Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 008: Kerabat Dekat yang Jauh


__ADS_3

"Kondisinya sudah mulai membaik," suara lain menjawab. Itu adalah suara lembut yang membisikinya tadi. Suara itu juga yang membacakan lantunan lembut kepadanya, "Kita doakan saja agar ia cepat bangun dan sadar."


Alice ingin segera bangun. Ia tak mau membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Akan tetapi, hawa kantuk tiba-tiba membelai jiwanya. Dalam sekejap, ia kembali tertidur dalam buaian yang empuk.


Saat terbangun, Alice melihat langit-langit kelambu berwarna marun. Ia bangkit, lalu mendapati dirinya sedang duduk di sebuah kasur besar bermotif mawar. Bantal dan guling yang digunakannya pun bergambar senada. Cantik nian tempat tidurnya itu.


Alice pun ingat dengan benda-benda ini. Mereka adalah properti yang ada di kamar ibundanya. Warna tembok dan ornamennya pun tak jauh berbeda dari ingatannya. Hanya ada beberapa benda asing yang membedakannya.


"Syukurlah ternyata aku sudah sampai di rumah," batin Alice yang kemudian kembali berbaring. Ia pun memejamkan mata. Tak lama kemudian, pintu kamar berbunyi, menandakan seseorang tengah membukanya.


“Hai, sampai kapan kamu akan tidur?” tanya sebuah suara asing yang akhir-akhir ini sering Alice dengar. Suaranya nyaring dan halus. Dalam sekali dengar, Alice yakin sekali bahwa empunya suara itu adalah seorang gadis.


“Apakah kakak merekrut pelayan baru?” batin Alice dalam hati. Keningnya pun bergetar. Ia tidak ingat pernah memiliki seorang pelayan dengan suara seperti itu. Lagi pula, bagaimana gadis itu bisa dengan enteng berbicara santai padanya.


“Ini sudah hampir tiga hari,” kata empunya suara itu lagi, “Putri tidur, kamu masih belum mati, kan?”


“Alicia!” Suara lain memanggil. Suaranya serak. Mirip seperti suara Putra Mahkota Antonio el Vierum ketika sedang puber. “Apa yang kamu katakan? Bunda akan marah kalau kamu bilang begitu?”


“?” Alice tak mengerti maksud orang yang memanggilnya itu. Ia pun mulai merasakan keanehan. Dirinya mulai diserang keraguan. Batinnya bertanya dalam hati, “Apa bunda ada di sini?”


“Arnus,” balas gadis pemilik suara yang pertama masuk ke dalam kamar, “Kamu tidak bisa menyembunyikannya lagi dariku. Kamu pasti jatuh hati pada gadis ini, kan?”


“Hah? Sudah kubilang,” balas pemuda yang dipanggil Arnus, “Kamu terlalu banyak membaca cerita dongeng, Alicia. Jangan ganggu dia lagi. Biarkan dia beristirahat!”


“Alicia?” Alice baru sadar kalau ternyata bukan ia yang dipanggil oleh pemuda itu. Ia pun semakin bertanya-tanya dalam hati, “Siapa Alicia? Itu bukan aku, kan?”


“Lalu, membiarkanmu berduaan dengannya?” sindir gadis yang panggil Alicia itu. “Kamu pikir aku akan membiarkan adikku yang manis ini berduaan denganmu? Asal kamu tahu, dia sudah punya tunangan, tahu!”

__ADS_1


“Adik?” Alice semakin tidak mengerti. Ia hanya memiliki satu orang kakak. Itu pun laki-laki. “*S*iapa Alicia itu sebenarnya? Siapa pula tunangan yang dia maksud? Tunanganku? Apa maksudnya Antonio?”


“Aku tahu itu,” jawab Arnus dengan suara yang kesal, “Aku juga tidak ingin lama-lama di sini. Apa ada sumbatan di telingamu? Aku bilang, jangan ganggu dia. Dia bisa ketakutan kalau melihatmu saat bangun.”


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Alice malah merasa terganggu dan takut oleh suara Arnus yang mengintimidasi. “Kalian berdua itu sebenarnya siapa?”


“Tidak mung—!? Hai, lihat! Dia sudah bangun,” seru Alicia mengejutkan Alice. “Arnus, cepat panggil bunda!”


“Kamu pasti bohong lagi,” balas Arnus tak percaya.


“Tidak. Ke marilah! Dia sudah membuka matanya,” bantah Alicia. Ia pun menoleh kembali pada Alice. Dengan seulas senyum di wajahnya, gadis yang ayu itu menyapa, “Hai, Alice.”


“Siapa?” tanya Alice sambil mengedip-ngedipkan matanya. Dilihatnya seorang gadis asing bermata merah delima. Tak lama kemudian, muncul seorang pemuda bermata senada.


“Kakakmu,” jawab gadis berkulit seputih susu itu dengan bangga, “Alicia el Janna. Dia kembaranku, Arnus el Janna. Katanya, dia menemukanmu di hutan.”


“Di hutan?” Alice menelengkan kepalanya sedikit ke samping. Sebuah tanda tanya muncul di atas kepalanya. Memorinya pun mengalir dengan cepat. Ia segera ingat, “Oh! Jadi, si mata delima itu memang bukan kakak?”


