Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kena Batunya.


__ADS_3

Elvira tersentak kaget, "Apa yang kau lakukan Jons, menjauh dari ku." Elvira berjalan mundur dengan tongkatnya hingga ia terpentok ke ranjangnya.


"Uang itu hanya setengah dari bayaranku, setengah lagi kau bayar aku dengan tubuh mu ini."


"Sialan Jons, kau memanfaatkanku," Elvira mencoba memukul Jons dengan tongkatnya itu, namun sia-sia, tenaga jons yang semakin kuat saat dikuasai hawa nafsu tak membuatnya meras kesakitan, saat tongkat di pukulkan, dengan mudah dia menarik tongkat itu dan di lemparkannya ke sembarang.


"Kau ingin menghancurkan Sita bukan? Sudah kubilang kau harus menanam benih di rahimmu, baru semua akan berhasil," rayu Jons yang hanya akal-akalan untuk membujuk Elvira melampiaskan nafsunya.


"Kau sudah melakukannya Jons," tutur Elvira.


"Apa kau pikir melakukannya sekali saja benih bisa menetas. kau lihat Sita? berapa lama dia sampai bisa hamil, hampir dua bulan pernikahannya. Apa kau pikir selama dua bulan mereka hanya melakukannya satu kali saja, tidak sayang. Cupps...." Jons melabuhkan kecu*an di b*bir Elvira. Ia sudah tak tahan ingin melakannya.


Elvira sedikit terbuai. Ya meski Percintaan Jons dan dia malam itu adalah suatu ketidak sengajaan tapi ini adalah pertama kalinya dia melakukannya dengan laki-laki. Ada getaran yang bergejolak di dalam dirinya, "Kau benar Jons, lakukanlah!" Pintanya pasrah. Bayangan kehancuran Sita dimatanya membuat dia gelap mata dan rela melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Akhirnya dengan buas Jons melampiaskan nafsunya terhadap Elvira. Kali kedua ini Elvira melakukannya dengan keadaan sadar ia menikmati setiap perlakuan Jons padanya, hingga mereke berdua mencapi puncaknya.


"Jangan lupa janji mu Jons," ucap Elvira mengingatkan.


"Tenang, Sayang, besok pagi rencana akan berhasil. Terimakasih ... Cupps," Jons me**ecup B*bir manis Elvira.


Selepas kepergian Jons terlihat ada penyesalan di dalam diri Elvira yang tak bisa ia hindari, namun apalah daya nasi telah menjadi bubur.


Masih dini hari tepat di pukul 03.30 Wib. Bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Jons telah ada di samping Elvira, lagi-lagi Jons meminta *e*ni*matan surga dunia yang sudah dua kali di berikan Elvira, Elvira tersentak membuka mata, saat merasa ada yang mengelus bi*irnya, "Kau disini! Sial, aku lupa mengunci pintu," ingatnya.


"Kau, lupa atau sengaja, Sayang."


"Berhenti memanggilku sayang, aku bukan kekasihmu. Jaga batasan mu Jons kau anak buahku,"


"Heem ...." Jons tersenyum miring.


"Kau memang bos ku, tapi urusan satu ini kau harus melayaniku." Jons langsung menindih Elvira. Elvira berusaha memberontak namun apalah daya Tubuh Jons yang besar tak mampu ia dorong, dengan apapun ia melawan percuma saja, karna Jons sudah bagai Singa buas yang menerkam mangsanya.


Nasibnya merasa semakin malang tat kala ia menyadari kebodohannya. Setiap langkah bodoh yang ia ambil malah semakin membuatnya menderita, namun tak pernah ia sadarai kebenciannya pada Sita bukanlah suatu alasan yang tepat. Takdir bisa merenggut nyawa siapapun sesuai kehendak yang Kuasa. Tak ada yang bisa disalahkan atas semua itu.


***


Pagi ini Sita tengah memasak sarapan untuk semuanya, Entah apa lagi yang di inginkan ibu hamil ini. Begitu banyak menu makanan yang ia jejerkan di meja. Belum yang masih ia masak di dapur.


"Sayang, Ada apa ini, banyak sekali makanan di meja?" tanya Ibu.


"Iya, Bu. Entah kenapa tiba-tiba pengen masak banyak. Maaf ya, Bu, stok sayuran di kulkas habis Sita masak semuanya."


