Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Surat dari Kota Marianna


__ADS_3

"Kondisinya memang tidak main-main," komentar Issac setelah mendengar penjelasan Lut. Penyesalan tercetak jelas di wajahnya. Ia terlihat memikirkan sesuatu yang rumit


"Ya, serikat juga mengeluhkan tentang hal ini. Sayangnya Kota Marianna berada di luar yurisdiksi Keluarga van Ryvat," Andreas menambahkan. Sebelum mendengar cerita dari Lut, ia sudah mendapat kabar dari lainnya. "Tapi mungkin cucuku itu bisa."


"Putri Mahkota el Vierum?" tebak Issac. Ia yakin bukan anak-anaknya yang dimaksud. Jadi sudah pasti itu adalah Alice.


"Benar, karena itu kita harus menyampaikan surat dari rakyat Kota Marianna ini kepada Putri Mahkota el Vierum," jawab Andreas, "Beliau gadis yang cerdas seperti ibunya. Perkataannya juga didengar oleh raja."


"Saya dengar Putri Mahkota el Vierum baru sampai di ibu kota hari ini," Issac mempertimbangkan. Harusnya Alice sudah datang sejak kemarin, tetapi putri kecil itu meminta sesuatu sebelum kembali. "Apa ini waktu yang tepat?"


"Setidaknya titipkan dulu surat itu pada adik saya. Apakah itu dapat dilakukan?" kali ini Lut yang memberi saran. Ada dua surat yang dibawanya. Satu surat pribadi, satu lagi surat permohonan. Sejak awal, rencana mereka adalah meminta Mainne untuk menyerahkan surat itu kepada Alice.


"Mudah saja," jawab Issac tanpa banyak berekspresi, "Jika Tuan Lut ingin sekalian bertemu dengan Nona Mainne, mungkin kami bisa menyampaikannya. Putri Mahkota el Vierum tidak akan melarang hal itu."


"Benarkah begitu, Tuan Marques Muda?" tanya Lut senang sampai nyaris mempermalukan dirinya sendiri. Var tidak berekspresi apa-apa. Tak ada kesenangan apa pun yang didapatkannya.


"Kita coba saja," Issac memberi senyuman hangat. Itu caranya berterima kasih karena Lut telah membuat ayahnya datang berkunjung. Sebelumnya, ia selalu kesulitan mencari keberadaan pria tua itu.


"Urusanku sudah selesai di sini," Andreas pun berdiri dari tempatnya. Issac ingin membujuknya agar tinggal sedikit lebih lama lagi. Akan tetapi, pria tua itu lebih dulu berkata, "Kuserahkan urusan ini padamu. Sampaikan salamku pada Tuan Putri Mahkota el Vierum."


"Baiklah, Ayahanda," Issac memberi hormatnya diikuti Lut dan juga Var. Diskusi kembali berlanjut setelah Andreas pergi. Mereka menceritakan setiap detail yang mereka ketahui sementara Issac mencocokkannya dengan informasi yang ia punya.


"Jadi, sejak lama Kalian mengetahui masalah kami?" Var bertanya penuh emosi, "Mengapa Kalian tidak bertindak dan mengusir babi itu?"


"Tenanglah, Var," kata Lut lalu meminta maaf kepada Issac. Marques muda itu terlihat tidak peduli. "Kami sudah bilang bahwa Kota Marianna berada di luar yurisdiksi kami, jadi kami tidak bisa berbuat banyak."

__ADS_1


"Kami mengerti, Tuan Marques Muda," Lut mewakili kawannya mengangguk. Kedua pemuda itu diizinkan untuk tinggal di Mansion van Ryvat sampai urusan mereka selesai. Beberapa hari kemudian, baru mereka mendapat undangan dari Istana Mutiara.


Surat mereka datang lebih dulu ke Istana Mutiara. Mainne tentu saja senang menerimanya. Ekspresi berubah-ubah saat membaca surat itu. Setelah membaca habis semua suratnya, dirinya diliputi kekhawatiran dan ketakutan.


...***...


"Keselamatan atas Tuan Putri Mahkota el Vierum, selamat datang kembali, Tuan Putri," sambut para gadis cendekia. Alice membalas salam mereka dengan ceria. Pagi tadi ia tiba-tiba diundang oleh Ratu Clara sebelum sempat kembali ke Istana Mutiara. Jadi, kedatangannya lebih telat dari yang direncanakan.


Hari sudah sore. Semua gadis cendekia sudah kembali dari Akademi Kerajaan. Kalau Alice sampai siang tadi, pasti ia hanya akan disambut penanggung jawab rumah tangga di istana ini. Karena itu, ia tidak ragu menyambut undangan Ratu Clara.


"Beruntungnya aku tidak bertemu dengan bocah itu," gerutu Alice dalam hati. Tentu saja yang dimaksud bocah itu adalah Antonio. Ia adalah siswa Akademi Kerajaan tahun pertama.


Alice belum bisa mendaftar di sana karena usianya belum cukup. Lagi pula, ia tidak membutuhkannya. Ia sudah mendapat gelar Honoris Causa setahun yang lalu karena metode perbaikan administrasinya. Jadi, ia bisa langsung fokus pada pekerjaannya sebagai Putri Mahkota el Vierum.


