Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Masalah Kota Marianna


__ADS_3

Kediaman Count de Bourne, Direktur Balai Pengawas Pusat


"Apa? Istana Mutiara meminta laporan mengenai Kota Marianna?" Count de Bourne meletakkan minumannya dan kembali fokus membaca sepucuk surat yang ia terima. Sebuah lentera redup menemani malamnya itu. Sisa-sisa perkamen yang belum dibereskan masih menumpuk di atas meja.


"Tunggu, aku tidak pernah mendengarnya. Bagaimana Istana Mutiara mendapat info seperti ini?" Count de Bourne menekan dahinya berusaha fokus. Pria berkumis itu yakin tidak pernah mendengar masalah dalam laporan terkait Kota Marianna. Wajahnya yang mulai keriput mengerut.


"Sebas, siapkan kuda dan ikut aku ke Balai Pengawas Pusat," Count de Bourne masih belum dapat percaya. Ia mengikuti arahan dalam surat itu untuk memeriksa laporannya segera. Esok pagi, semua laporan selama beberapa bulan terakhir ini harus diserahkan ke Istana Mutiara.


Malam masih belum terlalu larut. Mansion-mansion para bangsawan masih terang-benderang. Jadi, Count de Bourne dan kepala pelayannya, Sebas tidak kesulitan pergi ke Balai Pengawas Pusat. Mereka mengunjungi rumah beberapa pegawai lain terlebih dahulu sebelum pergi ke sana.


"Mengapa tiba-tiba ada tugas lembur seperti ini?" keluh seorang pegawai. Ia sangat ingin menolaknya kalau saja yang datang bukan Direktur Balai Pengawas Pusat langsung. Pegawai lain menimpali, "Kita harus memeriksa ulang laporan dari salah satu kota yang dicurigai telah memalsukan dokumen."


"Apakah itu benar-benar ada?"


"Semua yang berkumpul di sini adalah auditor Kota Marianna. Apa kita telah melewatkan sesuatu yang penting?"


"Kulihat laporan-laporan itu biasa-biasa saja. Apanya yang mencurigakan?"


"Istana Mutiara mendapat komplain berturut-turut hari ini. Serikat Dagang Saville bahkan sudah mengonfirmasi kebenaran berita yang dibawanya," jelas Count de Bourne.


Sebelum mengirim suratnya, Alice sudah menghubungi Anna untuk menyelidiki masalah yang berada di Kota Marianna. Serikat pun mengirim setiap detail pengamatannya. Mereka mengalami kerugian yang cukup besar di kota itu.


"Serikat Dagang Saville? Pantas saja langsung diterima oleh Istana Mutiara," komentar seorang pegawai. Kedekatan Istana Mutiara dan Serikat Dagang Saville sudah diketahui khalayak ramai. Walau mereka bukan berasal dari kalangan bangsawan dalam lingkar Kerajaan el Vierum, mereka selalu menjaga amanat sehingga mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari pemerintah kerajaan.


"Diam dan lekas cari!" Count de Bourne membentak para pegawainya yang masih saja berisik walau sudah sampai di Balai Pengawas Pusat. Tangannya lincah memilah-milah setiap dokumen yang dicarinya.

__ADS_1


Di ruang lain, sekelompok orang yang akhir-akhir ini berurusan langsung dengan Kota Marianna berkumpul. Tidak semua auditor Kota Marianna memang. Akan tetapi, itu sudah lebih dari setengah anggota mereka.


"Bagaimana ini? Istana Mutiara bahkan sudah mengetahuinya," seorang bangsawan muda bertanya penuh kekhawatiran, "Hanya tinggal menunggu waktu sampai kabar ini di dengar baginda raja."


"Ck!" decak seorang bangsawan yang lebih senior, "Memang apa yang bisa dilakukan gadis kecil yang baru diangkat menjadi putri mahkota itu?"


"Ya, walaupun reputasinya sangat baik setahun terakhir ini, tidak menjamin ia dapat menemukan bukti pada dokumen-dokumen yang kita buat."


"Semua sudah dipastikan tidak ada hal yang mencurigakan. Kirimkan saja dokumen yang kita punya. Putri kecil itu tidak akan menemukan apa-apa."


Di antara para pegawai korup di ruangan itu, seorang pria paruh baya tengah gemetar ketakutan. Fakta bahwa Istana Mutiara sudah mencurigai pemalsuan dokumen itu membuatnya tak dapat tenang. Tengah malam itu, ia mengetuk pintu cabang Menara Penyihir di ibu kota. Hari berikutnya, ia menghilang tak pernah lagi diketahui rimbanya.


Esoknya, Count de Bourne langsung yang mengantarkan semua dokumen terkait Kota Marianna kepada Alice. Ia sudah memeriksa beberapa di antara dan tidak menerima keanehan apa pun.


Selama ini, ia hanya berkutat dengan lembar-lembar dokumen tanpa tahu keadaan lapangan. Dengan data yang dilaporkan utusannya, ia tahu bahwa tidak ada masalah apa-apa di kota pelabuhan itu.


