
"Aku tidak pernah menduga kalau acara Pemburuan Musim Panas akan di selenggarakan di sini," ujar Charlotte dengan semangat. Ia sedang berkeliling kota dengan Nana sekarang. Kota ini jadi ramai karena acara yang diselenggarakan pemerintah kerajaan.
"Benar, kita sangat beruntung," Nana berusaha menahan mulutnya agar tidak membocorkan fakta bahwa Menara Penyihir telah memanipulasi tempat itu. Walau tidak mau mengakuinya, ia tak dapat menyangkal kehebatan Melissa dalam hal-hal terkait konspirasi dalam birokrasi.
"Mereka datang," Charlotte menunjuk rombongan bangsawan yang hadir dalam pemburuan itu. Ada berbagai macam emblem dan panji yang masuk ke dalam kota. Tiap-tiap mereka mewakili daerahnya masing-masing.
"Institusi besar dan akademi juga hadir di sini," Charlotte menonton rombongan itu dari atas sebuah cafe bertingkat tiga. Di pagi yang ramai itu, hanya ada mereka berdua di sana. Orang-orang lebih suka melihat dari dekat di pinggir jalan meskipun saling berdesakan.
Kedatangan para bangsawan seperti pawai yang datang meramaikan festival. Tak ada habisnya dari pagi sampai sore. Budaya berkeliling kota itu telah ada sejak sebelum zaman pemberontakan.
"Itu Akademi Kerajaan," Nana menunjuk rombongan anak muda yang baru saja masuk gerbang kota dalam. Pemimpin Rombongannya adalah Putra Mahkota el Vierum. Ia dikawal dua pemuda lainnya yang tak lain adalah Solid dan Charles.
Charlotte terkejut bukan main. Padahal ia pulang ke kampung halamannya bukan sekadar untuk berlibur, tapi menghindari gangguan dan gosip yang mengikuti putra mahkota. Ini adalah masalah besar.
Ia pun menatap Nana selidik. Bisa jadi, ini adalah manipulasi yang ia lakukan. Akan tetapi, ia tidak memiliki bukti apa pun untuk membenarkan dugaannya. Jika memang bukan, ini pasti hanya kebetulan.
"Akhirnya, ternyata... hah... benar... hah... Anda di sini," seorang pemuda yang datang terengah-engah mengagetkan Charlotte dan Nana. Pemuda itu memakai tuxedo rompi khas pelayan. Setelah berhasil mengatur napasnya, ia pun memberi salam pada kedua gadis di hadapannya.
"Luck, ada apa?" tanya Charlotte heran. Firasatnya buruk. Ia mengingat-ingat jadwal kegiatannya hari ini. Ia yakin bahwa ini adalah hari bebas yang memungkinkannya untuk berjalan-jalan sepuasnya.
"Maaf, Nona. Tuan Count de Vool meminta Anda untuk kembali," ucap Luck menyampaikan, "Ada hal mendesak yang harus Anda lakukan."
__ADS_1
"Tidak mau! Aku tidak mau pergi untuk menyambut para tamu. Kakakku sudah ada di sana. Dia lebih baik daripada aku," tolak Charlotte mentah-mentah. Firasat buruknya benar terjadi. Ia tidak ingin direpotkan dengan ini.
Nana dan Luck sama-sama kaget. Nana sudah susah payah memanipulasi Count de Vool, sementara Luck sudah susah payah ke sana-ke mari. Bisa susah dia, jika tidak kembali bersama sang nona.
"Nona, mohon pengertiannya. Tuan Count sangat ingin Anda berdua datang dan bekerja sama," bujuk Luck. Ia berlutut penuh harap. Nana yang merupakan dalang di balik masalah ini tidak dapat membantu. Rencananya bisa ketahuan karena Charlotte adalah gadis yang sangat peka.
"Tidak! Kubilang tidak, ya tidak," teguh Charlotte menolak. Ia sudah memasang curiga pada Nana. Namun, melihat dia yang terkejut juga tadi, Charlotte jadi sedikit ragu.
"Nona, saya mohon. Nasib saya bergantung pada pilihan Anda, Nona," pinta Luck sambil memelas. Charlotte terus menolaknya. Akan tetapi, Luck juga tak kenal kalahnya.
Muak dengan permintaan yang tiada kunjung berhenti itu, Charlotte merapal mantra paling dasarnya. Ia pun mengelus kepala Luck sampai membuat pemuda itu terkejut. Sekejap kemudian, ia termakan sihir sang nona.
"Kamu bisa mendengarku, Luck?" Charlotte memastikan mantranya aktif. Nana Manahan tawa tingkahnya itu. Ia pun dengan jahil menambah mantra untuk Luck.
"Bagus, sampaikan pada ayah! Aku sedang berlibur dan tidak ingin diganggu sekarang," titah Charlotte tegas.
