
"Akhirnya Kamu datang juga, Alice," Ratu Clara memberikan seulas senyuman lembut guna menyembunyikan kecemasannya. Wanita nomor satu di Kerajaan el Vierum itu duduk dengan anggun di saung Taman Baugenvillaea, tempat istirahat kesukaannya.
"Keselamatan atas Baginda Ratu el Vierum," salam Alice yang kemudian dijawab dengan senang oleh bibinya itu.
"Bagaimana kabarmu? Kamu sudah baikan, bukan?" Ratu Clara mulai menampakkan kecemasannya. Ia sangat khawatir saat mendengar Alice jatuh sakit kemarin.
"Saya baik-baik saja, Baginda," jawab Alice sambil menerima teh yang diseduhkan untuknya. "Saya hanya sedikit kelelahan kemarin."
"Alice, Kamu tidak perlu memaksakan diri," Ratu Clara masih belum dapat menghilangkan rasa khawatirnya. Sebenarnya, ia ingin Alice hidup seperti para gadis bangsawan lainnya. Saat Raja el Vierum hendak memberi gadis itu gelar putri mahkota, ia juga sempat menentangnya. Bukan karena ia tidak suka, tetapi karena ia tahu bahwa gadis itu akan mengemban tugas berat yang tidak sesuai dengan usianya.
"Banyak amtenar berpengalaman di Istana Mutiara. Kamu bisa menyerahkan tugasmu pada mereka saja," Ratu Clara kemudian menatap Anna yang berdiri di belakang Alice, "Madam Anna juga orang yang cakap. Kamu hanya tinggal duduk bermain dan belajar saja."
"Madam Anna dan para amtenar di Istana Mutiara sudah sangat membantu saya, Baginda," jawab Alice dengan seulas senyum tipis di wajah tenangnya. Karisma seorang putri memancar dari dirinya. Ia memang sudah patut mendapat gelar putri mahkota. "Saya sudah terbiasa. Ini adalah tugas saya sebagai Putri Mahkota el Vierum."
"Kamu terlalu sibuk dan serius dengan pekerjaanmu, aku bahkan tidak sesibuk itu saat menjadi putri mahkota dulu," curhat Ratu Clara. Ia menghela napas. Sosok Alice kecil itu mengingatkannya pada Putri Kembar di masa lalu. "Kamu sangat mirip dengan ibumu. Seandainya Putri Elianna el Vierum masih hidup saat ini, pasti putrinya juga akan menjadi sosok hebat sepertimu."
"Putri Elianna?" Alice hanya pernah melihat bibi kandungnya itu lewat lukisan. Ia tertunduk merenung. Rupa Sang Putri Srikandi itu amat mirip dengan ibunya. Seakan ia menatap satu sosok yang sama saat melihat keduanya. "Beliau adalah pemilik pertama Istana Mutiara. Beliau memiliki hak untuk menghimpun pasukan untuk menjalankan tugasnya. Apa aku bisa seperti itu?"
"Suatu saat nanti Kamu bisa memilikinya jika ingin," jawab Ratu Clara. Kenangan-kenangan lama menghampirinya. Ia ingat betapa bersedih Duchess Evianna saat mendengar berita hilangnya saudarinya itu. Kekuatan yang besar malah membuat jiwa muda yang berbakat itu lenyap bagai ditelan bumi. "Tapi aku harap Kamu tidak tertarik dengan hal itu. Aku tidak ingin hal yang sama menimpa dirimu."
Alice menatap bibinya yang berwajah sendu. Ada kesedihan di sana. Ia bisa memahami perasaan itu. Perasaan kehilangan seperti saat ia ditinggal wafat ibundanya tercinta dulu.
"Alice, jangan sembarangan menggunakan kuasamu," kata Ratu Clara serius, "Keselamatanmu adalah yang utama. Jika ada yang mengganggumu, jangan menghadapinya sendiri. Kami selalu ada bersamamu."
__ADS_1
"Terima kasih, Baginda," Alice mengangguk pelan meresapi wejangan bibinya itu, "Saya tidak akan berjalan sendiri. Lagi pula, saya memiliki Tuhan yang selalu ada. Saya tidak pernah sendiri."
"Alice, apa Kamu dapat membantu proses studi Antonio?" Ratu Clara mengalihkan topik saat tiba-tiba mengingat putranya, "Anak itu sangat lihai kabur. Sulit sekali mencarinya jika ia sudah keluar dari istana."
"An? Saya rasa belum untuk saat ini," jawab Alice lalu menyeruput tehnya. Ratu Clara tersenyum lega. Mendengar Alice menyebut putranya dengan panggilan akrab itu berarti ia sudah memaafkannya. Akan tetapi, untuk berjaga-jaga, "Apa karena An sudah menyinggungmu kemarin?"
"Bukan," Alice menggeleng. Ia mengambil sebuah macaroon berwarna merah muda dengan tangan kanan mungilnya. Sebelum ia makan, ia menjawab, "Saya masih sibuk sampai kasus di Kota Marianna selesai. Saya juga harus menata ulang struktural di Balai Pengawas Pusat."
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak memaksakan diri?" kata Ratu Clara cemberut, tetapi masih ada kelegaan di wajahnya. Ia yakin bahwa putri cilik itu sudah mau memaafkan tunangannya.