“Kamu sudah lihat, kan?” tanya Alicia puas. Ia pun menatap Arnus dengan tajam. Sekejap kemudian, ia memerintahkan, “Cepat panggil bunda sekarang!”


“Iya, iya,” jawab Arnus dengan wajah yang tak ikhlas. “Tunggu saja di sini.”


“Apa kalian keluarga kerajaan?” tanya Alice menebak selepas Arnus keluar dari kamarnya. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya. Namun, yang paling menarik perhatiannya sekarang adalah gadis di depannya ini.


“Iya, kita sepupu. Kamu putrinya Bibi Evi, kan?” tanya Alicia sembari menyodorkan segelas minuman berwarna merah. Dengan cerewetnya, ia memaksa Alice untuk menerima minuman itu.  “Minumlah ini! Kamu pasti haus. Ini manis loh. Sebenarnya, ini minumanku tadi, tapi kamu saja yang minum.”


“Kakak kenal dengan ibuku?” tanya Alice heran. Ia menerima gelas yang Alicia berikan. Dari pupil delimanya yang membesar, terlihat rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


“Aku pernah bertemu dengan Bibi Evi sekali saat masih kecil,” jawab Alicia dengan senyum yang tak luntur sama sekali darinya. “Aku ingat, kamu masih bayi saat itu,”


“Benarkah?” tanya Alice kurang percaya. Ia mencoba mengingat-ingat daftar nama keluarganya. Sayang sekali, mau sejauh apa pun ia berusaha menggali memorinya, ia tidak ingat pernah memiliki saudara sepupu yang bernama Alicia dan Arnus.


“Kami bukan dari Keluarga el Vierum,” seolah mampu membaca pikirannya, Alicia menjawab satu pertanyaan yang bersemayam di kepala Alice, “Jadi, kamu tidak mungkin mengenal kami. Tapi, kamu mungkin tahu nama ibu kami, Elianna el Vierum.”


“Ibu …?” Alice berusaha mencerna informasi yang disampaikan oleh gadis bermata delima itu. Sekilas, matanya menatap ke pintu di belakang Alicia. Namun, tatapan sekilas itu sukses membuatnya berseru, “Bunda!?”


“Jangan banyak bergerak dulu,” cegah Alicia ketika Alice tiba-tiba saja hendak beranjak dari ranjangnya, “Kata dokter, kamu harus banyak beristirahat.”


“Benar, Alice. Bibi yang akan ke sana,” jawab seorang wanita yang datang bersama Arnus. Sama seperti Alice, Alicia, dan Arnus, wanita itu juga bermata merah delima. Ia menunjukkan senyum yang hangat dan lembut, mirip dengan senyuman Alicia.


“Bibi?” Alice sangat terkejut mendengarnya. Air matanya bahkan menggenang di pelupuk mata. Ada kerinduan yang membuncah di dalam hatinya.


“Benar, aku bibimu, Elianna Emine el Janna,” jawab wanita itu, “Aku dan ibumu adalah saudara kembar. Kamu pasti pernah mendengarnya, kan?”


“Bunda?” Suara Alice terdengar bergetar. Ekspresinya menunjukkan sebuah tanda tanya besar. Ia terlihat sangat syok. Sedetik kemudian, ia menangis terisak-isak.


“Tenang, Alice,” kata Elianna seraya memeluk gadis kecil itu, “Bibi ada di sini. Bibi akan menjadi bunda untuk Alice.”


Tangis Alice malah semakin menjadi di dalam pelukan bibinya. Gadis itu balas memeluk. Kedua tangan mungilnya bahkan mencengkeram gamis yang Elianna kenakan.


“Arnus,” bisik Alicia sembari meraih tangan saudara kembarnya. Kepalanya mendekati telinga bocah itu. Dengan penuh kepekaan, ia berbisik pada Arnus, “Ayo pergi dulu. Biar bunda yang mengurusnya.”


“Hm.” Arnus mengangguk setuju. Keduanya pun pergi begitu saja. Biarlah Alice menangis dalam pelukan ibunda mereka. Begitu sampai di luar, pemuda berambut hitam kemerahan itu pun bergumam, “Kasihan sekali.”


“Iya, kudengar, Bibi Evi sudah meninggal sejak dia masih kecil,” kata Alicia turut prihatin. Senyum lembut di bibirnya luntur. Ada kesedihan yang terukir oleh empati pada wajahnya.

__ADS_1


“Itu mungkin belum apa-apa,” timpal Arnus. Ia menyatukan kepalan tangannya di belakang kepala, menjadikannya sebagai sandaran. Ditatapnya langit-langit lorong istana yang cantik seraya berkata, “Kita beruntung sekali lahir di sini. Kalau tidak, kita juga akan berhadapan dengan para penyihir keji seperti dirinya.”


“Ya,” balas Alicia yang menundukkan pandangannya, membayangkan betapa mengerikannya hidup Alice sebagai Pemilik Istana Mutiara. “Kuharap, dia akan terus di sini saja. Aku tidak ingin dia menderita lagi. Arnus, kita harus menjaganya.”


__ADS_2