Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Malam Bersama Sang Istri


__ADS_3

Setelah sekian lama Dino menghabiskan malam sendirian di dalam kamarnya, kini dia bisa menikmati malam bersama sang istri tercinta, bahkan ditemani dua orang putra jagoannya.


Arvi dan Rafka nampak tertidur pulas, setelah mereka di berikan asi oleh Sita, saat Sita melihat Rafka menangis dan di berikan susu pormula Sita merasa tak tega membiarkan hal itu, Sita pun memberi Rafka asi layaknya anak kandung sendiri.


Sungguh Dino tidak menyangka istrinya memiliki hati yang mulia, menyayangi Rafka dan memperlakukan Rafka selayaknya anak kandungnya sendiri, kini mereka seperti memiliki dua anak kembar yang tampan dan lucu.


"Mereka sudah terlelap sayang, kenapa kamu terus memandangi mereka seperti itu?" tanya Dino yang melihat istrinya memandang kedua putranya yang sudah tetidur lelap.


"Wajah mereka menyejukkan, perasaan tenang mengalir begitu saja saat menatap mereka, aku suka melihat mereka saat sedang tertidur seperti ini," jawab Sita.


Dino mengukir senyum di bibirnya.


"Jangankan kamu aku juga suka saat mereka tertidur." Dino menarik sang istri kehadapannya, membuat tubuh Sita menempel di tubuhnya.


Dino menatap wajah sang istri, dia mainkan tangannya di wajah sang istri dengan lembut, perlahan dari kening ke hidung lalu kepipinya, ke dagu dan terakhir ia memainkan jemarinya di bibir indah sang istri.


Sita memejamkan matanya menikmati belayan lembut sang suami, tak lama ia rasakan bibir lembut sang suami mengecup indah bibirnya. Sita pun membalas kecupannya.


Saat Sita membuka matanya terlihat senyum indah di wajah sang suami, Sita membalas senyumannya dengan senyum terindahnya.


Merekapun kembali saling kecup dan menikmati setiap tahapnya, semakin lama semakin dalam dan semakin mengingikan lebih, Dino membimbing sang istri ke ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Dino semakin membuas melepaskan hasrat kerinduannya yang sudah lama tidak tersalurkan, Sita pun melakukan hal yang sama tanpa menolaknya, namun saat hasrat semakin menggebu Sita baru menyadari dirinya dalam larangan, Sita mencoba melawan hasratnya dan mendorong Dino dengan sekuat tenaganya, meski tidak berhasil.


Menyadari sang istri yang mulai memberontak Dino pun sedikit mengangkat tubuhnya, yang sudah menindih sang istri,


"Kenapa sayang," ucap Dino yang sudah sangat dikuasai hasrat.


Sita nampak mengatur nafasnya sebelum menjawab, namun Dino kembali mennelungkup sang istri, Sita mendorongnya kembali, meski ia tak mampu mendorong tubuh Dino yang kekar. "Sayang, hentikan," ucap Sita dengan berat menahan hasratnya. "Aku dalam larangan, aku sedang nifas sayang," lanjut Sita dengan lemas, sambil menahan hasratnya.


Seketika Dino pun menggulingkan badannya kesamping kanan. "Astagfirullahhaladzim, maaf," ucap Dino dengan lemas.


Huuhhhh ...


"Maafkan aku sayang, sungguh akau sangat merindukanmu, aku tak kuasa menahannya," ucapnya ngos-gosan seperti habis lomba lari.


Sita pun sama, "Aku juga sangat merindukanmu, sayang, hampir saja kita melakukan larangan."


Huuhhhh ...

__ADS_1


Sita meraih tangan sang suami, saat ini keduanya tengah terlentang dengan tangan yang saling menggenggam erat, sama-sama menahan hasrat yang semakin mencuat, keduanya saling menatap kemudian mereka tertawa bersama menertawakan perbuatan mereka sendiri.


Tawa mereka yang begitu lepas membangunkan Arvi yang tengah tertidur, Sita segera bangkit dan menggendong Arvi, sementara Rafka tidur nyenyak tanpa merasa terganggu sama sekali.


Nampaknya Arvi ingin menyusu kembali, Sita duduk di bibir ranjang dan mebuka kancing bajunya di hadapan sang suami.


