Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Pisau yang Melesat


__ADS_3

Saat itu, suasana di ibu kota sangat berbeda. Tersiar kabar bahwa seorang nona bangsawan yang amat muda akan segera melaksanakan debutnya. Nama Tuan Putri Sarjana Kebijaksanaan yang telah meninggal tiga tahun lalu mulai disebut-sebut kembali. Antonio jadi teringat dengan bibinya yang luar biasa.


"Putri itu benar-benar mewarisi kebijaksanaan Duchess vi Alverio," kata orang-orang.


"Putranya tidak kalah juga. Dia juga menjadi pangeran termuda yang melaksanakan debutnya di pergaulan kelas atas."


"Tetapi ia sangat jarang keluar dari Duchy vi Alverio."


"Dengar-dengar, sekarang ia sedang mengasah kemampuannya untuk menggantikan posisi Duke vi Alverio di wilayah."


"Apakah perdana menteri serius memberikan tugas duke pada pewaris semuda itu?"


"Ya, karena itu Putri vi Alverio turut membantunya mengelola tugas duchess yang kosong."


"Sungguh? Padahal usianya baru delapan tahun."


Begitulah mulut-mulut para bangsawan gaduh. Antonio tidak terlalu peduli. Baginya, bermain itu lebih menyenangkan daripada memperhatikan hal-hal tidak berguna seperti itu.


Antonio terus tidak peduli sampai pintu gerbang Istana Mutiara yang tiga tahun belakangan ini disegel, dibuka kembali. Istana itu satu-satunya istana yang belum pernah dijelajahinya. Ia dikelilingi tembok tinggi yang amat licin dan datar sehingga Antonio tak dapat memanjatnya.


Pangeran kecil itu pernah berusaha mencari celah pada bentengnya, tetapi benteng itu terlampau rapat sehingga tak ada satu pun lubang yang tampak. Saat pintu gerbangnya dibuka, Antonio ingin segera menerobos ke dalam istana itu. Dengan kemampuan menyusupnya yang tinggi, pasti tidak akan ada yang menyadarinya.


Antonio dapat dengan sukses menyusup ke sana. Ia sampai di sebuah taman yang baru saja dibangun kembali. Belum sebagus Taman Bougainvillaea memang, tapi taman ini tak kalah luas dengan taman di Istana Ruby.


"Siapa di sana?!" sebuah suara nyaring mengagetkan Antonio saat itu bersamaan dengan sebilah pisau yang melesat ke arahnya. Untung pisau itu tidak mengenainya. Ia baru saja ketahuan oleh seorang gadis. Gadis yang segera berlari ketika bertatapan mata dengannya.


"Siapa dia? Bagaimana dia bisa ada di istana ini?" gumam Antonio lalu mengambil pisau yang tertancap di dekatnya.

__ADS_1


"Sungguh gadis yang mengerikan. Aku harus segera kabur dari sini," gumam Antonio dalam hati. Peluh keringat membasahi wajahnya. Ia tidak mau tiba-tiba datang lagi seseorang dan melempar pisau kepadanya. Istana itu sungguh menegerikan.


"Dia di sana!" seru gadis yang tadi meneriakinya. Ia sudah kembali sebelum Antonio dapat menegakkan kakinya.Lalu dilihatnya Ratu Clara yang terkejut melihat kehadirannya.


"Ya ampun, Bocah nakal. Mengapa Kamu ada di sini?" omel Ratu Clara dengan wajah yang mengerikan. Antonio ingin segera berlari akan tetapi Ratu Clara lebih cepat selangkah menjewer telinganya.


"Aduh, Ibu! Itu sakit," protes Antonio tanpa dapat melawan. Siapa sangka ia akan ketahuan oleh ibunya sendiri. Setelah ini ia akan mendapat hukum dan ceramah yang panjang dan lebar kali tinggi.


"An kecil," panggil Ratu Clara dengan seringai yang seram. Ia masih belum melepas jewerannya. "Jawab pertanyaan ibu."


"Aku... aku...," Antonio terpaksa menjawab, "Hanya penasaran dengan tempat ini."


"Lalu apa yang Kamu lakukan dengan pisau itu?" Ratu Clara menyorot pisau yang ada di tangan Antonio.


"Anak itu yang melemparnya padaku," kata Antonio membela diri. Ratu Clara hampir tidak mempercayainya, tapi gadis yang ditunjuk Antonio itu sudah lebih dulu menyahut dengan lantang, "Itu karena Kamu tiba-tiba datang dari semak-semak seperti pembunuh!"


"An?" wajah Ratu Clara semakin seram setelah mendengar penjelasan itu. Ia lalu menghela napas dan menyeret anaknya ke sebuah saung yang masih lengkap dengan peralatan minum teh dan beberapa camilan manis. Antonio mendapat firasat bahwa hukumannya akan ditunda dan menjadi lebih serius nanti.


"Mengapa Bibi malah membawa anak itu ke mari?" protes Alice tidak suka. Ratu Clara tersenyum maklum. Bagaimanapun, Istana Mutiara ini adalah properti milik putri.


"Putri Alice, perkenalkan, ia adalah Pangeran Antonio el Vierum. Panggil saja dia An," kata Rata Clara berusaha mencairkan suasana. Akan tetapi, itu tidak mempan kepada Alice. Sepanjang sisa hari itu, Alice tak sekali pun memudarkan tatapan jengkelnya terhadap Antonio.


