Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Gadis dari Menara Penyihir


__ADS_3

"Siapa gadis yang bersama dengan An itu?" Ratu Clara memandang Taman Baugenvillaea dengan mengernyitkan dahi. Tatapannya sinis penuh curiga. Ia ingat ini bukan waktu bersantai untuk anak itu. Bocah yang akan jadi raja itu akan mempermalukan Alice jika tidak segera menyadari posisinya.


"Dia...," seorang dayang paruh baya ikut memandang ke taman yang dilihat sang ratu. Ia melirik pakaian yang dikenakan oleh gadis itu, "Gadis peneliti dari Menara Penyihir."


"Apakah ada gadis semuda itu di Laboratorium Penelitian Sihir?" Ratu Clara penasaran. Wajahnya menunjukkan kekaguman sekaligus ketidaksukaan. Siapa sangka ada gadis cerdas selain Alice di lingkungan istana ini.


"Seingat saya ada seorang gadis kecil yang masuk ke Menara Penyihir beberapa bulan lalu," dayang sang ratu mengingat-ingat, "Dia putri berbakat dari Keluarga de Vool. "


"Keluarga de Vool?" Ratu Clara tersenyum tanpa menghilangkan pandangan sinisnya, "Sungguh membuatku bernostalgia."


Ratu Clara merupakan gadis cendekia dari generasi pertama di bawah naungan Putri Kembar. Saat itu, ia diutus oleh mendiang Duchess Evianna untuk mengikuti seleksi calon pasangan putra mahkota. Saingannya adalah utusan Menara Penyihir dari Keluarga de Vool.


"Apa yang direncanakan oleh para cenayang itu?" Ratu Clara mengingat bagaimana persaingannya dulu. Mendiang Duchess Evianna tidak ingin saudara tirinya yang akan menjadi raja berpasangan dengan gadis penyihir. Jadi ia mengutus seorang kawannya dari Istana Mutiara.


"Henrietta, ambilkan jadwal putra mahkota hari ini," titah Ratu Clara. Jelas ia tidak suka anak semata wayangnya itu menjadi pengkhianat di balik tunangannya. Itu akan berakibat buruk bagi hubungan keduanya di masa depan. Rumor yang beredar pun akan susah diatasi jika sudah tersebar.


"Baik, Yang Mulia Ratu," dayang Ratu Clara segera bergegas mengambil secarik perkamen di rak admistrasi ratu. Ia menemukan sebuah gulungan cokelat bersegel lalu menyerahkannya pada Ratu Clara.


Saat membacanya, tangan Ratu Clara mengepal. Ia sebal melihat bocah itu terang-terangan mengabaikan jadwal yang telah disusunnya dan bermain-main di taman. Sesaat terlintas senyum lembut Alice dibenak dan dia pun merasa malu kepada gadis yang bijaksana itu.


"Panggilkan Kepala Kesatria Pengawal Istana," tegas Ratu Clara dengan kharisma yang memancar dari dirinya. Ia menulis titah bersegel dan memberikannya pada Henrietta, "Siang ini, aku akan berbincang dengan putra kesayanganku."


Henrietta pun segera melaksanakan perintah itu. Ia mengutus seorang pesuruh untuk memanggilkan kepala kesatria. Ratu Clara akan membuat perhitungan dengan orang yang bertanggung jawab atas pelatihan pedang putra mahkota itu.

__ADS_1


Kemudian Henrietta pergi ke taman untuk menyampaikan pesan Ratu Clara pada Antonio, "Yang Mulia Putra Mahkota, baginda ratu mengundang Anda untuk bertemu siang ini."


"Apa? Undangan?" Antonio belum menyadari kesalahannya. Memang sering ia menemani ibunya minum teh di siang hari. Itu hal yang biasa. "Aku akan datang. Mengapa harus memberi undangan segala?"


Henrietta hanya tersenyum simpul. Ia cukup menyampaikan pesan ratunya saja, "Mohon Anda baca dengan cermat."


Charlotte memerhatikan Antonio yang membaca undangan Ratu Clara. Ekspresi pemuda itu berubah seketika tak lama setelah membacanya. Wajahnya muram. Sepertinya Charlotte paham mengapa Putra Mahkota el Vierum itu jadi begitu.


"Sepertinya saya telah mengganggu waktu Yang Mulia," Charlotte pun bangkit dari duduk. Bagaimanapun, ia yang diundang ke taman ini. Ia tak salah apa-apa. Lebih baik segera pergi sebelum masalah lain tertambat. "Tolong ucap permintaan maaf saya kepada Baginda Ratu el Vierum, Madam...."