"Tidak apa-apa, Nak! Masalahnya siapa yang akan memakanan masakan segini banyaknya,"


"Hemmm ... Sita bagiin sama anak yatim aja ya, atau ngak anak-anak jalanan di lampu merah, itu akan bermanfaat bagi mereka."

__ADS_1


"Ya itu ide yang bagus. Mari Ibu bantu!"


"Makasih, Bu,"


"Sama-sama, Sayang. Masak sebanyak ini pasti selesainya agak lama, Ibu kerumah Elvira agak siangan aja deh."


"Gak pa pa, kalau Ibu mau kerumah Elvira berangkat saja, Sita bisa kok masak sendiri.


"Enggak Sayang, nanti kamu cape, Ibu bantu kemauan cucu Ibu dulu," ucap ibu dengan senyum lalu mengelus lembut perut Sita.


Sita pun membalas senyum Ibu dengan bahagia.


Dino keluar dari kamarnya, "Sayang, apa lagi ini? Apa ini kemauan calon bayi kita?" tanyanya.


"Mungkin," jawab sita dengan tersenyum.


"Calon bayi kita itu menggemaskan ya, maunya pasti beda," ucap Dino seraya duduk di meja makan.


"Hahaha ... Itu artinya bayi kita istimewa, Sayang."


"Ya dia sangat istimewa, dan special, seperti Ibunya," tak malu-malu Dino mengataknnya di hadapan Ibu.


Pipi Sita pun nampak lebih merona.


Trerererttt ... Hand phone Dino bergetar.


"Siapa pagi-pagi sudah telpon," tanyanya saat melihat no panggilan baru yang tak di kenal.


Dino pun mengangkatnya.


"Selamat pagi, Tuan. Apa anda mengenal Nona Elvira?" tanya seseorang di ujung telepon.


"Ya, Saya mengenalnya, Siapa Anda? Dan ada urusan apa?"


"Saya menemukan dia tergeletak di depan rumah, mungkin ini rumahnya, saya gak begitu mengenal dia. Maaf saya lancang melihat ktpnya dan di handphonnya ada nama Anda." Bohong Jons.


"Innalilahi, baiklah, saya segera kesana?" Dino pun bergegas.


"Ada apa, Sayang?" kenapa kamu tergesa-gesa," tanya Sita.


"Elvira di temukan tergeletak di depan rumahnya, aku harus segera kesana," ucap Dino terburu-buru.


"Aku ikut."

__ADS_1


"Tidak, sayang selesaikan dulu masakan mu, baru kau dan ibu menyusul kesana, akan mubajir jika di tinggal," lanjut Dino.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Dino pun berlalu pergi.


"Ya Alloh apa lagi yang terjadi pada Elvira?" tutur Ibu.


"Sabar, Bu, jangan panik nanti kita kesana, ayo kita selesaikan masaknya!"


"Ibu kasihan sama dia. Dia hidup sebatang kara, tidak punya siapa-siapa."


"Iya, Bu, sekarangkan ada kita, jadi Ibu tidak usah khawatir,"


"Iya, Sayang, dia gadis yang baik, Ibu mulai menyayanginya seperti anak Ibu sendiri."


Sita tersenyum mendengar Ibu menyayangi Elvira. Dia pun memeluk Ibu dan mengusap punggungnya menenagkan agar tidak panik.


***


"Kau lihat itu, Sayang! Dia langsung datang kesini, bersiaplah untuk pura-pura pingsan,"


'Cih ... Jijik rasanya di panggil sayang terus sama si Jons, makin ngelunjak aja ni orang' batin Elvira.


"Kau sudah siapkan airnya?" tanya Elvira.


"Sudah, Sayang, tenang saja!"


"Oke,"


Tak lama sebuah mobil box di parkirkan. Terlihat Dino sedang turun, dan mengunci mobilnya.


"Dia datang, cepatlah!" desak Jons.


Elvira segera membaringkan tubuhnya di lantai, dan melempar tongkat ke sembarang.


.Dino melangkah dengan terges- gesa. Ia begitu khawatir pada keadaan Elvira.


"Astagfirulloh haladzim, Elvira!" Dino kaget melihat keadaan Elvira.


"Tuan! Anda Dino?" tanya Jons yang menutupi wajahnya dengan masker.


"Iya Tuan, bisa bantu saya angkat dia kedalam!"

__ADS_1


__ADS_2