Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 001: Tragedi Hutan Kaskas


__ADS_3

"Yang Mulia, tetap di dalam! Kami akan menangani para serigala itu segera!" seru seorang komandan kesatria berzirah lengkap. Ia mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada para kesatria untuk menghunuskan pedang dan memperkuat kuda-kuda mereka.


Situasi ini benar-benar kacau. Kabut hutan semakin tebal, membuat suasana di sekitar semakin suram. Mentari perlahan tenggelam. Kegelapan pun merambat dari ufuk seberang.


Belum lama sejak lolongan serigala terdengar dari pedalaman Hutan Kaskas, predator-predator buas itu sekarang sudah sampai di sini. Mereka mencegat rombongan perjalanan Putri Mahkota el Vierum–Alice vi Alviero–seolah sudah menantikan kedatangannya.


Suara-suara gonggongan dan geraman mereka saling bersahutan. Sorot mata merah para serigala melotot tajam, menyebarkan hawa intimidasi yang mencekam. Mereka terlihat amat mengerikan seakan memiliki aura sihir yang jahat dan mematikan.


"Ada yang aneh dengan hewan-hewan buas ini," kata salah seorang kesatria. Ia menghunuskan pedangnya dan membangun kuda-kuda yang kokoh. Walaupun sudah terbiasa dengan perburuan, entah mengapa ia merasa terganggu dengan aura misterius dari serigala-serigala berbadan besar itu. Aura misterius itu membuat keringat dingin mengalir deras di dahinya.


"Ck! Siapa yang bilang kalau hutan ini aman? Ini jelas kesalahan yang fatal. Harusnya, kita masih bisa beristirahat dengan aman kalau berhenti di luar hutan," balas teman kesatrianya yang lain. Wajahnya terlihat kesal. Ia berdiri di samping kawannya dengan kuda-kuda yang tak kalah kokoh. Ketegangan memacu adrenalinnya. Jantungnya berdetak kencang. Dengan mata yang awas, ia siap menerima serangan para serigala kapan saja.


"Tetap fokus untuk melindungi Putri Mahkota el Vierum," tegas komandan kesatria, Ferrum de Phlato. Pria paruh baya itu berseru lantang meyakinkan seluruh rekan kesatrianya. Meski para serigala itu jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka, ia yakin bahwa pasukannya mampu menghadapi para predator buas itu. "Para serigala ini bukanlah tandingan kita, Kesatria Istana Mutiara."


“Ooo …!” Para kesatria berseru setuju. Moral mereka bangkit sampai menghapuskan atmosfer intimidasi para serigala. Genggaman pedang mereka pun semakin erat seakan tak akan ada yang bisa mengalahkan mereka.


Seekor serigala yang paling besar melolong. Lolongannya sangat panjang dan memekik seakan berkata bahwa usaha musuhnya hanyalah kesia-siaan belaka. Ia mengeluarkan aura intimidasi yang lebih besar lagi dan lagi. Aura mistisnya merembes kuat sampai mampu menumbangkan orang biasa yang ada di rombongan Putri Mahkota el Vierum itu.


Seekor serigala tiba-tiba maju menerkam. Kesatria yang diincarnya pun dengan ringan mengayunkan pedang. Ayunan itu dengan luwesnya menebas serigala yang menyerang. Darah bercucuran ke mana-mana. Bau anyir menyeruak. Tubuh serigala itu tumbang seketika dalam satu tebasan.

__ADS_1


Sesaat kemudian, para serigala yang lain menyerbu dengan ganas sambil melolong-lolong. Para predator berkelompok itu dengan cerdas mengepung musuh dan memecah belah mereka. Strategi itu seolah telah dilatih sejak lama sehingga sulit menemukan celah di sana.


Itu masih bukan masalah besar bagi para kesatria. Mereka sudah biasa melakukan perburuan di musim-musim tertentu. Para ahli pedang itu bahkan berpengalaman memburu hewan-hewan yang lebih buas dari serigala seperti beruang dan singa.


Dalam waktu singkat, para serigala ini akan dengan mudah dibereskan.


"Ya, ini hanyalah hal mudah," pikir Ferrum. Ia sudah mengalahkan dua ekor serigala yang mengeroyoknya. Matanya yang tajam melirik seekor serigala besar mengabaikan para kesatria dan melesat maju. Serigala itu mengincar kereta kuda Putri Mahkota el Vierum. Sontak, sang komandan ksatria menerjangnya hingga serigala besar itu tak dapat sedikit pun menyentuh kereta.


“Kamu pasti alpanya, kan?” tanya Ferrum seolah serigala besar itu dapat mengerti kata-katanya, “Ini memang aneh. Kenapa kamu mengincar kereta kuda Putri Mahkota el Vierum?”


Serigala besar itu jelas tidak menjawab. Ia justru kembali melesat. Diabaikannya Ferrum seakan yang menjadi incaran serigala besar itu memang hanya Putri Mahkota el Vierum. Gerakannya memang cepat, tapi Ferrum yang seorang komandan kesatria juga tidak kalah cepat.


