Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Suara Yang Dirindukan


__ADS_3

"Baiklah, terimakasih kawan, sudah lama tak berjumpa, sekali berjumpa jadi pahlawan ku," ucap Dino dengan canda.


"Hahaha ... bisa aja kamu Din," ucap Adiyta.


Sampai di depan pintu cape Dino melihat takjub keadaan cafe yang nyaman, dan indah.


"Waw ... Luar biasa, pantas ramai pengunjung," ucap Dino.


Aditya hanya menanggapi dengan senyuman.


"Silahkan Duduk Din," ucap Aditya.


Dino pun duduk.


Sementara Aditya masih berdiri dengan gagahnya, dengan kedua tangan masuk ke saku celananya.


"Ridwan!" panggil Aditya pada salah satu karyawanya, tak lain adalah mekaniknya.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu," ucapnya dengan sopan.


"Tolong perbaiki mobil box putih di ujung jalan sana, milik Pak Dino, Dia teman saya." tunjuk Aditya pada Dino.


Ridwan mengangguk dan tersenyum, begitupun dengan Dino.


"Baik Pak Aditya, akan saya perbaiki," ucap Ridwan, dan langsung pergi memperbaiki mobil Dino.


Mendengar karyawannya memanggil Didit dengan panggilan Pak Aditya, Dino menjadi merasa canggung memenggilnya Didit.


"Oh ya, Apa aku juga harus panggil kamu pak Aditya, secara sekarang kamu sukses dan di segani, tak enak jika aku panggil kamu Didit," ucap Dino.


Sontak hal itu membuat Aditya tertawa. "Haha ... Din, Din, masa ia hanya karna kesuksesan kamu harus merubah panggilanku, menghargai itu tidak dengan panggilan, belum tentu mereka yang memanghilku pak hatinya tulus menghargaiku."


"Hem ... Aku hanya merasa tidak enak," ucap Dino diiringi senyum.


Aditya pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Dino. Ia celingukan mencari seseorang, ada banyak karyawannya disana, namu ia mencari karyawan yang tak dilihatnya.


'Dimana Amel?' batinnya.


"Dit, toilet sebelah mana?" tanya Dino pada Aditya, yang masih terlihat mencari seseorang.


"Kamu mau ke toilet?" tanya Aditya.


"Ya," jawab Dino.


"Dari sini lurus, belok kanan, sebelah kiri toilet wanita, sebelah kanan toilet pria."


"Oke, saya ketoilet sebentar ya." Dino pun bangkit berjalan menuju ke toilet.

__ADS_1


"Ya, silahkan," ucap Aditya.


'Akh, itu dia, Amel' batinnya saat dia melihat Amel,


"Amel!" panggil Aditya dengan mengangkat tangannya


Amel pun menghampiri Aditya.


"Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Amel.


"Buatkan saya dua cangkir kopi!" pintanya.


"Baik pak," ucap Amel, Amel melihat kesekitar tak ada orang lain, 'kenap dua kopi' batinnya.


Amel pun kembali dan membuatkan kopi yang di minta Pak Aditya.


Entah Apa yang dilakukan Dino di toilet, hingga Amel selesai membuat kopi pun ia tak kunjung kembali.


Amel pun meletakkan dua cangkir kopi diatas meja.


"Hati-hati kalau bekerja, kalau lelah duduk saja, jangan memaksakan diri, jangan sampe terjadi apa-apa padamu," ucap Aditya tiba-tiba, membuat Amel terhenyak.


Amel pun hanya mengangguk pelan.


Aditya sendiri tidak menyadari perkataannya.


Tiba-tiba Susi datang.


"Biar saya yang bersihkan," ucap Amel yang masih ada disana.


"Amel! Tidak, jangan kamu, yang lain saja," kata Pak Aditya.


"Yang lain sudah mulai sibuk Pak, hanya saya yang santai disini, biar saya saja Pak, lagian ini untuk kepentingan cafe kan," ucap Amel lalu pergi tanpa menunggu jawaban Aditya.


"Amel!" panggilnya.


Namun Amel terus saja berjalan dan pergi mengambil alat-alat kebersihan. Lalu menuju toilet wanita.


"Susi, cari pegawai lain untuk membersikhan toilet," titah Aditya yang tak mau Amel membersihkan toilet.


"Baik pak," ucap Susi, lalu melangkah mencari pegawai yang tidak sibuk.


'Ibu hamil memang ngeyel' batin Aditya kesal.


