Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Putra Terhormat


__ADS_3

Sebagaimana tatanan pemerintahan Kota Marianna yang dirombak ulang, Kota Aurelis pun mengalami proses yang sama. Akan tetapi, menimbang besarnya kontribusi Keluarga de Aurel pada kerajaan di masa lalu, mereka masih diberi kesempatan untuk membenahi diri.


Martin de Aurel digantikan oleh saudaranya, Lugwid de Aurel. Seorang pria berumur hampir kepala empat yang menolak urusan perpolitikan di masa mudanya. Ia bersumpah setia di hadapan Alice yang berperan sebagai wakil raja. Itu adalah peristiwa pertama dalam sejarah kerajaan di mana seorang putri mahkota yang baru berusia sepuluh tahun melantik seorang count dari keluarga ternama.


"Ini pertama kali aku melihat beliau, ternyata beliau benar-benar masih seorang anak kecil," bisik bangsawan yang ikut dalam pelantikan itu.


"Kalau aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya itu setelah mendengar pidatonya kemarin," kawannya menanggapi, "Aku sendiri bahkan tidak percaya diri untuk mengatakan hal-hal berat semacam itu."


"Jangan-jangan jiwanya sudah berusia panjang," celetuk bangsawan yang lain.


"Huss...! Mana mungkin? Jangan bicara sembarangan," lainnya mengingatkan.


Solid von Denburg hanya terdiam saat mendengar celotehan para bangsawan Aurelis itu. Ia memperhatikan dengan seksama seremoni pelantikan yang dipimpin Alice. Sungguh tidak ada kesalahan maupun celah seakan ia sudah pernah melakukannya sebelumnya.


"An sungguh beruntung," gumam Solid ketika tiba-tiba teringat dengan adik didik sekaligus calon lord-nya, "Tuan putri memiliki reputasi dan kemampuan yang amat baik. Aku khawatir kalau-kalau An malah menjadi beban nantinya."


"Hai, kudengar hubungannya dengan putra mahkota kurang baik," ucapan seorang bangsawan kali ini membuat Solid tak dapat mengabaikannya. Ia memicingkan mata. Itu adalah rumor yang selama ini sedang diselidikinya. Jadi, rumor itu membuat ia sensitif saat mendengarnya.


"Aku juga sudah mendengarnya. Katanya sih putra mahkota mengejar-ngejar gadis lain," kata bangsawan muda di sampingnya. Solid sangat ingin membantahnya, tapi ia belum bisa bergerak karena tempat ini adalah balai formal. Apalagi pengambilan sumpah setia sedang dilaksanakan.


"Tuan putri memiliki posisi yang lebih tinggi sekarang. Kalau hubungan mereka memang tidak baik, putra mahkota mungkin tidak akan menjadi raja," para bangsawan itu tidak tahu kalau Solid sudah menandai mereka. Hukuman untuk orang-orang yang menghina atau mencemari nama baik Keluarga Kerajaan el Vierum tidaklah ringan.


"Aku mungkin bisa berjodoh dengan tuan putri suatu hari nanti," oceh seorang bangsawan muda yang cukup tampan. Solid nyaris tak dapat menahan kesabarannya kali ini. Tangannya mengepal sudah gatal ingin menonjok. Ia pun mengeluarkan sebuah hawa yang sulit dijelaskan sampai dapat dirasakan oleh orang-orang di kanan dan kirinya.


"Mimpi kau! Mana mungkin tuan putri ingin bocah playboy sepertimu?" sanggah kawannya bercanda, "Pasti aku lebih pan...."


"Bisa kalian tenang?" Solid lebih dulu menepuk pundak kedua bangsawan muda itu sebelum salah satu di antaranya menyelesaikan kata-kata. Semua orang di sekitar sana pun terdiam. Kebetulan tempat itu memang agak di pojok dan terpinggir. Jadi, kejadian itu tidak terlalu diperhatikan.


"Apa kalian lupa konsekuensi dari mencoreng nama baik Keluarga Kerajaan?" bisik Solid dengan penuh penekanan. Matanya menatap tajam. Ada kemarahan di sana. "Kamu tahu? Aku adalah pedang putra mahkota yang paling tajam. Mari kita saling bertemu setelah acara ini selesai."

__ADS_1


Bulu kuduk kedua bangsawan muda itu berdiri. Mereka menelan ludah bersamaan tanpa berani sedikit pun menoleh. Orang-orang di sekitarnya pun merasakan tekanan yang sama. Sampai acara usai, tak ada lagi yang berani membuat suara barang sekecil saja.


Begitu acara selesai, Solid benar-benar menghajar kedua bangsawan muda itu. Ia bahkan mengirim teguran resmi atas nama Tuan Muda Marques van Denburg kepada keluarga bangsawan itu. Dengan begitu, tak ada seorang pun yang berani berkomentar


"Kenapa Anda masih belum pulang juga?" tanya Rosemary dengan ketus saat kebetulan bertemu Solid di sebuah kafe. Karena Alice yang mengundang putra kedua Marques van Denburg itu bergabung, tidak ada yang dapat ia lakukan untuk mengusirnya. Ia hanya dapat terang-terangan menunjukkan keberatannya.


"Tugas baru saja selesai. Aku berniat pulang tak lama lagi," jawab Solid jujur. Ia tak nyaman menerima tatapan permusuhan Rosemary. Ia juga merasa canggung saat memandang Alice. Di meja itu hanya ada mereka bertiga.