"Bagaimana bisa balai sampai tidak mengetahui hal ini, Count de Bourne?" tanya Alice kemudian.


Count de Bourne masih terdiam. Matanya memeriksa lebih teliti surat penarikan pajak yang tidak masuk akal di tangannya. Surat itu memiliki cap asli penguasa Kota Marianna. Seratus persen resmi tanpa ada kepalsuan.


"Aku meminta itu dari serikat kemarin," Alice seakan dapat membaca ekspresi tak percaya Count de Bourne yang bertanya-tanya dari mana ia mendapat bukti itu, "Mereka terlalu murah hati sampai tidak mengadukannya kecuali jika diminta."


"Mohon maaf atas kelalaian hamba, Tuan Putri," Count de Bourne mebungkuk dalam. Keringat dingin entah sejak kapan mengucur di dahinya. Tekanan kharisma yang Alice pancarkan tak kalah jauh dengan ibunya, Sang Sarjana Kebijaksanaan. Tatapan dinginnya yang menusuk itu membuat Count de Bourne tak berani bertatapan langsung dengannya.


"Apakah balai tidak menjalankan tugasnya dengan benar? Bagaimana Anda akan bertanggung jawab, Count de Bourne?" walau suaranya terdengar tenang, pertanyaan Alice itu seperti bongkahan es dingin yang amat menekan. Selama beberapa saat, Count de Bourne terus menunduk dan tidak dapat menjawab apa-apa.

__ADS_1


Anna yang sejak tadi duduk di meja lain dalam ruangan itu juga merasakan tekanan yang Alice pancarkan. Ia nyaris kehilangan fokus dengan pekerjaannya. Gadis berkerudung itu sampai lupa bahwa nonanya masihlah seorang anak gadis berusia 10 tahun.


Saat usianya sama dengan Alice dulu, ia masih sering bermain di samping jadwal belajarnya yang padat. Ia tak dapat dibandingkan dengan putri mungil itu walau ia dianggap jenius di antara teman-temannya dulu.


"Kemungkinan ada tikus berseragam di antara pegawai Balai Pengawas, Tuan Putri," akhirnya Count de Bourne menjawab. Ia masih mebungkuk dalam, tak berani menegakkan tubuhnya sampai diizinkan. "Ini adalah kesalahan hamba karena tidak menyadarinya."


"Berdirilah!" Alice pun mengungkapkan kekecewaannya, "Istana Mutiara telah memberimu amanah ini karena Kamu selalu memiliki reputasi yang baik. Aku akan melaporkan masalah ini kepada yang mulia raja."


Alice terdiam sebentar. Ia tidak menemukan gerak-gerik mencurigakan dari pria paruh baya di hadapannya itu. Penyesalan amat kental memenuhi wajah pria bangsawan itu. Alice pun memutuskan, "Bersihkan Balai Pengawas dari setiap kotoran hina yang menghalangi kinerjanya. Buktikan bahwa Kamu adalah seorang yang patut dipercaya!"


"Baik, Tuan Putri," jawab Count de Bourne. Jelas perintah itu menyuruhnya untuk menyelidiki ulang setiap pegawai di Balai Pengawas. Pekerjaannya akan semakin berat setelah ini. Ia pun pamit undur diri. Dengan wajah geram, ia pergi dari Istana Mutiara. Setelah itu, banyak perubahan terjadi pada Balai Pengawas.


...***...


Kediaman Penguasa Kota Marianna


Malam saat Count de Bourne melakukan pemeriksaan di Balai Pengawas Pusat, kediaman Viscount Illumity sedang mengadakan pesta. Mereka tidak tahu bahwa Kota Marianna tengah dicurigai. Jadi, tak ada seorang pun yang berhati-hati di sana. Mereka pikir, "Segalanya telah berjalan dengan baik sejak berbulan-bulan lalu."


"Kapten, bagaimana tentang bunga yang baru kami petik?" tanya Viscount Illumity dengan senyum penjilat. Ia membawa segelas wine di tangannya. Pria gendut dengan lemak yang berlapis-lapis itu jelas tidak membicarakan bunga sebenarnya. Ia menjamu pria di hadapannya dengan seorang gadis yang baru ia culik kemarin.


Pria besar dengan janggut dan kumis tebal di hadapan Viscount Illumity terkekeh keras. Suaranya sampai menarik perhatian para tamu yang lain. Akan tetapi, tidak ada yang berani menegurnya. Ia adalah sosok yang amat ditakuti di kota pelabuhan ini.


"Dia sangat cantik dan elok. Kamu harus lebih banyak mencari yang seperti itu untukku lain kali," pria yang dipanggil Kapten itu kembali terkekeh.


Di antara ratusan tamu, seorang pemuda tampak berdiri dan memberi tatapan tajam pada kedua tokoh itu. Anggur di tangannya tidak ia minum sama sekali. Ya, sejak awal ia memang tidak berniat meminumnya.

__ADS_1


"Kapan babi busuk itu akan ditindak?" gumamnya geram, "Apa Kerajaan el Vierum sudah kehilangan wibawanya sampai membiarkan hal ini?"


__ADS_2