"Ini untuk menambah pengalaman dan pengetahuan saya," Alice menunjukkan wajah yang amat optimis. Keanggunannya benar-benar tak terbendung. Ia adalah pedoman para gadis bangsawan. "Ada banyak penasihat di sekitar saya. Jadi, Baginda tidak perlu khawatir."
"Hah... aku benar-benar heran," Ratu Clara memijat keningnya. Bayangan Putri Kembar kembali mengunjunginya. "Sifat keras kepala Kalian bahkan sama. Bagaimana Kalian bisa jadi putri-putri yang serajin itu?"
"Tentu saja, pernah," Alice kembali mengambil sebuah macaroon yang kali ini berwarna hijau terang. Rasanya manis sekali. Setelah menghabiskan saru gigitan, ia kembali menjawab, "Kalau ada pelajaran yang susah saya mengerti, saya pasti merengek pada ibunda untuk berhenti."
Ratu Clara mendengarkannya dengan seksama. Alice mengunyah satu gigitan lagi sebelum menjawab, "Jika saya merengek seperti itu, pasti ibunda akan menghentikan pelajarannya dan mengajak bermain. Saat itu saya masih belum mengerti, tetapi sekarang saya sadar bahwa permainan-permainan yang saya mainkan bersama ibunda selalu mengandung pelajaran."
Memori-memori masa kecil Alice mulai terbayang. Segala gelak tawa, tangis, dan rengekannya seakan dapat kembali ia dengar. Saat mengingatnya, ia tersenyum tipis. Sama seperti saat di kereta, Alice tanpa sadar meneteskan air matanya yang mengandung rindu.
"Alice," panggil Ratu Clara lirih. Ia mendekati gadis yang matanya mulai sembab itu, tetapi senyumnya tidak memudar sama sekali.
"Ibunda juga sering membacakan saya cerita," lanjut Alice kemudian. Air mata sudah membasahi pipi. Anna tidak dapat berbuat apa-apa karena memang tidak ada yang dapat ia lakukan saat ini. "Ibunda sangat pandai bercerita. Saya selalu senang mendengarnya."
__ADS_1
Ratu Clara mengusap air mata Alice lalu memeluknya. Ia membisikkan kata-kata indah yang lembut didengar telinga. Sebuah alunan merdu yang dipelajarinya dari Sang Sarjana Kebijaksanaan, mendiang Duchess Evianna vi Alverio.
Hati Alice diliputi kehangatan. Rasa nyaman yang tidak akan pernah ia lupakan. Sungguh nikmat yang tidak akan pernah ia dustakan. Tuhannya telah memberi ia banyak nikmat di samping segala ujian yang diterimanya. Jika orang-orang merenungi hidupnya, ia pun akan merasakan hal yang sama dan sepatutnya ia bersyukur.
...***...
"Balqis," panggil Charlotte di kamarnya. Malam itu ia kesusahan untuk tidur. Rasa kekosongan di hatinya itu masih saja membuatnya penasaran. Sebenarnya, sudah sejak dulu ia merasakannya. Ia pikir rasa kosong itu akan menghilang begitu saja seiring bertambahnya perhatian yang ia terima. Ternyata ia salah. Kekosongan itu malah terasa semakin kelam.
"Lottie, Kamu memanggilku," sesosok makhluk halus muncul di hadapan Charlotte. Ia adalah jin yang berkontrak dengannya. Wujudnya berupa seorang wanita jelita yang berkulit pucat.
Sosok yang Charlotte panggil Balqis itu melayang-layang. Ia kemudian memeluk Charlotte yang terlihat bersedih. Balqis pun bertanya mengenai sebab bersedihnya gadis itu.
"Balqis, aku hanya ingin berteman dengan Tuan Putri Mahkota el Vierum," kata Charlotte mulai mencurahkan isi hatinya, "Aku tidak mengerti apa sebabnya, tetapi aku selalu ingin berteman dengannya walau aku tahu tatapan mata Tuan Putri Mahkota el Vierum amat benci padaku."
Balqis terdiam dengan setia mendengarkan curahan hati Charlotte sampai habis.
"Padahal jarak kami sudah sangat dekat. Aku sering melihatnya di Istana Ruby. Aku hanya tinggal menyapanya," lanjut Charlotte. Ia menekuk lututnya dan menutupi muka. Perlahan ia terisak dan menangis. "Seakan aku tidak dapat menggapainya bahkan walau dengan kekuatan sihirku sekalipun."
Balqis menghela napas. Ia sebenarnya keberatan kontraktornya ini sangat ingin berteman dengan gadis yang bertolak jalan dengannya. Sihir Charlotte yang membuat Putri Mahkota el Vierum tidak pernah menyukainya.
Balqis mengetahui hal itu karena setiap berhadapan dengan tuan putri dan dayang berhijabnya itu, ia selalu melihat aura yang sangat mengintimidasi. Tubuhnya pun perlahan seperti dibakar oleh api yang amat panas jika semakin mendekat.
"Lottie, biar kuberi tahu," bisik Balqis, "Jangan sekalipun membaca mantra atau menggunakan sihir di hadapan Tuan Putri Mahkota el Vierum itu. Menyerahkan saja atau Kamu hanya akan menderita.
__ADS_1