
Seperti biasa Jons berkeliaran dengan penyamarannya, terdengar saat Dino berbicara pada Ipan sahabatnya merencanakan tamasya bersama.
"Minggu depan, kita tamasya bersama," kata Dino pada Ipan.
"Oke! Aku ikut, siapa tau dapet gebetan," kata Ipan.
"Hahaha ... bener, Pan. Kamu harus semangat cari gebetan baru." Dino menyemangati Ipan.
"Tentu saja! Siapa tau dapet yang kaya Sita, ya gak!"
Deg ....
Seketika keduanya saling melirik.
"Euumm ... So-sorry, Din, aku gak maksud ...." Ipan sedikit kelimpungan.
"Oke! Gak pa pa, santai saja." Dino menghela napas, merasa sedikit tidak nyaman dengan ucapan Ipan.
Jons yang mendengar itu, langsung tersenyum, dan mengangguk-anggukan kepalanya penuh arti, rupanya kesabaran Elvira sudah cukup sampai disini.
"Kabar gembira untukmu. Satu minggu lagi kamu pasti bebas," kata Jons saat mengunjungi Elvira.
"Benarkah Jons? Kamu tidak berbohong 'kan?"
"Tentu saja tidak! Tapi, kamu harus menepati janjimu, jika tidak kamu tau akibatnya."
"Tenang saja Jons, aku pasti menepati janjiku," ucap Elvira dengan gembira.
"Oh ya, ngomong-ngomong, apa rencanamu?" tanya Elvira penasaran.
Jons menceritakan dengan detil bagaimana rencananya untuk megeluarkan Elvira dari tahanan, Elvira pun nampak senang. Ia pun tersenyum penuh arti.
***
"Elena! berhenti meratapi nasibmu! lihatlah teman-teman sebayamu mereka sudah maju melangkah kedepan menata masa depan! Kerjaanmu setiap hari hanya menatap foto anaknya bu Erni, apa sih hebatnya dia, sampe kamu gak bisa berpaling darinya?" kata Heni ibu Elena, yang kesal melihat anaknya berbaring di kasur dengan tangan memegang foto Dino. Heni pun mengompres kening Elena yang sedang demam tinggi.
"Ibu, gak tau sih rasanya jadi El gimana? Ibu juga gak pernah dukung El, apa peduli Ibu selama ini? El sedih pun Ibu tak peduli!" kata Elena.
"Ibu bukan tidak peduli El, Ibu hanya tidak mau kamu terus ngurusin si Dino, lagian dia sekarang sudah bahagi sama istrinya. Kamu carilah pria lain! Mau sampe kapan kamu begini?" ucap Heni lalu memberi obat pada Elena.
"Sampe Dino jadi milikku," jawabnya enteng.
"Astagdirulloh, El, enteng banget jawabanmu, Ingat sama dosa! Lihat tuh Si Ipan ponakannya Mang Adnan! Dia lagi putus cinta, mending kamu deketin dia, dia juga lebih mapan dari pada Dino, tampan juga iya, ngapain sih mikirin Dino terus," keluh Heni.
"Elena gak peduli, Elena hanya mau Dino, titik. Elena bakal bikin Sita dan Dino pisah kali ini," jelasnya pada bu Heni.
__ADS_1
"Astagfirulloh kamu mau rencanain apa lagi, ingat sama dosa. Berkali-kali ibu bilang ingat dosa!" ucap ibu penuh penekanan.
"Ibu gak perlu tau, yang pasti Elena gak akan pernah berhenti mengganggu mereka, sampai mereka berpisah," kekeh Elena.
"Apa kata Dokter kemarin? Jangan terlalu banyak pikiran! Stop mikirin Dino! Semua ini karena kamu terlau memikirkannya."
"Elena gak banyak pikran! Pikiran Elena cuman satu, Dino!" tegasnya.
"Masa bodolah, Ibu cape nasehatin kamu!" ucap Bu Heni lalu pergi dengan kesal.
"Ya, bodo amat! Elena juga gak peduli, yang penting tujuan Elena harus tercapai," ucapnya dengan mengangkat bahu, melihat kepergian sang ibu dari kamar.
Tiba-tiba dering ponsel berbunyi. Dilihatnya nama yang tertera di layar hand phone.
"Ibu, Marni!" Elena terlihat senang ibu menghubunginya, dengan segera dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, El. Apa kabar?" tanya ibu.
"Waalaikumsalam, Alhamdulilah, El Baik, Bu. Ibu sendiri apa kabar?"
