Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Penguasa Kota Aurelis


__ADS_3

Saat semburat fajar menyingsing, sebagian rombongan Alice mulai bersiap untuk berangkat. Mereka harus bergegas untuk kembali ke ibu kota. Tabib dari Saville juga turut serta untuk berjaga-jaga jika kondisi Mainne tiba-tiba memburuk di tengah jalan.


"Kami juga akan segera pulang. Sampaikan salam kami untuknya jika ia telah siuman nanti," pesan Rosemary pada Aristia dan Akilla. Keduanya mengangguk kompak. Setelah beberapa salam perpisahan tambahan, mereka pun segera masuk ke kereta kuda untuk berangkat.


Bersamaan dengan kepergian mereka, datanglah pasukan Kesatria Kerajaan el Vierum yang dipimpin oleh Count de Bourne. Ia diutus untuk membantu Alice dalam mengatasi masalah di Kota Aurelis. Para penduduk pun gempar. Mereka mengerubunginya jalanan untuk melihat rombongan kesatria yang berbaris dengan rapi itu.


Para bangsawan kota jadi semakin gelagapan. Mereka bagai tikus yang terjebak dalam kotak. Tak ada celah untuk keluar. Hanya dapat menunggu nasib antara pengampunan atau penjara. Tidak ada yang tahu. Kebanyakan skandal yang mereka buat sudah cukup untuk dapat menyeret mereka ke tiang gantungan.


"Selamat datang, Sir Count de Bourne," ucap komandan kesatria dari Istana Mutiara. Tangan kanannya ditaruh ke dada. Ia membungkuk sedikit dengan hormat.


"Suatu kehormatan dapat bekerja sama denganmu, Sir Calastine de Noman. Kamu sudah menjadi kesatria yang gagah, ya," Count de Bourne berbasa-basi. Wibawanya terlihat. Kesannya jauh berbeda dengan saat dirinya menghadap kepada Raja el Vierum. Ia adalah pria berkumis yang rambutnya mulai beruban. Sebagai orang kepercayaan Duchess Evianna, ia adalah seorang pria tua yang amat dihormati.


"Tuan putri sudah menunggu Anda, Sir. Mari ikuti saya," Calastine menuntun Count de Bourne ke hotel mewah yang dikelola oleh Serikat Dagang Saville. Di sana, seorang butler menggantikan perannya sebagai penuntun. Count de Bourne pun dibawa ke sebuah aula luas yang terdapat hijab di dalamnya.


"Keselamatan atas Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum," salam Count de Bourne, "Direktur Balai Pengawas Pusat datang menghadap Yang Mulia. Kami siap menerima perintah Anda."


"Anda pasti sudah mendengar garis besar masalahnya sejak di ibu kota. Lanjutkan peninjauan terhadap para tersangka yang terkait dengan kasus-kasus ini. Baik bangsawan maupun rakyat biasa. Semuanya setara di meja hukum," ucap Alice dengan jelas, "Kita harus menegakkan hukum seadil-adilnya demi kemaslahatan negeri ini."


"Kami menerima titah Yang Mulia," ucap Count de Bourne dengan tegas. Seorang petugas menyerahkan gulungan dokumen yan berisi data-data para kriminal. Count de Bourne pun menerimanya dengan tangan terbuka.


Alice mempersilakan Count de Bourne untuk duduk di salah satu kursi yang disediakan. Para eksekutif Balai Pengawas Wilayah cabang Kota Aurelis memberinya salam dan hormat. Ada yang merasa terancam, ada juga yang merasa terhormat dapat satu majelis dengannya. Alice pun melanjutkan diskusi dengan mereka. Di tengah acara, seorang pesuruh masuk untuk menyampaikan pesan kepada Alice.


"Penguasa Kota Aurelis, Count de Aurel memohon izin untuk menghadap," kata pesuruh itu.


"Izinkan ia masuk," ucap Alice dari balik hijabnya.


