Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Perjalanan Charlotte


__ADS_3

Mentari angkuh menyinari hutan. Sinar panasnya menembus dedaunan di pohon-pohon yang tinggi. Sebuah jalan yang sepi terdapat di antara pepohonan itu. Luasnya cukup untuk dilewati serombongan pedagang.


Di sanalah Charlotte sekarang. Kereta kudanya dikawal selusin kesatria. Ia dalam berjalan kembali ke County de Vool bersama kakak didiknya, Nana.


"Kamu benar-benar sudah membasmi semua monster sihir di sekitar sini, kan?" tanya Charlotte dengan raut wajah yang awas. Matanya menyapu sekitar dari dalam jendela. Jalur di tengah hutan yang sepi adalah jalan pintas menuju kampung halamannya, tapi jalur itu tak bisa dibilang aman.


"Tenang saja. Aku sangat yakin," ucap Nana bangga, "Toh, kalaupun para celurut itu muncul, aku bisa mengatasinya sendiri. Para kesatria itu hanya hiasan."


Untung saja ucapannya tidak terdengar sampai ke luar. Para kesatria punya kebanggaan tersendiri dalam dirinya. Mereka tidak akan terima jika dihina begitu saja.


"Kamu harus bertanggung jawab jika kita dalam bahaya. Kamu adalah orang yang membuat kita melewati jalan ini," tuding Charlotte. Bukannya ia tidak percaya dengan kemampuan Nana, ia hanya tidak dapat menampik fakta bahwa gadis penyihir itu buta arah. Seandainya kapten kesatria tidak membenarkan saran Nana, tentu Charlotte tak akan menerimanya.


"Tenang saja! Aku adalah Penyihir Kerajaan terbaik di Kerajaan el Vierum," narsis Nana dengan menaruh tangan di dada, "Kamu bisa mengandalkanku."


"Aku mengandalkanku," ucap Charlotte datar. Ini hari ketiganya di perjalanan. Menurut perkiraan, besok ia akan segera sampai. Selama ini, perjalanannya berjalan lancar.


Jegrek!


Kereta kuda tiba-tiba berhenti. Suara gemuruh terdengar. Debu mengepul di kejauhan. Tampak segerombolan binatang yang berbeda tangah berlari memotong jalan.


"Nona, sepertinya ada masalah di depan," lapor seorang kesatria begitu pintu dibuka. Charlotte menatap Nan tanpa berkata. Baru saja mereka menyinggungnya. Bahaya itu pun datang juga.


Nana malah tersenyum pamer. Ia melompat turun sehingga mengagetkan kesatria yang melapor. Charlotte menghela napas dan menepuk jidatnya melihat hal itu.


"Serahkan saja pada Nona Nana, tapi Kalian harus tetap waspada," titah Charlotte yang sebenarnya tidak perlu dikatakan.

__ADS_1


Para kesatria membangun formasi. Pedang mereka terhunus. Binatang-binatang itu tidak melewati mereka, tapi turun ke lereng yang ada tak jauh di sekitarnya.


Suara gonggongan terdengar saling bersahutan. Sekilas terdengar seperti tawa kekeh orang gila. Tak lama kemudian, disusul oleh lolongan. Pemilik suara-suara itu pun berdatangan.


Para kesatria sempat gentar melihat banyaknya kawanan predator yang harus mereka lawan, tapi mereka kembali siap saat kapten kesatria membentak mereka untuk fokus. Nana tertawa keras. Entah sejak kapan ia berdiri di atas kuda. Para kesatria dibuat keheranan olehnya.


"Mereka hanya celurut lemah!" seru Nana dengan tampang meremehkan, "Buat apa Kalian takut?"


Para kesatria jelas tersinggung, tapi tak ada yang menampiknya. Bohong kalau bilang diri mereka baik-baik saja setelah melihat hewan ganas yang selama ini tersebar lewat rumor itu. Kabarnya, mereka hewan yang sangat cepat dan susah dihadapi. Tidak, mereka adalah monster.


Monster-monster yang menyerupai serigala dan hyena itu pun turun menyerbu. Mereka mengabaikan gerombolan binatang yang sebelumnya mereka kejar dan mengincar rombongan Charlotte. Wajah-wajah mereka seram sehingga butuh keberanian batin yang kuat untuk menghadapinya.


Dari dalam kereta kuda, Charlotte pun membacakan mantra penenangnya. Seketika, aura pada para kesatria berubah. Ketakutan mereka hilang. Mereka bahkan merasa mampu membantai binatang-binatang liar itu. Peran Charlotte sebagai pendukung sangat berguna di sana.


Dalam sekejap, pisau-pisau angin terbentuk. Pisau-pisau itu melesat ke arah gerombolan monster yang datang. Para kesatria sudah bersiap. Mereka bisa membunuh hewan-hewan itu kapan saja.