Amel telah sampai di toilet, keadaan toilet masih sepi, karna masih pagi pengunjung juga belum berdatangan, netranya melihat tulisan Toilet Wanita, ia pun melangkah kearah toilet itu, baru saja Amel masuk kedalam toilet itu dan menutup pintunya, Dino keluar dari toilet laki-laki, ia merapihkan celananya yang masih terlihat kurang rapi, lalu memegang perutnya, dan berbicara sendiri "Kenapa perutku sakit sekali, tidak seperti biasanya, apa perutku masuk angin, akh sepertinya aku harus minum obat," ucapnya.


Suara itu jelas terdengar oleh Amel yang seketika membuatnya menghentikan kegiatannya menyikat toilet.

__ADS_1


Deg ... Seketika jantungnya berdebar, berdegup kencang tak karuan, nafasnya tiba-tiba tidak beraturan.


'Dino!' batinnya, sakejap ia terdiam mengatur nafasnya, 'Aku mengenal suara itu' seketika Amel pun membuka pintu toilet, namun 'tak nampak seorang pun disana, Dino telah berlalu pergi kedalam cafe.


"Tidak ada siapa pun," ucapnya heran dan pelan, ia memeriksa seluruh ruangan toilet, tiba-tiba matanya berkaca-kaca ucapnya pun mulai berat, "Suara itu, suara siapa yang ku dengar, suaranya begitu jelas," ucapnya mulai tenggelam. "Apa aku terlalu merindukannya, sampai disini pun aku mendengar suaranya?" netranya pun mulai meneterkan air mata, "Tidak, ini tidak mungkin, tidak, tidak, Dino, kau kah itu ...." tangis pun pecah di dalam toilet itu, Amel pun duduk jongkok memeluk lututnya, ia menangis mengingat sang suami.


"Apa yang harus aku lakukan? Sampai kapan aku sanggup jauh darinya? Aku sangat merindukannya." Sita pun semakin terisak.


Tiba-tiba seorang karyawan datang mengagetkan Amel, "Amel!" panggilnya, membuat Amel terperanjat dan mengusap air matanya.


"Ri-Rina!' ucap Amel sedikit gugup.


"Kamu kenapa, Mel?" tanya Rina yang heran melihat Amel menangis.


"Tidak apa-apa, kamu mau ketoilet?" jawab Amel mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, aku disuruh Pak Aditya bersihin toilet, kamu masuk saja kedalam," ucap Rina.


"Kenapa? tidak apa, biar saya yang bersihkan," tolak Amel.


"Jangan buat saya dimarahin Pak Aditya Amel, kamu nurut saja, saya tidak mau di pecat gara-gara gak nurut sama Pak Aditya."


Mendengar itu Amel pun menurut saja, karna dia juga tidak mau kalau Rina sampai di pecat oleh Aditya.


Ada perasaan tidak nyaman pada Amel, Amel mulai merasa sikap Pak Aditya seolah membedakannya dengan karyawan lain.


Amel pun masuk kembali kedalam, ia berjalan dengan menunduk masuk ke ruangan karyawan dimana semua orang tengah sibuk bekerja.


Aditya tengah asyik mengobrol dengan Dino, sekilas matanya melirik Amel yang berjalan tertunduk tanpa memperhatikan sekitar. 'Syukurlah, dia sudah tidak membersihkan toilet' batinnya, kemudian ia fokus kembali ngobrol sama Dino.


Tiba-tiba Ridwan datang memberitahu bahwa mobilnya sudah selesai diperbaiki, Dino pun akhirnya pamit karna harus segera mengantar pesanannya.


"Terima kasih, Dit, kamu sudah membantu saya, lain kali saya mampir lagi kesini," ucap Dino.


"Sama-sama, Din, sering-seringlah main kesini, kalau kamu sering lewat kesini."


"Tentu saja, kalau sudah tau kan enak, aku juga bisa gratisan makan disini, haha ...." ucap Dino diiringi canda.


"Tentu saja, haha ...."


Dino pun bergegas melangkah dengan cepat, berjalan menuju mobil box-nya, ia pun menyalakan mesin mobil dan hendak melaju,


"Din, Din, tunggu!" teriak Aditya pada Dino di depan Pintu cafe.


Deg ...


Amel yang juga mendengar teriakan itu, kembali terhenyak, 'Din' batinnya, tiba-tiba nafasnya pun tak beraturan lagi, ia pun segera menoleh ke arah Pak Aditya, 'Siapa yang pak Aditya panggil?' batinnya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa like, komen, dll.❤❤❤


__ADS_2