Masuklah seorang pria gempal berpipi tembam dengan air muka yang keruh. Tampak jelas di wajahnya bahwa ia sedang sangat kesal. Otoritasnya dibatasi secara tiba-tiba. Pasukan kesatrianya diambil alih atas nama Putri Mahkota el Vierum. Ia pun harus memohon pada putri kecil itu untuk segera mengambalikannya agar dapat mengontrol orang-orang yang mulai kurang ajar terhadapnya.

__ADS_1


"Count de Aurel menghadap Yang Mulia Putri el Vierum," kata Count de Aurel selepas bersalam. Ia berlutut sesuai etiket yang berlaku. Para eksekutif Balai Pengawas Wilayah dan Count de Bourne memperhatikannya dengan teliti.


"Yang Mulia, kota ini ditimpa kegaduhan akhir-akhir ini. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Rakyat merasa tidak aman dan sengsara," Count de Aurel memulai keluhannya dengan sindiran, "Mohon pulihkan kekuasaan dan otoritas saya untuk mengatasinya."


"Count de Aurel, apakah Kamu baru menyadari kegaduhan di kota ini sekarang? Kamu pikir, mengapa kerusuhan-kerusuhan itu terus terjadi? Rakyat pun sengsara dan tidak pernah merasa aman di bawah kekuasaan pemimpin yang busuk," kata Alice tajam, "Apa menurutmu, kami telah merampas hakmu tanpa alasan?"


"Mana mungkin saya berani berpikir seperti itu, Yang Mulia?" kekesalan Count de Aurel semakin menjadi. Wajahnya merah menahan amarah. Tangannya mengepal dengan gemetaran yang samar. Akan tetapi, ia masih berani menawar dan beralasan, "Ini adalah masalah kehormatan para bangsawan. Jika pemimpin mulai kehilangan wibawanya, maka peradaban suatu kaum akan segera runtuh."


"Kamu benar, Count de Aurel," Alice setuju dengan petuah pria gempal itu, "Pemimpin ibarat kepala dalam tubuh. Ketiadaannya adalah kematian itu sendiri. Akan tetapi, kepala tanpa hati yang bersih adalah bencana. Keserakahan dan tipu daya hanya akan membawa kehancuran."


"Yang Mulia, kediaman saya diteror. Orang-orang terus mengganggu ketenangan kami. Mereka meneriakkan suatu yang tidak masuk akal," kata Count de Aurel dengan berapi-api, "Ini adalah penghinaan. Mereka yang bertindak kurang ajar harus dihukum sekeras-kerasnya."


"Pemimpin adalah perisai bagi kaumnya. Ia ada untuk melindungi. Pemimpin bertugas menyelesaikan permasalah umat. Jika seorang pemimpin hanya memikirkan dirinya sendiri, maka ia sudah tidak layak dianggap sebagai pemimpin," Alice secara tersirat menyampaikan pencabutan gelar kebangsawanan Count de Aurel. Tak ada satu pun eksekutif Balai Pengawas Wilayah yang membantah. Apa yang diucapkan putri kecil itu tidaklah salah.


"Baginikah cara Kalian merampas kekayaan dan kehormatanku? Padahal nenek moyangku telah berusaha dan banyak berjasa untuk kerajaan ini," bentak Count de Aurel yang semakin berani, "Kalian ingin merebutnya sekarang, hah? Beginikah cara Kalian menghormati para pahlawan?"


"Putri kecil! Kamu sama sekali tidak menghormati kami. Aku tidak akan membiarkanmu merampas harta kekayaan Keluarga de Aurel. Keluarga de Aurel adalah keluarga terhormat," Count de Aurel semakin menjadi-jadi. Ia tidak lagi menunjukkan rasa hormatnya pada Alice dan mengutuk, "Leluhurku akan menghukummu. Kamu tidak akan dapat keluar dari kota ini dengan rasa aman."


