
"Apa mereka sungguh akan sampai di wilayah ducy?" tanya Alice yang tengah dalam perjalanan ke luar dari ibu kota. Ia baru mendapatkan sebuah surat bahwa Rosemary dan anak-anak akademi lainnya sedang dalam perjalanan menuju Ducy vi Alverio.
"Surat itu datang dari seorang peneliti terpercaya," jelas Anna tanpa keraguan sedikit pun, "Saya sangat mempercayainya. Untuk saat ini, setidaknya kita memastikan keberadaan mereka dulu."
"Sayang sekali, kita membutuhkan waktu tujuh hari untuk sampai ke sana," ucap Alice sambil menatap ke luar jendela. Ia ke luar ibu kota dengan alasan ingin menyusul kakaknya yang sudah kembali ke ducy lebih dulu.
"Tenang saja," timpal Akilla yang duduk di hadapan Alice, "Kita sudah mengirim kurir kepada rombongan Duke Muda vi Alverio. Paling tidak, mereka akan sampai tepat saat teman-teman sampai di Desa Alder."
"Ini sangat aneh," Alice termenung memikirkan kasus yang menimpa teman-teman, "Bagaimana mereka bisa berpindah sejauh itu hanya dalam waktu sehari?"
"Sihir," jawab Anna datar, "Kemungkinan, mereka disihir dengan tujuan tertentu."
"Apa ini ulah Menara Sihir lagi?" Alice berusaha menebak. Anna pun membalasnya dengan gelengan pelan, lantas berkata, "Saya tidak tahu. Kita tidak punya bukti untuk menyalahkan mereka. Selama ini, mereka selalu berdalih bahwa ada penyihir-penyihir liar yang berkeliaran di seantero kontinen."
"Yang penting, teman-teman kita selamat," Akilla kembali menimpali, "Itu adalah prioritas kita untuk saat ini."
"Kamu benar," Alice mengangguk setuju. Andai ia punya kendaraan yang lebih cepat dari kuda, ia ingin sekali menggunakannya untuk menjemput Rosemary dan yang lainnya. "Semoga saja kakak segera mendapatkan surat itu agar membentuk tim pencarian di sana."
__ADS_1
Saat Alice sedang dalam perjalanan kembali ke wilayah ducy, Count de Vool dan para bangsawan tengah berusaha mati-matian untuk melakukan pencarian. Mereka menyusuri setiap jengkal Hutan Kaskas yang ada di sekitar tempat berburu. Semakin hari, wilayah pencarian mereka semakin lebar. Namun, mereka belum juga mendapat petunjuk yang berarti.
"Aria, bagaimana ini?" tanya Aristia cemas.
Gadis yang ditanya pun juga sama bingungnya. Ini sudah hampir seminggu sejak teman-temannya menghilang. Keributan pun mulai tersulut di sana-sini. Gosip buruk tersebar. Pihak yang paling terkena dampaknya adalah Keluarga de Vool. Bagaimanapun juga, mereka adalah penyelenggara acara yang paling bertanggung jawab atas segala masalah yang terjadi.
"Apa kita harus pulang dulu dan mengabarkannya kepada tuan putri?" Mainne ikut bertanya. Aria pun menggeleng, lantas menjawab, "Ibu kota pasti sudah mendengar kabar ini. Aku juga sudah menghubungi Istana Mutiara sejak kemarin lusa. Semoga saja surat itu lekas sampai. Untuk saat ini, kita harus fokus untuk menemukan Rosemary dan yang lainnya."
"Tapi," Aristia terlihat murung, "Aku merasa tak berguna di sini. Aku tidak sehebat Aria yang bisa ikut dalam regu pencarian. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Kalian tidak perlu melakukan apa pun," seorang pria paruh baya tiba-tiba menghampiri mereka, "Serahkan semuanya pada para kesatria. Kami akan membawa pulang teman-teman kalian. Jadi, kalian tidak perlu risau dan berlindunglah dengan tenang di kota. Termasuk Anda, Lady Aria de Ernest."
"Tapi–" Aria ingin protes, tapi gelengan tegas pria paruh baya itu membuatnya urung. Selama ini, ia bisa ikut ke dalam rombongan pencarian karena ia merupakan korban selamat. Namun, dengan bantuannya pun, pencarian tak kunjung membuahkan hasil.
"Mohon pengertiannya. Kami tidak ingin ada korban lainnya," ucap pria paruh baya itu mewanti-wanti, "Menurut wakil dari Menara Sihir, dalang dari kasus ini adalah penyihir liar yang suka menculik anak-anak. Sekali lagi, mohon kehati-hatiannya dan tunggulah dengan tenang di dalam kota.
"Hm," Aria mengangguk pelan, "Kami mengerti."
__ADS_1
Hari itu, para kesatria gabungan kembali masuk ke dalam hutan. Mereka menyebar ke segala penjuru, bahkan berkemah di dalam hutan. Namun, kurir yang melapor setiap hari hanya memberikan laporan yang nihil.
Di kastil Count de Vool, para bangsawan sudah sangat ribut menuntut keselamatan putra-putri mereka. Mereka mengajukan protes, marah, bahkan meratap penuh kebencian di kediaman sang count. Sayangnya, Count de Vool pun tak dapat berbuat banyak dalam kondisi itu.
"Saya mengerti perasaan Anda sekalian," ucap Count de Vool yang sudah sangat tertekan saat itu, "Putri saya juga menghilang. Apa pun yang terjadi, saya akan mencari dan membawanya pulang kembali. Mohon kesabarannya. Kita harus saling bahu-membahu untuk menyelesaikan masalah ini."
"Omong kosong!" bentak seorang pria bangsawan timbun, "Ini sudah seminggu. Apa menurutmu, anak-anak kami akan selamat jika tidak segera ditemukan."
"..."
Count de Vool hanya dapat terdiam. Ia sudah mengerahkan segala upayanya, termasuk berkomunikasi dengan Menara Sihir. Sempat ada sedikit kemajuan saat Melissa Melaleusa pulang membawa seorang tersangka. Sayangnya, tersangka itu tidak sengaja terbunuh karena Nana Magansei memukulnya terlalu keras.
"Aku akan pergi lagi," kata Nana berusaha untuk bertanggung jawab. Ini pun terbang ke angkasa, meluncur jauh ke dalam hutan. Selama ini, yang ditemukannya hanyalah bandit-bandit bodoh saja. Ia pun membunuhnya sekalian meningkatkan kekuatan.
Di hari kedelapan, Nana mendeteksi sihir yang familiar baginya. Itu adalah mana dari sihir Charlotte. Sayangnya, hanya bekasnya saja yang ia temukan setelah turun ke sana.
"Tak apa," gumam Nana sembari mendeteksi bekas mana lainnya, "Aku akan mengikuti jejaknya."
__ADS_1