Malam harinya, pesta debut putri termuda itu dilaksanakan. Antonio duduk di balkon yang tinggi khusus keluarga kerajaan. Ia melihat Alice masuk dengan gaun biru khas Keluarga vi Alverio yang amat cantik. Gadis itu ditemani kakaknya yang sudah Antonio kenal.


Alice benar-benar memukau seisi istana. Penampilannya sangat elegan walau gaun yang dipakainya longgar dan menutup rapat bagian yang harus ditutup. Ia seperti peri yang datang pada malam bulan purnama.


Antonio segera memalingkan wajahnya. Ia lalu mengingat tragedi yang menimpanya tadi siang. "Tidak! Anak itu gadis yang galak," gumamnya dalam hati. Akan tetapi, diam-diam matanya memandang kembali Alice. Ia tengah berdansa dengan kakaknya sebagai partner.

__ADS_1


Berkali-kali Antonio berusaha memalingkan pandangannya, berkali-kali pula ia mengembalikannya. Pesona gadis itu telah merasuk ke dalam hatinya. Ia lalu merasa bahwa putri yang anggun itu adalah cinta pertamanya.


Alice tidak berdansa lagi setelah berdansa dengan kakaknya. Setiap orang yang mendatanginya ditolaknya dengan tegas dan dingin. Sejak saat itu, dia dikenal sebagai Putri Musim Dingin oleh orang-orang.


...***...


Perpustakaan Istana Ruby


Baru beberapa hari lalu Antonio mengerti alasan Alice sangat susah didekati. Dia memiliki tabir tak kasat mata yang melindunginya dari kejahatan orang. Asal ia mengikuti tuntutan dari tabir aturan itu, ia akan selamanya terlindungi.


Sebenarnya tabir itu sendiri juga mengekang dan mengurung Alice. Akan tetapi, Alice dengan senang hati mendekam di dalamnya demi melindungi kesucian dan kehormatannya. Hidupnya diliputi ketenangan. Seluk beluk dunia tidak dapat asal mengusiknya. Sembari menunggu waktunya pulang ke haribaan Ilahi tiba, ia akan terus mengurung diri di dalamnya.


Itulah esensi syariat yang diturunkan Tuhan. Pada sejatinya ia melindungi dan merantai. Karena itu orang-orang yang beriman menganggap dunia tak ubahnya seperti penjara. Kelak, tempat istirahat mereka adalah surga-Nya.


"Alice, bagaimana pendapatmu terhadapku sebagai tunangan?" tanya Antonio dengan wajah yang bersemu merah. Entah bagaimana kata-kata itu dapat keluar dari mulutnya. Dilihatnya Putri Musim Dingin yang kini jadi tunangannya itu tersenyum hangat. Senyum yang baru pertama kali itu Antonio lihat. Alice pun menjawab pertanyaannya, "Anda seorang yang giat dan cerdas. Saya suka diri Anda yang seperti itu."


"Suka? Jadi Alice tidak membenciku sama sekali," batin Antonio lega. Hatinya berdebar. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia akhirnya diterima oleh cinta pertamanya.


"Anda juga orang yang sedikit perhatian dan agak peka," lanjut Alice tanpa melepas senyumnya kemudian, "Terima kasih untuk itu."


Nada bicara Alice itu terdengar seperti pujian. Akan tetapi, kata "sedikit" dan "agak" itu merupakan teguran untuk Antonio. Antonio pun hanya dapat membalasnya dengan senyum. Tentu ia akan berusaha untuk menjadi lebih perhatian dan peka terhadapnya.


"Apa pendapatmu tentang pertunangan kita?" tanya Antonio lagi ketika mereka sampai di taman. Hari itu, pagi sangat cerah. Mentari menyiramkan sinarnya sebagai berkah Tuhan untuk bumi. Bunga-bunga nan indah dan cantik bermekaran. Kupu-kupu menari-nari dengan senang.


"Pertunangan ini sangat bagus untuk kita," jawab Alice menuturkan pendapatnya, "Saya akan terus belajar dan menunggu sampai pantas untuk bersanding di sisi Yang Mulia," satu lagi sindiran Alice yang berhasil Antonio serap. "Selama masa itu, saya harap kita dapat saling menjaga kehormatan dan menundukkan pandangan demi kelanggengan hubungan kita di masa depan."


"Baiklah," kata Antonio menyanggupi harapan Alice. Kemudian dilihatnya senyum Alice yang amat manis dan hangat. Pipi gadis itu bersemu merah untuk pertama kalinya. Butir-butir cinta mulai membasahi di sana.

__ADS_1


"Menghadap Putra Mahkota dan Putri Mahkota el Vierum," Siapa sangka harapan Alice itu akan pupus bahkan sebelum ia sempat meninggalkan istana untuk pulang ke wilayahnya. Keduanya bertemu seorang gadis yang amat jelita rupanya. Senyumnya amat tulus dan melenakan seperti sihir yang berwarna-warni. Mata hijaunya yang tenang bagai pisau yang melesat menuju hati.


Pertemuan hari itu tidak membuahkan apa-apa selain harapan palsu dan luka di hati Alice.


__ADS_2