
"Tidak bisa, Sayang," ucap Marchioness van Ryvat dengan lembut, "Umurmu masih belum mencukupi untuk melakukan ujian kedua."
"Begitu, ya," Alice tertunduk. Benar kata ayahnya. Ibu Suri tak akan mengizinkan ujian itu begitu saja. Ia pun menyerahkan beberapa lembar jurnal perjalanannya. Barangkali dengan begitu, neneknya mau mempertimbangkan keputusannya kembali. Ia sedang mengobrol berdua saja dengan neneknya. Para gadis cendekia kini sedang beristirahat di kamarnya masing-masing.
"Ini sangat hebat. Kamu sangat cerdas, Sayang. Ibu dan bibimu bahkan belum bisa membuat pembukaan dari laporan ini saat seumuranmu," puji Marchioness van Ryvat. Namanya sebagai ibu suri adalah Rubia el Vierum. "Tapi, Sayang. Ini masih belum cukup bagimu untuk melaksanakan ujian itu. Bersabarlah dan cepat besar. Tujuh tahu lagi, Kamu baru bisa mengambil ujian kedua itu."
"Bukankah itu terlalu lama?" keluh Alice kecewa. Ia terlihat seperti anak seumurannya sangat mengeluh begitu. Ibu Suri Rubia sampai terkekeh kecil saking gamasnya. "Kamulah yang terlalu cepat mengambil ujian pertama, Sayang. Harusnya Kamu baru bisa melaksanakannya lima tahun lagi."
"Tolong jangan paksakan dirimu," tambah Marchioness van Ryvat serius, "Itu juga demi kebaikanmu."
"Baiklah, saya mengerti," pasrah Alice. Jika jurnal-jurnal yang ditulisnya dengan susah payah selama perjalanan ini tidak bisa membujuk sang nenek, maka tidak ada lagi yang dapat ditawarkannya. Pilihan terakhir adalah menunggu tujuh tahun yang akan datang. Kemungkinan, saat itu ia sudah menikah dengan Antonio. Alice merona ketika memikirkannya, tapi rona merah itu segera menghilang sebelum sang nenek melihatnya.
"Nenek, bagaimana bibi bisa lulus ujian ketiga dulu?" tanya Alice mencari petunjuk. Mungkin ia dapat segera mempersiapkannya dengan begitu. "Bibi lulus di usia sembilan belas, kan?"
"Iya, saat itu ibumu tidak mau mengambilnya," jawab Nenek Rubia tanpa curiga. Sangat menyenangkan dapat berbagi cerita dengan cucu tercintanya. "Dia lebih ingin fokus pada pendidikan dan mendukung bibimu."
"Bagaimana bibi lulus?" Alice mengulang pertanyaannya agar dialog tidak berbelok.
"Dia mengaplikasikan strategi yang luar biasa dalam kemiliteran," Nenek Rubia mengelus rambut Alice yang duduk di sampingnya. Matanya memandang Alice kecil yang berkedip beberapa kali. Pandangannya pun berkunjung ke masa lalu, "Kekaisaran Suci sampai terpaksa menyetujui pakta nonagresi dengan usahanya itu."
"Kudengar, ada masalah genting setelah itu," Alice sudah banyak membaca buku sejarah dan salah satu favoritnya adalah kisah Sang Putri Srikandi. Anna juga selalu semangat saat membacakannya.
"Iya, itu tak lama setelah dia mendapat otoritas tertinggi," pandangan Nenek Rubia menjadi sedih. Ingatan-ingatan indah di masa lalu terlintas di benaknya.
__ADS_1
Dilihatnya gambaran Putri Elianna saat mengenakan seragam gagah di pelantikan kala itu. Senyum manisnya begitu mengisi hati ibu suri yang saat itu merupakan sang Ratu el Vierum. Ia tak pernah menyangka salah seorang putrinya akan memangku jabatan militer yang tinggi. Walau berbalut sukacita dan bahagia, ada kekhawatiran yang membuntutinya di sana. Sebuah rasa tak nyaman yang membuatnya selalu merasa was-was dan gelisah.
Rasa tak nyaman itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam enam bulan kemudian. Putri Elianna dikabarkan menghilang. Kesatria yang dikirim untuk meminta bantuan wafat tak lama setelah menyampaikan pesannya.
"Mengapa bibi sendiri yang mengambil penanganan kasus binatang sihir itu?" tanya Alice saat neneknya sampai di pertengahan cerita.
Nenek Rubia tersenyum. Ia pun berkata, "Dia menemukan fakta bahwa ada sesuatu yang tengah mengincar saudarinya."
"Mengincar ibu?" sahut Alice.