"Anda akan segera pulang kan? Itu bagus," pernyataan Alice membuat Solid bertanya-tanya, "Sampaikan surat ini padanya. Aku mungkin tidak bisa mengantarkannya saat ia berangkat ke acara pemburuan nanti. Kalau sempat, mungkin aku akan menyusulnya."


"Yang Mulia Putri akan ikut dalam pemburuan?" tanya Solid memastikan pendengarannya tidak salah.


Alice dan Rosemary mengangguk. Sebenarnya, yang benar-benar ikut adalah para gadis cendekia. Alice ikut untuk berlibur saja.


"Ini akan menjadi musim pemburuan paling berkesan. Saya pasti akan menyampaikannya kepada Putra Mahkota el Vierum," kata Solid semangat. Ia menatap Rosemary dengan kebanggaan seakan ia telah membuat prestasi yang besar. Rosemary pun mulai kehilangan kesabarannya, lalu mengusir sesopan mungkin, "Anda bisa pergi sekarang, Marques Kecil."


"Apa!? Hai! Apa maksudmu?" Solid tidak terima. Ia memang putra kedua dan gelar marquis muda adalah milik kakaknya. Namun, ia tidak suka dipanggil begitu. Setidaknya namanya yang keren cukup menggantikan panggilan yang memuakkan itu.


"Ya ampun, sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenciku?" akhirnya Solid mempertanyakan sikap Rosemary itu.


"Kamu adalah trio pembuat masalah. Apa kamu lupa?" Rosemary mengungkit masa studi angkatannya selam beberapa tahun belakangan ini, "Kau, Charles, dan Swan. Anak-anak yang hanya tahu cara membuat masalah. Aku sampai keheranan. Bagaiamana bisa aku kalah dengan si Swan itu dalam pemilihan ketua OSIS?"


"Oh, itu karena kamu membuat aturan yang terlalu kompleks," jawab Solid tanpa ragu, "Kami hanya ingin suasana yang lebih nyaman."


"Haha, jadi begitu, ya? Karena itu aku tidak suka kalian. Kalian sangat tidak tahu aturan," Rosemary bangkit dari duduknya dengan hawa intimidasi yang menyengat. Nyali Solid sampai menyusut. Jika para bangsawan yang dihajarnya tadi melihat hal itu, mereka adalah tidak akan percaya bahwa ia adalah Solid yang sama.


"Ma... Mary," Solid gelapan.


"Saya mohon agar Anda segera pergi dari sini," usir Rosemary dengan seringai seramnya.

__ADS_1


Alice menutup sebagian wajah dengan lengan bajunya yang besar. Ia menyembunyikan tawa gemas karena melihat tingkah Rosemary dan Solid. Dirasanya Solid dapat menjadi pasangan yang cocok untuk Rosemary walaupun sekarang mereka tidak saling menyukai. Siapa yang tahu?


"Terima kasih atas waktu yang Anda berikan, Yang Mulia," Solid memberi salam dengan mengabaikan Rosemary. Ia pun berpamitan pada Alice saja. Tanpa berani menatap wajah gadis berambut cokelat itu, Solid pergi meninggalkan kafe. Ia menghela napas lega begitu sampai di luar.


"Hidupku mungkin akan sulit jika jadi pasangannya nanti," begitulah gumam Solid kemudian.


...***...


"Akhirnya kamu sampai," Marchioness Rubia menyambut dengan hangat tamunya yang baru datang, "Kamu sudah tumbuh besar dengan baik, Derrick. Selamat datang di March van Ryvat."


"Salam, Nenek. Lama tidak berjumpa," Derrick membalas sambutan itu dengan ekspresi yang rata, "Semoga Nenek sehat selalu."


"Kamu sungguh perhatian. Harusnya kamu sering-sering datang untuk menyapaku begini," Marchioness Rubia dengan ramah menanggapi.


Peralatan minum teh telah disajikan. Marchioness sendiri yang menyeduh tehnya. Sama seperti Clara yang lebih suka menyeduh tehnya sendiri.


Begitu Marchioness selesai menyiapkan tehnya, ia pun memulai diolagnya, "Jadi, Duke Mudaku, apa yang kamu butuhkan dari nenek?"


"Aku butuh akses lebih dengan Saville," kata Derrick langsung minta tanpa basa-basi.


"Alice juga mengharapkannya," Marchioness Rubia menyungging sebuah senyum, "Maaf sekali, aku tidak akan mengizinkannya. Mari kita bahas yang lain."


"Aliansi," kata Derrick amat singkat.


"Kamu sungguh tidak bisa bersabar. Kemungkinan itu masih jauh walaupun banyak rumor buruk tentang keduanya," jawab Marchioness Rubia peka. Mereka jelas membicarakan pertunangan Alice yang semakin besar kemungkinannya gagal.


"Aku tidak pernah setuju Alice bersanding dengannya," Derrick menunjukkan motif aslinya.


"Kamu masih ada di urutan kedua dalam perwalian sejak kakekmu meninggal," Marchioness mengingatkan, "Lagi pula Alice tidak keberatan. Lebih baik membiarkannya memilih."

__ADS_1


"Namun, pernikahan itu masih belum pasti," ucap Derrick sembari menyembunyikan kecemasan di balik wajahnya yang dingin, "Tidak baik membiarkannya bertunangan terlalu lama."


"Aku setuju dengan itu," Marchioness Rubia mengangguk, "Kita tunggu saja sampai tiga bulan lagi. Apa pun yang terjadi, aliansi ini akan tetap terbentuk."


__ADS_2