
"Bukannya Kamu sudah berteman dengannya?" Nana mengganti pertanyaannya. Ia terlihat kecewa. Padahal dengan menjadi dekat pada bocah itu, kelak Charlotte bisa merebut posisi putri mahkota.
"Ya, kami berteman," akhirnya Charlotte menjawab lirih sambil tertunduk. Segala hal yang telah dilaluinya selama ini tiba-tiba terbayang di benaknya. Ia menghela napasnya pendek dan memalingkan wajahnya dari Nana.
"Benarkah?" Nana mengerutkan kening. Ia yakin ada yang tidak beres pada hubungan adik didiknya itu dengan Putra Mahkota el Vierum. Ia pun mencengkram pundak Charlotte lalu bertanya khawatir, "Apa bocah itu melukaimu? Apa ia mengatakan hal yang buruk atau melecehkanmu? Aku tidak akan membiarkannya."
"Bukan, Kak," jawab Charlotte lirih sambil menggeleng. Ia tersenyum getir. Putra Mahkota el Vierum sama sekali tidak menyakitinya, ia sangat baik malah. Andai saja ia tidak ingat kalau Antonio sudah bertunangan, tentu ia tidak akan menjaga jarak.
"Katakan saja dengan jujur! Aku akan memberinya pelajaran bahkan walau ia seorang raja," teguh Nana. Matanya berkilat tajam menunjukkan keseriusan yang ada dalam dirinya. Kerutan di keningnya bertambah karena emosi.
Charlotte sekali lagi menggeleng. Ia melepaskan cengkraman Nana yang makin menguat seiring bertambahnya emosi yang ia luapkan. Charlotte pun menjelaskan dengan suara yang tetap lirih, "Putra Mahkota el Vierum sangat baik padaku. Hanya aku yang tidak dapat menjadi lebih dekat dengannya."
"Apa!? Bukankah Kamu bilang Kamu bisa berteman dengan siapa saja?" Nana melotot tajam. Jika saja Charlotte melihatnya, ia pasti merinding sekarang. Pembasmian yang berdarah itu telah membuat temperamennya tidak teratur.
"Kak, Putra Mahkota el Vierum sudah bertunangan. Aku tidak ingin menjadi duri dalam hubungan mereka," jelas Charlotte dengan jujur, "Aku hanya ingin berteman dengan Putri Mahkota el Vierum."
Nana berdecak kecewa. Kalau begini, rencana Menara Penyihir akan menjadi semakin sulit ke depannya bahkan gagal. Ia berdiri tegak di hadapan Charlotte yang duduk tertunduk itu.
"Padahal Kamu adalah harapan Menara Penyihir," ucap Nana datar. Ia pun meninggalkan Charlotte begitu saja. Keheningan segera membalut begitu saja.
Charlotte akhirnya terisak. Ia berlari ke kamarnya sebelum siapa pun mengetahuinya. Sejak hubungan antara putra dan putri mahkota merenggang, ia mulai menyadari maksud Menara Penyihir.
Mengapa ia diizinkan bereksperimen di istana pada usia dini? Mengapa ia selalu mewakili Menara Penyihir dalam pergaulan sosial? Mengapa Istana Mutiara tidak pernah mau menerima mereka?
__ADS_1
Ia tahu semua alasannya. Ia hanya diperalat oleh mereka. Tidak ada ketulusan dalam tindakan mereka. Karena itu, hati Charlotte menjadi kosong. Padahal ia mempelajari sihir untuk mengisi hatinya.
Balqis muncul seperti biasa saat Charlotte bersedih. Ia memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Bukannya hangat, malah hawa dingin yang terasa. Akan tetapi, Charlotte tidak masalah dengan itu. Ia hanya terus menumpahkan air matanya. Ia ingin meluapkan semua kemalangannya.
"Tenanglah, Lottie," bisik Balqis lembut, "Kamu bisa memilih jalanmu sendiri. Kamu tidak perlu mengikuti keinginan mereka."
Charlotte terus menangis dengan suara lihir. Ia tidak membalas hiburan kecil dari makhluk astral yang berkontrak dengannya itu. Ia hanya ingin menangis.
"Tidak akan ada yang bisa memaksamu," Balqis kembali berbisik, "Aku adalah putri bangsa jin. Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakiti teman kesayanganku."
Charlotte masih belum menjawab. Tangisnya bahkan belum mereda sama sekali. Balqis pun hanya bisa mengelus-elusnya sampai tenang.
"Balqis, apa benar aku bisa punya teman?" tanya Charlotte saat perasaannya sudah sedikit lebih baik. Ia masih sesekali terisak sambil memeluk bantal yang basah oleh air matanya. "Mereka semua hanya kepalsuan. Mereka dekat denganku hanya karena tersihir."