"Jangan disini, aku mohon!" ucap Dino lalu menelusupkan kepalanya kedalam bantal.


Hahaha ... Sita tertawa lembut.


"Maaf, sayang," ucapnya.


"Setelah susah payah menahannya jangan kau buat aku kelabakan lagi sayang," tuturnya saat masih menelusupkan kepala kedalam bantal.


"Lalu aku harus bagaimana? Kau keluar saja kalau begitu," ucap Sita.


"Tidak, tidak aku akan membelakangimu," lanjut Dino mengubah posisi membelakangi sang istri.


"Arvi, kau mengoda papa terus ya, papa kepanasan nih." Dino seolah mengajak sang buah hatinya bicara lagi.


"Untuk bisa adem aku harus menunggu 40 hari sayang, kesegaranku saat ini sedang di nikmati Arvi,"


"Apa!"


hahaha ...


"Kamu bisa saja."


"Sudahlah aku tidur duluan sayang, kalau kamu butuh bantuan bangunkan saja aku."


"Siap papa, nanti arvi bangunin kalo arvi pipis ya, gantiin popok Arvi sama papa ya," ucap Sita di buat-buat seperti bayi.


"Enggak, enggak, gak gantiin popok juga dong sayang, kalo gantiin mimi sama mama kamu papa mau, jangan lupa sisain buat papa ya."


"Apaan sih ...."


Hahaha ....

__ADS_1


Sita mencubit pinggang sang suami yang membelakanginya.


Awww ....


"Jangan di cubit juga dong mama di elus aja."


"Ihk papamu makin nakal sayang, harus kita apakan nih papamu,"


"Jangan di apa-apain mama di peluk aja, cepetan nyusuinnya, papa pengen peluk papa kangen banget nih."


Hahaha ...


Sita tertawa mendengar perkataan suaminya yang terakhir.


Malam pun semakin larut Dino tertidur saat menelusup kedalam bantal, saking lamanya menunggu Arvi yang menyusu.


Arvi pun sudah tertidur kembali. Sita menidurkan kembali Arvi di ranjangnya.


Sebelum tidur Sita membenahi posisi sang suami yang kurang terlihat nyaman, ia pun menyelimutinya, lalu berbaring disebelah sang suami. Belum Sita terlelap tidur sang suami mengubah posisi tidur memeluk sang istri, Sita tersenyum, ia pun memeluk sang suami dan terlelap tidur.


****


Di kamar lain Aditya tengah meratapi kesedihannya, ia tak bisa tidur dengan cara apapun, bayang-bayang Amel terus menghantui dirinya, Ia pun bangun dan membuka gordeng kamarnya.


Menggeser sofa kearah sang rembulan yang tengah bersinar terang menembus kaca jendela kamarnya. Aditya merebahkan dirinya di sofa menatap rembulan yang seolah sedang menatapnya, "Kau terlalu indah hingga hati menolak untuk melupakan mu, sekuat apapun aku berusaha, kau semakin membayang-bayangi ku Amel. Entah alasan apa yang harus ku buat untuk bisa menemuimu, apakah Arvi bisa jadi alasanku?"


Aditya pun bangkit dari sofa mengingat Arvi, dia pun melangkah berjalan menuju kamar Arvi, di edarkannya pandangan keseluruh ruangan indah yang sudah ia siapkan untuk Arvi, yang hanya di tempati satuhari saja.


"Kau yang kupikir akan mengisi hidupku lebih berwarna Arvi, kau yang ku pikir akan menyatukan aku dan ibumu, malah menyatukan kembali ibumu dan ayahmu." gumamnya.


"Apa kurangnya diriku, apa yang dimiliki Dino hingga Amel begitu mencintainya, aku lebih sukses dalam berkarir namun Dino lebih beruntung dalam hal cinta, bolehkah aku meminta Amel untukku?" Aditya meratapi nasibnya dengan meneteskan air mata. Ia segera menyekanya ketika menyadari air mata telah menetes, "heuuh cengeng," umpatnya pada diri sendiri.


"Aku tidak boleh lemah, besok aku akan menemui mereka, hubunganku dan Dino masih baik, dia tidak mencurigai apapun, aku tidak boleh lemah," ujarnya menyemangati diri sendiri.


Aditya pun kembali kekamarnya berharap setelah ini ia bisa memejamkan matanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2