"Ya, karena itu, ia ingin menyelidikinya langsung," Nenek Rubia kembali mengelus rambut Alice yang halus, "Saat bukti-bukti mulai terkumpul, musuh dalam selimut terdeteksi, bahkan rencana pengepungan telah dibuat, tiba-tiba dia menghilang. Ia tak pernah kembali."
"Kalau pun ia dapat kembali, aku tidak akan mengizinkannya kembali," tambah Nenek Rubia setelah terdiam sesaat. Ia mengulas senyum yang membuat Alice terheran. Mungkinkah kehilangan itu tidak membuatnya bersedih? Tidak! Bukannya dia tidak bersedih, tapi ia berdamai dengan kesedihannya. Mungkin?
"Bibi pandai memanah?" Alice memandang sebuah busur dan panah yang dipajang di atas meja. Panah itu adalah panah yang biasa digunakan para pemula untuk memanah. Itu adalah panah latihan yang dulu digunakan para putri untuk berlatih.
"Ya, aku ingin," seru Alice semangat, "Aku akan jadi seperti bibi."
"Dia akan senang mendengarnya. Apa Kamu tidak mau seperti ibumu saja?" Nenek Rubia mencubit hidung mungil Alice, lalu tertawa bersama.
"Aku akan lebih hebat dari ibunda. Setidaknya seperti bibi, hehe," Alice tertawa kecil. Di depan keluarganya, ia bertingkah sesuai umurnya. "Ada temanku yang sengat perhatian dengan pendidikan seperti ibu. Aku yakin ia bisa menggantikanku dalam hal itu."
"Padahal Kamu sangat pandai masalah administratif dan birokrasi," kata Nenek Rubia setelah menghela napas, "Mengapa Kamu sangat terobsesi untuk mendapat otoritas tertinggi?"
__ADS_1
"Karena aku akan jadi ratu," jawab Alice percaya diri. Nenek Rubia tersenyum. Ia mengenggam tangan kecil Alice dengan kedua tangannya. Wajahnya yang berkeriput memancarkan keseriusan. Ada bekas kecantikan dan kewibawaan di sana. "Ingatlah, tugas terbesarmu adalah mendidik generasi masa depan yang lebih baik."
Alice mengangguk. Nenek Rubia pun memeluknya sekali lagi dengan erat. Ia berpesan, "Jagalah dirimu. Serahkan segalanya pada Tuhan setelah semua usaha yang Kamu lakukan."
...***...
"Apa Kamu pernah melihat beliau langsung?" tanya Anna yang melihat Florence fokus memandang lukisan Putri Elianna saat seusianya seumuran dengan Alice. Florence pun menggeleng. Sebagai gadis cendekia di generasi ketiga, ia tidak pernah melihat sosok Putri Srikandi yang luar biasa itu.
"Bagaimana denganmu?" Florence balik bertanya. Anna pun terdiam sejenak baru menjawab, "Aku pernah bertemu beliau. Beliau sosok yang amat hebat dan kukagumi."
"Benarkah? Kudengar Kamu sudah bekerja di Serikat Dagang Saville sejak muda," Florence terkesima, "Tak kusangka, Kamu bahkan sudah pernah bertemu dengannya. Keluarga Saville memang keluarga yang hebat."
"Ya, aku senang dapat menyandang nama Saville," Anna tersenyum tipis. Ia pun ikut memandang lukisan Putria Elianna kecil. "Beliau menyimpan harapan yang besar padaku. Aku tidak akan mengecewakan beliau."
"Harapan seperti apa? Itu pasti harapan yang besar," Florence bertanya penasaran.
"Begitulah. Maaf, tapi aku tidak bisa memberitahumu," Anna menaruh telunjuk kanannya di bibir sambil tersenyum mengisyaratkan bahwa ia harus tutup mulut.
"Kamu membuatku penasaran. Harusnya Kamu tidak memamerkannya padaku," gerutu Florence. Ia memanyunkan bibirnya sampai membuat Anna tertawa kecil.
"Maaf-maaf, aku terlalu bersemangat karena mengagumi beliau," ucap Anna tanpa menyesal. Toh, itu bukan masalah besar.
Gawai di telinga Anna tiba-tiba berdering. Anna pun langsung pamit untuk meninggalkan Florence. Ia buru-buru ke tempat yang sepi lalu menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Anna serius. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Orang yang menghubunginya pun melaporkan sesuatu sampai membuat Anna terbelalak.
"Apa!? Bagaimana itu bisa terjadi?" Anna tak dapat menahan keterkejutannya. Ia tak sadar bahwa di belakangnya Alice tengah berdiri ikut mencuri dengar berita itu.