"Tidak apa-apa, Lottieku sayang," Balqis terus mengelus-elus Charlotte. Tubuhnya pucat nyaris transparan. Ia memeluk Charlotte dari belakang.
"Lottie, apa Kamu tidak pernah menganggapku di sisimu?" ujar Balqis. Ia seakan terbang di atas kepala Charlotte lalu duduk di hadapannya. "Aku adalah temanmu dan Kamu adalah temanku. Kita tidak pernah sendirian."
Charlotte kembali terdiam. Ia menatap Balqis dengan matanya yang bengkak. Putri bangsa jin itu tampak tersenyum padanya.
...***...
"Lottie, ayo berangkat," seru Melissa di dekat kereta kuda. Nana sudah berdiri di sampingnya. Ia berkacak pinggang menunggu adik didiknya yang baru selesai berdandan. Sungguh, menjadi gadis bangsawan itu merepotkan.
__ADS_1
"Ya, ayo," ucap Charlotte dengan senyum manis. Senyum yang selama ini hanyalah topeng yang dipakainya. Kesedihan dan kesendirian masih terasa dalam hatinya.
Di laboratorium Istana Ruby, Charlotte bekerja seperti biasa. Tersenyum seperti biasa. Senyuman yang dapat memikat siapa saja kecuali para putri dan gadis di Istana Mutiara.
Sampai siang hari tidak terjadi apa-apa. Ia sempat melihat Antonio yang hendak berangkat ke akademi, tapi ia langsung memalingkan wajah seperti biasa saat pandangan mereka bertemu. Ia tidak ingin lagi dekat dengan pemuda itu.
Bekerja membuat waktu cepat berlalu. Saat itu, mentari sudah menunjukkan kecondongan ke ufuk barat. Hari hampir sore. Pekerjaan hari ini hampir selesai.
"Nona de Vool," panggil suara yang Charlotte kenal. Ia berhenti, tapi tidak berpaling ke belakang. Ia hanya tertegun ingin sekali berpura-pura tidak mendengar. Kit penelitian di tangannya ingin ia gunakan sebagai alasan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku telah membuat kesalahan?" tanya suara itu kemudian. Charlotte tidak menjawab. Akhirnya ia pergi tanpa membuat alasan apa pun. Benar-benar berpura-pura tidak mendengarnya.
Antonio mengepalkan tangannya. Padahal ia sudah memberanikan diri untuk lebih dulu bertanya, tetapi gadis bahkan tidak mau menoleh padanya. Ia pun semakin tidak mengerti. Rasa bersalah yang tidak perlu muncul di hatinya.
Di kejauhan, Nana dan Melissa menyaksikan hal itu. Mereka melihat jelas bagaimana pemuda itu berulang kali mondar-mandir untuk mendekati adik didik mereka. Mereka juga melihat bagaimana Charlotte mengabaikannya.
"Kau sudah melihatnya. Begitulah keadaannya," ucap Melissa setelah menghela napas singkat. Nana malah menyeringai, "Itu bagus. Bocah itu sudah terpikat dengan bunga kita. Charlotte sangat tahu bagaimana cara menarik ulur dengan pria."
"Kelihatannya tidak begitu," Melissa berkomentar ragu dengan pengamatan Nana. Yah, tapi memang terlihat jelas bahwa pangeran kecil itu sudah terpaut dengan gadis kecil mereka.
"Kalau Charlotte bisa mendapatkan hati bocah itu, ia akan dapat merebut posisi putri mahkota," Nana penuh keyakinan, "Dengan begitu, kebangkitan para penyihir pun akan semakin mudah. Putri berdarah keluarga kerajaan itu juga akan terjerat di genggaman kita."
Nana dan Melissa pun pergi. Mereka tidak tahu bahwa bahkan bila Alice tidak pernah bertunangan dengan Antonio, ia akan tetap menjadi putri mahkota. Posisi itu didapatnya bukan karena perjodohan politik semata. Akan tetapi, buah dari usahanya di samping latar belakangnya.
__ADS_1
Jika pun nanti Antonio memutuskan pertunangannya dengan Alice, gadis itu akan tetap menjadi putri mahkota. Pondasinya di Istana Mutiara mulai kokoh. Keluarga-keluarga besar yang kuat berdiri tegak mendukungnya.
Justru Antoniolah yang berada dalam bahaya seandainya Alice memutuskan tali pertunanga mereka. Ia adalah pangeran yang lemah. Pendukung-pendukungnya adalah para tikus bertopeng yang sedikit demi sedikit merongrong kerajaan. Jika sampai di masa depan nanti ia tidak menyadarinya, ia hanya akan menjadi penguasa boneka.