"Henrietta, Nona," Henrietta memperkenalkan diri. Dilihatnya gadis itu cukup dewasa dan peka seperti Alice. Air mukanya tenang tak beriak kepanikan sedikit pun. Mungkin ia gadis yang cerdas. "Baiklah, saya akan menyampaikannya."


"Kalau begitu, saya mohon pamit undur diri, Yang Mulia, Madam Henrietta," Charlotte menunduk memberi hormat khas para wanita bangsawan. Henrietta memberinya seulas senyum. Berbeda dengan Antonio yang menunjukkan wajah rumit. "Tunggu, Nona de Vool. Ini bukan salahmu."


Antonio membuka mulutnya. Akan tetapi, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari sana. Ia menatap dalam-dalam undangan di hadapannya. Itu adalah kabar buruk. Hukuman apa yang diterimanya kali ini? Berapa lama ia akan diceramahi? Ia tak menyangka akan tertangkap basah begini.


...***...


Kediaman Utama Keluarga vi Alverio


"Apa? Bocah itu minum teh bersama gadis lain?" Alice berkata datar setelah mendengar kabarnya dari Maria Saville. Sehari setelah Antonio ditegur oleh Ratu Clara, Maria menghubungi Anna dan sempat kaget karena melihat Alice ada di layar gawainya.


"Ya, seorang gadis dari Laboratorium Penelitian Sihir," lanjut Maria. Kata terakhirlah yang merubah wajah Alice. Kekesalan terlihat jelas di sana. Ia sudah memiliki gambaran siapa sebenarnya gadis itu.

__ADS_1


"Apa dia gadis berambut pirang itu?" tanya Alice memastikan. Maria terlihat berpikir dan mengingat-ingat. Sejenak kemudian ia mengangguk.


"Ck, aku tidak ingin membahasnya," decak Alice sebal, "Lupakan bocah itu dan katakan berita lainnya."


"Muncul sekawanan hewan aneh di wilayah Viscounty Ilios," Maria membacakan laporan yang diterimanya. Ia sempat heran dengan reaksi Alice. "Hewan itu seperti serigala tapi memiliki bentuk yang aneh dan mengerikan. Raja sudah mengutus para kesatria dan penyihir untuk mengatasi masalah ini."


"Apa mungkin itu semacam hewan yang bermutasi atau hasil rekayasa genetika?" Anna menebak. Maria ikut berpikir. Alice hanya terdiam sambil masih berusaha meredam kekesalannya pada Antonio. Lagi pula tidak ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh agen sekutu ibunya itu.


"Ada kemungkinan begitu. Tim riset telah menemukan sejumlah kasus yang sama beberapa tahun silam," Maria mengangguk setuju dengan tebakan Anna setelah mengingat laporan lainnya, "Murad dan timnya telah menyelidiki hutan di sekitar Kota Ilios itu. Mereka mendapati sebuah desa yang telah mati baru-baru ini dan bangunan kuno yang dijaga ketat oleh sekelompok orang."


"Jangan bertindak gegabah," Anna memberi keputusan akhir, "Ini bukan sepenuhnya urusan kita. Biar kerajaan yang mengurusnya."


"Tunggu dulu, Anna," teriak Maria ketika Anna hendak menutup gawainya, "Biarkan aku mengobrol sedikit lagi dengan Tuan Putri."


"Ada apa?" Alice menoleh saat mendengarnya. Maria ingin mengajak Alice mengunjungi cabang Serikat Dagang Saville di ibu kota ketika ia kembali nanti. Anna menghela napas mendengarnya. Ia paham kalau sahabatnya itu entah bagaimana menjadi fans Putri Mahkota el Vierum.


"Aku akan berkunjung," Alice memberikan senyum malaikatnya yang amat indah. Maria mengabadikan momen itu dan bertanya, "Tuan Putri, bolehkah saya menyimpan foto Anda. Saya akan memamerk...."


"Tidak! Buang foto itu segera!" tegas Alice membuat Maria tampak bersedih. Ia tidak peduli. Anna tertawa melihatnya.


"Kalau begitu hanya menyimpannya saja," tawar Maria. Alice tetap menggeleng tegas. Dengan ekspresi dingin yang serius, ia berkata, "Buang segera foto itu." Maria malah mengabadikannya lagi. Kali ini ia tidak membicarakannya.


"Ya ampun, saya sampai lupa bahwa ini sudah hampir waktunya bagi Nona bersiap untuk sarapan," Anna segera memotong ketika Maria hendak membujuk. Ia memberi senyum kemenangan kepada Maria dan mengingatkannya, "Jangan lupa hapus foto itu, Maria."

__ADS_1


"Mari bergegas, Nona," Anna buru-buru menutup gawainya begitu Maria hendak melayangkan protes. Sampai kapan pun, Anna adalah satu-satunya dayang terpercaya Putri Alice vi Alverio.


__ADS_2