Luck tidak membantah maupun membujuk lagi. Ia berjalan dengan sedikit linglung baru kemudian bisa normal kembali saat sampai di lantai bawah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa harus segera menyampaikan sebuah pesan.
Nana menghela napas melihat kepergian pemuda itu. Rencananya gagal kali ini. Padahal ia sudah merancangnya sepanjang malang. Sungguh nasib. Kalau saja ia secerdas Melissa, pasti urusan ini jadi lebih mudah.
"Kakak, ayo masuk," ajak Charlotte setelah gagal mendeteksi kejanggalan pada Nana. Ia tidak ingin sampai terlihat oleh putra mahkota. Ia selamat sekarang, tapi siapa yang tahu masa depan.
__ADS_1
Di arak-arakan Akademi Kerajaan, Antonio tidak bisa fokus pada tugasnya. Untung ia hanya disuruh pawai berkuda mengelilingi kota. Kalau tidak, hegemoninya di masa depan akan terancam pupus.
Ia menoleh ke kanan-kiri dan menyapa para warga County de Vool. Sambil menunjukkan senyum yang hanya formalitas, ia melambai-lambaikan tangan untuk memperbaik citranya. Para warga pun akan berpikir bahwa ia pangeran yang baik dan layak memimpin kerajaan.
Matanya sempat melirik ke atap-atap bangunan saking bosannya. Dilihatnya seorang gadis yang beranjak pergi. Gadis itu membuat teringat dengan Charlotte de Vool. Pikirannya pun kembali kacau. Kalau saja ia tidak berada di depan publik, ia pasti sudah berteriak kesal sekarang.
...***...
"Apa Paman sungguh tidak tahu?" tanya Alice dengan kesal di depan Raja Claudius. Ia berkacak pinggang dengan tatapan mata yang menusuk. Sang Raja el Vierum pun sampai tak kuasa membalasnya.
Ratu Clara tertawa kecil di balik kipas yang dibukanya. Ini adalah momen langka di mana Sang Putri Mahkota el Vierum dapat memarahi suaminya. Itu mengingatkannya pada Putri Kembar saat mengomeli Raja Claudius karena kecerobohannya di masa lalu.
"Tuan Duke selalu terlihat sehat selama ini," kilah Raja Claudius. Ia berusaha mencari-cari alasan untuk keluar dari situasi ini. Sebenarnya, pekerjaan adalah alasan yang paling tepat. Namun, ia tidak ingin kembali ke ruang yang sesak itu terlalu cepat. "Bagaimana kami tahu kalau ia sedang sakit parah?"
"Bukannya sudah kubilang untuk tidak memaksa ayah bekerja?" Alice mengungkit peringatannya di awal dulu. Ia yakin sang raja bukanlah orang yang bodoh sampai tak dapat menerima pesan tersurat yang sangat jelas.
Alice sudah melakukan investigasi singkat sepanjang pagi ini. Ia jadi tahu banyaknya pekerjaan yang diurus oleh ayahnya selama ini. Mulai dari masalah perekonomian di Kota Marianna, tinjauan pendidikan di Akademi Kerajaan, sampai laporan mengenai Kota Aurelis yang baru-baru ini diselesaikannya.
"Lalu, apa yang Paman kerjakan selama ini?" omelan Alice terus disimak oleh Raja el Vierum tanpa terpotong. Begitulah cara Raja Claudius kalau menghadapi istrinya yang sedang marah. Ia hanya akan terdiam sampai lawan bicaranya lelah sendiri. Tentu Alice masih belum bisa dibandingkan dengan istrinya yang bahkan dapat menveto keputusan yang hendak ia publikasikan.
Di ruang itu juga hadir sosok seorang petinggi kerajaan. Awalnya, ia ingin menjemput sang raja yang terlalu lama meninggalkan pekerjaan untuk memanggil kawannya. Namun, setelah melihat Putri Mahkota el Vierum yang berapi-api memarahi sosok paling tinggi sekerajaan itu, ia hanya dapat ikut menyimak dan terkadang membenarkan ucapan putri kecil itu. Ialah Duke vi Cornelia, ayah dari Rosemary vi Cornelia.
__ADS_1
"Aku sangat marah! Walaupun Paman adalah raja, sedangkan ayah adalah perdana menteri," kini Alice menyentuh masalah hegemoni, "Paman tidak bisa menyerahkan segalanya pada satu orang. Pamanlah yang seharusnya paling bekerja keras untuk kerajaan ini. Ingat itu!"
Duke vi Cornelia mengangguk-angguk setuju. Andai putrinya juga dapat memarahi sang raja seperti itu, mungkin bebannya juga akan berkurang. Ia pun menghela napas begitu memikirkannya. Rosemary dapat belajar bersama sang putri pun sudah sangat bagus baginya.