Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Liburan Bersama Di Villa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, pagi, Sayang!" Sambutan hangat yang menenangkah hati, menyejukan jiwa yang baru kembali dari alam mimpi. Dino melabuhkan kecupan lembut yang manis, yang mampu hadirkan senyum di wajah cantik sang istri.


"Wa'alaikumsalam, pagi juga, Sayang!" Tatapan lembut yang diiringi lengkungan indah dibibir sang istri menjadi penyempurna raut wajah Sita yang mempesona.


Dino dan Sita pun saling lempar senyum, dengan tatapan yang saling memberi kenyamanan, berlangsung cukup lama, hingga hampir menenggelamkan mereka kembali kedalam lautan hasrat yang semakin dalam.


Tok ... tok ... tok ...


"Sayang! Sebentar lagi adazan subuh berkumandang, ayo bangun!" Seru ibu, Membuat keduanya tersentak, melepaskan asa mereka yang hampir terhanyut kembali dalam lautan cinta.


Keduanya pun tersenyum.


"Iya, Bu. Dino dan Sita sudah bangun!" jawab Dino pelan, cukup terdengar di telinga sang ibu.


Terpaksa bangkit, walau sulit, rasanya ingin terus berdekatan dengan sang pemberi kenyamanan. Namun apalah daya yang hakiki maha memiliki kenyamanan sudah menyeru untuk melakukan dua rakaat.


Hari demi hari terus belalu, Sita dan Dino terus jalani hari dengan bahagia, tanpa ada gangguan dari pihak ketiga.


Waktu bertamasya pun kini tiba, Dino, Sita, Ibu, Aditya, Bi Marni, Elena dan juga Ipan bahkan ikut bersama. Sita pun mengajak kak Riri dan kak Fitri, namun mereka tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mengingat sahabatnya sedang berduka, Sita pun menghubunginya, berharap liburan ini bisa sedikit meringankan bebannya. Tentu saja Ratih sangat bahagia.


Mengingat keinginan ibu, Dino pun memilih Villa bernuansa tradisional yang dikelilingi oleh kawasan hijau dan berada di dekat danau. Namun Villa ini tetap memiliki akses mudah ke berbagai tempat Wisata.


Dua mobil putih terparkir rapi di depan Villa, mereka pun turun dari mobil dengan terkagum, memperhatikan suasana sekitar yang indah dan sejuk.


"Wawwww ... Villa yang indah!" ucap Elena saat baru turun dari mobil Ipan.


"Ini, beneran indah. Ibu seneng banget suasananya sejuk seperti di perkampungan." Ibu turun dari mobil dengan menggendong Arvi.


Dino dan Sita tersenyum bahagia melihat ibu sangat bahagia.


Dino sibuk menurunkan barang-barang, dan Juga menurunkan kereta dorong Arvi, begitu juga dengan Sita yang tengah kesusahan menurunkan kereta dorong Rafka, karna melakukannya sambil menggendong Rafka.


"Biar aku, Sayang. Kamu tunggu saja!" kata Dino pada sang istri.


Sita tersenyum sangat indah, dapat dilihat dari sorotan matanya saat memandang sang suami.


"Biar saya bantu," kata Ipan yang memperhatikan mereka.


Sita pun mundur dari situ.


"Thank, Pan," kata Dino.


"Santai saja bro."


Hahaha ...


"Ini!" Ipan membukakan lipatan kereta dorong untuk Rafka dan di serahkan pada Sita.


"Terimakasih," ucap Sita dengan senyuman yang tersembunyi dibalik cadarnya.

__ADS_1


"Sama-sama," kata Ipan.


Aditya, Bi Marni, dan Ratih pun turun dari mobil yang sama, saat Ratih datang dari kampung halaman, dia langsung ke rumah Sita, namun karana mobil Ipan sudah penuh Ratih pun dijemput Aditya.


Begitu turun dari mobil, Ratih merentangkan tangannya, memejamkan mata dan menghirup udara segar disana.


"Segar, sekali," ucapnya.


"Sangat segar," ucap Aditya saat sekilas melirik wajah Ratih, yang tidak diketahui Ratih.


"Ini Villa indah sekali, Bibi jadi inget kampung halaman, segar dan sejuk seperti disana," ucap Bi marni .


"Ayo semuanya, kita masuk!" Ajak Dino, lalu melangkah bersama dengan membawa barang-barangnya, Sita mendorong Rafka dan Ibu mendorong Arvi. Di susul oleh Ipan dan Elena di belakangnya lalu Aditya Ratih dan Bi Marni.


