syakila kaget setengah mati. Tiba-tiba ia pun berkeringat dingin.
Mang Adnan sudah beristigfar dalam hatinya, menggelengkan kepalanya tidak percaya, melihat kelakuan perempuan pilihan sang keponakan yang sungguh memalukan.
"Siapa dia?" tanya Ipan seketika dengan menatap Syakila.
"Di-dia--"
"Saya tunangannya," kegugupan Syakila dipangkas oleh laki-laki itu. "Siapa Anda?" tanya balik laki-laki itu pada Ipan.
"Apa, kau tunangannya?" ucap Ipan mulai geram.
"Ya, saya tunangannya," ucap laki-laki itu memperjelas.
Syakila diam ketakutan.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tanya Ipan pada laki-laki itu, namun menghunuskan pandangan pada Syakila yang menunduk ketakutan.
"Sekitar tujuh bulan yang lalu, satu bulan lagi kami akan menikah," jelasnya. "Anda belum menjawab pertanyaan saya, katakan! Siapa Anda?"
Mendengar mereka akan menikah seketika hati Ipan hancur sehancur-hancurnya, tak percaya dengan semua ini.
"Tanyakan saja pada perempuan itu, siapa diriku?" ucap Ipan penuh penekanan.
Laki-laki itu nampak heran.
"Syakila?" laki-laki itu pun meminta penjelasan.
"Di-dia, dia temanku."
Deg ...
Seketika hancurlah harapan Ipan. Penjelasan Syakila ini membuat Ipan semakin sesak, dan muak, tatapan mata yang semakin menajam, kepalan tangan yang semakin kuat kini mengudara menerpa pintu di sebelahnya.
Brrraaakkkk ...
Suara keras yang dihasilkan mampu membuat mereka semua tersentak kaget. Syakila terlihat sangat ketakutan, dia tak mampu bicara apapun lagi.
Ipan tidak ingin meminta penjelsan, semua yang ia lihat dan dengar cukup menjadi jawaban pahit baginya.
Hina rasanya jika dia melayangkan sebuah tamparan pada seorang perempuan, meski rasanya ingin sekali Ipan mencabik wajah perempuan yang menjadi kesayangannya itu selama ini dengan ganas. Perempuan yang ia pertahankan, bahakan demi dia Ipan menolak Sita.
Mengenai laki-laki di sebelahnya, Ipan yakin dia juga pasti tidak tau apa-apa, dia hanyalah korban keegoisan Syakila, entah apa yang dia cari, mungkin kekayaan laki-laki itu jauh lebih besar dari Ipan, bisa dilihat dari pakaian yang dikenakannya, dan mobil mewah yang di gunakannya.
Ipan pun pergi begitu saja meninggalkan Syakila dan laki-laki itu, tanpa ia tau apa yang selanjutnya terjadi pada mereka. Ipan pun tidak peduli itu.
Sepanjang jalan kepulangan dari rumah Syakila, Mang Adnan mengoceh terus sama Ipan, dia terus memarahi Ipan, karna dirinya dulu tidak menurut pada Mang Adnan.
"Semua salahmu, Ipan!" bentak Mang Adnan pada Ipan. "Sudah Mamang bilang, Sita lebih baik dari pada perempuan itu tapi kamu tidak percaya."
"Sudahlah Mang, jangan membahas Sita, dia sudah bahagia bersama Dino," tegas Ipan.
"Tetapi tetap saja Mamang tidak rela," jelasnya.
Kini kekecewaan tidak hanya mendera diri Ipan, sang paman yang berharap segera menikahkan keponakannya pun kembali mendapat kekecewaan.
Plash pack of.
"Aku gak nyangka, Syakila seperti itu," ucap Dino. "Kamu yang sabar, jangan seperti ini, sampai mengganggu pekerjaanmu, percayalah kamu akan dapet yang jauh lebih baik dari Syakila," tutur Dino menenangkan. Dengan menepuk bahu Ipan.
"Kamu bener, Din. Kasihan karyawanku jika aku sampai terpuruk."
"Itu benar sekali, tetap semangat, kawan. Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik fokus bekerja, itu akan memudahkanmu melupakan Syakila," tutur Dino.
"Baiklah, makasih, Din. Aku sedikit lega setelah bicara padamu, kamu duluan saja, saya harus mandi dulu," ucap Ipan.
"Oke, aku duluan, ya."
__ADS_1
Ipan mengangguk.
Bersambung ....