Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Penasaran


__ADS_3

"Kotak apa ini?" Sita penasaran. Diambilnya kotak itu, dilihat lihat semakin membuatnya penasaran.


"Sayang, ketemu kacamatanya?" tanya Ibu,


"Tidak bu, Eu ini kotak apa ya bu?"


"Kotak! Oh iya ibu lupa, itu milik Elvira, Sayang."


"Punya Elvira!"


"Iya, semalam dia nangis setelah membawa kotak itu bukan?"


"Oh, jadi ini kotak paket yang semalam?"


"Iya, sayang,"


"Eu ... Boleh Sita buka gak ya bu, kok Sita penasaran?"


Tiba-tiba Elvira datang merebut kotak itu dengan kasar dari tangan Sita. Membuat Sita dan Ibu kaget seketika.


"Beraninya kamu mengambil kotak ini?" bentak Elvira.


"Elvira!" Ibu kaget dengan Sikap kasarnya.


"Tidak boleh ada yang menyentuh kotak ini! Hanya aku yang boleh menyentuh kotak ini!" bentaknya dengan menatap Sita.


"Maaf Elvira, tapi kotaknya--"


"Keluar!" Elvira memotong ucapan Sita.


Sita heran, tapi 'tak lantas membuat Sita pergi dari sana, "Apa yang terjadi padamu Elvira?" tanyanya sedikit penekanan.


"Tidak ada yang peduli padaku disini, kalian semua Egois, disini aku sendiri, didunia ini 'tak ada lagi yang peduli padaku," tiba-tiba Elvira histeris.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini, Nak?" tanya ibu


"Ibu! Ibu juga lebih menyayangi Sita, Ibu bilang Ibu menyayangiku seperti putri Ibu sendiri tapi nyatanya kasih sayang ibu padaku tak lebih dari rasa iba saja," ucapnya dengan menangis.


"Apa maksudmu, Nak?"


"Itu benarkan, Bu!? jika Ibu menyayangiku seperti putri Ibu sendiri, Ibu akan segera menikahkanku dan Dino setelah kejadian itu. tapi Ibu hanya memikirkan perasaan Sita, tidak memikirkan perasaanku, kalian akan menikahkan ku dengan Dino hanya jika aku hamil saja, lantas jika tidak hamil, dengan mudahnya kalian menyuruhku melupakan semua itu," ucapnya masih menangis.


Ibu terlihat bingung.


"Apa salah ku, kalian pikir aku menjebak Dino, kalian pikir aku tidak hancur? Jika aku tidak hamil, lalu aku menikah dengan laki-laki lain begitu! Apa yang harus kau katakan padanya jika dia bertanya tentang kesucianku yang di rengut Dino?" lanjutnya.


Ibu Shok melihat sikap Elvira sepeti ini, matanya melihat tak percaya, mulutnya terbuka namun di tutup oleh tangan.


"Pernahkah kalian memikirkan itu, adakah disini yang peduli dengan perasaanku, kalian semua egois, kalian hanya memikirkan perasaan Sita."


Sita tidak percaya, Elvira bisa berkata seperti itu, ia tak tahan dan lari, di bukanya pintu kamar yang ternyata abah telah berdiri di sana, Sita pun tersentak, dan lanjit berlari ke kamarnya.


Abah mengikutinya kekamar.


"Nak." Sita tau itu suara abah.


"Abah, Dia berkata benar, kita egois, kita sudah tidak adil padanya, kenapa harus menunggu hamil, lalu apa bedanya jika dia tidak hamil dia tetap telah ternoda," ucapnya dengan di iringi tangis.


"Dia sendiri berpikir bahwa dirinya telah Dinodai oleh suamimu nak, untuk itu dia berkata seperti itu, sementara Dino belum tentu melakukannya," jelas abah.


"Bagaimana caranya kita tau, suamiku melakukannya atau tidak, rasanya sulit, bah, Sita mulai putus asa, apakah mereka harus segera menikah?" isak Sita.


Deg ... Kini mata sang ayah mulai berkaca. "Tidak nak," ucap abah tak kuasa, lau bangkit dan pergi.


"Abah mau kemana? Kita belum selesai, bah?" ucap Sita menatap kepergian abah.


Disisi lain Ibu tengah menenangkan Elvira di kamarnya, "Nak. Elvira, kenapa mengatakan semua itu, nak? Ibu sayang sama kamu, sama seperti Ibu sayang sama Sita."

__ADS_1


Tangis histeris Elvira hari ini berhasil membuat semua terenyuh, bukan hanya ibu dan Sita, kali ini abah pun di buat bingung, ia merasa kasihan padanya jika saja benar Dino menodainya tanpa sadar.


***


Huhhhh ... Abah pun membuang nafas kasar.


"Bu Erni, kali ini saya merasakan duka berat pada nak Elvira. Apa dia bener-benar merasa kehilangan harga dirinya?" tutur abah pada Ibu yang sedang menyiram tanaman di luar.


Sementara abah sendiri duduk di kursi teras.


Terang saja, duka Elvira berat, namun bukan karna Dino yang menodainya tapi karna Jons yang terus memanfaatkan dirinya.


"Sepertinya kita harus mengambil keputisan yang berat?" ucap abah pasrah.


"Maksud pak yahya, apa?"


"Mungkin memang nasib purti saya untuk di madu," ucapnya dengan lemah.


Deg ...


"Apa pak Yahya yakin?"


"Entahlah! Kita bicarakan ini setelah Dino pulang," ucap Abah dengan lirih.


Elvira yang mengintif tampak gembira.


Akhirnya dia akan di nikahlan dengan Dino, dia pun pergi ke kamarnya dan tertawa bahagia.


"Akhirnya kehancuran mu akan tiba, setelah ini kamu akan semakin hancur,"


Di dalam kamar Sita nampak tengah bersujud di atas sajadah, setelahnya ia berdo'a menengadahkan pandangannya ke atas, dengan mengangkat kedua tangannya.


Ia curahkan segala bentuk keluh kesahnya pada yang kuasa, pasrah dan berharap yang terbaik untuk pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2