"Ipan, kata ibuku, kamu udah putus ya sama ... siapa itu? Syakila," tanya Elena mengiringi langkahnya.


"Ya, begitulah!" jawab Ipan singkat.


"Padahal ya, kamu itu setia, kenapa coba? Nasib orang setia itu tersakiti?" tanya Elena dengan melirik Ipan.


Deg ...


Tiba-tiba Ipan menghentikan langkahnya, dengan kening yang mengerut, membuat Elena pun ikut berhenti.


"Kita lagi liburan, jadi jangan bahas rasa sakit!" Ipan pun melanjutkan langkahnya.


Elena kesal mendapat tanggapan seperti itu dari Ipan.


"Ratih, apa kamu sudah baikan?" tanya Aditaya saat berjalan beriringan dengannya.


"Ya, aku harus tetap baik-baik saja bukan," jawabnya dengan senyuman.


"Ya, syukurlah, aku khawatir kamu terpuruk dengan keadaan," kata Aditya.


"Kamu mengkhawatirkan ku, Dit?" tanya Ratih dengan menunjukan wajah terkejut.


"Biasa aja wajahnya, gak usah terkejut gitu, apalagi kegeeran!" Aditya mempercepat langkahnya.


"Beneran loh, Dit! Aku kaget dengernya," kata Ratih.


Bi Marni yang masih di belakang mereka hanya tersenyum melihatnya.


"Bukankah hal yang wajar, bagi seseorang yang menghawatirkan seseorang, yang kita ketahui saat itu dirinya tengah berduka," jelas Aditya.


"Iya sih, emang wajar, tapi --"


"Bi Marni, Sini! Saya bawakan barang-barangnya," ucap Aditya memotong Ratih.


Ratih nampak kesal.

__ADS_1


Aditya menghampiri Bi Marni yang masih dibelakang Ratih.


"Biarin Pak, Bibi bisa kok!" tolak Bi Marni.


"Sini, ini berat, Bi. Saya khawatir encok Bibi kambuh," Aditya menekan kata khawatir sedikit keras, menyindir Ratih yang sudah kegeeran merasa dikhawatirkannya.


Hehemmm Ratih yang kesal pun nampak tesenyum.


"Biasa aja kali bilang khawatirnya," ucap Ratih lalu melangkah mendahului mereka.


Hehemmm Aditya dan Bi Marni pun tersenyum.


"Hahaha ... kalian ini, kalau ketemu pasti heboh, Bibi suka melihatnya, suasana jadi hidup," ucap Bi Marni.


"Ya hiduplah, Bi, orang kita semua belum mati," ucap Aditya.


"Hahaha ... pasti ni jawabannya. Udah ayo kita masuk!" kata Bi Marni.


"Ayo semua silahkan kalian pilih kamar masing-masing, kita istirahat dulu sebelum kita jalan-jalan keluar. Sayang, ini kamar kita," ucap Dino sambil membukakan pintu kamar.


"Berhubung kamar cuma empat, kalian tidur berdua-berdua, ya," lanjut Dino.


Semua mengangguk dan memilih kamar masing -masing. Ibu dan Bi marni, Aditya dan Ipan, Ratih dan Elena.


Selang beberapa menit Dino dan Sita masuk kamar, Arvi tiba-tiba menangis.


"Sayang, kamu kenapa? Cup-cu-cup!" Sita menggendong Arvi dari keretanya.


"Anak papa kenapa? Arvi sayang, hey, kenapa heum?"


"Apa kedinginan, ya? Ac-nya dimatikan saja sayang!" kata Sita.


"Ya udah aku matikan, ya." Dino mematikan ac-nya namun tetap saja Arvi menangis.


Sita pun membawa Arvi kembali ke luar, dan Arvi pun langsung diam.


"Heeumm ... rupanya Arvi pengen diluar papa, Sayang," kata Sita.


Dino pun membawa serta Rafka keluar.


"Oh, rupanya anak papa pengen diluar, kenapa? Di dalam dingin, ya!" kata Dino.


"Mungkin karna ac-nya baru dimatiin jadi masih dingin, biarkan ruangan hangat dulu nanti kita masuk kedalam," kata Sita.


"Lagian ni yang punya villa ngapain kamar pake ac juga, suasana sudah sejuk gini coba," ucap Dino


"Mungkin, ini villa buat pengantin baru, biar nempel terus," ucap Sita diiringi tawa.


"Apa? Jangan 'kan pengantin baru aku aja pengen nempel terus sama kamu." Dino langsung memeluk sang istri.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2