Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 110: Dua Sosok yang Memimpin


__ADS_3

"Hai! Sol ...," samar-samar terdengar sebuah suara yang lembut. Suara itu mengalir halus di telinga Solid yang masih tertidur pulas. Bukannya bangun, pemuda itu malah mengganti posisi tidurnya.


"Solid ...!" lagi, suara lembut itu terdengar lagi seperti suara seorang bidadari nan cantik jelita juga merdu suaranya.


"Hai ...! ... van Denburg," suara itu terdengar lebih keras kali ini sehingga sukses menarik Solid dari alam bawah sadarnya, "Hai, Solid! Cepat bangun! Kita harus berangkat sekarang."


"!?"


Solid terperanjat sebab pipinya ditampar oleh tangan halus seseorang. Ia pun langsung menoleh dan mendapati Rosemary yang bermuka muram. Padahal, hatinya baru saja senang karena memimpikan bidadari. Namun, semua itu berantakan sekarang karena wajah masam gadis di hadapannya. Parahnya, putri dari Keluarga vi Cornelia itu hampir menamparnya lagi. Untung saja ia bisa bangun sebelum Rosemary kembali melayangkan tamparannya.


"Dasar! Kenapa kamu malah ketiduran waktu jaga malam, heh?" omel Rosemary galak, "Bagaimana kalau ada hewan buas yang tiba-tiba datang menyerang kita? Bukannya kamu bilang mau bertanggung jawab atas keselamatan rombongan?"


"Hah?" kesadaran Solid masih belum sempurna terhimpun. Rosemary pun sungguh menamparnya sekali lagi sampai ia benar-benar terbangun kali ini. Tamparan itu sangat keras sampai membekas merah di pipi Solid. Tampang pemuda tampan itu jadi kuyu dibuatnya.


Sayangnya, pemuda itu tak mampu membalas tamparan yang menyakitinya karena Rosemary seorang lady. Sebagai calon kesatria muda, mana mungkin ia tega memukul seorang wanita. Ia hanya bisa menggerutu atas tindakan menyakitkan yang putri dari Keluarga vi Cornelia itu lakukan. Andai yang menamparnya adalah Charles, mereka pasti akan segera berduel.


"Anak-anak, apa kalian sudah siap?" tanya Ula tak lama kemudian. Beberapa murid masih terlihat mengantuk. Sepertinya, mereka dapat tidur dengan nyenyak karena terlalu kelelahan kemarin. Syukurlah tak ada masalah semalam. "Matahari sudah sangat tinggi di atas sana. Kita akan terlambat kalau tidak berangkat sekarang."


Beberapa murid menengok ke atas. Dedaunan hutan yang rimbun menghalangi sinar mentari untuk masuk dengan sempurna sehingga tak terlihat terang. Mereka kira, hari masih pagi sekarang. Hawa dingin pun masih meliputi sekitar. Suasananya bahkan terasa seperti pagi buta.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kita harus berjalan?" tanya Solid sembari menatap buku di tangan Rosemary. Gadis yang ditanyainya pun menoleh. Ia mengerutkan kening, lalu menjawab setelah berpikir beberapa saat, "Entahlah. Mungkin agak malam karena seseorang bangun lebih siang dari yang seharusnya."


"Benarkah? Apa masih sejauh itu?" Solid tak menangkap sindiran Rosemary. Ia memang tidak terlalu peka. Baginya, yang paling penting saat ini adalah keluar dari Hutan Kaskas.


"Aku tak begitu yakin," Rosemary mengangkat kedua bahunya, "Kita mungkin akan sampai di pos peristirahatan sebelum sore. Sebagai seorang kesatria, seharusnya kamu tak menunjukkan ekspresi malas seperti itu, Solid."


"Hah?" Solid merasa tersinggung. Entah mengapa, ia merasa bahwa gadis itu selalu berkata sarkastis kepadanya. Ia pun bertanya untuk memastikan, "Hei, apa kamu sebegitunya membenciku?"


Pertanyaan itu muncul spontan dari mulut Solid. Rosemary pun menoleh dengan mimik yang seolah berkata, "Tentu saja, buat apa kamu bertanya?"


"Bukannya benci," jawab Rosemary jujur, "Aku hanya tak suka dengan sikapmu yang tak bisa mencerminkan pribadi seorang bangsawan itu. Apalagi kamu dari Keluarga van Denburg yang terhormat."


"Ck," Solid berdecak jengkel, lalu menggerutu, "Kolot. Itu kan hanya etika yang dibuat-buat. Kenapa aku harus memikirkannya?"


"Anak-anak, bisakah kalian tenang?" Ula memotong perdebatan Solid dan Rosemary, "Kalian akan memancing kedatangan para monster kalau terus berisik."


"Monster?" Solid menatap Ula dan mengerutkan kening, "Maksudmu hewan buas yang berbahaya?"


Tak!

__ADS_1


"Auw!" seru Solid yang reflek memegang kepalanya.


"Jaga etikamu, Tuan van Denburg!" Rosemary kembali mengomel. Barusan, ia menggunakan buku di tangannya untuk memukul kepala Solid. Buku itu cukup tebal karena bahannya yang kuno. Jadi, kepala Solid benar-benar merasakan sakit yang tak terduga.


"Itu bukan sekedar hewan buas yang berbahaya, Tuan van Denburg," jelas Ula yang kemudian menatap Rosemary seolah memberi peringatan, "Juga, Nona vi Cornelia, tolong jangan gunakan buku itu untuk menyakiti orang lain. Itu buku berharga, oke? Jangan sampai rusak."


"Ah! Maafkan aku, Sir," ucap Rosemary menyesal, "Saya spontan melakukannya karena anak ini ...."


Rosemary tak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap Solid dengan tajam seolah memberinya peringatan agar pemuda itu tidak bermain-main lagi. Solid yang dipelototi sama sekali tidak acuh dan bersikap biasa saja. 


"Buat apa meladeni gadis yang sangat cerewet ini?" begitulah pikirnya, "Semoga saja kami cepat sampai di desa agar dia tidak mengusikku lagi."


Syukurlah perjalanan kembali berjalan lancar. Tak ada halangan berarti karena Ulu memandu mereka melewati jalur-jalur teraman. Tanpa merasakan panasnya mentari di atas kepala, tiba-tiba suasana kembali dingin.


"Apa hari sudah sore?" tanya salah seorang murid.


"Benar, Nak," jawab Ulu langsung, "Kita akan kembali melepas lelah lagi di depan sana. Semangatlah! Tempat itu tak jauh lagi."


"Hai, apa ini sungguh baik-baik saja?" tanya seorang murid di barisan paling belakang, "Kita sudah berjalan sangat lama, tapi tak kunjung keluar hutan juga."

__ADS_1


"Entahlah, aku hanya mengikuti Sir van Denburg dan Lady vi Cornelia," jawab orang yang ditanya, "Hanya mereka yang bisa diandalkan untuk saat ini."


"Sudahlah," murid yang lainnya ikut menanggapi, "Ikuti saja dan bersabarlah! Lebih baik kita bersama-sama daripada terpisah."


__ADS_2