"Martin! Cukup dengan omong kosongmu!" Count de Bourne bangkit dari duduknya. Kemarahan memenuhi ubun-ubunnya. Ia sudah tidak tahan dengan mulut kotor pria gempal itu. "Kamu terlalu menganggap tinggi leluhur. Mereka yang sudah mati tak akan dapat berbuat apa-apa lagi di dunia. Kelak, waktumu pun akan habis ditelan masa."


"Diam Kau, Tua Bangka!" teriak Count de Aurel dengan pedang yang terhunus. Keadaan pun segera berubah. Para eksekutif menjadi ribut. Para kesatria yang mengawal di dalam segera bersiaga mencabut pedang.


"Martin de Aurel, Kamu sudah melampaui batas," seru Alice dari dalam. Suaranya yang nyaring memang tidak mengerikan, tapi ada ketegasan di sana. Ia secara tersurat mencabut gelar count dari Martin de Aurel. Dengan satu kalimat perintahnya, para kesatria bergerak membekuk mantan penguasa kota itu. Ia diarak ke penjara untuk menunggu hasil persidangan.


Berita ditangkapnya penguasa kota terdengar dengan cepat. Berita itu bahkan sampai di telinga Raja el Vierum tepat di sore harinya. Warga Kota Aurelis jadi semakin yakin dengan kekuasan Putri Mahkota el Vierum. Mereka menyambut dengan ria.


Berbeda dengan para bangsawan kota yang terlibat dalam skandal. Apalagi Baron Perres Puliu dan Preves Puliu yang menjadi awal dari bencana dari para bangsawan itu. Preves mengobrak-abrik perabotan rumah sakin marahnya. Ia ingin segera kompalin pada para cenayang bodoh yang tidak dapat dipercaya itu.

__ADS_1


Harusnya Putri Mahkota el Vierum telah tumbang sekarang, tapi ia malah jadi semakin berkuasa.


...***...


Saat Alice sedang sibuk berdiskusi dengan para amtenarnya, Aria sedang sibuk berkeliaran di tengah kota bersama orang kepercayaan Anna. Namanya adalah Jasmine. Ia adalah agen muda dari Biro Rahasia Saville sama seperti Anna.


"Ini tempatnya," Aria menunjuk sebuah gang yang gelap, tapi bersih. Ada sebuah tanda yang samar di pangkal gang itu. Jasmine pun mengangguk setuju. Mereka memasukinya untuk bertemu dengan agen resmi Istana Mutiara.


"Putri Aria, Anda sangat pendiam seperti kata Madam Anna," Jasmine berusaha mengusir kecanggungan yang selama ini meliputi mereka, "Apa Anda tidak pernah merasa bosan?"


"Tidak," jawab Aria singkat.


"Eh, benarkah?" Jasmine tidak percaya, "Apa Anda sungguh tidak merasa bosan sama sekali?"


"Ya," Aria menjawab sesingkat tadi.


Jasmine pun menggelembungkan pipi. Ia tidak mau menyerah, "Apa yang Anda lakukan jika sendiri."


"Bermain," Aria mulai merasa terganggu dengan ocehan Jasmine.


"Wow, bermain apa?" Jasmine terus berusaha menyambung obrolan.


"Pedang," Aria menjawab tanpa sekali pun menoleh. Ia hampir melihat ujung dari gang gelap yang bersih itu.


"Eh, Anda suka bermain pedang. Itu memang seru. Ayo kita latih tanding kapan-kapan," ajak Jasmine. Ajakannya kali ini membuat Aria menoleh. Ia pun mengangguk dan membalas, "Baiklah, saya akan menunggu hari itu."


Seorang wanita tua menunggu di ujung gang itu. Ia menatap kedua gadis yang asyik mengobrol di halamannya yang damai. Tatapannya sendu. Sudah lama tempatnya itu tidak dikunjungi orang.

__ADS_1


__ADS_2