
Rombongan Akademi Kerajaan sampai di County de Vool pada sore hari. Mereka langsung diarahkan ke penginapan terbesar yang ada di sana. Penginapan itu jadi riuh oleh anak-anak akademi yang didominasi bangsawan.
"Ini kampung halamannya kan? Apa kami dapat bertemu nanti?" gumam Antonio dalam kesendiriannya. Ia baru saja selesai makan malam. Karena terlalu banyak pikiran, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar duluan.
"Tidak! Aku tidak boleh berpikir seperti itu!" Antonio menggeleng keras. Ia selalu begitu setiap teringat dengan peringatan ibunya. Untaian kata dari sang ratu itu seakan menjadi rantai yang mengekangnya agar tidak jatuh ke jurang.
"Argh... apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Antonio menjambak rambutnya sendiri. Ia tak tahan dengan kegusaran yang tiada kunjung berhenti itu. Ia sampai lupa bagaimana rasa ketenteraman dan ketenangan yang membuatnya merasa bebas dulu.
"Kenapa aku jadi seperti ini?" keluh Antonio dengan sesal. Ia pun menatap purnama yang masih sempurna di langit. Cahaya keperakannya membawa pesona bersama bintang-bintang yang menemaninya bak mutiara, tapi Antonio sama sekali tak dapat merasakannya.
Ia pun menghela napas. Kegelisahan itu masih betah mengusiknya. Ia sangat sebal saking peningnya memikirkan hal itu.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menambah kekesalan Antonio. Ia sedang tidak ingin menerima tamu sekarang. Apalagi pengganggu yang hanya akan meledeknya seperti Solid.
"Ada apa?" tanya Antonio dingin begitu membuka pintu dan mendapati Solid di sana.
"Kawan, kondisimu buruk sekali," ucap Solid begitu melihat wajah galak adik didiknya. Ia sudah menyadari itu sejak kemarin. Ia yakin masalah yang dialami pangeran itu tidaklah sederhana.
"Pergilah jika tidak ada urusan," Antonio hendak menutup kembali pintunya, Solid pun buru-buru menahannya, "Tunggu! Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan, An. Ayo kita sparing."
"Aku lelah," Antonio kembali berniat menutup pintunya, tapi kekuatan Solid lebih besar dalam menahannya.
"Ayolah, kamu harus melepas beban batinmu itu dengan banyak bergerak. Apa kamu ingin terus mengurung diri seperti ini?" pancing Solid, "Keluarlah! Tuan putri akan sedih jika melihatmu jadi pemalas begini."
"Heh? Omong kosong," Antonio merespon saat tunangannya disebut-sebut, "Alih-alih bersedih, ia pasti akan mengomeliku sampai bagi tanpa henti. Asal kamu tahu, dia adalah gadis paling cerewet yang kukenal."
"Benarkah?" Solid hanya mengenal kesan Alice yang dingin. Ia tak bisa membayangkan gadis kecil berwajah es itu banyak mengomel.
"Ck! Ayo pergi," akhirnya Antonio tergugah. Ia membuka pintu lebar-lebar dengan wajah yang masih terlihat kesal. Diambilnya sebuah pedang yang tergeletak di meja.
"Oh, ini baru An yang kukenal," Solid mengikuti Antonio yang mendahuluinya berjalan di lorong. Keduanya menuju ke sebuah lapang tanding di dekat aula penginapan. Para murid riuh berkumpul saat melihat mereka mulai membuat kuda-kuda di tengah lapangan.
"Mereka mulai lagi,"
"Apa kali ini pangeran akan menang?"
__ADS_1
"Senior Solid sangat keren. Aku selalu mendukungnya."
"Aku pernah bertanding dengan pangeran. Ia sangat hebat."
"Mereka sungguh pilar kerajaan ini. Apalah kita yang hanya remahan roti?"
Begitulah mereka saling berpendapat. Di lapangan, Antonio dan Solid sudah mulai menghunus pedang. Obor-obor dinyalakan di setiap sisi lapangan untuk menjadi penerangan.
Seperti biasa, Antonio menyerang lebih dulu. Ia menyabetkan pedangnya sekuat tenaga, tatapi pertahan Solid yang kuat membuat pedang kayu Antonio terpental.
Solid pun tersenyum. Ia memainkan pedangnya dengan luwes tanpa sedikit pun mengincar Antonio. Sejak tadi, ia hanya mempermainkan pangeran muda itu dalam teknik pedangnya. Ia ingin membantu anak yang sedang galau itu untuk mengalihkan pikiran walaupun hanya sedikit.
"Kamu sudah cukup berkembang dengan baik, An," puji Solid yang tidak direspon oleh lawannya. Antonio masih fokus mencari celah pada pertahanan Solid. Dari penginapan terlihat kalau Solid sedang terdesak, tapi nyatanya tidak. Antoniolah yang mulai kelelahan karena ia sendiri yang sejak tadi menyerang secara frontal, sedangkan Solid tenang-tenang saja tanpa mengendorkan penjagaan.
Pada akhirnya, Antonio tumbang dengan terengah-engah. Ia sudah tak kuat lagi memegang pedang. Emosinya pun sudah terluapkan.
"Sudah lebih baik?" Solid duduk di samping Antonio yang berbaring tanpa tahu malu. Antonio hanya tersenyum simpul. Hatinya sudah sedikit lebih lega sekarang.
"Terima kasih," Antonio bangkit. Ia masih berusaha mengatur napasnya. Peluh keringat membasahi wajahnya.
"Tidak!" tegas Antonio, "Kamu tidak perlu tahu."
...***...
Alice menatap fajar yang hangat. Cahaya kemerahannya membawa kelembutan. Rambut gadis kecil itu pun ikut memerah karenanya. Ia sangat suka melihat pagi yang terbit dengan malu-malunya.