"Bagaimana keadaannya selama ini? Kuharap Istana Mutiara nyaman untuk Kalian," tanya Alice sambil berjalan menuju kantornya. Ia langsung berniat memeriksa pekerjaannya yang terlewat dua minggu ini.


"Kami sangat nyaman di sini," Akilla yang menjawab, "Hanya saja, aku masih tidak percaya Kamu mengatasi semua dokumen itu sendirian."


"Benar, saat pertama kali melihatnya," timpal Rosemary memijat keningnya, "aku sampai tak dapat berkedip saking banyaknya."


"Tentu saja tidak sendiri," jawab Alice menjelaskan, "Aku selalu bersama Kak Anna setiap kali memeriksanya. Selama ini aku banyak belajar berbagai hal darinya."


"Maksudmu Bibi Anna Saville?" Akilla memastikan bayangannya. Mereka sudah dekat dengan kantor luas yang sudah seperti perpustakaan itu. "Di mana beliau?"


"Kak Anna sedang dan urusan di Serikat Dagang Saville," Alice masuk ke dalam kantor dan seperti biasa, selalu ada gunungan perkamen di sana. Itu juga kadang membuat moralnya untuk bekerja turun. Akan tetapi, karena ia lebih menganggap pekerjaannya sebagai hobi, hal itu jarang terjadi.

__ADS_1


"Aku ingin meminta pertemuan dengan atasan tertinggi Serikat Dagang Saville," jelas Alice. Ia sudah mulai merapikan dokumen-dokumen di atas mejanya. Akilla dan Rosemary membantu gadis kecil itu menaruh dokumen di rak-rak yang tinggi.


Mereka hanya berniat mengecek sebentar saja karena Alice baru saja sampai dari perjalanan jauh. Jadi ia berniat untuk beristirahat lalu mengajak Akilla dan Rosemary untuk minum teh sembari mendiskusikan sesuatu.


"Alice, beberapa hari lalu kami kedatangan surat pribadi seseorang dari Balai Pengawas Wilayah," Rosemary mengingat sesuatu saat melihat sepucuk surat yang sudah terbuka segelnya, "Orang itu mengaku melihat keanehan dari laporan yang berasal dari kota pelabuhan di selatan. Aku lupa nama kotanya."


"Kota Marianna, itu kota asal Mainne," tambah Akilla. Ia juga sudah membaca surat itu. Karena surat itu ditunjukkan kepada Istana Mutiara, jadi mereka yang bertugas memeriksanya. Mereka berdua tidak memberitahukannya pada yang lain karena harus menunggu keputusan dari Alice.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan memeriksanya besok," Alice menaruh dokumen terakhir di laci meja. Itu adalah dokumen investasi Istana Mutiara yang rencananya akan ia urus pertama besok. "Ayo kita beristirahat dulu."


"Permisi," Aristia masuk ke kantor administrasi dengan tergesa-gesa. Wajah gadis berambut pirang itu terlihat cemas. Ia menyampaikan bahwa sesuatu telah terjadi pada Mainne. "Tiba-tiba tubuhnya bergetar setelah membaca sebuah surat. Kami tidak tahu mengapa. Sepertinya itu adalah sesuatu yang gawat. Madam Florence memintaku untuk memanggilmu, Alice."


"Mainne? Mungkinkah ini berkaitan dengan kota asalnya?" Akilla menebak-nebak. Aristia menggelengkan kepalanya tidak mengetahui pasti. Ia terus mengajak agar ketiga kawannya itu segera bergegas.


"Kita lihat dulu saja. Lagi pula, di sini sudah selesai," Alice memutuskan. Mereka pun segera menuju ke taman tempat Mainne berada. Gadis itu tengah menangis tersedu-sedu di sebuah kursi taman. Aria menepuk-nepuk punggungnya menenangkan. Sarjana Florence yang juga ada di sana. Ia membawa surat yang baru saja diterima Mainne.


"Apa yang terjadi?" tanya Alice khawatir. Walau di pergaulan sosial ia terlihat dingin, nyatanya ia sangat perhatian dengan orang-orang di sekitarnya.


"Kota Marianna mengalami masalah yang serius, Nona," Sarjana Florence yang menjawab. Wanita terpelajar berambut pirang itu terlihat serius. Ia menyerahkan surat yang dibawanya kepada Alice.


Selesai membaca surat itu, ekspresi Alice berubah pesat. Kemarahan terlihat jelas di sana. Tanpa sadar, tangan kirinya mengepal erat.


"Siapa yang mengirim surat ini? Apakah kebenaran sudah diperiksa?" tanya Alice geram.


"Surat itu dikirim oleh pesuruh Keluarga van Ryvat atas nama Lut Hamra," Sarjana Florence menjawab, "Kami akan menghubungi Balai Pengawas Pusat besok."

__ADS_1


"Mintakan juga semua laporan terkait Kota Marianna," Alice bertitah, "Tuliskan surat kepada Direktur Balai Pengawas Pusat untuk menyiapkannya segera."


__ADS_2