"Syukurlah, kalo kamu baik, ibu juga baik,"
"Tapi, El lagi bohong sama Ibu," ucap Elena kemudian.
"Bohong! Bohong kok jujur?" kata ibu.
"Emangnya kamu kenapa?" tanya ibu penasaran.
"Sebenarnya, Elena lagi sakit, Bu. Makanya Elena jarang main kerumah, Ibu," jelasnya.
"Ya Alloh, El. Kamu sakit apa?"
"Enggak parah sih bu, cuman demam aja, tapi demamnya naik turun terus."
"Ohh, mungkin kamu kelelahan, kamu banyak-banyak istirahat, jangan cape-cape, bentar lagi kita jadi tamasya bareng," kata ibu memberitahu Elena.
"Benarkah, Bu! Jadi rencananya sudah di jadwalkan?" Elena terkejut bahagia.
"Iya Nak, makanya kamu cepet sembuh, ya!" kata ibu.
"Iya dong, Bu, dikasih tau mau jalan-jalan Elena pasti cepet sembuh," tuturnya dengan semangat.
"Syukurlah, Ibu seneng jika kabar gembira ini bisa menjadi penyemangat kamu buat sembuh," lanjut ibu.
"Iya, Bu, makasih banget. Elena jadi seneng."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu istirahat! Assalamualaikum." Ibu menyudahi panggilan teleponnya.
"Waalaikumsalam."
"Akhirnya, jalan-jalan bareng sama Dino, heemmm. Oh ... Dino! I love you, Ilove you, I love you, emmuch." Elvira mencium foto Dino.
Bu Heni yang memperhatikan Elena meneteskan air mata, merasa prihatin dengan sikap putrinya. Cintanya yang buta membuat dia menghalalkan segala cara, namun Heni tidak mampu berbuat apa-apa karna sipat Elena yang keras kepala.
Bu Heni hanya menghela napas mengingat apa yang sesungguhnya terjadi pada diri putrinya.
***
Malam pun tiba, Sita sedang menimang Arvi yang menangis, tiba-tiba Rafka pun ikut menangis. Sita kesulitan sekali, sementara satu tangan menggendong Arvi dan satu tangan menepuk lembut bahu Rafka.
"Cup, cup, cup, anak-anak mama pada kenapa ini, jep sayang, kalian jangan nangis. Duh gimana nih? Ibu lagi apa ya?" Sita kebingungan mengatasi kedua putranya yang menangis berbarengan.
Terdengar di dalam kamar ibu, suara tangis Arvi dan Rafka, ibu pun segera bergegas menghampiri Sita.
"Sayang, ada apa? Kenapa mereka nangis?" tanya ibu pada Sita yang nampak sedang kewalahan.
"Sita gak tau, Bu. Mereka kompak banget nangisnya, Sita jadi bingung."
"Sini sayang! Rafka sama nenek, yuk!" Ibu pun menggendong Rafka, "Cucu nenek kenapa? Hemmm ... Mau nenek gendong, ya?" Ibu mengajak Rafka bicara.
Sementara Sita terus mencoba membujuk Arvi yang juga belum berhenti menangis.
"Mereka kenapa ya, Bu? Kok perasaan Sita jadi gak enak gini. Apa mereka sakit?"
"Ibu rasa mereka baik-baik saja, Sayang," ucap ibu dengan memegangi kening kedua cucunya secara bergantian.
"Apa mereka melahat makhluk gaib ya, Bu?" ucap Sita sambil terus menimang Arvi.
"Ibu, tidak paham itu, Sayang?"
"Atau terjadi sesuatu sama papa mereka, kok Sita jadi gak enak hati ya, Bu!" Duga Sita.
"Jangan berpikiran buruk! Semua pasti baik-baik saja."
"Aamiin, semoga saja Dino baik-baik saja," harap Sita.
"Cup sayang, kalian kenapa, Sih?" Sita dan ibu terus berusaha mendiamkan mereka.
Di luar sana, saat Dino tengah beristirahat di warung kopi, empat orang preman menghadangnya. Meminta barang-barang berharga yang Dino bawa.
Untung saja Dino berhasil mengalahkan mereka dengan bantuan beberapa orang warga yang ada disana. Meski Dino sempat kena pukulan pada bagian wajah dan tubuh lainnya sampai membuat bibirnya berdarah, akibat pengeroyokan, untung saja semua barangnya berhasil diselamatkan.
__ADS_1
bersambung ....