“Serigala itu pasti hewan sihir,” tebak Ferrum dengan mata yang tak sedikit pun mengendurkan kewaspadaannya, “Penyihir mana yang mengutusmu ke mari, hah? Beraninya ia mengusik Putri Mahkota el Vierum!”


Ferrum menusuk serigala besar itu tepat di titik vitalnya. Ia pun segera membantingnya ke tanah agar predator buas itu cepat mati. Sayangnya, serigala itu masih mampu bangkit kembali selepas Ferrum mencabut pedangnya. Ia bahkan melukai kaki Ferrum dengan cakarnya.


“Hewan licik!” umpat Ferrum kesal. Ia pun memperbaiki kuda-kudanya. Matanya menatap ke sekitar sekilas. Para kesatrianya masih sibuk bertarung. Di antara mereka bahkan ada yang dikepung oleh beberapa ekor serigala.


“Gawat!?” Ferrum terkejut begitu melihat beberapa ekor serigala berusaha mencakar-cakar kereta kuda. Ia pun berlari ke serigala-serigala itu untuk menjauhkan mereka dari sana.

__ADS_1


"Semuanya!" teriak Ferrum, "Fokus lindungi Yang Mu— aargh…!?"


Seruan Ferrum terhenti seketika. Para kesatria terdekatnya pun menoleh. Mata mereka terbelalak melihat sebilah pedang yang menusuk dada komandan mereka dari belakang. Tusukan pedang itu jelas bukan perbuatan serigala. Ada pengkhianat di antara mereka.


Tak lama berselang, terdengar suara kekeh yang mengerikan dari seseorang di belakang sang komandan. Ia mencabut pedangnya sehingga pria berbadan tegap itu jatuh ke tanah. Momen itu membuat beberapa kesatria kehilangan fokusnya. Alhasil, mereka menjadi sasaran empuk para serigala.


"Sir Dominique! Apa yang Anda lakukan?" teriak seorang kesatria muda berbadan jangkung, berambut cepak cokelat, dan bermata biru seperti langit yang gelap. Raut mukanya mencetakkan kekesalan yang jelas. Ia mati-matian berusaha melawan beberapa ekor serigala sekaligus.


“Xixixi…!” Kekeh pria yang dipanggil Dominique itu masih belum berhenti. Ia pun menatap tajam pada anak muda yang dengan berani membentaknya.


"Solid van Denburg, bukankah sudah jelas bahwa aku membunuh komandan tua yang sombong ini?" jawab Dominique dengan suara yang cempreng, amat berbeda dengan suara serak-serak basah yang biasa ia gunakan di saat melatih para kesatria muda.


"Wakil Ketua! Kenapa Anda mem—!?" seorang kesatria lain hendak meminta penjelasan, tetapi tiga ekor serigala telah lebih dulu menyerang dan mencabik-cabik dirinya. Kesatria itu pun mati seketika.


Melihat kejadian itu, moral kesatria yang tersisa mulai jatuh. Mereka pun tumbang satu per satu. Hanya tinggal beberapa kesatria saja yang masih berusaha mati-matian melindungi kereta kuda.


Solid van Denburg merupakan salah satu yang masih berusaha bertahan sampai detik-detik terakhir. Putra kebanggaan Keluarga Marquez van Denburg itu masih berstatus sebagai kesatria magang di Istana Mutiara. Malang nian nasibnya. Ia langsung menyaksikan pembantaian di misi pertamanya.


Namun, dia adalah kesatria muda yang tangguh. Dengan kecerdasannya yang terlatih sejak kecil, ia mengamati situasi sambil mempertahankan fokus pada serigala yang mengincarnya. Matanya berkali-kali mengawasi Dominique yang baru saja membunuh Ferrum dan bertingkah aneh. Andai situasinya memungkinkan, wakil komandan yang gila itu pasti sudah ditangkap dan dihajarnya sekarang. Ia tidak takut meskipun usia dan pangkatnya jauh lebih rendah.

__ADS_1


"Bede**h sialan!"  Solid menggertakkan gigi-giginya. Ia berhasil membunuh seekor serigala lagi. Dilihatnya Dominique yang melangkah dengan santai ke pintu kereta kuda. Ketika ia mendekat, para serigala terdiam. Jelas sekali pengkhianat itu ingin melakukan sesuatu pada putri mahkota. Hal ini tak bisa Solid biarkan begitu saja.


"Sir Dominique!" seru Solid yang dengan terburu-buru mengejar wakil komandan kesatria itu. Gerakannya amat cepat sehingga tak ada seekor pun serigala yang dapat mengejarnya. Ia menyabetkan pedangnya ke Dominique dan berteriak dengan lantang, " Jangan dekati tuan putri dengan tanganmu yang kotor itu!"


__ADS_2