Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Abai dan Terlena


__ADS_3

"Mau Kamu menuntut hakmu bersama dia atau menuntut hakmu sendirian," ucap Derrick sebelum Alice naik kereta kudanya untuk kembali ke ibu kota, "Keluarga vi Alverio akan selalu mendukung apa pun pilihanmu."


"Terima kasih, Kak," Alice mengulas senyumnya. Baginya, takhta bukanlah hal yang penting. Sebagai seorang bangsawan, pikirannya lebih tertuju pada kemakmuran rakyat dan negerinya.


"Maafkan aku. Padahal Kamu ada datang untuk berlibur, tapi aku sama sekali tidak dapat meluangkan waktu untukmu," Derrick menyampaikannya dengan senyum tipis yang penuh penyesalan. Sebenarnya, jika Alice merengek padanya seperti biasa, ia mungkin akan ingat untuk meluangkan waktu. Akan tetapi, sekarang gadis itu sudah bertunangan dan mulai berubah. "Kamu semakin dewasa, Alice."


"Jaga diri Kakak baik-baik," Alice berpesan untuk terakhir kalinya, "Jangan lupa berkunjung ke Istana Mutiara saat ke ibu kota nanti."


Derrick mengangguk. Pintu kereta kuda Alice ditutup dengan jendelanya yang masih terbuka. Saat kereta kencana itu mulai melaju, Alice melambaikan tangannya sampai hilang dari pandangan mata.


"Hans, hubungi Manajer Serikat Dagang Saville di Duchy vi Alverio," titah Derrick pada ajudannya. Sejak awal, ia ragu pertunangan adiknya akan berjalan lancar. Oleh karena itu, ia harus banyak memiliki informasi dan memantau keadaan. "Aku akan bertemu dengannya hari ini."


"Kak Anna, bukankah Istana Mutiara punya saham yang cukup besar di Serikat Dagang Saville?" tanya Alice tak lama setelah ia meninggalkan pusat kota yang di kelola oleh Keluarga vi Alverio itu. Dilihatnya kehidupan kota yang ramai dan damai. Bisa dibilang, kemakmuran kota ini setara atau bahkan lebih baik dari ibu kota.


Semua komponen dalam kehidupan terdapat di kota ini. Pasar, sekolah, rumah sakit, apotek, dan lain sebagainya. Semua ada kecuali cabang Menara Penyihir yang umum di kota-kota Kerajaan el Vierum. Keluarga vi Alverio tidak pernah sudi berurusan dengan mereka. Jadi teknologi sihir tidak populer di sini. Sebagai gantinya, Serikat Dagang Saville yang menyediakan teknologi nonsihir pada mereka.


"Benar, Nona. Istana Mutiara memiliki saham yang besar di serikat," jawab Anna merasakan pertanda buruk dari pertanyaan Alice itu.


"Kalau begitu, aku harusnya berhak mendapat informasi dari serikat, bukan?" Alice menoleh pada dayangnya yang mulai gelisah itu. Diberinya ia senyum peri berbunga-bunga, "Aku adalah pemilik Istana Mutiara saat ini."


"Saya sungguh memohon maaf serta pengertiannya, Nona," Anna menghela napas. Benar dugaannya. Gadis kecil itu ingin merencanakan sesuatu. "Sesuai dengan wasiat mendiang Duchess vi Alverio, penguasa Istana Mutiara sebelumnya, Anda belum dapat mengakses semua fitur di Serikat Dagang Saville sampai batas tertentu."

__ADS_1


"Hm? Jadi ibunda yang menyuruhnya ya?" hilanglah senyum di wajah Alice. Kini ia tertunduk menekuk wajahnya. Kesedihan dan kerinduan menyelimuti dirinya. Anna jadi merasa bersalah melihat. "Mau bagaimana lagi? Kalau itu wasiat ibunda, pasti ada baiknya untukku."


Anna menghela napas lega. Ia mengerti kekhawatiran Duchess Evianna sampai memberi anak gadisnya itu batasan pada campur tangannya dalam serikat. Mendiang Duchess Evianna tidak ingin ia bernasib sama seperti saudari kembarnya.


Sang Putri Srikandi Kerajaan, Elianna el Vierum yang hilang karena terlalu gegabah memanfaatkan koneksi dan kekuatan Serikat Dagang Saville. Ia tak pernah kembali dari misi terakhirnya. Sebuah misi penumpasan yang melibatkan suatu organisasi berbahaya yang melakukan uji coba rekayasa genetika.


Laporan pengintai dari Viscounty Ilios sampai padanya pagi ini. Ia tersenyum miris saat membacanya. Sejarah bisa jadi terulang. Kerajaan el Vierum akan kesulitan menghentikan serbuan hewan buas yang termutasi oleh sihir itu.