Sebelum mereka sampai, monster-monster itu tiba-tiba tumbang bersimbah darah. Pisau-pisau angin Nana sudah lebih dulu membunuh mereka, tapi tetap ada yang berhasil lolos. Para kesatria pun mengatasi sisanya.


Nana dengan santainya bermain di atas kuda. Ia senang saat melihat ada kesatria yang terdesak. Saat kesatria itu hampir tewas, barulah Nana mau membantunya. Padahal Charlotte sangat bekerja keras di dalam kereta kuda.


Matahari mulai condong ke arah barat ketika pertarungan berakhir. Jalan di tengah hutan bersimbah darah dan mayat para monster berbahaya itu. Tidak ada satu pun kesatria yang terluka. Mereka semua dapat selamat berkat bantuan Charlotte dan Nana.


Nana menyuruh para kesatria untuk mengurus mayat-mayat monster itu tanpa memberi mereka kesempatan untuk istirahat. Lagi pula, tidak ada yang dapat beristirahat di tengah kumpulan mayat. Mereka pun menyelesaikannya terlebih dahulu.


Sambil menunggu, Nana pergi dengan dalih mengawasi sekitar. Ia akan kembali setelah mereka beristirahat. Charlotte pun mengizinkannya dengan alasan yang logis itu.

__ADS_1


"Caramu mengendalikan mereka masih kurang efektif," ucap Nana ketus. Ia menatap rendah seorang pria berpakaian pemburu. Di sekitar pria itu, terdapat sisa gerombolan monster sihir yang melarikan diri. "Mereka sangat gegabah dan mudah dibunuh. Bagaimana Kamu akan menjalankan misi jika kemampuanmu hanya segini?"


"Gadis iblis sepertimu tahu apa, hah?" sanggah pria bertudung itu. Ia pun menghunuskan pedangnya. Dengan geram, ia berdalih, "Tidak mudah mengendalikan mereka sekaligus. Orang yang hanya tahu cara menghancurkan seperti tidak akan mengerti. Kamu malah membunuh pion-pion yang susah payah kukumpulkan."


"Cih! Itu karena mereka terlalu lemah," cibir Nana, "Sebuah pisau angin saja sudah membuat mereka sekarat."


"Lihat saja nanti! Saat aku berada di atasmu, kupastikan Kamu mengemis-ngemis kepadaku," ancam pria dengan sorot mata tajam itu. Matanya segelap malam. Pandangannya seperti predator yang mengincar mangsa. Ia pun menerjang Nana dengan pedangnya.


"Bocah bau! Menyerangku saja tidak bisa. Bagaimana Kamu bisa berada di atasku?" ejek Nana. Ia menghindari serangan pria itu dengan melompat tinggi ke atas pohon. Dengan sebuah mantra singkat, ia pun membalas.


"Aarrg ...!" pria itu terbanting oleh serangan sihir Nana. Mulutnya memuntahkan darah dan komat-kamit mengutuk. Dengan satu telunjuk, ia menggerakkan para monster yang berada di sekitarnya untuk menyerang.


"Oh ... oh ..., Domique bodoh. Apa Kamu tidak tahu kalau hewan-hewan lemah itu tidak bisa memanjat pohon?" ledek Nana dengan kekeh centilnya. Ia dengan santai duduk di atas sebuah ranting pohon yang kuat sambil menyaksikan monster-monster sejenis serigala itu berusaha meraihnya.


"Kau!" seru Domique geram. Ia pun mencabut belatinya. Dengan sekali lemparan, belati itu melesat cepat ke arah Nana.


Trang...!


"Cih! Sungguh pria yang kasar," gerutu Nana. Padahal ia dulu yang memulai. Ia menangkis belati itu dengan tongkat sihirnya yang dilapisi mana. Seketika, belati itu melesat jatuh sampai membunuh salah satu monster.


"Kalau lihat? Kamu hanya bisa menjinakkan hewan-hewan yang lemah," Nana tidak berhenti-henti mengolok Domique yang semakin geram. Ia bisa saja membunuh pria itu dengan mudah, tapi Si Munafik Voxnus itu membutuhkannya sebagai kambing hitam. Ia jadi tak bisa sembarangan membunuhnya.


"Awas Kau, Gadis Iblis!" Domique menyiapkan panahnya. Sebelum kesatria yang menyusup ke Keluarga vi Alverio itu siap, Nana sudah lebih dulu meninggalkannya. Sambil menggerutu, ia pun kembali agar tidak dicurigai pihak Duchy vi Alverio.


"Pria yang buta oleh kekuasaan. Kau pantas menjadi tumbal. Akan datang hal-hal yang menarik tak lama lagi. Aku tak sabar menantikannya," Nana bergumam saat kembali ke tempat Charlotte beristirahat. Ia tertawa cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2