Ini adalah hari keberangkatannya untuk menyusul rombongan Akademi Kerajaan. Kafilahnya sudah sudah disiapkan sedemikian rupa. Jumlah pengawalnya sama dengan saat ia berangkat ke March van Ryvat. Tiga puluh kesatria di depan, tiga puluh kesatria pula di belakang. Hanya personelnya yang diganti.
"Nona, kita akan segera berangkat ke Kediaman vi Alverio," panggil Anna dari belakang. Seperti biasa, Alice akan berpamitan dengan ayahnya dulu sebelum pergi dari ibu kota. Ia harus mengucapkan salam sebagai seorang putri yang berbakti.
Para gadis cendekia juga sudah siap. Mereka telah menunggu di lorong. Semuanya dalam keadaan fit dan sehat. Aria yang biasanya pendiam bahkan terlihat semangat. Alice yakin gadis berambut perak itu akan jadi ratu pada acara kali ini. Ia adalah srikandi terkuat Istana Mutiara.
"Semua sudah siap! Ayo kita berangkat," seru Aristia semangat. Mereka pun meluncur ke Kediaman vi Alverio. Duke vi Alverio sudah menunggu di depan sana.
"Keselamatan atas Yang Mulia Duke vi Alverio," salam Alice pada ayahnya diikuti para gadis cendekia juga Anna dan Florence.
Duke vi Alverio tersenyum dan menjawab salam itu. Ia mengelus rambut Alice yang kemerahan karena sinar mentari, lalu ia peluk anak gadis semata wayangnya itu. Ia pun berbisik dengan lembut, "Ayah sangat bangga padamu, Nak. Ibundamu pasti juga sangat bangga padamu. Kamu sudah menjadi putri yang hebat sekarang. Sehatlah selalu."
__ADS_1
"Ayah juga," Alice mengecup pipi ayahnya kemudian memberikan seulas senyum paling indah yang pernah ada, "Terima kasih atas segala yang Ayah berikan pada kami dan kerajaan ini."
"Teman-temanmu sudah menunggu," Duke vi Alverio melepas pelukan anak gadisnya. Ia tersenyum dengan teduh menyembunyikan segala kelelahannya mengurus negara. Ia pun mengantar kepergian putrinya, "Berangkatlah sekarang, Yang Mulia Putri."
Alice mengedipkan matanya beberapa kali. Ia seakan sedang menyelidiki sesuatu. Tak lama kemudian, ia pun menyampaikan salam perpisahan dan beranjak ke kereta kuda.
"Yang Mulia Duke!" seruan seorang ajudan Duke vi Alverio menghentikan langkah Alice. Ia segera menoleh dengan wajah yang amat cemas. Dilihatnya sang ayah tengah berlutut menahan sakit di dada sekarang. Suara batuk-batuk terdengar darinya.
"Ayah!" Alice pun berlari tanpa peduli etiket lagi. Biasanya, ia selalu bersikap anggun bahkan dengan cara berjalannya. Namun, keadaan memaksanya demikian.
Tak ada yang protes. Para gadis cendekia tercengang. Butler yang bertanggung jawab atas Kediaman vi Alverio segera bertindak memberi instruksi. Para kesatria langsung bertindak.
"Ayah! apa yang terjadi!?" tanya Alice dengan panik. Ada darah yang keluar bersama batuk Duke vi Alverio. Itu membuat Alice semakin resah.
"Padahal tinggal sedikit lagi," gumam Duke vi Alverio, "Nak, berangkatlah segera. Ayah baik-baik saja di sini."
"Tidak!" tegas Alice. Ia pun segera memberi perintah kepada Florence, "Madam, aku tidak bisa ikut pergi sekarang. Kalian berangkatlah duluan! Ini adalah hak kalian sebagai bagian dari Akademi Kerajaan."
"Ta... tapi, Yang Mulia...," Florence ragu-ragu, "Kami tidak bisa...."
"Jangan pedulikan aku, aku tidak ada kewajiban untuk ke sana," potong Alice. Ia lebih khawatir dengan kondisi ayahnya sekarang. Duke vi Alverio lagi-lagi menyuruhnya untuk pergi, tapi Alice malah mengomel, "Ayah sedang sakit. Bagaimana aku bisa pergi? Aku tidak mau jadi anak durhaka. Tolong jangan menganggap acara itu lebih penting dari Ayah."
Duke vi Alverio tidak dapat membantah. Alice menyuruh butler untuk bergerak lebih cepat. Pada akhirnya, keberangkatan pun ditunda.
Duke vi Alverio pun segera diperiksa dan disuruh untuk beristirahat. Raja Claudius sampai datang karena kesepian di ruang kerja, tapi ia tidak berani memaksa sang duke bekerja setelah melihat Alice yang menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin.
"Tenanglah, Alice," kilah Raja Claudius, "Aku hanya ingin menjenguk ayahmu."
Para gadis cendekia memutuskan untuk membatalkan keberangkatan, tapi Alice melarang mereka.
"Kalian harus tetap ke sana," tegas Alice, "Istana Mutiara juga terdaftar sebagai bagian dari acara itu. Tolong jadilah wakil untuk kami."
"Kami mengerti," Rosemary mewakili teman-temannya, "Namun, setidaknya tunjuk salah satu dari kami untuk menemanimu."
Alice terdiam. Ia pun memilih Akilla. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengutus para gadis cendekia yang lain secara resmi sebagai Pemilik Istana Mutiara sekaligus Putri Mahkota el Vierum.
"Kami memenuhi perintah, Yang Mulia," para gadis cendekia memberi hormat dan langsung pamit. Hari itu juga mereka berangkat. Mereka pergi dengan menggenggam amanah Sang Putri Musim Dingin.
__ADS_1