"Apa Kak Maria sedang sibuk sekarang?" tanya Alice tiba-tiba membuat Anna terkejut. Gadis itu tampak bosan. Ia sudah menguap beberapa kali tadi. "Aku ingin mengobrol dengannya."


"Mengapa harus dengan Maria? Tentu ia sibuk sekarang," jawab Anna sembari menyembunyikan kepanikannya. Selama beberapa jam ini, ia sedang terlarut dengan laporan yang diterimanya.


"Begitu ya?Kak Anna juga sibuk kan?" sindir Alice.


"Sebentar lagi kita akan sampai di desa peristirahatan pertama," Alice menatap keluar jendela. Lahan gandum terlihat di sekitar mereka. Amat luas dan hijau menenangkan orang yang melihatnya. "Pinjamkan aku perpustakaan digital yang Kakak bawa. Kakak sudah selesai membaca laporannya kan?"


"Nona bisa meminjamnya sejak tadi kalau mau," Anna menyerahkan sebuah kacamata pada Alice, "Saya akan dengan senang hati menemani Anda membaca."


"Tapi Kamu terlihat serius sejak tadi," kata Alice saat memasang kacamatanya. Anna memasang wajah bersalah, "Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya."


...***...

__ADS_1


"Apa Mainne benar bisa menyerahkannya Putri Mahkota el Vierum?" seorang pemuda bertanya saat sedang beristirahat di sebuah desa. Kesedihan dan dendam terlukis di wajahnya. "Lagi pula, apa yang dapat dilakukan oleh seorang putri kecil? Kudengar, usianya bahkan masih sepuluh tahun."


"Jangan remehkan tuan putri, Var," kata pemuda lain yang tampak lebih tenang. Ia adalah putra si penjaga kota pelabuhan sekaligus saudara Mainne.


"Kamu beruntung punya adik yang berbakat, Lut," Var tertunduk lesu, "Ia akan aman selama berada di ibu kota."


"Ya, tapi aku tidak akan tahan melihat kawan-kawanku menderita," Lut mengepalkan tangannya. Beberapa hari lalu, saat seorang gadis diseret ke kediaman penguasa kota, ia tak mampu berbuat apa-apa. Sudah berbulan-bulan kondisi ini menyiksa warga kota.


Seakan pemerintah menutup mata, tidak ada yang mereka lakukan sejak kasus pertama dimulai. Entah karena mereka tidak tahu, atau karena mereka tidak ingin tahu. Padahal pengawas dari ibu kota sudah beberapa kali melihat kondisi ini.


Lut sangat bersyukur profesor dari Akademi Kerajaan mau melihat bakat adiknya. Ia dibawa pergi tepat sehari sebelum penguasa kota diganti. Saat ia menerima kabar bahwa adiknya kini menerima posisi di Istana Mutiara, orang-orang mulai berharap padanya agar mau menyampaikan keluhan rakyat jelata seperti mereka.


"Kita hanya dapat berdoa dan terus berusaha," gumam Lut yang dibalas oleh Var dengan lirih, "Apa Kamu percaya adanya Tuhan? Aku sudah memohon berkali-kali pada-Nya untuk menyelamatkan Lutia, tapi Ia sama sekali tidak menjawabnya."


Lut terdiam sejenak sambil mengamati sahabatnya itu miris. Ia dan keluarganya adalah salah satu keluarga yang menyembunyikan identitas mereka sebagai penganut monoteisme murni. Sementara Var adalah pengikut Kuil Suci biasa yang tidak ortodoks di kota pelabuhan.


Lut ingin mempertanyakan usaha apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu di samping berdoa saja. Setahu dirinya, Var selalu murung dan mabuk-mabukan sejak gadis bernama Lutia itu diseret oknum penguasa kota. Entah mengapa, Lut tidak memiliki daya untuk mengatakan isi hatinya padanya.


"Sungguh Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri dan apabila Tuhan menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Ia," Lut membaca lamat-lamat sebuah gulungan yang disimpannya saat kembali ke kamar penginapan sementara Var masih termenung sendiri di bawah. Ia pun lalu bergumam mengeluarkan isi hatinya, "Setiap peristiwa baik maupun buruk terjadi atas izin Tuhan. Segalanya ada sebab dan akibatnya."


Lut jadi mengingat ketidakacuhannya setahun yang lalu. Saat penguasa kota yang lama menyeru warganya untuk membantu keluarganya. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang tergerak kecuali segelintir saja.

__ADS_1


Ketika itu, warga kota pelabuhan masih menikmati kemakmuran dan keindahan kota yang tiada taranya. Mereka terlalu abai dan terlena sampai membiarkan pemimpin mereka berjuang sendirian.


__ADS_2